CEO DINGIN DAN GADIS SHOLEHA

CEO DINGIN DAN GADIS SHOLEHA
202.


__ADS_3

"Kamu udah siap?" tanya Nathan pada istrinya yang sedang merapikan jilbabnya


Kanayah menganggukan kepalanya.


"Kita sarapan dulu, setelahnya baru kita berangkat kerumah Ummi." Nathan menuntun istrinya keluar dari kamar.


"Sarapan dulu sayang." ucap Mama Nathan dan Papa nya tersenyum menyambut mereka.


"Iya Ma." jawab Kanayah.


"Kamu kok udah rapi, mau pergi lagi?" tanya Mama.


"Dirumah Ummi masih ada Opa dan Oma uyut dan keluarga lainnya Ma, jadi Ummj meminta kita kumpul dulu selama mereka disini." jelas Nathan.


"Oh... sebenarnya Mam pengen minta temani kamu ke salon." wajah Mama cemberut.


"Ma... kita gak nginap, nanti sore Kak Nathan pulang kantor, Nay ikut pulang." hibur Kanayah.


"Gitu ya?" tanya Mama kembali bersemangat.


Kanayah menganggukan kepalanya dan tersenyum, Nathan menatap Kanayah dengan bingung. Kanayah tersenyum tipis, mereka pun melanjutkan menikmati sarapannya.


******


"Assalammu'alaikum." ucap Kanayah dan Nathan.


"Waalaikumsalam." jawab yang lain.


"Masuk sayang." ajak Ummi Hummairah.


"Daddy mana Mi?" tanya Kanayah.


"Daddy ke kantor notaris sama Kakak kamu dan Papa Ilham." tutur Ummi.


"Ngapain ke notaris Mi?"


"Ummi dan Daddy belum cerita sama kamu ya?" ujar Ummi.


Kanayah menggeleng.


"Daddy mau pensiun, dan menyerahkan semuanya urusan ke kalian bertiga."


"Maksudnya?"


"Ya pensiun, Daddy udah capek. Daddy pengen ngajak Ummi pulang kerumah Kakek Firman yang dikampung. Ngurus ternak dan tambak milik Kakek Firman."


"Jadi, kalau Nay kangen nanti gimana?"


'Ya... kamu tinggal minta antar sama suami kamu kesana. Kami berdua pengen menghabiskan banyak waktu berdua."


Kanayah mengangguk mengerti.


"Beb, aku berangkat ke kantor dulu ya." ucap Nathan.


"Ah... ya." Kanayah pun mengantarkan suaminya, setelah Nathan pamit pada tetua keluarga. Kanayah pun mengantar Nathan ke mobilnya.


"Kamu yakin gak mau nginap disini?" tanya Nathan.


"Iya, udan janji sama Mama mau nemanin kesalon dan belanja besok." jawab Kanayah.


"Baiklah, nanti sore aku jemput." Nathan mengecup pipi istrinya.


Kanayah kembali melotot kearah Nathan, Nathan tersenyum mengusap kepala istrinya.


"Aku berangkat deh."


"Iya...."


Nathan memasang kacamatanya dan masuk kedalam mobilnya.


"Bye..." ucap Nathan.


"Bye..." jawab Kanayah.


"Love u." goda Nathan.


"Udah... kapan berangkatnya?" ucap Kanayah kesal.


"Balas dulu, bilang love u too. Baru aku pergi ke kantor sekarang."


Kanayah memutar matanya kesal.


"Ayo... buruan."


"Love u too..." ucap Kanayah tersenyum kesal.


Nathan tersenyum, Kanayah terpesona saat melihat Nathan tersenyum, wajahnya terlihat semakin tampan.


"Puas??"


Nathan menyakan mobilnya. "Bye Beb, I love u."


"Dasar..." gerutu Kanayah.


******


Sore hari Nathan menjemput istrinya di rumah mertuanya.


"Kamu mau pulang sayang?" tanya Daddy Kendra.


"Iya Dad, tadi udah janji mau nemanin Mama belanja."

__ADS_1


"Tapi..."


"Mas..." ucap Ummi Hummairah.


Kendra kembali diam.


Kanayah beranjak ke atas mengambil tasnya, tapi Nathan menahannya.


"Beb... kita nginap disini." ucap Nathan.


"Tapi Mama...." tanya Kanayah.


"Nanti aku ngomong ke Mama, besok pagi kita pulang dan kamu bisa nemani Mama."


"Gak apa-apa?" tanya Kanayah lagi.


"Gak apa-apa, Mama pasti ngerti kok."


Kanayah merasa tidak enak, tapi Nathan segera menghiburnya.


"Aku capek, mau istirahat. Temani aku ya." ucap Nathan mengedipkan matanya genit.


Kanayah memuncungkan mulutnya. Ulah kedua anak manusia itu tidak luput dari pantauan Daddy Kendra dan keluarga lainnya.


"Nay... antar suaminya istirahat, kasian capek." goda Mama Medinah.


Kanayah pun mengantarkan Nathan ke kamarnya.


"Aku lihat mereka makin sweet aja Kend." celetuk Ilham.


"Iya... Nathan lebih mengerti menempatkan diri jika Kanayah lagi moody an." sambung Medinah.


"Nathan bisa mengontrol emosi Kanayah, kamu tau kan gimana Kanayah kalau lagi marah?" lanjut Nanny.


"Mas... Kanayah itu bukan lagi milik kita, dia udah menikah, dia milik suaminya. Jadi terserah suaminya dia." ucap Hummairah menasehati suaminya yang seperti masih belum menerima jika Kanayah telah menikah.


"Sayang, aku tau. Tapi setidaknya kan dia harus bisa mengerti."


"Mas... kamu lupa pedan Ayah dulu, istri itu ikut suami. Dimana suami disitulah istri berada, dan saat ini Kanayah kita sudah menikah, jadi dia harus mengikuti apa kata suaminya."


Kendra terdiam mendengar penuturan istrinya.


"Jadi apa yang harus aku lakukan sayang?" tanya Kendra lagi.


"Biarkan mereka, menjalani kehidupan mereka. Kita doakan semoga anak-anak kita selalu bahagia dengan pasangannya."


Semua tersenyum mendengar Hummairah menasehati suaminya dengan bijak.


........


Nathan baru selesai mandi dengan segar dan cerah.


"Gila kamu ya, aku sampe gigil gini." gerutu Kanayah yang juga baru saja keluar dari kamar mandi.


"Kurang apa nya, kapok iya. Aku gak mau lagi mandi bareng."


"Aku paksa." jawab Nathan santai setengah mengejek.


Kanayah melewati Nathan menuju lemari pakaiannya. Nathan memperhatikan istrinya yang masih menggunakan haduk yang melilit di tubuh mungilnya. Kulit putih bersih merata dari wajah sampai kaki, Nathan menggigit bibir bawahnya. Ingin rasanya ia menerkam kembali istrinya dan mempermainkannya seperti dikamar mandi tadi.


Nathan mendekati istrinya yang sudah menggunakan pakaian dalamnya. Ia memeluknya dari belakang kemudian mengecup pundaknya.


"Mau apa lagi?" tanya Kanayah.


"Mau lagi." goda Nathan.


"Gak... aku capek."


"Nanti aku pijitin." bujuk Nathan.


"Gak ada... bukannya mijitin malah tangannya merayap kemana-mana, yang minta dipijit yang mana, yang dipijit yang mana."


"Gak... aku janji aku akan pijitin."


"Udah... kapan selesainya aku pake baju ni?"


"Bentaran dulu, aku lagi asyik." Nathan kembali menenggelamkan wajahnya diceruk leher Kanayah. Nathan mengecup dan menggigit kecil leher Kanayah hingga meninggalkan bekas merah. Nathan membuat beberapa tanda disana, Kanayah menggenggam tangan Nathan erat mencoba menguasai dirinya.


Nathan membalik tubuh Kanayah menjadi mengahadap kepadanya. Nathan langsung meraup bibir Kanayah tanpa ampun, menarik rapat pinggangnya agar lebih dekat. Kanayah meremas punggung Nathan dan membalas ciumannya. Lidah Nathan kini menerobos masuk kedalam mulut Kanayah mengabsen setiap sisi rongga mulut Kanayah. Handuk yang melilit di tubuh Kannyah luruh kebawah, hanya tinggal pakaian dalam saja yang masih melekat ditubub Kanayah.


Nathan mengangkat istrinya ketampat tidur tanpa melepas pagutan mereka, tangan Nathan mulai merambah kedada Kanayah, meremas perlahan squisy kembar milik Kanayah yang masih terbungkus. Bibir Nathan turun dari leher hingga kedada Kanayah, kembali menggigit perlahan dan meninggalkan bekas. Nathan sudah dikuasai kabut gairahnya, Kanayah sudah tidak mampu lagi menolak dan sudah tidak bisa lagi menguasi dirinya.


Nathan melepas pengait bra yang masih membungkus squisy milik Kanayah, Nathan meraup squisy Kanayah kedalam mulutnya secara bergantian. Mereka pun melanjutkan permainan panas mereka, hingga Kanayah mendapatkan pelepasan berulang kali, dan Nathan masih memburu puncak kenikmatannya. Nathan mengangkat sedikit pinggul Kanayah dan menyentaknya, Nathan telah mencapai puncaknya. Ia pun ambruk diatas Kanayah dengan napaa tidak beraturan, ia mengecup kening Kanayah sayang.


"Aku sayang kamu Nay, aku harap ini adalah pertanda jika kamu mulai mau menerima aku. Aku tidak peduli dengan sikap egois kamu, pemarah kamu, manja kamu. Aku akan menerima semua itu, aku akan jadi peredam emosimu, menjadi pelindungmu, aku akan menjagamu hingga disisa umurku. Aku mencintaimu Nay, sejak saat pertama aku melihatmu. Aku telah memutuskan, kamulah istriku." Nathan kembali mengecup kening istrinya kemudian menariknya kedalam pelukannya.


"Aku ingin terlelap sebentar Nay." Nathan meletakan kepalanya di dada Kanayah.


Kanayah terdiam, ia terenyuh mendengar penuturan Nathan. Kanayah juga masih bingung dengan perasaanya sendiri. Kanayah mengusap kepala Nathan diatas dadanya, dengkuran halus sudah terdengar, Nathan telah terlelap dalam mimpinya. Kanayah mengeratkan pelukannya.


.....


Kiano mengadakan pesta perpisahan Daddy nya dihotel mereka.


Hampir seluruh pengusaha hadir, untuk menyampaikan kata perpisahan. Hummairah tampak ramah berbincang dengan para istri dari sahabat suaminya, Kirana dan Fachri, Zavira dan Kiano, serta Nathan dan Kanayah juga tampak asyik mengobrol dengan sesama istri pengusaha muda.


Acara selesai hingga tengah malam, setelah para tamu pulang. Mereka pun memutuskan untuk menginap dihotel.


Setelah beberapa hari, seluruh anak-anak Kendra dan Hummairah berlibur ke desa, kerumah alm. Kakek Firman. Rumah dimana Umminya dilahirkan dan dibesarkan.


Kiano sengaja menggunakan bus keluarga agar semuanya dapat berkumpul disatu mobil. Mereka menyetir secara bergantian, karena perjalanan yang panjang, mereka memutuskan untuk pergi pagi-pagi sekali. Kiano membawa beberapa koleksi sepedanya.

__ADS_1


Selama perjalanan Kanayah memilih tidur, dengan setia mendampingi istrinya. Ia meletakan kepala istrinya dipangkuannya, Kanayah hanya bangun saat makan siang, kemudian kembali tertidur.


Mereka pun tiba ditujuan pada sore hari, Ummi Hummairah turun dan membuka pintu. Kiano dan Fachri menurunkan barang.


"Nath, Kanayahnya digendong bawa ke kamar aja." ucap Ummi.


Nathan menganggukan kepalanya dan mulai mengangkat Kanayah dan membawaya ke kamar.


Setelah meletakan Kanayah dikamar, Nathan kembali keluar dan membantu menurunkan barang.


"Masih sore... kita sepedaan yuk!" ajak Kiano pada kedua adik iparnya.


"Boleh Ki, lu bawa sepedanya berapa?" tanya Fachri.


"Ada tiga, pas untuk kita." jawab Kiano berjalan menuju belakang bus.


"Lu tau daerah sini kan?" tanya Nathan.


"Taulah... kan gue sering kesini." jawab Kiano, lalu bergumam. "Dulu waktu gue kecil."


"Ya udah... gue bilang ke Kirana dulu ya." ucap Fachri berlari masuk kerumah.


"Iy gue juga, ayo Nath." mereka pun masuk kedalam dan meminta ijin kepada istri masing-masing.


Kanayah telah bangun, Nathan mendekati Kanayah yang masih berwajah bantal.


"Aku ikut Kiano sama Fachri bersepeda ya." ucap Nathan.


Kanayah hanya menganggukan kepalanya.


"Sayang aku keliling ya." ucap Fachri.


"Sayang aku goes ya, diajakin sama Fachri sama Nathan juga." seru Kiano.


"Lho bukannya lu yang ngajakin kita?" protes Fachri.


"Udah Fachri aku udah tau, dia emang suka gitu kok." jawan Zavira.


Mereka pun mulai berkeliling menggunakan sepedanya, Kendra mengitari belakang rumanya. Menatap tambak ikan milik mendiang mertuanya.


Selama ia dikota, semua ini ia percayakan pada Bilal sahabat kecil Hummairah, ditangan Bilal yang seorang ahli dibidang peternakan, usahanya maju dan berkembang pesat. Bilal tidak bekerja sendiri, ia memperkerjakan anak-anak kampung, Bilal mengajari mereka cara memilih bibit yang baik.


"Tuan Kendra." sapa Bilal.


"Gimana Lal, lancar?" tanya Kendra.


"Alhamdulillah Tuan."


Kendra menatap sekeliling, luas tanah sisa dibelakang rumah Ayah Firman telah disulap Bilal menjadi tambak ikan.


"Jadi sudah sebanyak ini?"


"Iya Tuan, tapi belum semua. Ada beberapa puluh petak saya percayakan kepada beberapa pemuda remaja surau disini untuk mengelolahnya."


"Oh ya? Sudah berapa orang karyawan yang kamu pekerjakan?" tanya Kendra.


"Sekitar 50 orang Tuan."


Kendra tampak mengangkat alisnya dengan ekspresi terkejut.


"Hebat!" Kendra mengacungi jempol pada Bilal.


Bilal tersenyum. "Tuan yang hebat, karena tuan saya dan beberapa pemuda dan orang-orang disini tidak menganggur lagi."


"Say hanya menjalankan amanah dari mertua saya Bil, beliau berpesan agar apa yang beliau tinggalkan menjadi berguna untuk orang banyak."


"Oh ya... tuan ingin berkeliling?"


"Boleh..." Bilal pun membawa Kendra berkeliling tambak dan kandang bebek yang terletak diujung batas tanah. Bilal juga menjelaskan, segala hasi ternak dijual tidak hanya daerah sekitar, tapi juga keluar kota. Bahkan beberapa hotel dan restoran besar yang ada diluar kota juga membeli di tempat mereka.


.......


Keesokan paginya, setelah menunaikan sholat subuh berjama'ah dengan Kiano yang menjadi Imam. Hummairah mengejak keluarganya ke pasar.


"Kepasar? Pake apa Mi?" tanya Kiano.


"Jalan kaki." jawab Ummi.


"Jauh gak Mi?" tanya Nathan.


"Lumayan... tapi disini kalau pagi udaranga segar lho."


"Serius Mi?"


"Iya.... makanya ayo, mumpung masih pagi. Kita sekalian jalan santai keluarga." ujar Hummairah.


Mereka semua pun berangkat kepasar.


"Abang Zaki kalau capek bilang ya..." seru Zavira.


"Oke Mom..." seru Zaki yang belari-lari kesengangan.


Sepanjang perjalanan mereka disapa oleh warga sekitar yang mengenal baik Kendra dan Hummairah. Kiano dan yang lainnya mengabadikan momen mereka dengan berphoto. Nathan sengaja membawa kamera digitalnya.



bersambung


Aku kasi bonus visual keluarganya Kendra. Cerita mereka tinggal satu chapter lagi ya...


Secepatnya akan aku selesaikan..

__ADS_1


salam sayang Author selalu.


I LOVE U ALL


__ADS_2