CEO DINGIN DAN GADIS SHOLEHA

CEO DINGIN DAN GADIS SHOLEHA
155.


__ADS_3

Kiano turun dari kamarnya dan menghampiri mereka yang masih berkumpul di taman belakang.


"Sayang, kok ada disini. Zavira mana?" tanya Hummairah.


"Tidur dikamar!" jawab Kiano singkat.


"Kok bisa, kamu ditinggal tidur?" tanya Hummairah polos.


"Pengantin baru kok ada disini, gak main bola?" goda sang Daddy.


"Gimana mau main bola Dad, kalau lapangannya lagi kebanjiran." ucap Kiano kesal.


Semua terdiam, tapi kemudian terdengar tawa Daddy nya pecah hingga menarik perhatian yang lain hingga ikut berkumpul mengerumuni Kiano.


"Ada apa Om?" tanya Fachri.


"Ini pengantin baru kita gagal main bola, gara-gara lapangannya banjir." jawab Kendra kembali tergelak.


Yang juga diikuti oleh semuanya.


"Puas deh... puas, seneng kan." gerutu Kiano.


"Mas, apa-apaan sih, jangan gitu sama anak juga. Kan kamu juga dulu pernah kayak gitu, malah lebih parahkan?" kenang Hummairah.


"Apa Mi, Daddy juga pernah ya? Gimana reaksi Daddy saat itu?" tanya Kiano antusias.


"Gak boleh, itu rahasia." jawab Hummairah.


"Yaa.. Ummi gak friend.


"Aku makin cinta, makin sayang sama kamu." puji Kendra merayu istrinya.


"Bucin lagi..." teriak Kirana.


"Jadi Ki, baju yang gue kasih belum dipake dong?" celetuk Tristan.


Kiano menunduk kesal menatap Tristan.


"Kasian lu Ki, belum apa-apa udah banjir. Padahal udah nunggu selama dua minggu." celetuk Fachri.


"Kak Fachri...." seru Kirana dari belakangnya.


"Sorry sweety..." jawab Fachri.


"Kamu bilang apa Fachri???" tanya serentak dari keluarga Kendra.


"Tau lu, seenak nya aja bilang sayang sama adek gue."


"Maaf, keceplosan tadi." gumam Fachri sambil melirik kearah mata Kirana yang melotot.


Mereka pun kembali larut dalam obrolan yang terkadang tidak masuk akal, hingga membuat mereka tertawa.


Hingga akhirnya satu persatu dari mereka pun undur diri untuk istirahat.


Fachri, Tristan, dan Dion menginap dirumah itu.


Kiano perlahan masuk kedalam kamarnya, setelah mencuci dan mengeringkan wajahnya. Ia pun naik ke atas ranjang dengan hati-hati, ia tidak mau mengganggu tidur istrinya yang telah lelap.


Kiano sejenak menatap wajah Zavira, kemudian mengecup keningnya dan mengucapkan selamat malam, ia pun membaringkan tubuhnya dibelakang istrinya serta memeluk erat tubuhnya.


"Sepertinya aku akan punya kebiasan baru sebelum tidur." gumam Kiano sambil memeluk tubuh istrinya hingga ia terlelap.


....


Kai Zhou kalang kabut mencari keberadaan Kayla, ia tidak menemukan satu pun barang milik Kayla di apartemennya.


"Kamu dimana Kay?" tanya Kai Zhou frustasi.


"Sudahlah Kai, jangan lagi pikirkan wanita miskin itu. Dengar Kai kamu sekarang sudah punya Susan tunangan kamu, sebagai satu-satunya menantu yang kami terima di keluarga kita." ujar Nyonya Yan."


"Tapi setidaknya Kayla pamit sama Kai." pungkas Kai Zhou.


"Itu lah yang membuktikan bahwa dia tidak baik, tidak pernah diajarkan sopan santun oleh kedua orang tuanya." cetus Nyonya Yan.


"Aap kamu tau Kai, sebelum dia pergi dia juga meminta uang pada ku dengan jumlah besar. Jika tidak diberikan, maka dia akan membeberkan kisah kamu dan dia." lanjut Nyonya Yan.

__ADS_1


Kai Zhou terdiam ada rasa tidak percaya didalam hati kecilnya, bertahun-tahun ia mengenal Kayla, gadis itu tidak pernah menuntut apa pun darinya. Hanya satu yang ia pinta pada Kai Zhou kemarin, yakni pengakuan dari Kai Zhou dan keluarganya.


Tapi jika mendengar cerita Ibunya yang telah memberikan cek dalam jumlah yang tidak sedikit pada Kayla, Kai Zhou juga tidak bisa tidak mempercayainya. Sebab bagi Kai Zhou Ibunya adalah orang yang jujur, tidak pernah mengada-ada dalam bercerita. Kai Zhou juga tidak pernah menolak apa pun yang dikatakan oleh Ibunya, termasuk disuruh dijodohkan dengan Kirana dan akhirnya bertunangan bersama Susan.


Kao Zhou ingin jadi anak yang berbakti pada kedua orang tuanya, terutama Ibunya.


Kai Zhou kembali terdiam dan hanya mendengar repetan Ibunya yang terus menjelek-jelekan Kayla di depannya, Kai Zhou hanya mendengarkan tanpa menjawab atau protes sedikitpun dengan apa yang dikatakan olah Ibunya.


....


Kayla baru saja kembali dari menjalani pemeriksaan rutin untuk kandungannya, tiba dirumahnya Kayla segera membersihkan diri dan menyiapkan makan malam untuk dirinya sendiri.


Selesai makan malam, Kayla bersantai sejenak dengan menonton televisi.


Mata Kayla membulat saat menonton saluran yang memberitakan pernikahan Kiano putra salah satu konglomerat dengan seorang gadis yatim piatu berasal dari Kairo, Mesir.


Pesta untuk penyambutan menantu itu begitu meriah, dihadiri oleh seluruh keluarga besar Malik. Mereka juga mengenakan pakian seragam, yang Kayla yakini itu pasti buatan tangan dari Ummi Kiano sendiri.


Kiano dan istrinya tampak sangat bahagia menikmati pesta itu, tanpa sadar air mata Kayla berlinang di pipinya. Perlahan ia mengelus perutnya yang masih datar, dan mengasihani dirinya sendiri.


"Kamu tau sayang, seharusnya Mama yang berada disana, dan seharusnya saat ini kamu adalah cucu dari keluarga Kendra, dan Mama yakin kita pasti akan hidup bahagia." gumam Kayla sambil mengusap perut datarnya.


Kayla tersenyum miris, kenap ia tidak mendengarkan ucapan Kiano dan tidak ikut bersamanya pulang ke Indonesia. Kayla yakin jika saat itu ia mengikuti Kiano, saat ini mungkin mereka sudah menjadi suami istri dan menikmati manisnya madu pernikahan dan malam pertama.


Penyesalan selalu datangnya belakangan, tapi Kayla optimis, ia bisa melalui semua ini sendiri. Dan ia juga akan mengunjungi keluarga Kendra untuk meminta maaf suatu hari nanti.


....


Sinar matahari pagi menembus celah kamar Kiano, membuat pemuda itu mengerjapkan matanya berulangkali karena silaunya. Tapi hangatnya guling yag ia peluk seakan enggan membuatnya terbangun, Kiano makin mengeratkan pelukannya dan mengapitkan tubuh istrinya diantara pahanya.


Tubuh Zavira yang mini bisa berada ditengah antara paha kiri dan kanan Kiano, Zavira hanya bisa diam dan tanpa perlawanan karena ia terlalu takut dan tidak tau harus berbuat apa. Kiani makin mengeratkan lagi pelukannya, hingga hidungnya mencium rambut Zavira.


Kiano perlahan membuka matanya, ia melihat sesuatu yang baru saat membuka matanya, yaitu kehadiran Zavira disisinya.


"Kamu sudah bangun?" tanya Kiano kembali memeluk istrinya.


"Sudah, dari pukul 4 pagi tadi." jawab Zavira gugup.


"Kenapa tidak bangun aku, hemmm...." Kiano mengecup belakang leher istrinya.


"Berapa lama Za?" tanya Kiano disela aksinya.


"Berapa lama apa Kak?" tanya Zavira bingung.


"Siklus bulanan mu."


"Sebenarnya sudah beberapa hari Kak, dan kemarin hari terakhir. Dan sebenarnya lagi seharusnya saya sudah mandi tadi, dapat sholat subuh. Tapi....." ucapan Zavira terpotong.


"Tapi apa Za?"


"Kakak itu tidurnya meluk saya kenceng dan gak bisa dilepas, jadi saya nya


gak bisa gerak." aku Zavira yang merasakan pegal di sebagian tubuhnya.


"Seharusnya kamu bangunin aku, maaf ya." ucap Kiano menyesal sambil mengelus pipi istrinya. "Berarti udah bisa dipake dong lapangannya." goda Kiano lagi.


"Saya harus mandi dulu Kak." cetus Zavira yang segera keluar daria pelukan suaminya.


"Mandi bareng ya." seru Kiano lagi.


"Gak, saya duluan. Saya


harus bersih-bersih dulu." jawab Zavira yang menutup pintu kamar mandi.


Kiano tersenyum dengan sikap pemalu istrinya, ia pun memutuskan untuk membungkus dirinya kembali didalam selimut.


Kiano sengaja menunggu istrinya selesai mandi, dan berencana melanjutkan urusannya bersama sang istri yang belum sempat mereka selesaikan.


Setelah beberapa puluh menit kemudian, Zavira keluar dari kamar mandi dan terkejut melihat sang suami masih melingkar didalam selimut.


"Kak, kok belum bangun. Katanya mau mandi." Zavira yang masih menggunakan jubah mandinya segera menghampiri Kiano untuk membangunkan nya.


Tiba-tiba secepat kilat Kiano menyambar tangan Zavira dan memutar tubuhnya menjadi berada diatas istrinya.


"Aaaaah...." teriak Zavira.

__ADS_1


"Shuussst... jangan teriak, nanti mereka kira aku lagi nyiksa kamu." ucap Kiano membekap mulut istrinya.


Zavira mengangguk dan mulai diam.


Kiano tersenyum melihat istrinya yang penurut.


Kiano mulai membelai wajah istrinya,


"Kakak mau apa?" tanya Zavira gemetar.


"Ngelanjutin yang tadi malam tertunda." jawab Kiano.


Zavira tidak bisa lagi menghindari dari serangan Kiano yang kini telah diselimuti kabut gairah.


Mereka pun melewai pagi dengan awal yang bahagia, Zavira telah melaksanakan kewajibannya sebagai sesorang istri dan memberikan apa yang selama ini ia jaga dengan baik.


Kiano menghempaskan dirinya disamping tubuh istrinya, dengan napas terengah-engah dan tubuh yang bermandi keringat.


Kiano mengecup kening istrinya dalam, Zavira memejamkan matanya.


"Terimakasih Za." ucap Kiano.


" Untuk apa Kak?" tanya Zavira.


"Untuk semua, aku janji. Aku akan membahagiakan kamu seperti Daddy membahagiakan Ummi." ucap Kiano kembali memeluk istrinya.


"Terimakasih juga Kak."sela Zavira.


"Untuk apa?" tanya Kiano sambil membelai pipi istrinya.


"Terimakasih, karena kamu dan keluarga kamu mau menerima saya sebagai bagian dari keluarga kalian. Saya yang hanya seorang gadis yatim piatu dari kalangan keluarga biasa, tapi keluarga kalian dengan senang hati mau menjadikan saya anggota keluarga kalian." ucap Zavira.


"Itu karena menurut mereka kamu adalah gadis yang baik, dan pantas menjadi menantu mereka." Kiano mencubit hidung bangir milik istrinya.


"Sakit Kak..." rengek Zavira memegang hidungnya.


"Eh... aku punya ide, gimana kalau kamu jangan panggil aku Kakak lagi."


"Jadi saya harus manggi apa?" Zavira bingung.


"Panggil aku seperti Ummi manggil Daddy." ucap Kiano.


"Kakak mau aku panggil "Mas" ?" tanya Zavira.


Kiano menganggukan kepalanya dan tersenyum, Zavira pun tersenyum dan beranjak dari sisi Kiano.


"Kamu mau kemana?" tahan Kiano.


"Mau mandi, dan turun sarapan. Saya lapar Mas. " ucap Zavira.


Kiano menarik kembali tangan istrinya. "Nanti saja mandinya, dan sarapan aku akan menyuruh pelayan mengantarkannya kemari." ucap Kiano kembali membantingkan ia dan istrinya ke tempat tidur dan melanjutkan kegiatan mereka pagi ini.


......


"Pengantin baru belum bangun Mi?" tanya Kendra pada istrinya.


"Belum kayaknya." jawab Hummairah.


"Kok tumben, Zavira juga gak turun pagi ini." tanya Kendra lagi.


"Ah, Daddy gitu kayak gak pernah muda aja." celetuk Kirana.


"Eeeeh.... kamu juga kayak udah tua aja." balas Kendra.


"Mungkin mereka lagi olah raga pagi Dad." cetus Kirana lagi.


Mata Kendra dan Hummairah menatap Kirana.


"Apa?" tanya Kirana bingung.


"Bukannya kemarin Kakak kamu bilang kalau lapangannya sedang banjir." celetuk Fachri yang juga ikut duduk bersama mereka disusul oleh Tristan dan Dion.


"Maaf dear, tapi aku penasaran."


Kendra dan Hummairah saling berpandangan saat sama-sama mendengar Fachri memanggil putri mereka dengan panggilan sayang.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2