
"Mi... hari ini Nana ikut Daddy ke kantor ya!" ucap Kirana saat mereka sedang sarapan bersama.
"Kamu mau ngapain kesana nak?" tanya Hummairah.
"Lagi pengen aja, kan Nana gak jarang maen ke kantor Daddy."
Kiano dan Kendra berpandangan, mereka tahu sebenarnya Kirana ingin menghindari Lucas, Kendra pun menebak pasti terjadi pertengkaran antara Kirana dan Fachri. Kendra tahu betapa posesive nya Fachri pada Kirana.
"Kamu boleh iku... " jawab Kendra sambil menyeruput kopi pahitnya. "Sekarang segera bersiap, Daddy tunggu di mobil."
Kirana tersenyum dan segera berlari naik ketangga menuju ke kamarnya mengambil perlengkapannya.
"Kamu juga mau ikut sayang?" tanya Kiano pada istrinya.
"Gak ah... aku mau temani Ummi aja dirumah." jawab Zavira.
"Kalau kamu mau pergi, pergi aja sayang... Ummi gak apa-apa kok." ucap Hummairah.
"Males ah... disana aku juga gak ngapa-ngapainkan." ujar Zavira.
"Disana kamu cukup duduk manis di ruangan aku, sambil tersenyum menatap aku." celetuk Kiano.
"Itu dasar mau nya kamu." seru Ummi nya.
Kiano pun tertawa. "Jadi yakin nih.. gak mau ikut?"
Zavira menggelengkan kepalanya.
"Ya udah... Ummi Kiano ke kantor dulu ya."
Kiano pamit pada Umminya, mencium tangan dan pipi. "Sayang aku ke kantor dulunya."
Zavira mengangguk dan mencium tangan suaminya.
Kirana pun ikut berpamitan dan mereka pun langsung menuju ke kantor.
....
Satu minggu berlalu, Kirana masih suka ikut ke kantor bersan Daddy dan Kakaknya. Hummairah yang penasaran dengan sikap putrinya tidak bisa menahan rasa ingin tahunya. Ia pun bertanya pada suaminya, penyebab Kirana sering ikut dengannya ke kantor. Kendra pun menjelaskan dengan gamblang dan Hummairah pun akhirnya mengerti. Ia pun kembali teringat dengan Lucas, pemuda yang selalu menemui Kirana dalam waktu dekat kemarin. Kendra pun kembali bercerita tentang Lucas yang menyukai Kirana.
Hummairah menarik napasnya, ia pun menyadari kecemburuan Fachri terhadap Kirana. Hingga Fachri tidak bisa lagi jauh dari Kirana, Hummairah pun khawatir jika suatu saat pernikahan tidak jadi dilaksanakan karena belum ada kepastian tentang siapa Ayah dari anaknya Luna.
....
"Tante... kapan kalian akan melaksanakan pernikahan antara aku dan Fachri." tanya Luna.
"Apa maksud kamu, penikahan apa?" tanya Reza Papa Fachri.
"Pernikahan aku dan Fachri Om, aku kan udah disini menunggu kalian membatalkan
pernikahan antara Fachri dan Kirana." seru Luna.
"Itu tidak akan terjadi, pernikahan antara Kirana dan Fachri akan tetap dilaksanakan. Itu sudah menjadi keputusan ku, dan kamu jika kamu tidak berniat menghadiri pernikahannya, kamu angkat kaki dan pergi dari rumah ini." seru Reza lantang.
"Tidak bisa begitu Om, aku sudah memiliki anak bersama Fachri dan itu cucu kalian."
"Aku sudah bilang padamu, kau tinggalkan saja Andrew bersama kami, dan kami akan memberikan imbalan untuk mu. Kau bisa memulai hidupmu dengan kekayaan yang keluar kami berikan." ujar Reza.
"Aku tidak mau, bagaimana pun juga Andrew putra ku, dimana pun Andrew berada aku akan selalu bersamanya."
"Aku bisa menyewa pengacara untuk merebut Andrew darimu, tapi tidak aku lakukan sebab aku berpikir Andrew masih membutuhkanmu. Karena itulah aku tidak mengusirmu dari sini." ucap Reza tegas dan diikuti oleh Mia istrinya meninggalkan Luna sendiri yang masih mematung.
Luna mengepalkan tangannya kesal, sampai saat ini ia dan Lucas belum berhasil membuat Kirana dan Fachri berpisah. Lucas pun belum mampu membuat Kirana berpaling kepadanya. Luna pun menghubungi Lucas untuk bertemu di hotel tempat mereka biasa bertemu.
Luna melangkahkan kakinya keluar dari rumah Fachri dan pergi menemui Lucas di hotel.
.....
Fachri menemui Kirana di kantor Daddynya, ia berniat untuk mengajaknya makan siang diluar.
"Tuan Kendra nya ada?" tanya Fachri pada petugas recepsionis.
"Ada Pak, silahkan." ucap resepsionis yang telah mengenal Fachri.
Setelah mengucapkan terima kasih, Fachri pun menuju lift khusus yang langsung ke ruangan Kendra.
"Assalammu'alaikum." ucap Fachri sebelum masuk dan langsung membuka pintu.
"Waalaikumsalam." jawab Kendra dan Kirana dari dalam.
Fachri masuk dan berjalan memdekat pada Kendra kemudian menyapanya.
"Fachri... kamu dari mana?" sapa Kendra.
"Dari kantor Om, dan kesini mau jemput Kirana makan siang " jelas Fachri.
"Baik... pergilah, dan ingat setelah selesai langsung antar Kirana pulang tepat waktu sebelum malam." ujar Kendra memperingatkan.
Kirana dan Fachri pun berpamitan pada Kendra, kemudian berjalan keluar dari ruangan dan meninggalkan kantor.
__ADS_1
"Kita mau makan dimana Kak?" tanya Kirana.
"Kamu mau nya dimana?" tanya Fachri balik.
"Terserah..." jawab Kirana.
"Baiklah, kita akan makan siang cafe dekat sini aja ya!" ucap Fachri.
Kirana mengangguk, Fachri pun melajukan mobilnya ke arah yang akan mereka tuju.
Saat mereka tiba disana Kirana melihat Luna sedang berbicara pada seorang pria. Kirana pun menahan tangan Fachri agar pemuda itu jangan keluar dulu dari dalam mobil.
"Ada apa dear?" tanya Fachri heran
"Itu..." tunjuk Kirana pada Luna yang sedang duduk disebuah meja dengan seseorang.
"Luna..." gumam Fachri kemudian kembali duduk kedalam mobil.
"Kita makan ditempat lain aja yuk Kak!" ajak Kirana.
"Tenang dear... aku akan menghubungi orang suruhanku yang mengawasi Luna." Fachri merogoh saku nya dan mengambil ponselnya. Fachri menunggu panggilannya dijawab oleh anak buahnya, tidak lama kemudian panggilan seseorang menjawab panggilan Fachri.
"Apa kalian sedang mengawasi Luna?" tanya Fachri.
"Iya Pak, kami masih mengawasinya."
"Katakan dengan siapa Luna saat ini?" tanya Fachri lagi.
"Mbak Luna sedang bersama pemuda yang sering menemui Mbak Kirana Pak."
Rahang Fachri mengeras mendengarnya, ia sudah menduga Lucas pasti punya maksud tertentu untuk mendekati Kirana. Kirana menatap Fachri dengan heran.
"Terus awasi mereka, dan segera laporkan padaku apa saja yang mereka lakukan dan kemana saja mereka pergi." ucap Fachri dan menutup telponnya.
Kirana menatap Fachri. "Ada apa Kak, apa yang mereka katakan?"
Fachri menoleh ke arah Kirana dan menatapnya.
"Luna bersama.... Lucas." ucap Fachri.
"Luna mengenal Lucas?" tanya Kirana terkejut.
"Entahlah dear, tapi orang suruhan ku bilang Luna bersama pria yang sering menemuimu dirumah. Siapa lagi kalau bukan Lucas."
"Bukan... Nana gak terkejut dengan itu, cuma bingung aja dari mana Luna dan Lucas kenal. Sedangkan menurut cerita Lucas dan yang Nana tau, Lucas bukan warga negara ini. Ia hanya mengikuti kedua orang tuanya yang bekerja di kedutaan kemarin, dan mereka telah kembali kenegaranya setelah Papanya pensiun."
"Kamu mengenal dekat Lucas?" tanya Fachri cemburu.
"Kenapa Kiano tidak mengenalnya?"
"Kak.... Nana dan Kak Kiano itu beda 3 tahun, dan Lucas pindahan dari luar saat Kak Kiano telah lulus." jelas Kirana.
"Tapi cerita Kiano, banyak teman-teman Kiano yang suka sama kamu, jadi bagaimana ceritanya jika Kiano lulus sedangkan teman-temannya bisa suka sama kamu."
Kirana tersenyum. "Kak.... kami bertiga, Kak Kiano, Nana, dan Nay itu masuk disatu sekolah yang sama. Sekolah itu melingkup dari tingkat PAUD, TK, SD, SMP, dan SMA. Mungkin Kak Kiani cerita saat Nana pertama masuk SMP." jawab Kirana.
"Bener?" tanya Fachri.
"Iya bener..." Kirana masih menahan tawa.
"Kenapa kamu tertawa? Apa ada yang lucu?"
"Ada.."
"Apa! siapa yang lucu?" tanya Fachri.
"Kamu yang lucu?" jawab Kirana masih menahan tawa.
"Aku?"
"Iya.... kamu itu marah dan ngomel gak jelas."
Kirana mengegelengkan kepalanya.
"Aku begini, karena aku cemburu tau.."
akhirnya meluncur juga kata-kata yang Fachri tahan dari tadi.
"Kamu cemburu? Kenapa?"
"Aku gak suka liat kamu dekat dengan laki-laki lain, selain Daddy, Kakak kamu, dan Papa."
"Apa dengan supir dan tukang kebun kamu juga cemburu?"
"Tentu saja."
Kirana tertawa lepas dan segera menutup mulutnya.
"Kenapa kamu tertawa?"
__ADS_1
"Gak... gak apa-apa." Kirana menggeleng.
"Jadi makan gak nih?" tanya Fachri.
"Kita makan di MC aja yuk!" ajak Kirana.
"Gak mau, disana terlalu rame." tolak Fachri.
"Ayolah... Nana udah lapar nih." pujuk Kirana.
Fachri menghela napas. "Baiklah, tapi kita makannya di mobil ya." ucap Fachri memberi syarat.
"Siap bos...." ucap Kirana tertawa. "Bos yang suka ngambek dan cemburuan." Kirana kembali terkekeh.
"Kamu bilang aku apa? Bos cemburuan yang suka ngambek, coba bilang sekali lagi." ujar Fachri sembari mendekati Kirana.
"Kak Fachri mau apa?" tanya Kirana mulai ketakutan saat Fachri memajukan badan nya ke arah Kirana.
"Kamu tau kan apa yang akan aku lakukan, aku akan menghukum kamu." ucap Fachri menyeringai.
Wajah Kirana pucat, ia sangat ketakutan saat Fachri mulai mendekatinya. Setelah melihat wajah panik Kirana, Fachri pun tertawa terpingkal.
"Kamu lucu hahahahaaaa..." Fachri tertawa lepas.
"Nyebelin." gumam Kirana kemudian diam karena kesal.
"Sudah bercandanya... aku lapar, kalau terus disini bisa-bisa kamu yang aku makan." ujar Fachri.
Fachri pun menyelakan mesin mobilnya, kemudian meninggalkan halaman parkir hotel menuju restoran siap saji.
....
Kiano baru saja tiba dirumah, setelah menemui Umminya ia pun segera beranjak naik ke kamarnya. Melepas sepatu didepan pintu kamarnya dan menggantinya dengan sandal yang biasa ia gunakan dirumah.
"Assalammu'alaikum." ucap Kiano.
"Waalaikumsalam." jawan Zavira dan putranya Zaki serentak.
"Daddy..." seru Zaki menyapa Kiano.
Kiano tersenyum dan berjalan mendekati istrinya, Zavira pun segera meraih tangan Kiano kemudian menciumnya. Zavira pun kembali mengurus putranya yang baru saja selesai mandi. Kiano memperhatikan Zavira yang dengan cekatan mengurus putranya.
"Istirahat dulu dan dinginkan tubuh kamu dulu, setelah ini aku akan menyiapkan air mandi untuk mu." ujar Zavira sembari
memakaikan Zaki baju.
Setelah selesai Zavira masuk kedalam kamar mandi untuk menyiapkan air mandi untuk suaminya. Sesaat kemudian terdengatlr suara pintu kamar mandi terbuka dan menutup kembali. Zavira terkejut melihat Kiano telah berada dibelakangnya.
"Mas... kok disini?" Zavira kembali memutar tubuhnya dan membelakangi Kiano.
Kiano mendekati Zavira dan memeluknya dari belakang, mengecup leher jenjangnya.
"Sayang.... aku lagi pengen." bisik Kiano ditelinganya.
Zavira tersenyum dan mengusap pipi Kiano.
"Nanti malam aja ya." pujuk Zavira.
"Lagi pengennya sekarang."
"Tapi aku belum mandi nih... masih lengket." ucap Zavira melingkarkan tangannya di leher Kiano.
Kiano memeluk pinggang Zavira, kemudian menempelkan bibirnya ke bibir Zavira dan mengecupnya. Zavira membalas ciuman Kiano dan mereka pun saling berciuman, saling memainkan lidah didalam mulut masing-masing.
Tangan Kiano mulai menggerayangi tubuh Zavira menarik retsleting baju istrinya. Tampak sudah bahu putih milik Zavira, Kiano mengecupnya dan perlahan menggigit lembut.
Zavira pun telah membuka kemeja Kiano, kini Kiano sudah bertelanjang dada. Terlihat susunan otot perutnya, lengan yang kokoh serta dada yang bidang. Zavira mengecup leher Kiano, Kiano memejamkan matanya menikmati sensasi yang diberikan oleh Zavira.
"Aku mau sekarang sayang...." bisik Kiano parau.
Zavira tersenyum. "Dimana Zaki?"
"Zaki udah sama Ummi tadi." Kiano kini mulai melepas baju Zavira dan baju itu pun terlepas dari tubuh Zavira.
Kiano kembali mencium bibir Zavira, sementara tangannya meremas squisy milik istrinya. Mata Zavira terpejam menikmati sentuhan tangan Kiano. Akhirnya mereka pun melakukannya, hingga Zavira lemas dan Kiano sendiri terhempas disamping Zavira.
Kiano tersenyum menatap wajah istrinya dan mengecup keningnya.
"Terima kasih sayang." ucap Kiano.
Zavira tersenyum kemudian beranjak dari tidurnya menuju kamar mandi, dan Kiano mengikutinya.
"Mas... mau apa lagi." tanya Zavira.
"Mau mandi sama kamu."
"Gak ada... bukan nya mandi pasti ngulang lagi." seru Zavira.
"Masa bodoh...." Kiano pun mengunci pintu kamar mandi dan mandi bersama istrinya.
__ADS_1
Bersambung.