
"Gimana menurut kamu cowok bernama Nathan tadi Nay?" tanya Kendra pada putrinya.
"Cowok yang mana?" Kanayah mengernyitkan dahi sambil memasukan keripik kedalam mulutnya.
"Itu yang pake jas hitam, anaknya Tante Sofia." tambah Kiano.
"Oh.." jawab Kanayah singkat.
"Kok jawabannya Oh sih." seru Ummi.
"Lalu Nay mesti jawab apa Ummi?" tanya Kanayah bingung.
"Jawaban yang memuaskan kek, apa kek."
"Ummi mau Nay jawab jujur nih?" tanya Kanayah.
Hummairah dan yang lainnya mengangguk cepat.
"Tua.... kayak om- om..." jawab Kanayah singkat.
Jawaban Kanayah mebuat Kiano dan Fachri tertawa lepas, suara mereka menggema di seluruh ruangan.
Kanayah pun berjalan naik ke kamarnya.
"Gimana ini Dad?" tanya Hummairah.
"Ya... mau bagaimana lagi."
"Tapi si Kanayah ada benernya Dad, liat aja panampilannya si Nathan udah kayak Om-Om beneran." ujar Kiano.
"Mas..." seru Zavira memperingatkan.
"Maaf sayang.." Kiano mengecup pipi istrinya.
Bug...
Pipi Kiano di pukul Zaki.
"Aaawww..." pekik Kiano.
"Ada ap sih?" tanya mereka serentak menoleh.
"Zaki nabok Kiano Mi."
"Kenapa lagi?" tanya Hummairah.
Zaki bangun melepas dot botol dari mulutnya.
"Daddy cium Mommy Oma." seru Zaki
"Memangnya kenapa, inikan Mommy nya Daddy juga." seru Kiano tidak mau kalah.
"No... ini Mommy nya Zaki."
Terjadilah pertengkaran yang memperebutkan Zavira seperti biasa.
Fachri mengajak Kirana ke kamar, malam ini mereka memutuskan untuk menginap dirumah Umminya.
"Kami ke kamar dulu ya... capek mau istirahat." ucap Fachri pamit.
"Iya... istirahatlah." jawab Hummairah.
"Kita ke kamar juga yuk, istirahat sebentar. Abis itu kita pemanasan." ucap Kendra sambil menaikan alisnya dan tersenyum penuh arti.
"Pemanasan untuk apa?" tanya Hummairah...
"Olah raga malam sayangn." bisik Kendra dengan sensual ditelinga istrinya.
Mereka pun ikut masuk ke kamar dan mulai aktifitas malam mereka.
.....
Ditempat lain, Nathan sudah mulai membayangkan wajah polos Kanayah.
"Mama benar, Kanayah memang lucu. Bahkan lebih lucu dari yang Mama ceritakan." gumam Nathan. "Tapi, aku harus jual mahal didepan Mama. Aku tidak mau terlihat kalah di mata Mama."
Keesokan harinya, Nathan telah bersiap untuk berangkat ke kantor. Ia turun ke bawah dan sarapan bersama kedua orang tuanya.
"Sarapan dulu Nath." ucap Sofia pada putranya.
"Iya Ma.." Nathan pun duduk dan mulai mengolesi selai kacang pada rotinya.
"Oh ya Pa, Mama ada janji sama Kanayah siang ini." ucap Sofia pada suaminya sembari melirik ke arah putranya.
"Benarkah?"
"Mama akan makan siang dan belanja." Sofia kembali melirik Nathan yang tampak masih cuek.
"Mama akan pergi sendiri, atau diantar sopir?" tanya Tuan Jhonson lagi.
"Nathan yang akan mengantar Mama ke sana."
Uhuk... Uhuk...
Nathan tersedak saat Mamanya menyebut namanya.
"Kamu kenapa Nath... kamu tidak apa-apa kan?" tanya Sofia.
"Mama nyurh Nathan nganterin Mama kesana?"
"Iya Nath, kamu gak keberatan kan?"
"Ma.. siang ini Nathan akan ada meeting. Siangnya Nathan akan keluar kota, mungkin akan malam baru kembali." elak Nathan. Tapi sejujurnya Nathan ingin Mama nya memaksanya agar mengantarnya, dan menyuruhnya membatalkan pertemuan hari ini. Nathan gengsi jika harus menujukan sikap yang sebenarnya pada Mamanya.
"Ya sudahlah... tidak apa-apa, Mama akan minta antar sopir saja kesana."
Mata Nathan membulat, wajahnya berubah muram.
Sofia tahu putranya sedang berpura-pura sibuk hari ini, ia telah menelpon asistennya dan menanyakan jadwal putranya hari ini. Sofia berencana ingin mendekatkan mereka, mengenal satu sama lain.
"Nathan sudah selesai... Nathan ke kantor dulu Pa, Ma." Nathan mencium pipi Papa dan Mamanya.
"Nathan cuek tuh Ma, rencana Mama gagal dong." bisik Tuan Jhonson.
__ADS_1
"Siapa bilang, justru rencana Mama berhasil."
"Maksudnya?"
"Papa tidak liat mukanya Nathan, waktu Mama bilang Mama minta antar sama supir."
Tuan Jhonson menggeleng.
"Nathan itu minta supaya Mama maksa dia Pa."
"Kok Mama tau?"
"Pa... Nathan itu anak Mama, Mama yang lahirin, Mama yang besarin. Mama tau dia lebih dari dirinya sendiri." ucap Sofia bangga. " Kita taruhan nanti siang pasti dia nelpon Mama dan bilang dia batal keluar kota."
"Baiklah... kalau Mama menang, kita akan undang keluarga Kendra makan malam dirumah kita."
"Sepakat." Sofia menjabat tangan suaminya.
.....
"Cansel, pertemuan keluar kota jadi besok pagi." ucap Nathan pada asistennya sambil berlalu dan masuk kedalam ruangannya.
Nathan kesal dengan Mamanya, ia uring-uringan di kantor. Hingga meeting pun Nathan tidak konsentrasi, pikirannya masih kepada rencana sang Mama. Setelah meeting selesai Nathan masih kepikiran ucapan Mamanya. Nathan meraih ponselnya, ia mengutak-atik nomor sang Mama.
"Apa aku harus nelpon Mama ya, tapi gengsi dong." gumam Nathan.
Kembali Nathan menatap layar ponselnya.
"Tapi, kalau aku gak nelpon Mama.... Aku punya ide."
Nathan segera meraih kunci mobilnya dan keluar meninggalkan kantornya.
......
Sementara itu, Nyonya Sofie telah berada dirumah keluarga Kendra untuk menjemput Kanayah. Sofia mulai menyayangi Kanayah, Sofia pun memutuskan jika Kanayah dan Nathan tidak berjodoh. Ia tetap akan menyanyangi Kanayah, ia akan menganggap Kanayah seperti putri kesayangannya.
"Sudah siap sayang?" tanya Hummairah pada Kanayah yang baru saja turun dari kamarnya.
Kanayah menganggukan kepalanya.
"Ayo kita berangakat." ucap Nyonya Sofia.
Kanayah mengangguk.
"Nyonya Kendra, saya pinjam putri anda sebentar ya."
"Iya Nyonya, dan saya titip Kanayah ya."
"Iya... kami pamit dulu. Ayo sayang." Nyonya Sofia menggandeng tangan Kananyah.
Didepan pintu masuk, mereka bertemu si Tuan rumah. Kendra pulang dari kantornya dengan wajah lelah.
"Daddy." Kanayah mencium tangan Daddynya.
"Mas, kamu kenapa? Kok pucat?" tanya Hummairah khawatir.
"Aku gak enak badan sayang." jawab Kendra. Ia pun melirik pada tamunya.
"Hai Nyonya Jhonsong.
"Kalian mau kemana?"
"Hari ini Nyonya Sofia mengajak Kanayah menemaninya berbelanja."
"Oh..." jawab Kendra singkat.
"Kami permisi dulu Tuan." ucap Sofia.
"Nay pergi dulu ya." Kanayah kembali mencium tangan Ummi dan Daddynya.
Hummairah dan Kendra menatap mereka masuk kedalam mobil, hingga mobip yang membawa mereka menghilang saat keluar dari pagar.
"Kita kedalam yuk!" ajak Kendra.
Hummairah menganggukan kepalabya.
"Kok sepi? Zavira dan Zaki kemana?"
"Lho... kamu lupa, mereka kan ikut Kiano ke luar kota."
"Oh iya...." Kendra menepuk jidatnya.
"Bawaan umur makanya jadi pelupa."
"Sayang... kamu bilang apa barusan?"
"Bawaan umur."
"Kamu mau ngatain aku tua?"
"Gak... aku ngatain kamu tua."
"Sayang, walau usiaku tidak muda lagi. Tapi aku masih mampu membuatmu kewalahan meladeni aku diranjang."
"Mulai lagi."
"Aku serius... kamu mau berapa lama aku masih sanggup."
Hummairah meninggalkan suaminya dan berjalan masuk kedalam.
"Sayang... bikinin aku teh jahe yaa, badan ku pegel semua." ucap Kendra.
Hummairah mengangguk dan tersenyum.
"Aku tungguin di kamar." lanjut Kendra sembari mengedipkan mata.
......
Kanayah dan Sofia telah tiba di pusat perbelanjaan terbesar dikota, itu juga salah satu milik Hummairah. Saat tiba disana Sofia terheran dan bertanya dalam hati kenapa semua pegawai mulai dari Cleaning Service, hingga pegawai toko menyapa Kanayah, dan dengan ramahnya Kanayah juga menjawab sapaan mereka dengan senyuman.
"Kanayah sayang, kamu mengenal mereka semua?" tanya Sofia yang sudah tidak tahan untuk bertanya.
Kanayah tersenyum. "Mall ini salah satu milik Ummi Tante, dan Nay sering kesini temani Ummi memantau atau pun berbelanja, dan Nay juga punya beberapa toko disini."
__ADS_1
"Oh ya... wah, kamu hebat sayang."
"Belum Tante, cuma usaha kecil-kecilan."
"Kecil besar usahanya, jika kita rajin dan ulet bisa jadi raksasa kedepannya."
"Aamiin Tante... oh ya, Tante mau lihat salah satu toko Nay gak?"
"Boleh..."
Kanayah menganggukan kepalanya.
"Ayo."
Mereka pun berjalan dan masuk kedalam sebuah toko yang berisi pakaian wanita muslimah. Semua perlengkapan muslima semuanya ada, mulai dari gamis, jillab aneka model dan ukuran, khimar, niqab dan kaos kaki pun ada disana.
Saat tiba disana, seluruh karayawan menyapa Kanayah.
"Ini milik kamu sayang?" tanya Sofia.
"Iya Tante... ini khusus wanitanya, kalau pria nya ada diseberang." jawab Kanayah menunjuk ke toko di depan mereka. "Tante mau kesana?"
"Ayo."
Mereka pun menyeberang ketoko didepan mereka.
"Ini khusus prianya Tante.. memang tidak sebanyak wanita."
"Maksudnya?"
"Kalau wanitanya kan, harus lengkap Tante. Mereka kan harus menutunya dari ujung rambut hingga kaki. Tante pernah liat Ummi, kak Zavira dan Kak Kirana kan? seperti itulah seharusnya."
"Kamu sendiri, kenapa masih suka pake celana?"
"Lagi enak gini Tante, tapi kalau udah nikah bakal sama kok, kayak yang lain dirumah."
"Ummi kamu udah lama berpakaian seperti itu?"
"Menurut cerita Opa uyut sih, iya. Ummi tidak pernah melepas penutup kepalanya dimana pun dia berada. Kecuali di dalam kamar, dan lagi sama Daddy."
"Pantas saja."
"Pantes kenapa Tante?"
"Pantesa saja setiap Tante kerumah, Tante gak pernah liat Ummi kamu melepas jilbabnya."
"Iya.. kita jalan lagi Tante?"
"Ayo."
Mereka pun kembali melanjutkan kegiatan mereka.
Tanpa mereka sadari sepasang mata memperhatikan dan mengintai dari jarak jauh.
Siang harinya mereka memutuskan untuk makan siang, dan segera mencari tempat makan, setelah mendapat yang cocok mereka pun segera memesan makanan.
Mata Sofia menangkap kehadiran Nathan yang duduk diseberang meja mereka.
"Nathan..." panggil Sofia pada putranya.
Mata Kanayah membulat saat mendengar Sofia memanggil putranya. Dengan berta hati Nathan menghampiri meja Mamanya dan Kanayah.
"Kamu kok ada disini? katanya meeting keluar kota."
"Gak jadinya, kliennya menundanya lusa." jawab Nathan menarik kursi dan duduk di samping Kanayah.
Kanayah diam dan menundukan kepalanya, dan mulai memilih menu.
"Kamu keluar makan siang Nath?" tanya Sofia.
"Iya Ma... sekalian mantau proyek properti Nath disekitar sini." jawab Nathan yang masih memperhatikan Kanayah.
Sofia tahu arah mata putranya yang sedari tadi tidak pernah lepas dari Kanayah.
Pelayan datang setelah Sofia memanggilnya.
"Kamu pesan apa sayang?" tanya Sofia pada Kanayah.
"Nay, mau ini dan minumnya jus mangga tanpa susu."
"Kamu lagi diet sayang?" tanya Sofia pada Kanayah.
"Gak Tante... Nay alergi susu." jawab Kanayah tersenyum.
"Susu apa pun?"
Kanayah menganggukan kepalaya. "Susu apapun selain ASI, makanan pun banyak yang gak boleh dibandinh boleh."
"Kasian sekali kamu sayang, jadi kalau dirumah kamu makannya gimana?"
"Ada satu koki yang Daddy pekerjakan khusus untuk Nay, dia juga bukan sembarang koki. Dia merangkap dokter untuk Nay, dia akan menakar jumlah makanan yang akan Nay makan."
"Kalau alergi kamu kumat gimana Nay."
"Sejak Daddy mempekerjakan koki itu, Nay udah hampir gak pernah kambuh lagi."
"Sebelumnya?"
"Sering Tante, yang lebih parah terakhir saat Nay SMA."
"Kenapa?"
"Nay, bandel masih nyoba minum minuman yang ada kandungan susu nya. Badan Nay langsung lebam merah dan membengkak. Akhirnya Nay dilarikan ke rumah sakit."
"Apa Ummi dan Daddu kamu tidak marah?"
"Ummi sih gak, tapi Daddy marah besar dab akhirnya Daddy nyuruh orang cari seseorang yang mengerti tentang alergi pada Nay, dan ketemulah si koki ini. Itu juga harus melalui seleksi ketat, dan sejak saat itu semua apa yang Nay makan dia selalu menyiapkan nya."
"Sekarang kamu diluar, bagaimana?"
"Nay udah nanya barusan ke dia, dia blg jangan makan makanan berlemak yang berlebih dan tetap susu harus dihidari." jelas Kanayah panjang lebar.
Nathan tertegun mendengar penjelasan Kanayah, kini ia mengerti kenapa Tuan Kendra memberi perhatian lebih pada Kanayah. Nathan menunduk dan tersenyum, kini ia yakin dengan pilihan orang tuanya dan akan memantapkan hatinya untuk gadis dihadapannya. Nathan juga berjanji akan selalu menjaga dan melindungi Kanayah.
__ADS_1
Bersambung.
minta jempolnya plisss