CEO DINGIN DAN GADIS SHOLEHA

CEO DINGIN DAN GADIS SHOLEHA
189. happy reding


__ADS_3

Fachri dan Kirana baru saja kembali dari menyelesaikan proses preewednya, Fachri membawa Kirana kembali ke kediamannya. Kirana disambut hangat oleh mertuanya, Mia dan Reza menyambut Kirana dengan gembira.


"Sayang... Mama kangen sekali sama kamu." ucap Mia sambil memeluk Kirana erat.


"Iya Ma, Nana juga." balas Kirana mencium tangan Ibu mertuanya.


"Kamu udah makan?"


"Udah Ma, tadi Kak Fachri ngajak makan di cafe langganan kami.


"Oh ya, kamu pasti capek. Fachri bawa Kirana istirahat di kamar kamu, dia pasti lelah seharian ini." perintah Mia pada putranya.


"Iya Ma, kita ke kamar dulu ya." pamit Fachri pada orangtuanya.


"Iya sayang." jawab mereka serempak.


"Mama senang, akhirnya kita mendapatkan menantu yang baik seperti Kirana."


"Iya, Papa juga Ma." jawab Reza tersenyum.


Fachri membawa Kirana ke kamarnya.


"Nah.. dear ini kamar kita." ucap Fachri.


Kirana tersenyum dan berjalan masuk mengikuti Fachri dari belakang. Kirana duduk di tepi tempat tidur.


"Aku mandi dulu ya." ucap Fachri yang berjalan menuju kamar mandi.


Kirana menatap sekeliling kamar, nuansa abu-abu menghiasi setiap sudut ruangan.


Tidak berapa lama Fachri keluar dari kamar mandi, ia tersenyum melihat Kirana yang masih berdiam diri dan tidak bergerak dari duduknya.


"Kamu mau mandi dear?" tanya Fachri.


Suara Fachri membuyarkan lamunan Kirana, ia segera menoleh ke arah Fachri yang berjalan mendekatinya. Mata Kirana terbelalak saat melihat Fachri yang keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang melilit dipinggangnya.


Kirana segera memalingkan wajahnya, sesaat kemudian ia kembali melirik ke arah Fachri yang berjalan menuju lemari. Fachri memakai celana pendek dan tshirt pas body.


"Mandilah dulu." Fachri memberikan handuk pada Kirana.


"Tapi Nana gak bawa baju ganti Kak."


Fachri tersenyum, kemudian berjalan menuju lemari dan membukanya. Sekali lagi Kirana dibuat terkejut. Disana telah berderet pakaian dan jilbab untuknya dengan aneka warna. Fachri kemudian menarik laci lamari, disana juga berderat pakaian dalam, wajah Kirana bersemu merah.


"Sekarang mandi ya." Fachri meletakan handuk disamping Kirana.


Kirana pun berdiri dan segera masuk kedalam kamar mandi


.....


Lama tidak terdengar kabarnya, Kayla kini telah bekerja disebuah perusahaan besar milik Paman dari sahabatnya. Kayla bekerja dengan giat, ia bertekad ingin mengambil Leon kembali dari tangan keluarga Yan.


"Kamu sudah makan siang Kay?" tanya Juna.


Juna adalah atasan Kayla, Juna telah menyukai Kayla dari pertama kali Kayla berkerja di kantornya. Namun Juna enggan mengutarakannya, karena sepertinya Kayla menutup diri dan menjaga jarak darinya. Juna adalah seorang duda yang memiliki seorang putri berumur tiga tahun. Putri juna sangat dekat dengan Kayla, Juna sering membawa Kesya putrinya ke kantor dan Kesya juga sangat menyukai Kayla.


Kayla mengalihkan tatapan matanya dari layar monitor di hadapannya kearah suara yang menyapanya.


"Sebentar lagi Tuan." jawab Kayla.


"Istirahatlah dulu Kay, ayo kita makan siang dulu."


Kayla tersenyum dan segera menghentikan kegiatannya.


"Baiklah... ayo."


"Kamu mau makan dimana?"


"Saya terserah anda saja Tuan."


"Baiklah kalau begitu."


Juna dan Kayla pun menuju lift kantor, saat mereka keluar dari lift, tiba-tiba terdengar suara cempreng memanggil mereka berdua.


"Papa, tante Kayla."


Kayla dan Juna menoleh.


Kesya berlari kearah mereka.


"Kalian mau kemana?" tanya Keysa dengan suara cemprengnya.


"Papa dan tante Kayla mau makan siang sayang." jawab Juna yang langsung menggendong Kesya.


"Kalian berencana pergi berdua dan tidak mau mengajak aku?" ucap Kesya


Kayla dan Juna tersenyum.


"Bukan begitu sayang?" jawab Kayla.


Kayla sudah sangat dekat dengan Keysa, Keysa mengingatkannya akan Leon. Kayla sangat merindukan Leon, tapi Kayla hanya bisa menahannya hingga ia dapat mengumpulkan uang dan menyewa pengacara terbaik kemudian merebut putranya kembali.


"Ya sudah ayo kita makan bersama." ucap Juna menggending keysa.

__ADS_1


Mereka bertiga pun berjaln keluar dari kantor.


.....


"Kita harus melakukan sesuatu Lucas." ucap Luna saat mereka telah melakukan kegiatan yang biasa mereka lakukan.


Lucas beranjak dari tempat tidur dan segera memakai celananya. Luna membetulkan posisinya, ia menarik selimut untuk menutupi tubuh telanjangnya. Lucas menghidupkan rokoknya, kemudian menghembuskan asapnya ke udara.


"Lucas, apa kau mendengarkan ku?" tanya Luna kesal, sebab sedari tadi Lucas tidak mempedulikan dirinya.


"Lucas..."


"Diamlah Luna, aku sedang berpikir." sergah Lucas.


Lucas sebenarnya telah bosan dengan Luna, ia ingin segera menjauh dari wanita itu. Tapi karena kebutuhan biologisnya dan Luna selalu memberikannya secara percuma, maka Lucas pun membiarkan Luna tetap berada disisinya. Lucas duduk di tepi tempat tidur, ia tampak bwrpikir mencari cara bagaimana memisahkan Fachri dan Kirana, sedangkan mereka telah menikah sekarang. Luna merangkak dan medekati Lucas. Ia memeluk Lucas dari belakang. Mengecup punggung dan lehernya. Lucas tersenyum dan memutar tubuhnya, kemudian berbalik menerjangn Luna kemudian menindihnya. Lucas pun ******* bibir Luna dengan rakusnya, Luna membalas ciuman Lucas. Tangan Lucas meremas dada Luna dengan kasar sementara tangan satunya lagi mengelus paha Luna, kembali mereka berpacu diranjang. Mereja bermain dengan liar, hingga keduanya tersentak saat mengalami pelepasan. Lucas pun menjatuhkan dirinya disamping Luna dengan napas menderu.


"Kamu harus menjebak Fachri Luna, aku mau Kirana meninggalkan Fachri dalam waktu dekat ini sebelum resepsi mereka dilaksanakan.


"Tapi bagaimana caranya?" tanya Luna bingung.


"Itu masalah mu, kamu pikirkan sendiri caranya bagaimana." Lucas pun beranjak masuk ke dalam kamar mandi.


.....


"Kita nginap disini Kak?" tanya Kirana setelah selesai makan malam.


"Iya... kamu keberatan?" tanya Fachri medekati Kiran dan duduk disampingnya.


Kirana menggeleng. "Tapi kita harus memberitahu kepada orang dirumah."


"Kamu tenang saja, aku udah menelpon Ummi tadi."


"Baiklah.."


Fachri menatap Kirana, mengusap pipinya lembut. Kirana tidak menolak, Fachri mengecup lembut pipi Kirana. Jantung Kirana berdegub kencang, seumur hidupnya baru kali ini ia berada sangat dekat dengan lawan jenisnya.


"Dear... apa aku boleh memintanya sekarang?" bisik Fachri parau.


Mereka memang belum melakukannya, Kirana masih menunggu hingga dirinya siap.


Tapi satu sisi Kirana juga menyadari kewajibannya sebagai seorang istri.


Kiran memutar badannya, menatap Fachri dan tersenyum.


"Tuntun aku Kak, ajari aku yang bodoh ini dalam hal ini. Dan maaf jika aku tidak bisa membuatmu senang saat kita memulainya, sebab aku benar-benar buta, tuli, dan bisu dalam hal semacam ini." tutur Kirana.


Fachri tersenyum kemudian perlahan mengecup bibir Kirana lembut. Kirana ingin menjauhkan wajahnya saat Fachri menciumnya. Tapi dengan cepat Fachri menahan leher Kirana dan memperdalam ciumannya.


"Buka mulutmu dear." bisik Fachri parau.


Ciuman Fachri kini turun keleher putih Kirana, Fachri menggigit sedikit dan meninggalkan kissmark disana. Fachri membaringkan tubuh Kirana, kemudian kembali menyerang bibir Kirana. Kali ini Kiran perlahan membalas ciuman Fachri dengan perlahan ******* bibir Fachri. Fachri tersenyum dengan ulah Kirana. Tangan Fachri perlahan membuka satu persatu kancing piyama milik Kirana, Kirana menahan tangan Fachri.


Fachri melepas pautannya, menatap Kirana dan terasenyum sembari menganggukan kepalanya.


Kirana pun akhirnya membiarkan Fachri melanjutkannya. Fachri terbelalak saat melihat kulit putih Kirana. Tubuh yang selama ini tertutup serta terjaga. Fachri tersenyum, kembali ******* bibir Kirana, dan perlahan turun keleher dan dada Kirana. Tangan Fachri perlahan melepas kait bra Kirana hingga terlepas sempurna, Fachri meremas perlahan squisy milik Kirana, memainkan bejolan kecil dengan jarinya.


Setelah Fachri merasa cukup membuat Kirana santai, Fachri pun mulai melanjutkan permainannya dan langsung menuju intinya.


Beberapa waktu kemudian Fachri pun ambruk diatas Kirana, dengan napas tidak beraturan Fachri mengecup kening Kirana.


"Terima kasih dear..." ucap Fachri dan menarik Kirana dalam pelukannya, Fachri menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka dan tidur.


Kirana bangun saat mendengar suara adzan, pegal dan ngilu Kirana rasakan disekujur tubuhnya. Kirana tetap memaksakan dirinya bangun untuk mandi dan segera menunaikan kewajibannya.


"Ya Allah...." ringis Kirana hingga suaranya terdengar oleh Fachri.


"Kamu kenapa dear?" tanya Fachri dengan suara serak.


"Aku mau bangun, tapi kok badanku pegal semuanya dan pada nyeri juga." keluh Kirana.


Fachri tersenyum. "Pasti karena semalam deh."


"Memang semalam kenapa?" tanya Kirana polos.


Fachri mengacak rambut Kirana. "Kamu lupa semalam ngapain ya?"


Kirana pun mencoba mengingat kejadian kemarin malam, tiba-tiba wajah Kirana bersemu merah.


"Kamu sudah ingat dear?" tanya Fachri.


Kirana kembali merebahkan dirinya kemudian menutup wajahnya dengan selimut dan bersembunyi. Fachri tersenyum kemudian berbaring dan memeluk istrinya.


"Kamu malu dear?"


"Udah ah.... aku mau mandi, nanti waktu habis."


"Aku gendong ya?"


"Aku bisa sendiri."


"Yakin?"


Kirana bergerak tapi kemudian meringis kembali.

__ADS_1


"Sudah sini, aku gendong." Fachri pun menggendong istrinya masuk ke kamar mandi dan mandi bersama. Setelahnya mereka menunaikan kewajiban bersama. Fachri tersenyum saat melihat noda merah di sprei putihnya.


"Terima kasih dear, kamu telah menjaganya dan memberikannya padaku, sebagai suamimu. Aku janji, aku akan membahagiakanmu dan disisa umurku aku akan selalu mencintai dan menyayangimu." ucap Fachri dalam hati.


Kirana dan Fachri turun dari kamarnya, dibawah telah menunggu Mia dan Reza yang sedang sarapan.


"Selamat pagi Ma, Pa." sapa Kirana.


"Selamat pagi." jawab mereka serentak.


"Sarapan dulu sayang." ajak Mia.


Fachri dan Kirana duduk dan sarapan bersama.


Tiba-tiba Luna hadir dan ikut sarapan bersama mereka. Suasana makanpun berubah menjadi tegang.


"Andrew duduk disamping Daddy." ucap Luna.


Fachri melirik Kirana, tapi Kirana seolah tidak terpengaruh dengan ucapan Luna. Kirana masih tetap melayani Fachri dan makan dengan tenang.


"Fachri hari ini kamu anterin aku ya, aku mau belanja." ucap Luna lagi.


"Maaf aku tidak bisa." jawab Fachri cuek.


"Fachri, kamu tidak bisa seperti itu. Mentang-mentang kamu udah menikah dengan Kirana, kamu jadi lupa kewajiban kamu, kamu harus ingat Fachri aku sudah punya anak dari kamu." seru Luna.


"Luna... kami punya sesuatu untuk mu." ujar Reza tiba-tiba.


Reza memberikan selembar kertas pada Luna, dan ia pun meraihnya. Luna membuka dan mulai membacanya, mata Luna terbelalak saat ia membaca isi kertas tersebut. Ia menatap ke arah Reza dan istrinya, kemudian ke arah Fachri dan Kirana yang tidak peduli dan masih menikmati sarapannya.


"Kamu sudah selesai membacanya Luna?" tanya Mia.


"Ini apa Om, Tante?" tanya Luna terbata.


"Kamu bisa baca kan?" lanjut Mia. "Kalau kamu masih belum paham, sini biar kami yang jelaskan."


Mia beranjak dari duduknya, dan mengambil kembali kerta dari tangan Mia.


"Ini adalah hasil lab..... DNA antara Fachri dan anak kamu. Disini dinyatakan bahwa hasil DNA mereka berbeda, jadi aku ingin meminta penjelasan dari kamu, bagaimana bisa kemarin saat melakukan tes, hasilnya bisa seperti itu." ujar Mia.


Luna terdiam, dia memutar otak untuk mencari alasan yang masuk akal.


"Kamu tidak bisa jawab? Akan kami bantu jawab. Saat itu kamu berhasil mencuri rambut Fachri yang kamu akui sebagai rambut anak kamu."


"Tidak... aku tidak berbuat seperti itu, Andrew memang anak Fachri. Aku sudah membuktikannya kalian." elak Luna. "Dan hasil lab ini, kalian pasti telah merakayasanya."


"Hasil ini adalah asli Luna, tanpa sepengetahuan kamu kami membawa Andrew melakukan tes, dan itu hasilnya." jawab Mia.


"Tapi Tante, apa kalian punya bukti kalau ini adalah asli. Bisa jadikan kalian hanya ingin menjebak ku." timpa Luna.


"Kamu mau bukti? Baiklah..." Mia segera memanggip Siti, tidak lama kemudian Siti pun hadir di tengah mereka.


"Siti katakan apa yang kamu lihat di kamar Fachri?" ucap Mia.


"Saya liat Mbak Luna masuk ke kamar den Fachri Nyonya." jawab Siti.


"Apa yang dia lakukan disana?"


"Mbak Luna, memegang sisir den Fachri dan mengambil beberapa helai rambut den Fachri."


Fachri terkejut, ia tidak menyangka Luna akan nekat berbuat seperti itu.


"Kamu sudah dengar Luna, sekarang kamu bisa memberikan alasan kamu."


"Bohong Tante... pelayan ini berbohong." elak Luna membela diri.


"Tidak Nyonya... saya tidak bohong, saya melihat sendiri. Saat itu saya ada di kamar mandi den Fachri."


Luna terdiam, kali ini ia tidak bisa lagi mengelak.


"Sekarang kamu tidak bisa lagi mengelak."ucap Mia.


"Kami memberi kamu pilihan, pergi dari rumah ini dengan baik-baik, atau kami laporkan kamu ke polisi karena tindak penipuan dan pemalsuan." ujar Reza.


Luna terdiam dan tampak ketakutan, ia tuhu bagaimana Papa Fachri jika sudah marah.


"Baik Om, aku akan pergi dari sini. Tapi, aku minta waktu untuk mencari tempat tinggal yang layak untuk aku dam Andrew."


"Sudah tidak ada waktu lagi Luna, kami pernah memberikan mu kesempatan, tapi kamu sendiri menolaknya. Sekarang kamu meminta waktu, kami tidak akan memberikan kamu waktu sedetikpun." ucap Reza.


"Untuk apa tempat tinggal, bukannya kamu sering nginap di hotel?" tambah Mia.


"Maksud Tante?"


"Kamu tau sendiri apa yang saya maksud."


"Aku mendapat laporan dari orang suruhanku dan Daddy nya Kirana, kalau kamu sering pergi ke hotel untuk menemui seseorang disana. Dan kami juga tau siapa orang itu." ucap Reza.


"Sudah Pa, lebih baik segera suruh dia pergi dari sini, suruh dia bawa anaknya. Kita juga tidak tau siapa Ayah dari anaknya ini." seru Fachri.


"Fachri kamu kenapa bisa berbicara seperti itu, kamu lupa kalau dulu kita pernah saling mencintai." pujuk Luna.


"Itu dulu, saat aku telah dibutakan oleh cinta. Tapi sekarang mata ku telah terbuka dan aku bersyukur hubungan kita berakhir dulu, sebab kalau tidak aku tidak mungkin bisa mendapatkan istri yang baik dan sholeha seperti Kirana." ucap Fachri sambil menggenggam tangan Kirana.

__ADS_1


"Siti, bereskan pakaian Wanita ini sekarang dan lempar keluar." seru Mia tegas.


Bersambung


__ADS_2