
"Fan.... cari kan data tentang keluarga Jhonson, terutama tentang putra tunggalnya. Apa pun itu dan sekecil apa pun beritanya berikan padaku." ucap Kendra.
"Baik Tuan." Ifan pun bergegas keluar meninggalkan ruangan.
Kiano yang sedari tadi berada didalam ruangan tidak tahan untuk bertanya.
"Maksud Daddy keluarga Jhonson yang kemarin datang kerumah?" tanya Kiano.
"Iya... kamu mengenal mereka?"
"Kenal sekali sih tidak Dad, cuma kami sempat beberapa kali bertemu dipertemuan."
"Benarkah? Kamu juga mengetahui kalau mereka mempunyai putra? Bagaimana orangnya?"
"Ya... mereka memang punya anak laki-laki, umurnya mungkin diatas Kiano Dad. Ada apa Dad, apa ada masalah? Apa ini ada hubungannya dengan kedatangan mereka kemarin Dad?"
Kendra terdiam, ia berjalan mendekati Kiano dan duduk bersama Kiano.
"Mereka datang ingin melamar Kanayah untuk putra mereka." ucap Kendra.
"Apa?? melamar Kanayah?" Kiano terkejut mendengar cerita Daddy nya. Kendra pun melanjutkan ceritanya, hingga Kiano pun mengerti mengapa Daddynya mencari tahu tentang keluaga Jhonson.
"Ya.. untuk itulah Daddy ingin tau latar belakang mereka, terutama putranya." ujar Kendra.
"Setau Kiano Dad, pemuda itu bernama Jhonathan, dan biasa dipanggil Nathan. Kiano juga sempat berbincang dengan nya kemarin saat rapat di Singapura." tutur Kiano.
Kendra menganggukan kepalanya mendengar cerita Kiano.
"Maaf Tuan, ini laporan yang anda minta." Ifan memberikan sebuah map berisi keterangan tentang keluarga Jhonson. Kendra meraih dan mulai membacanya.
"Kamu benar Ki."
"Maksud Daddy?"
"Kamu baca, ini laporan mengenai mereka."
Kiano mulai membaca dengan seksama.
"Jhonathan Alexander Jhonson, pria berumur 35 tahun. Lahir di Denmark, lulusan terbaik di Universitas XX, pendiam, ambisius, dan ulet." Kiano menutup map tersebut.
"Apa Kanayah akan menerimanya Ki?" tanya Kendra.
"Iya juga ya Dad, dari sikapnya saja berbanding terbalik dengan Kanayah."
"Kita hanya menunggu laporan dari Ummi dan istri kamu.
......
"Gak mau... Nay gak mau, titik." bantah Kanayah.
"Nay, kami hanya menyampaikan niat mereka, dan kami juga masih menunggu berita dari orang suruhan Daddy yang akan mencari tau tentang mereka." ucap Hummairah.
"Pokonya Nay, gak mau di jodohin. Ummi kira Nay gak laku, Nay juga belum kepikiran untuk menikah."
"Nay, merek hanya ingin mengenal kamu. Urusan menikah, itu tergantung jodoh Nay."
"Mi... Nay masih ingin bebas, Nay belum mau terikat oleh apa pun. Termasuk pernikahan." Kanayah pun pergi meninggalkan Umminya yang menatap punggungnya.
"Sabar ya Mi, mungkin nanti kita bisa membujuknya kembali." hibur Zavira.
__ADS_1
Hummairah mengangguk dan tersenyum.
Ditaman belakang Nanny dan mertua Hummairah masih duduk bercengkrama dan bermain bersama Zaki. Zaki lah hiburan mereka, putra Kiano dan Zavira menjadi kesayangan mereka semua. Hummairah dan Zavira datang dan ikut bergabung bersama mereka.
Wajah Hummairah yang terbiasa ceria kini tampak muram, Nanny dan Kakek sangat mengenal Hummairah, mereka pun menghampiri Hummairah yang duduk merenung.
"Arah kesayangan Kakek.. kenapa murung? apa ada masalah?" tanya Kakek.
Hummairah tersenyum dan mempersilahkan Kakek dan Nanny untuk duduk.
"Ada apa Nak?" tanya Kakek.
"Tidak ada apa-apa Kek." jawab Hummairah tersenyum.
Kekek dan Nanny saling pandang kemudian terkekeh.
"Mas..... menantu kita sudah belajar berbohong, tapi dia msih belum mahir melakukannya." ujar Nanny.
"Nanny..." ucap Hummairah manja dan memeluk Nanny.
"Ada apa sayang?" tanya Nanny lagi.
Hummairah pun mulai menceritakan masalahnya pada kedua tetua keluarganya, Kakek dan Nanny nampak manggut-manggut seakan paham dengan apa yang Hummairah ceritakan.
"Kamu tenang saja, biarkan Kanayah menenangkan dirinya dahulu. Nanti setelah ia tenang baru mulai bicara lagi padanya, dan pujuk dia secara lembut." ucap Nanny.
"Itu mengingatkan aku pada kondisi Kendra dulu, ia juga sempat menolak keras saat kami menyatakan akan menjodohkannya." kenang Kakek.
"Iya Mas, aku sampai hampir menyerah membujuknya." ujar Nanny.
"Lantas apa yang kalian lakukan hingga Mas Kendra menerimanya?" tanya Hummairah.
"Kami meyakinkannya dan memberikannya pengertian." lanjut Nanny.
"Saat ini Mas Kendra sedang mencaritahu latar belakang keluarga itu." jawab Hummairah. "Dan dia meminta Ara untuk membujuk Kanayah."
"Menghadapi gadis yang keras kepala seperti Kanayah harus tenang, Kanayah tidak bisa di paksa jika dipaksa ia malah akan semakin keras." ujar Kakek.
"Biarkan dia tenang dulu Ra, nanti jika sudah saatnya kamu bisa bertanya lagi padanya." tambah Nanny.
Hummairah mengangguk dan tersenyum.
.....
Sementara di kediaman keluarga Jhonsson, suami istri itu menunggu dengan cemas kabar baik dari keluarga Kendra.
"Kira-kira Kanayah menerimanya atau tidak ya Pa?" tanya Sofia pada suaminya.
"Kita berdoa saja Ma, semoga Tuan dan Nyonya Kendra bisa membujuk putrinya."
"Aku tidak mau yang lain Pa, aku hanya ingin Kanayah. Sebab hanya Kanayah yang bisa mengubah pribadi Nathan Pa."
"Memang Nathan kenapa Ma?" sambung Nathan yang tiba-tiba sudah berada diantara mereka.
"Nathan kapan kamu masuk? Biasakan ucapkan salam." imbuh Sofia pada putranya.
Nathan mengernyitkan dahi kemudian melirik Papa nya, Antonio hanya menganggukan kepalanya.
"Kamu itu kalau kerja sudah tidak ingat waktu lagi, sama Mama dan Papa datang juga kamu tidak mau hiraukan." rajuk sang Mama.
__ADS_1
Nathan mendekati Mamanya kemudian memeluknya.
"Maafin Nathan Ma, akhir-akhir ini Nathan sibuk sekali."
"Apa ada masalah di kantor Nak?" tanya Antonio.
"Tidak Pa, semuanya baik-baik saja. Lusa Nathan akan ke Amerika, untuk pertemuan."
"Tuh kan pergi lagi." Sofia kembali merajuk.
"Ma... Nathan hanya tiga hari disana." ucap Nathan.
"Tiga hari kamu disana, setelah pulang kamu pasti kembali sibuk." ucao Sofia.
"Maa... Pa, cobalah berikan Mama pengertian."
"Mama kamu benar Nathan, kamu hanya memikirkan perusahaan dan pekerjaan. Tapi kamu tidak memikirkan diri kamu sendiri dan kami sebagai orang tua kamu."
"Maksud Papa?"
"Kapan kamu akan membawakan menantu kerumah ini, dan memberikan kami cucu untuk hiburan kami dirumah dan agar kamu selalu pulang tepat waktu." jelas Antonio panjang lebar.
Mata Nathan terbelalak mendengar ucapan Papa nya.
"Maksudnya?"
"Kamu harus segera menikah Nathan." ucap Antonio.
"Apa?"
"Apa, apa.. apa? umur kamu sudah tua Nathan, sudah waktunya kamu menikah." tambah Sofia.
"Tapi..."
"Tapi apa Nathan... kamu tidak lihat semua teman-teman seumuran kamu sudah menikah dan punya anak, bahkan yang umurnya lebih muda dari kamu juga sudah menikah. Kamu jangankan ingin menikah, pacar aja Mama gak tau kamu punya atau tidak. Yang kamu pikirkan hanya pekerjaan-pakerjaan, kapan kamu akan memikirkan diri kamu dan kami." tutur Sofia panjang lebar.
Nathan terdiam mendengar ucapan Mama nya, Mama nya benar saat ini ia hanya sibuk dengan pekerjaan tanpa memikirkan yang lain.
"Maafkan Nathan Ma.. Nathan terlalu sibuk hingga tidak sempat berpikir kesana. Tapi Nathan juga sampai saat ini belum menemukan yang cocok untuk diri Nathan dan keluarga."
"Untuk itu kamu jangan khawatir Mama udah menemukan gadis yang cocok untuk kamu dan keluarga kita." ucap Sofia.
"Maksud Mama?" Nathan menatap curiga.
"Kamu ingat tidak dengan gadis yang melayani kamu waktu kita berada di pesta pernikahan putri kedua dikeluarga Kendra?" tanya Sofia.
Nathan mencoba mengingat. "Gadis yang pakai jilbab lebar itu Ma... memang kenapa Ma?"
"Dia itu putri bungsu Tuan Kendra."
"Lalu apa hubungannya?"
"Mama dan Papa sudah sepakat jodohin kamu sama dia."
"Whaat??"
"Iya Nathan... kami juga sudah pergi menemui keluarganya dan mereka hanya menunggu jawaban dari putrinya. Makanya Mama juga menunggu kamu memberikan jawaban pada kami."
"Tapi Ma... dia muda sekali, kalau Nathan jadi menikah sama dia. Pasti Nathan seperti om-om senang yang suka sama daun muda." jawab Nathan bergidik ngeri.
__ADS_1
Sofia tertawa lepas mendengar penuturan putranya.
Bersambung