CEO DINGIN DAN GADIS SHOLEHA

CEO DINGIN DAN GADIS SHOLEHA
144.


__ADS_3

Plaak...


Sebuah tamparan kerasam mendarat diwajah Kayla, gadis itu hanya diam tidak berkutik sedikitpun.


"Perempuan tidak tau malu, apa aku masih belum cukup baik kepadamu?" tanya Nyonya Yan penuh amarah.


Saat pulang dari peresmian hotel milik keluarga Kendra, diam-diam Nyonya Yan mengikuti Kai Zhou yang datang menemui Kayla. Kai Zhou mengatakan bahwa selama ini ia telah mengakhiri hubungannya dengan Kayla.


"Kamu juga Kai Zhou, kamu putra ku tega-teganya kamu membohongiku."


"Ma, Kai tidak bermaksud berbohong pada Mama. Tapi Kai...."


"Sekarang kamu pilih Mama atau gadis tidak tau diri ini? Dan kamu perempuan tidak tau malu, jangan harap bisa dapat restu dari ku. Dasar tidak tau malu." Nyonya Yan pun keluar dari apartemen Kayla.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang Kay, Mama sudah tau hubungan kita." Kai Zhou.


"Kau bertanya padaku Kai, seharusnya aku yang bertanya padamu. Aku hanya ingin kejelasan dari mu Kai, aku tidak mau digantung seperti ini terus menerus." Kayla mulai terisak.


"Aku akan pulang kerumah sekarang, aku akan mencoba membujuk Ibuku."


"Apa yang akan kau lakukan jika Ibumu tetap tidak memberikan ijin untuk aku tetap bersamamu." tanya Kayla.


Kai Zhou menjawab pertanyaan Kayla, dan lebih memilih pergi meninggalkan gadis itu di apartemen nya seorang diri.


Kayla meratapi dirinya di cermin, ada rasa penyesalan didalam hatinya. Kayla pun teringat akan Kiano, seandainya Kayla tidak egois dan menuruti ambisinya untuk menjadi sukses. Mungkin saat ini ia telah menjadi istri seorang Kiano menantu dari keluarga kaya.


Dengan Ibu mertua yang sangat menyanyanginya.


Kayla tertawa miris mengenang hidupnya kini.


.......


Kiano masih berdiam diri di kamarnya, ia masih memikirkan cerita dari Nyonya Yan. Apa benar Kayla belum menikah dengan Kai Zhou putra mereka, lantas apa maksud ucapan mereka dahulu yang mengumumkan pertunangan.


Kiano pun larut dalam lamunan kembali memikirkan Kayla, jujur Kiano akui ia belum bisa sepenuhnya melupakan sosok Kayla.


Kayla adalah cinta pertama bagi Kiano, dan wanita pertama yang mengisi hati dan pikirannya.


Tapi tiba-tiba bayangan wajah Zavira terlintas di pelupuk matanya. Kiano tersenyum saat mengingat gadis berjilbab lebar itu, senyuman nya mampu membuat Kiano lupa@ akan kisah masa lalunya. Dan sikap pemalunya, jadi hiburan tersendiri untuk Kiano.


Saat masih asyik dengan lamunan akan Zavira, pintu kamarnya diketuk.


Kiano pun segera berjalan membuka pintu.


Ceklek...


Kiano membuka pintu kamarnya, mata Kiano membulat saat melihat siapa di hadapannya.


"Za..." sapa Kiano.


"Maaf Kak, Ummi dan yang lainnya sedang menunggu dibawah." ucap Zavira tertunduk tanpa mau melihat wajah Kiano.


"Oh ya, bentar lagi aku keluar." jawab Kiano.


Zavira pin segera melangkahkan kakinya meninggalkan Kiano yang masih berdiri didepan pintu kamarnya.


"Za..." panggil Kiano membuat gadis itu menghentikan langkahnya, tapi tetap ia tidak mau menoleh ke arah Kiano.


"Kamu mau pulang?" tanya Kiano.


"Iya Kak." masih menundukan kepalanya.


"Ehmmmm.... nanti kalau libur kesini lagi ya!" ucap Kiano.


"Insya Allah Kak." jawab Zavira. Gadis itu pun kemudian melanjutkan langkahnya turun ke bawah.


"Kemana anak itu, kok udah kayak perempuan sih. Dandan kok lama banget." gerutu Kendra.


Tidak lama kemudian Zavira turun kebawah.


"Mana Kiano Vi?" tanya Hummairah.


"Kiano ada disini Mi." jawab Kiano yang masih berjalan turun kebawah. "Semuanya sudah siap?" tanya Kiano.

__ADS_1


"Dari tadi, lu aja yang lama." seru Kirana.


"Maaf, perut gue gak enak tadi." jawab Kiano ringan.


"Kamu gak apa-apa kan Nak?" tanya Hummairah cemas.


"Gak sih Mi, cuma mules aja."


"Maaf Mi Kiano terpaksa bohong, tadi Kiano lagi mikirin Kayla soalnya. " ucap Kiano dalam hati.


"Ya sudah, kalau gitu biar suruh supir aja, kamu gak usah nyetir." ucap Kendra.


"Iya deh, terserah Daddy aja!" jawab Kiano salah tingkah.


Mereka pun berangkat ke bandara, untuk mengantarkan Kirana dan Zavira kembali ke Mesir.


Kirana dan Zavira pun berpamitan pada semuanya, kecuali Kiano yang berada jauh dari mereka semua.


"Kak, lu gak mau salaman sama kita?" seru Kirana memanggil saudaranya.


Kiano pun melangkai dengan gontai kearah mereka.


"Lu kenapa? masih kepikiran sama omongannya Nyonya Yan kemarin?" bisik Kirana.


Mata Kiano membulat, ia tidak percaya bahwa Adiknya bisa tahu apa yang menganggu pikirannya.


"Jangan lu pikirin lagi, dia gak pentes untuk dapat perhatian dari lu lagi. Sekarang yang mesti lu pikirin adalah masa depan lu, sama siapa lu dimasa depan, itu yang harus lu pikirin sekarang." ucap Kirana memberi saran dan nasihat pada saudaranya.


Kiano tersenyum dan mengelus kepala Adiknya. "Gue gak nyangka, lu udah dewasa sekarang." ucap Kiano. "Makasih ya!" Kiano memeluk Adiknya.


"Saya pamit ya Kak, terimakasih atas semuanya." ucap Zavira menundukan wajahnya.


"Sama-sama, maaf kalau gue suka jahillin kamu ya!" ucap Kiano.


Zavira menganggukan kepalanya dan tersenyum tanpa berani memandang wajah Kiano.


"Za.... aku boleh minta sesuatu?" pinta Kiano.


"Apa Kak?"


"Untuk apa Kak?" tanya masih menundukan wajahnya.


"Aku pengen lihat kamu lebih jelas."


"Maaf Kak, saya tidak bisa membuka cadar saya." ucap Zavira pelan. "Lagi pula, yang berhak melihat wajah saya, adalah dia yang akan menjadi imam untuk saya."


"Baiklah, maafkan aku. Hati-hati ya!" ucap Kendra dan berjalan menjauh.


Panggilan penerbangan untuk Kirana dan Zavira telah diperdengarkan, mereka pun segera bersiap untuk masuk.


Kirana dan Zavira pin berjalan ke arah pintu yang menjadi tujuan mereka.


Kiano menatap punggung Zavira, ia tidak tahu mengapa ia jadi berat untuk melepas gadus yang baru ia kenal selama beberapa hari ini. Tapi Kiano merasa sudah sangat dekat dengan gadis itu, Kiano berusaha untuk membuang jauh pikirannya tentang Zavira tapi semakin ia ingin, maka bayangan Zavira terus bermain di pelupuk matanya.


Saat Kiano memperhatikan punggung Zavira, tiba-tiba gadis itu menoleh ke arahnya dan sekilas membuka cadarnya dan tersenyum.


Tanda sadar Kiano membalas senyum Zavira.


"Kamulah jodoh ku." ucap Kiano pelan kemudian tersenyum.


Beberapa manit kemudian Fachri tiba dibandara, dengan tergesa-gesa Fachri mendekati Kendra dan keluarganya.


"Om, Ummi mana Kirana?" tanya Fachri dengan napas ngos-ngosan.


"Lu telat, lima menit yang lalu mereka sudah masuk kedalam pintu itu." tunjuk Kiano menunjuk sebuah pintu.


Fachri memjamkan matanya kesal.


Hummairah dan Kendra tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


....


Kiano mendapat sebuah pesan dari seseorang yang sama sekali ingin ia lupakan.

__ADS_1


Kayla baru saja mengirim pesan padanya, dan saat ini Kayla sedang pulang menjenguk orangtuanya. Dan Kayla ingin mengajaknya bertemu ditempat biasa mereka menghabiskan waktu bersama.


Kiano menghela napas panjang, ia tidak tahu harus pergi atau menolak ajakan gadis yang pernah menjadi bagian dari hidupnya.


Kiano mengalami dilema, ia tahu harus meminta pendapat pada siapa. Jika ada Kirana, Kiano pasti meminta pendapatnya.


"Bismillah." Kiano membalas dan mengiyakan ajakan Kayla.


Mereka pun bertemu di sebuah cafe di dekat sekolah mereka dulu.


Kiano turun dari mobilnya kemudian berjalan masuk kedalam cafe, dan Kayla telah menunggunya dan duduk di dalam cafe.


Kayla pun berdiri saat melihat Kiano masuk dan menghampirinya.


"Hai Ki, apa kabar?" sapa Kayla ramah.


"Baik. Kamu sendiri bagaimana?" belum sempat Kayal menjawabnya, Kiano telah lebih dulu menjawabnya. "Pasti baik kan, bila dilihat dari tampilan terlihat jelas kamu teramat baik dan sangat bahagia."


Kayla terdiam, ia tidak tahu harus berkata apa.


"Ki, kamu masih marah sama aku?" tanya Kayla sedih.


"Tidak!" jawab Kiano tegas. " Aku tidak pernah marah padamu, kalau aku masih marah padamu aku tidak akan datang memenuhi permintaanmu." jelas Kiano.


"Ki, saat itu aku terpaksa, aku..."


"Sudahlah Kay, jangan dibahas lagi. Aku tidak mau mengingatnya, lebih baik sekarang cepat katakan apa yang ingin kamu bicarakan. Aku tidak bisa lama-lama disini, aku tidak mau orang-orang dari utusan calon suami mu memergoki kita dan terjadi kesalahpahaman antara kamu dan dia."


"Baiklah, aku akan terus terang." Kayla mengambil napas panjang, kemudian mengembuskan. Ia masih mengumpulkan keberanian untuk mulai berbicara.


"Ki, apa kamu mau bantu aku?"


"Bantu? Bantu apa?"


"Akan ada rapat tender besok, aku mau kamu bantu aku membujuk Daddy untuk memberikannya pada ku, perusahaan kami sangat menginginkan tender itu."


Mata Kiano terbelalak saat mendengar penuturan Kayla, jadi dia sengaja mengajak bertemu hanya untuk membicarakan masalah tender yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan Kendra.


"Jadi kamu jauh-jauh datang hanya ingin ngomongin ini sama aku?" tanya Kiano.


"Ki, aku mohon kamu mau ya pujuk Daddy?" pinta Kayla memelas


"Jangan mau Ki!" ucap seru seseorang yang tiba-tiba sudah berada dibelakang Kiano.


"Daddy." ucap Kiano dan Kayla serentak berdiri.


Kendra berjalan mendekati meja dimana mereka duduk.


"Jangan mau kau dibujuk oleh perempuan serakah seperti dia yang menginginkan sesuatu secara instan, tanpa mau berusaha dan bekerja keras." ujar Kendra.


"Daddy, maksud Kayla gak gitu." elak Kayla.


"Jangan panggil aku Daddy, kamu bukan putri ku. Siapa yang menyuruhmu, apa Tuan Yan sudah tidak punya malu, hingga menyuruh menantunya untuk datang memohon pada rival bisnisnya." ujar Kendra.


"Ini tidak ada hubungannya dengan Tuan Yan, ini Kayla yang berinisiatif sendiri. Lagi pula Kayla sudah lama tidak bertemu Kiano, untuk itu lah Kayla mengajaknya bertemu."


"Aku tidak percaya, aku peringatkan sekali lagi padamu. Jangan pernah mencoba mempengaruhi keluarga ku, terutama anak dan istri ku. Ayo Ki, kita pulang." Kendra melangkah pergi.


"Aku gak nyangka kamu jadi seperti ini Kay, kau kecewa sama kamu." Kiano pun berjalan keluar menyusul Daddy nya yang telah lebih dahulu pergi dari sana dna menunggu Kiano di mobil.


Kayla hanya bisa diam menyaksikan kepergian Kiano dari hadapannya. Kayla terduduk lesu dan kembali berurai air mata.


....


"Ngapain kamu ketemu sama dia Ki, ingat Ki bagaimana dulu kamu dicampakannya." cecar Kendra. "Untung para bodyguard yang Daddy utus untuk selalu berada disekitar kamu melaporkannya pada Daddy.


"Kiano minta maaf Dad, Kiano janji tidak akan mengulanginya lagi." jawab Kiano merasa bersalah.


"Ingat Kiano fokuslah ke Zavira, dia masa depan kamu. Bukan Kayla lagi, dia hanya masa lalu kamu yang suram." Kendra kembali mengingatkan diri Kiano.


Kendra tahu putranya ini menyukai gadis bercadar itu, tapi ia masih enggan mengakuinya. Sebab bayangan masa lalu Kiano dna Kayla masih membayangi Kiano.


"Daddy harap ini yang pertama dan yang terakhir, Daddy tidak mau terjadi lagi. Dan Daddy akan mengurus kepulangan kamu agar dipercepat." Kiano pun segera memesan tiket pesawat untuk Kiano.

__ADS_1


Kiano hanya diam mendengarkan.


Bersambung.


__ADS_2