
Kakek dan Nanny tiba di tanah air, mereka langsung pulang ke rumah Kendra.
"Apa kamu yakin kita akan pulang ke rumah kendra Mas? Bagaimana dengan Hummairah?" tanya Nanny.
"Untuk itulah kita harus menghiburnya, agar ia tahu bahwa dia tidak sendirian. Dia masih punya kita yang menyayanginya seperti Ayahnya." tutur Kakek.
Mobil mereka pun memasuki halaman rumah Kendra, Ilham dan Medinah telah menunggu di pintu depan untuk menyambut mereka.
"Dimana Hummairah?" tanya Kakek pada Ilham.
"Ada didalam Kek." jawab Ilham.
Kakek pun masuk kedalam dan menemui Hummairah yang sedang menyusun meja.
"Assalamualaikum." ucap Kakek.
Hummairah menoleh kearah sumber suara. " Wa'alaikumsalam." jawab Hummairah tersenyum. Hummairah mendekati Kakek dan mencium tangannya.
"Kakek udah sampai, dimana Nanny?" tanya Hummairah.
"Nanny masih didepan sama anak-anak." Kakek menatap Hummairah, masih terpancar kesedihan diwajahnya.
"Kamu lagi apa Ra?" tanya Nanny yang tiba-tiba sudah berada dibelakang Kakek.
"Nanny....." Hummairah pun menghampiri dan langsung memeluknya. Hummairah memejamkan mata untuk menahan tangisnya.
"Sayangnya Nanny, kamu sehat kan? Kendra gak jahatin kamu kan?" hibur Nanny.
Hummairah menggeleng dan tersenyum. "Kendra selalu baik sama Arah Nanny."
"Baiklah, peluk Nanny lagi." Hummairah dab Nanny pun kembali berpelukan.
Mata Nanny melihat seseorang yang datang bersama Kiano.
"Dia pacarnya Kiano Ra?" bisik Nanny saat melihat Kayla dan Kiano yang baru saja datang.
Hummairah tersenyum. "Mereka sih dekat Nan, cuma gak tau aja mereka pacaran atau gak. Tapi gak usah pacaran deh, lebih baik langsung nikah aja."
"Tapi mereka kan masih muda Ra."
"Makanya, Ara ikut alur aja. Tapi Kiano udah Arah dan Mas Kendra kasi tau kok, harus bersikap bagaimana." jawab Hummairah.
Nanny mengangguk paham.
Kiano dan Kayla mendekati Nanny, dan tersenyum.
"Oma..." Kiano memeluk Nanny. "Oma kok gak bilang Kiano kalau mau pulang sekarang." lanjut Kiano.
"Gimana Oma mau bilang, kamu udah lupa sama Oma." rajuk Nanny.
"Oma, walau banyak gadis cantik diluar sana. Oma tetap wanita yang paling cantik, setelah Ummi dan Mama Medinah." pujuk Kiano.
"Paling bisa, lantas bagaimana dengan Kayla? Apa dia tidak cantik?" lanjut Nanny.
Kiano melirik ke arah Kiano dna menyipitkan matanya.
"Itu lain urusannya hehehe..." Kiano salah tingkah.
Semua pun tertawa dengan ulah Kiano, termasuk Hummairah. Ia mulai bisa sedikit demi sedikit melupakan kesedihannya.
Kakek senang melihat tawa di wajah Hummairah.
.......
Acara sambutan kepulangan Kakek dan Nanny, serta acara tahlilan tujuh hari Ayah Hummairah berjalan lancar.
Kakek dan Nanny memutuskan untuk menginap di rumah Kendra, sedangkan Ilham dan Medinah memilih pulang ke mansion.
Si kembar tidak mau ikut pulang, dan menginap di rumah Kendra.
Setelah lewat tujuh hari kepergian Ayahnya, Hummairah mulai kembali ke aktivitasnya sebagai ibu rumah tangga.
Setelah selesai sarapan Kirana, Kanaya, dan si kembar berangkat ke mansion Medinah dan Ilham. Mereka akan liburan disana, dan Kiano masih tertidur pulas di kamarnya.
Hummairah mengantar Kendra hingga kedepan pintu. " Hati-hati ya Mas, jangan lupa makan siang." pesan Hummairah pada suaminya.
"Makasih ya sayang." ujar Kendra mengecup kening istrinya. "Jangan sedih lagi ya." ucap Kendra.
Hummairah menganggukan kepalanya dan tersenyum. "Iya, aku janji gak akan sedih lagi."
"Gitu dong, aku berangkat dulu ya." Kendra pamit, dan Hummairah mencium tangannya.
Setelah Kendra berangkat ke kantor, Hummairah masuk kembali kedalam rumah, dan memulai kegiatannya.
Hari telah sore, Hummairah duduk di tepi kolam renang bersama Mama, Nanny, dan Kakek. Mereka minum teh dan memakan cemilan yang Hummairah buat bersama Mama dan Nanny.
"Jadi bagaimana Ra, apa Kiano sudah memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya dimana?" tanya Kakek.
"Belum Kek, kemarin memang sempat ada rekomendasi dari gurunya agar Kiano melanjutkan di Oxford University." tutur Hummairah.
"Bagus itu, dulu Kendra juga alumni disana." Mama menambahkan.
"Tapi Kiano belum memberi jawaban pada gurunya." lanjut Hummairah.
"Lebih baik biarkan Kiano membuat keputusannya." ujar Kakek.
........
Kiano akhirnya memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di Amerika, sebab Kayla juga melanjutkan pendidikannya di Jepang, karena mendapat beasiswa.
Mereka berangkat dihari yang sama, tapi tujuan berbeda. Seluruh keluarga mengantarkan mereka di bandara, keluarga tampak berbincang hangat.
Kiano membawa Kayla menjauh dari keramaian. Lama mereka saling diam, tanpa bicara sepatah kata pun.
Hingga akhirnya, Kiano memulainya.
"Kamu disana hati-hati ya." Kiano menatap Kayla dalam.
"Kamu juga, belajar yang benar. Pulang nanti aku mau salah satu dari kita berhasil, kamu bisa mewujudkan cita-cita orang tua mu, dan aku juga bisa mewujudkan cita-cita orang tua ku." tutur Kayla.
"Jaga diri ya, terutama jaga hati mu untuk ku." pinta Kiano.
"Iya, aku janji." ucap Kayla.
Tidak lama kemudian terdengar suara panggilan untuk mereka. Mereka pun berjalan dan berpamitan pada keluarga, selesai berpamitan mereka menuju tujuan masing-masing.
Dan keluarga mereka pun pulang kerumah mereka.
......
Sejak kepergian Kiano keluar negeri, membuat suasana rumah menjadi sepi.
Itu tidak hanya dirasakan Hummairah dan Kendra, tapi juga Kirana dan Kanaya.
Kiano adalah sosok yang diam dan dingin seperti Daddy nya jika dengan orang yang tidak ia kenal, tapi jika dengan orang terdekat terutama keluarga, Kiano berubah menjadi sosok yang hangat dan menyenangkan.
Tok.... Tok.... Tok....
Kanaya mengetuk pintu kamar Kirana.
"Masuk." jawab Kirana.
Kanaya pun masuk. "Lagi apa Kak?" tanya Kirana.
"Gak, lagi nungguin telpon dari Kak Kiano." jawab Kirana menatap ponselnya.
Kirana dan Kanaya terdiam.
"Kak Kiano kapan pulang ya?" Kirana bertanya pada Kanaya.
"Iya ya Kak, rumah jadi sepi gara-gara Kak Kiano gak ada." jawab Kanaya.
__ADS_1
"Walau Kak Kiano itu kadang menyebalkan, tapi kalo lagi begini kayaknya enakan ada Kak Kiano ya, seru, rame." tambah Kirana lagi.
Hummairah dan kendra mengintip dari balik pintu kamar putri keduanya. Mereka tidak mengira jika bukan hanya mereka yang kehilangan sosok tengil dari Kiano, tapi kedua adiknya juga kehilangan sosok Kakak yang selalu menggoda mereka.
......
Kiano saat ini tinggal di apartemen yang telah disiapkan oleh Daddy nya, apartemen itu adalah milik Kendra saat ia masih kuliah disana. Apartemen itu pemberian sang Mama.
Kiano sebenarnya enggan tinggal disana, ia tidak mau terlalu mencolok dengan jati dirinya. Tapi karena ini permintaan sang Ummi dengan alasan suatu waktu jika Ummi dan kedua adiknya berkunjung, maka mereka tidak perlu menginap di hotel, akhirnya Kiano menyetujui.
Kiano juga diberikan fasilitas mobil untuk transportasinya menuju kampus.
Hari ini setelah melakukan pendaftaran ulang, kini Kiano memulai pendidikannya di kampus tersebut.
Mobil Kiano berhenti di parkiran kampus, saat berjalan menuju koridor Kiano disapa oleh seseorang.
"Hai... anak baru ya?" tanya pemuda itu.
"Iya." jawab Kiano singkat.
"Aku juga.... aku Tristan, kamu?"
"Kiano." Kiano menjabat tangan Tristan.
"Kiano kamu dari Indonesia?" tanya Tristan kembali.
"Iya, kamu juga Indonesia?" Kiano kembali bertanya.
"Akh.... akhirnya nambah lagi teman satu negara." tutur Tristan.
"Maksudnya?" Kiano bingung.
"Ada dua orang lagi selain kau dan aku." jawab Tristan.
Kiano menganggukan kepalanya mengerti.
"Ayo aku kenalkan pada mereka." ajak Tristan.
Tristan pun membawa Kiano ke kantin kampus menemui teman-temannya.
"Teman-teman perkenalkan ini Kiano, dia berasal dari negara yang sama seperti kita." tutur Tristan. "Kiano perkenalkan yang pake kemeja biru namanya, Fachri. Dan yang baju kaos merah namanya Dion."
Kiano menjabat tangan teman barunya.
"Kiano kamu tinggal dimana?" tanya Dion.
"Aku tinggal di apartemen milik orang tuaku." jawab Kiano.
"Ternyata anak sultan." celetuk Tristan.
"Temennya Fachri nih" tambah Dion.
"Maksudnya?" Kiano kembali bingung.
"Maksudnya, kamu anak orang kaya sama kayak si Fachri." jawab Tristan.
"Jangan didengerin, mereka memang begitu." ujar Fachri.
"Kita ke kelas yuk, udah mau mulai ni." ajak Dion.
Mereka pun berjalan menuju kelas mereka, dan mulai belajar.
.......
Sudah beberapa bulan Kiano dan Kayla berpisah, sudah selama itu pula mereka hanya bekomunikasi lewat ponsel mereka.
Seperti saat ini Kiano sedang melakukan panggilan video bersama Kayla. Setelah sebelumnya Kiano menelpon keluarganya, berbicara pada Ummi dan kedua adiknya.
"Hai.... " sapa Kiano.
"Hai." jawab Kayla.
"Lagi sibuk?"
"Aku baru pulang, dan belum mandi." Kiano tertawa.
"Hemmmm, pantesan bau." goda Kayla sambil tertawa
Kiano tersenyum, menatap layar ponselnya.
"Aku kangen kamu Kay." ucap Kiano tiba-tiba.
Kayla terdiam dari tawanya setelah mendengar pengakuan Kiano.
"Kay, kamu kangen gak sama aku?" tanya Kiano.
Kayla tersenyum. "Kalaupun aku bilang aku kangen, apa kamu terbang kemari sekarang?" Kayla bertanya balik pada Kiano.
Kiano menghela napasnya kasar. "Kapan kamu libur Kay?" tanya Kendra lagi.
"Masih belum tau, kamu sendiri kapan?"
Kiano menggelengkan kepalanya tidak tahu.
Mereka kembali terdiam, dan saling menatap.
"Udah dulu ya, aku mau mandi." ucap Kiano mengakhiri.
"Baiklah, mandi yang bersih ya." celetuk Kayla.
Kiano tersenyum. "I miss u." ucap Kiano
"Miss u to." balas Kayla.
Panggilan pun berakhir, Kiano kembali membuka galery di ponselnya.
Ia menatap wajah-wajah yang ia rindukan, keluarganya dan orang yang ia cintai.
Kiano pun masuk ke kamar mandi dan berendam air hangat disana.
......
keesokan harinya, Kiano kembali ke kampusnya. Mobil yang Kiano kendarai tiba di parkiran kampus, dan di parkiran Tristan, Fachri, dan Dion telah menunggu kedatangan Kiano. Kiano turun dari mobil tersenyum dan segera mendekati mereka.
"Waaah, kalau dilihat-lihat seperinya ada yang sedang bahagia hari ini." ucap Tristan.
"Kamu benar Tris, wajahnya berseri-seri betul gak Fachri?" sambung Dion.
Kiano menggelengkan kepala dan tersenyum.
"Sudah jangan dibahas, ayo masuk kelas." ajak Kiano.
Mereka pun berjalan masuk kedalam kelas, walau anak baru, tapi pesona ke empat pemuda itu sudah menarik perhatian mahasiswi disana.
Terutama Kiano dan Fachri yang telah mereka ketahui latar belakangnya, Fachri putra tunggal seorang Jendral Purnawirawan dan Ibunya seorang pengusaha sukses.
Dan Kiano mereka juga mengetahui anak seorang pengusaha sukses, dan pemilik hotel ternama.
Dion anak seorang pebisnis properti, sedangkan Tristan orang tuanya seorang pengusaha Ekspor Impor.
"Ini kan malam minggu, bagaimana kalau kita happy-happy malam ini." ajak Tristan.
"Gue setuju." timpal Dion.
Diantara tiga teman-teman Kiano Tristan dan Dion memang terbilang cukup liar, berbeda dengan Fachri.
Fachri bisa dikatakan seperti cerminan bagi Kiano, sifat mereka sama persis. Dingin, angkuh, dan terbilang sombong jika dengan seseorang yang tidak mereka kenal.
"Kita ketempat biasa, dan kali ini gue yang traktir." ucap Dion.
"Baiklah, Kiano nanti malam kami jemput kamu pukul tujuh." Tristan memberi peringatan.
__ADS_1
Kiano terdiam, ia menimbang. Kiano tau tempat apa yang akan mereka kunjungi.
"Ayolah Ki, sudah beberpa bulan kamu disini, kamu belum pernah keluar bersama kami selain di kampus." ujar Tristan.
"Baiklah." Kiano setuju.
"Fachri?" Tristan dan Dion menatap Fachri.
Fachri menghela napas panjang. "Baiklah, aku ikut." terdengar sorak sorai Tristan dan Dino kegirangan.
Tepat pukul tujuh malam, mereka pun berangkat ketempat tujuan dengan menggunakan mobil Dion.
Satu jam kemudian mereka tiba ditempat tujuan mereka, sebuha club malam yang terkenal dinegara itu.
Kiano tampak ragu untuk melangkah masuk, ia ingat pesan Ummi nya yang melarang dirinya pergi ketempat seperti itu. Tapi diseret oleh Tristan dan Dion.
Sesampainya didalam mereka duduk di depan meja bartender, Kiano terdiam menatap aksi bertender wanita di depannya yang begitu piawai meramu minuman
Gadis itu tersenyum manis pada Kiano, dan Kiano membalas senyumannya.
Fachri melirik Kiano yang sedari tadi diam.
"Kenapa Ki? Kamu tidak pernah pergi ketempat seperti ini sebelumnya?" tanya Fachri.
Kiano mengangguk.
"Aku juga dulu seperti itu, aku mengira tempat ini sama seperti yang orang ceritakan padaku." ujar Fachri.
"Setelah kamu masuk?" Kiano bertanya penasaran.
"Tidak seburuk yang aku pikirkan, tergantung bagaimana kita membawa diri kita sendiri." tutur Fachri.
"Sebelumnya kamu sering kemari?" tanya Kiano.
"Tidak, sebelum aku tiba dan kenal kedua bocah itu." Fachri menunjuk kedua temannya yang telah turun melantai.
Kiano tersenyum melihat wajah kesal Fachri.
"Mau pesan minum?" tanya Fachri.
Kiano tampak menimbang dan ragu.
"Tenang, aku gak akan pesan alkohol. Sebab aku alergi alkohon jenis apa pun." Fachri mengusir keraguan Kiano.
Kiano terkekeh kemudian menyetujuinya. Fachri pun memesankan soft drink untuk mereka.
Tepat pukul empat pagi Kiano dna teman-temannya baru keluar dari tempat itu.
Kiano membawa mobil milik Dion kembali ke apartemennya.
Tristan dan Dion mabuk berat, jadi Kiano memutuskan membawa mereka ke apartemennya.
Di bantu Fachri, Kiano membopong Tristan dan Dion naik ke apartemennya.
......
Keesokan harinya Kiano tersadar saat suara ponselnya berdering. Kiano meraba meja nakas disamping tempat tidurnya, Kiano membuka perlahan matanya dna melihat siapa yang menelpon. Dan disana tertera " Ibu Suri ", yang berarti Ummi nya.
Kiano pun segera berlari ke kamar mandi dan segera membersihkan wajahnya. Kemudian menjawab telpon Ummi nya.
"Assalamualaikum Mi. " Kiano memberi salam.
"Wa'Waalaikumsalam nak, kamu baik-baik aja kan? Dari tadi Ummi telpon tapi kamu gak angkat, kamu sibuk sayang?" tanya Hummairah pada putranya.
"Kiano tidur Mi." jawab Kiano tersenyum melihat wajah panik Ummi nya.
"Kamu sakit sayang, jam segini kok tidur? Kamu gak ke kampus?" tanya Hummairah lagi.
"Gak Mi, Kiano baik-baik aja. Cuma agak lelah, dan lagi mempersiapkan ujian minggu ini." jawab Kiano tenang.
"Alhamdulillah.... Ummi kira kamu sakit sayang." Hummairah bernapas lega mendengar putranya baik-baik saja.
"Ummi dan Daddy gimana kabarnya?" tanya Kiano.
"Alhamdulillah Ummi dan Daddy baik nak, nih Daddy lagi di depan Ummi. Mau bicara sama Daddy nak?" tanya Hummairah sambil menatap wajah putra kesayangannya dengan penuh kerinduan.
"Hai jagoan, bagaimana disana semuanya lancar?" tanya Kendra.
"Lancar Dad, semuanya berjalan sesuai rencana." jawab Kiano.
"Apa ad kendala lain?"
"Tidak, dan Kiano berharap akan lancar sampai tiba waktunya."
"Aamiin." jawab Hummairah dan kendra serentak.
"Baiklah Dad, dimana dua tuan putri itu? Mereak pasti merindukan Kakaknya yang tampan ini." Kiano berkelakar.
"Mereka sudah tidur, apa kamu lupa sudah jam berapa sekarang disini?" tanya Daddy nya.
"Ah ya, Kiano lupa. Baiklah, selamat istirahat Daddy, salam untuk semuanya." Kiano mengakhiri panggilannya kemudian menutupnya.
Kiano tersenyum setelah mendapat telpon dan berbicara pada orang tuanya.
"Telpon dari keluarga mu?" tanya Fachri yang tiba-tiba sudah duduk dibelakangnya.
Kiano menoleh kebelakang dan menganggukan kepalanya, sembari tersenyum. "Ummi dan Daddy ku." jawab Kiano.
"Selama kita berteman, kau belum pernah bercerita tentang keluarga mu." tanya Fachri.
Kiano pun bercerita tentang seluruh keluarganya, Ummi, Daddy, serta kedua adiknya.
Fachri tersenyum mendengar cerita Kiano tentang keluarganya, Kiano juga bercerita tentang Nanny dan Kakek dan juga Ilham dan Medinah serta putra kembarnya.
"Aku yakin pasti saat ini kedua adik mu sedang merindukan mu Ki." ujar Fachri tertawa.
"Benar sekali, terutama Kirana. Dia yang paling dekat dengan ku, walau kadang aku suka sekali menggodanya, aku dan dia begitu dekat kami selalu berbagi cerita keseharian kami." cerita Kiano.
Fachri dan Kiano kembali tertawa.
"Aku penasaran dengan Kirana adik mu." tutur Fachri.
"Nanti saat libur akan mengajak mu kerumah ku menemuinya, kau akan melihat seperti apa Kirana. Dan kau tidak akan percaya setelah melihat orangnya." cerita Kiano.
"Benarkah, memang nya kenapa?" tanya Fachri antusias.
"Dia lebih dewasa dari ku, umurnya memang muda tapi pikirannya melebihi aku." lanjut Kiano.
"Waah.... aku makin penasaran dengan Kirana. kau harus mengenalkannya padaku." ujar Fachri.
"Baiklah.. aku lapar. Apa kau mau makan sesuatu? aku akan memesan makanan." ucap Kiano.
"Terserah, aku tidak memilih dalam hal makanan." jawab Fachri.
"Baiklah." Kiano pun meraih ponselnya dan menelpon restoran siap saji.
Selepas Kiano pergi, Fachri tampak termenung mengingat cerita Kiano.
"Kau sungguh beruntung Kiano, kau tumbuh dengan keluarga yang penuh kasih sayang. Tidak seperti aku, yang selalu kesepian." kenang Fachri.
Fachri memang anak tunggal, tapi ia tidak pernah mendapatkan perhatian dari kedua orang tuanya. Ayahnya yang seorang perwira tinggi, membuatnya sering pergi bertugas. Sedangkan Ibunya seorang pengusaha perhiasan yang sukses, hingga mancanegara.
Fachri selalu ditinggalkan bersama pengasuhnya, sepasang suami istri yang telah dipercayai oleh orang tua Fachri untuk menjaga Fachri.
Fachri hingga Fachri lebih menyayangi Ibu dan Ayah asuh nya dari pada kedua orang tuanya.
Fachri tinggal di rumah besar, yang isinya hanya mereka bertiga dan beberapa pelayan.
Ayah dan Ibunya hanya pulang sesekali, kemudian pergi lagi. Hingga Fachri tidak pernah peduli dengan keberadaan mereka.
Mendengar cerita Kiano membuat Fachri merindukan kehangatan sebuah keluarga.
__ADS_1
Bahkan Fachri berjanji jika suatu saat nanti ia berkeluarga, ia tidak mau menelantarkan keluarganya.