CEO DINGIN DAN GADIS SHOLEHA

CEO DINGIN DAN GADIS SHOLEHA
158.


__ADS_3

"Maaf Ki.... aku belum bisa nyusul kamu kesana, sebab urusan ku disini belum selesai.Aku janji setelah urusan ku disini selesai aku akan langsung terbang kesana'


Isi pesan yang dikirm Fachri untuk Kiano, Kiano hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Ada apa kenapa Kak, senyam senyum sendiri." tanya Zavira menghampiri suaminya.


"Ini.." Kiano menunjukan pesan dari Fachri sembari mngecup kening istrinya.


"Memang Kakak nyuruh Fachri apa?" tanya Zavira.


"Gak.... aku cuma...." ucapan Kiano terpotong saat melihat beberapa orang datang dengan menggotong Kirana.


"Assalamualaikum..." ucap orang itu dalam bahasa Arab.


"Waalaikumsalam.." sahut Zavira yang langsung berlari menghampiri Kirana.


"Apa yang terjadi?"(dalam bahasa Arab) tanya Zavira kepada mereka yang mengantarkan Kirana pulang.


Mereka pun menceritakan kejadiannya, bahwa Kirana telah keserempet mobil, dan pemilik mobil juga ikut mengantar Kirana pulang.


"Nama saya Salim... maaf saya yang telah menyerempet Nona Kirana." aku seorang pemuda Arab.


Kiano hanya menganggukan kepalanya dan mempersilahkan pemuda itu duduk.


Kiano memperhatikan pemuda itu tampak menyesali perbuatannya, ia terus saja menundukan kepalanya tanpa berani menatap Kiano.


"Siapa nama mu tadi?"(dalam bahasa Arab) tanya Kiano.


"Nama saya Salim, Salim bin Umar." jawabnya lengkap.


"Maaf, jika bahasa saya kurang sempurna. Saya hanya tamu disini dan ini istri saya, dan Kirana adalah adik saya. Mereka disini melanjutkan kuliah mereka." jelas Kiano.


"Jadi gadis yang saya tabrak tadi namanya Kirana?" tanya Salim.


"Ya, namanya Kirana." jawab Kiano mengernyitkan dahinya.


Salim tampak tersenyum, sembari merapal nama Kirana di bibirnya.


.....


Fachri begitu tidak tenang saat Kiano memberinya kabar bahwa Kirana mengalami kecelakaan, Fachri memang sudah berbicara pada Kirana melalui telpon, dan gadis itu mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Tapi Fachri belum bisa tenang jika ia belum melihat sendiri keadaan Kirana.


Selama meeting Fachri tidak bisa konsentrasi penuh, ia lebih banyak bengong. Mama dan Papa Fachri pun khai dengan kondisi putranya yang selalu tampak tidak bersemangat menjalani harinya.


Saat makan malam Papa dan Mama Fachri tampak saling bertukar pandangan saat melihat putra mereka hanya mengaduk-aduk makanannya.


"Fachri, makanlah Nak." ucap sang Mama.


"Fachri udah kenyang Ma." Fachri mendorong piringnya dan beranjak dari duduknya, berjalan menuju tangga dan naik keatas.


"Fachri, Papa dan Mama ada sesuatu untuk kamu." ujar Pak Reza pada putranya.


Fachri membuka amplop berwarna coklat itu, dan ternyata isinya adalah tiket pesawat.


Senyum Fachri pun mengembang, saat melihat itu. Fachri segera memeluk Mamanya sebagai ucapan terimakasih.


"Sekarang segera bersiap, Papa yakin Kirana pasti juga nungguin kedatangan kamu.


"Pa, sepertinya kita harus cepat mempersunting Kirana jadi menantu kita, supaya jagoan kita ini tidak uring-uringan lagi." cetus Mama Fachri.


"Itu Fachri setujua Ma, kemaren Fachri sempat ngajak Kirana tunangan. Tapi Kirana meminta waktu untuk berpikir." ungkap Fachri.


"Waah... kamu melangkahi kami ya! Dasar anak nakal." pungkas Mama Fachri menarik kuping putranya.


"Habis, Fachri takut kayak Kiano Ma. Pacar nya tiba-tiba terpikat orang lain" cerita Fachri.


"Tenang Fachri, nanti kalau ada waktu kami sendiri yang akan menghadap orang tuanya." ucap Pak Reza tegas.


"Ya, sudah Fachri siap-siap dulu ya." Fachri pun meninggalkan kedua orang tuanya dan masuk kedalam kamarnya untuk bersiap berangkat sore ini.


......


Hummairah dan Kendra begitu cemas saat mendengar berita putri mereka kecelakaan, mereka pun memutuskan untuk berangkat ke Kairo secepatnya.


Setelah menempuh perjalanan waktu belasan jam, Kendra dan istrinya tiba terlebih dahulu. Sedangkan Fachri tiba selang setengah jam dari mereka.


Hummairah duduk disamping putrinya yang belum bisa berjalan, cidera dikaki Kirana membuatnya harus membatalkan turnamen Wu Shu nya.


Itu lah yang kini mengganggu pikiran Kirana, ia begitu ingin ikut turamen itu.

__ADS_1


Fachri duduk jauh dari Kirana sebab Kirana sedang di temani oleh Ummi dan Zavira.


Mereka pun membicarakan bisnis dan saham, Fachri pun sudah mulai menguasai dunia bisnis sejak ia di diterjunkan langsung oleh Mama nya.


Ditengah asyik membicarakan saham, bisnis, dan sebagainya. Tiba-tiba seseorang datang, dan memberi salam.


"Assalamualaikum." ucap Salim.


"Waalaikumsalam." jawab mereka serempak.


"Salim... masuklah." ujar Kiano mempersilahkan.


"Siapa Ki?" tanya Kendra.


"Namanya Salim Dad, dia yang kemaren nganterin Kirana pulang." jelas Kiano.


Kendra menganggukan kepalanya mengerti.


"Salim, ini Ayah ku." Kiano memperkenalkan Daddy nya.


"Assalamualaikum Tuan." sapa Salim ramah dan mencium tangan Kendra.


Kendra terkejut dengan perlakuan Salim yang menyalaminya.


Kiano pun kemudian memperkenalkan kepada Ummi nya.


Ummi nya tampak senang berbincang bersama Salim, ditemani oleh Zavira dan Kirana.


Wajah Fachri tiba-tiba kesal melihat keakraban Salim dengan keluarga Kendra.


Kiano yang melihat itu pun, otak nya tiba-tiba di hinggapi ide jahil. Kiano mendekati Fachri dan mulai membisikkan sesuatu.


Ternyata tidak hanya Fachri yang kesal sama Salim, Kendra juga terlihat kesal. Pasalnya istrinya juga sedang asyik mengobrol bersam Salim dan lainnya.


"Sayang, aku gerah mau mandi." seru Kendra naik keatas dan masuk ke kamar.


"Baiklah, Nak Salim Ummi tinggal dulu. Daddy Kirana mau mandi dan biasanya setelah ini ua pasti langsung istirahat.


Hummairah pun menyusul suaminya dikamar atas.


"Mas,,, kamu dimana?" tanya Hummairah mencari suaminya.


"Aaahk...." seru Hummairah terkejut.


"Sayang, seperti tadi kamu lupa bahwa kamu punya suami tampan." ucap Kendra kesal.


"Kamu cemburu Mas." tanya Hummairah menahan tawa.


"Apa aku harus jelaskan lagi?" gerutu Kendra.


Hummairah tersenyum memeluk suaminya." Mas, Salim itu anak dari salah satu ulama disini." jelas Hummairah.


"Lantas?"


"Ya gak apa-apa, aku cuma jelaskan." ungkap Hummairah.


"Aku mau mandi." celetuk Kendra.


"Mandi ya mandi aja, kenapa harus repot sih." ucap Hummairah ingin melepaskan diri. Sebab Kendra sudah melepas pakainya, dan Hummairah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya jika ia tidak segera pergi dari sana.


"Aku masih kesal sayang, sebagai hukumannya. Kamu harus temani aku disini." cetus Kendra membawa istrinya dibawa shower dan menghidupkan airnya.


"Maaaas, aku belum mau mandi." seru Hummairah.


"Terlambat, siap suruh kamu bikin aku kesal."


Seperti biasa mereka pun melalukan ritual mandi bersama, sepeti yang biasa mereka lakukan.


.....


Dibawah Fachri menahan kesal, pasalnya Salim belum juga mau beranjak dari samping Kirana. Dan Kirana pun sepertinya asyik mengobrol bersama Salim.


Walau disana ada Zavira tapi tetap saja, Zavira tidak sepenuhnya bersama mereka. Ia masih harus melayani Kiano.


Hingga tibalah Salim pun pamit undur diri, ia pun menghampiri Fachri untuk berpamitan. Fachri tersenyum dan menjabat tangan Salim, pemuda itu pun tersenyum saat bersalaman dengan Fachri.


"Waah... saingan lu udah pulang tuh, udah dekatin adek gue sekarang." goda Kiano.


"Apaan sih." kesal Fachri.

__ADS_1


"Alaa... gue tau lu cemburu sama si Salim kan?" ejek Kiano.


"Udah ah, lu bikin gue tambah kesal." rungut Fachri.


Kiano terkekeh. "Fachri, gue titip Kirana sebentar." ujar Kiano.


"Lu mau kemana?" tanya Fachri.


"Gue mau tidur, istirahat sama istri gue. Lu kan tau gue masih dalam mode pengantin baru." kekeh Kiano.


Fachri menggelengkan kepalanya, ia pun berjalan mendekati Kirana.


Kirana tersenyum melihat wajah kesal Fachri.


"Kenapa kamu tersenyum Na?" Kirana menggelengkan kepalanya.


Fachri mengernyitkan dahinya bingung.


"Lalu itu apa?" tanya Fachri lagi.


"Kamu kalau lagi kesal lucu ya Kak." Kirana terkekeh.


"Lucu kamu bilang, aku marah lho ini." kesal Fachri.


"Marah kenapa?"


"Marahlah, liat kamu sama siapa tadi namanya." Fachri tidak mau menyebut namanya.


"Salim Kak." kekeh Kirana.


"Nah itu dia, mesra banget kamu nyebut namanya."


"Lha... tadikan kamu yang bisa nyebut namanya, lagian aku nyebutnya biasa aja."


"Biasa gimana, mesra gitu." gumam Fachri.


"Ngomong apa Kak?"


"Gak, gak ngomong apa-apa." jawab Fachri.


Kirana tersenyum, kemudian mencoba untuk berdiri.


"Kamu mau apa?" tanya Fachri heran.


"Mau berdiri lah, gak liat aku nya lagi mau bangun." Kirana memegang salah satu sudut dinding rumahnya.


"Maksudnya aku, kamu mau kemana?" tanya Fachri lagi.


"Mau ke kamar mandi, pengen mandi sekalian sholat, udah masuk waktu dzuhur ini." jelas Kirana.


"Sini aku bantuin." Fachri mengulurkan tangannya.


Kirana tampak berpikir ingin menolak, tapi Fachri tahu apa yang saat ini Kirana pikirkan


"Udah gak apa-apa, kan kepepet dan mendesak. Apa kamu mau nungguin Ummi atau Zavira keluar dari kamar, yang ada kamu bakalan pipis disini." jelas Fachri.


Kirana pun menyambut uluran tangan Fachri, perlahan Fachri memapah tubuh Kirana menuju kamarnya. Fachri menggenggam erat jemari Kirana.


Jantung mereka berdetak sangat kencang, seakan ingin melompat keluar.


"Sudah Kak, cukup. Sampai disini saja." ucap Kirana saat tiba di kamarnya.


"Astagfirullah..." ucap Kirana.


Ia sudah tidak bisa mampu lagi mengendalikan detak jantungnya.


"Benar apa yang dikatakan Ummi, jika lelaki dan perempuan sedang berdua ketiga nya pasti ada setan yang hadir diantara mereka.


Ampuni hamba Ya Allah, hamba tau hamba telah berdosa." gumam Kirana dalam hati.


Ia segera mandi dan berwudhu, dan melanjutkan ibadahnya.


Fachri juga merasa tidak nyaman dengan semua ini, ia akan meminta maaf pada Kirana nanti.


*Bersambung...


jangan lupa untuk tinggalin jejak dengan me Like dan komen disetiap* eps nya.


Dan terus dukung karya ku yang lain yabg judulnya

__ADS_1


MENGEJAR CINTA ASISTEN.


__ADS_2