CEO DINGIN DAN GADIS SHOLEHA

CEO DINGIN DAN GADIS SHOLEHA
154.


__ADS_3

Keluarga Kendra telah tiba di rumah mereka, mereka disambut keluarga besar mereka.


Mulai dari Kakek, Nanny, Papa dan Mama Kendra, serta Ilham dan Medinah beserta si kembar.


Tidak ketinggalan Fachri dan keluarganya, Fachri juga sudah menyiapkan kejutan untuk Kiano.


"Zavira, ini Opa dan Oma uyut, Kakek dan Nenek dari Daddy." Hummairah mulai memperkenalkan satu persatu anggota keluarganya.


Zavira pun berjalan dan mencium tangan Kakek dan Nanny.


"Kamu cantik sekali Nak." ucap Nanny mencium Zavira. "Ini untuk mu, hadiah dari Oma." Nanny memberikan hadiah pada Zavira sebuah satu set perhiasan berlian.


Zavira melirik Kiano, dan Kiano menganggukan kepalanya maka Zavira pun menerimanya.


"Opa juga punya sesuatu untuk mu." Kakek memberikan benda yang sama, tapi kembali Zavira melihat kearah Kiano.


"Ambillah Nak, cicit ku yang nakal itu tidak akan berani menolak pemberian ku." ucap Kakek yang mengetahui Zavira meminta persetujuan dari Kiano, dan semuanya pun tertawa.


Kemudian satu persatu memberikan hadiah pada Zavira secara bergantian.


"Ingat Zs, disini kau tidak sendiri lagi. Kamu punya kami semua yang ada disini, jika Kiano berani macam-macam sama kamu, kamu tinggal bilang dengan salah satu dari kami. Maka kami semua yang akan memberikannya pelajaran." ucap Kiano pada menantunya.


"Ki, gue juga punya kejutan buat lu." bisik Fachri.


"Ini untuk gue, apa untuk istri gue?" tanya Kiano.


"Untuk lu, istri lu udah banyak dapat hadiah, ngapain lagi gue kasi dia."


"Serius! Mana?" tanya Kiano bersemangat."


Fachri pun memberikan kode pada salah satu pelayan, pelayan itu pun menganggukan kepalanya kemudian tampak memanggil seseorang.


Keluarlah dua orang yang Kiano kenal dari dalam salah satu kamar di rumahnya.


Mata Kiano membulat dengan mulut berbentuk o.


Fachri sengaja memberitahu Tristan dna Dion tentang kepulangan Kiano, dan mereka berencana akan menganggu malam pertama Kiano dna Zavira.


Sampai saat ini, Kiano dan Zavira belum pernah malam pertama. Kiano berencana akan memulainya dirumah, di kamarnya sendiri. Sebenarnya ia bisa saja, tapi saat di Mesir kemarin ia dan Zavira sepakat akan memulai semuanya dirumah.


Baginya rumah adalah tempat terbaik untuk melakukannya.


"Fachri ngapin lu panggil nih anak bedua?" seru Kiano kesal ia tau mereka hanya akan membuat keributan.


"Tega amat lu Ki ama kita, kita kesini itu mau ikut ngerayain pesta wedding nya lu sama Zavira." celetuk Tristan.


"Sebenarnya sih, kita cuma mau gangguin malam doang. Jujur kan gue." tambah Dion sambil nyengir.


Kiano hanya bisa pasrah saat semua meledeknya.


Setelah selesai makan malam, Hummairah melihat Zavira yang telah berulang kali menguap, tapi tidka berani beranjak dari duduknya sebab ia sedang menemani Ona dan Opa nya.


Hummairah pun menghampirinya


"Za, pergilah istirahat. Kamu sepertinya capek sekali." ucap Hummairah sambil memegang pundak menantunya.


Zavira hanya mengangguk dna segera berpamitan pada Oma dan Opa nya.


Hummairah pun menghampiri Kiano.


"Ki, besok saja dilanjutkan obrolannya, Zavira udah ngantuk tuh." tunjuk Hummairah pada Zavira yang masih duduk menunggu Kiano, Zavira masih belum berani lancang untuk masuk ke kamar Kiano sebelum ada ijin dari pemiliknya.


"Iya Mu... tuh liat istri gue udah gak sabar ngajakin gue masuk ke kamar, gue duluan ya." bisik Kiano.


"Curang lu, ngandelin istri jadi alasan. Bilang aja lu yang udah gak sabaran." celetuk Dion.


Kiano tersenyum penuh kemenangan, ia pun berjalan kearah Zavira yang sedang menunggunya.


"Kiano masuk dulu ya semuanya." pamit Kiano sembari menggenggam jemari istrinya.

__ADS_1


Zavira sontak menarik tangannya, karena terkejut.


"Gak apa-apa Vi, Kak Kiano gak gigit kok udah jinak dia." celetuk Kirana lalu tertawa dan di ikuti yang lainnya."


Zavira menunduk lalu berjalan mengikuti langkah Kiano naik ke tangga, dan masuk kedalam kamar mereka.


"Aku mau mandi dulu, gerah." ucap Kiano yang langsung menarik handuk kemudian masuk kedalam kamar mandi.


Zavira menatap sekeliling kamar, ia merasa kagum pada desain kamar milik suaminya.


Hingga tanpa sadar mata Zavira tanpa sengaja melihat sosok Kiano yang baru saja keluar dari kamar mandi, dan hanya menggunakan handuk kecil yang melilit di pinggulnya.


Secepat kilat Zavira memalingkan wajahnya, Kiano tersenyum saat tahu istrinya ini masih malu-malu.


Otak jahilnya pun bekerja, Kiano berjalan mendekati lemari pakaiannya dna membuka laci khusus pakaian dalam miliknya.


Kiano sengaja hanya menggunakan boxernya, dan bertelanjang dada mendekati istrinya. Zavira mundur perlahan, hingga tubuhnya menyentuh dinding, tapi Kiano masih saja tetap berjalan maju.


"Kakak mau apa?" tanya Zavira gemetar.


"Mau makan." jawab Kiano.


"Tapi, tadi Kakak kan udah makan!" ujar Zavira semakin panik, sebab jarak Kiano semakin dekat dengannya.


"Aku mau makan kamu." Kiano menyeringai iblis.


Zavira semakin ketakutan, tapi kesenangan bagi Kiano dapat menjahili istrinya.


"Saya... mau mandi dulu Kak." ucap Zavira ingin mengelak, tapi langkahnya kalah cepat dengan cengkraman tangan Kiano.


"Mandi yang bersih dan wangi ya, aku nungguin kamu disana." tunjuk Kiano pada tempat tidur King Siza nya.


Mata Zavira kembali membulat, segera berlari ke kamar mandi setelah Kiano melonggarkan pegangannya. Tawa Kiano pecah setelah Zavira masuk kedalam kamar mandi.


"Gue jahat ya, istri sendiri dikerjain sampai gemetar gitu." ucapnya. "Tapi gue suka gaya malu-malu nya." lanjut Kiano.


"Za... kamu gak apa-apa kan, kalo udah selesai buruan keluar nanti kamu masuk angin." seru Kiano dari balik pintu kamar mandi.


"Kak, bisa bantuin saya gak?" sahut Zavira dari dalam kamar mandi.


"Apa?"


"Tolong ambilkan baju tidur, yang ada di atas kasur." jawab Zavira lagi.


Kiano pun berjalan menuju tempat yang ditujukan oleh istrinya.


"Baju tidur apa ini, gak ada menariknya." ujar Kiano.


Lagi otak jahilnya bekerja, ia pun menukar baju tidur milik Zavira yang tertutup dengan lingerie super sexy pemberian Dion. Kiano menyeringai seperti iblis.


"Nih." Kiano memberikannya pada Zavira dari balik pintu.


"Terimakasih."


Kiano pun mulai menghitung.


"1, 2, 3."


Tepat di hitungan ketiga Zavira kembali bersuara.


"Kak, kayak nya salah deh. Ini bukan baju yang saya maksud."


"Ada nya cuma itu sayang." jawab Kiano.


"Masa sih, perasaan tadi bukan yang ini."


"Udah kamu pake aja, nanti kelamaan didalam kamu masuk angin. Atau kamu gak tau cara pake nya, sini aku bantuin" ucap Kiano menahan tawa nya.


"Gak Ka, saya bisa sendiri." jawab Zavira cepat.

__ADS_1


Tidak berapa lama Zavira pun keluar dari kamar mandi.


Ia tampak risih dengan pakaian yang ia gunakan.


Mata Kiano tidak berkedip saat melihat Zavira menggunakan lingerie merah pemberian temannya, kulit Zavira yang putih membuat warna dari lingerie itu semakin menyala.


Kiano menelan saliva nya, matanya tidak teralihkan dari sosok yang ada di hadapannya.


Kiano berjalan mendekati istrinya, masih menatap wajahnya.


Kiano menuntun istrinya untuk berjalan menuju ketempat tidur dan duduk disampingnya.


Kiano membelai wajah istrinya, dan mulai mendekatkan wajahnya. Perlahan Kiano mencium bibir istrinya lembut, ia tahu ini pertama kalinya untuk Zavira, gadis itu hanya diam saat Kiano mengecup bibirnya.


Kiano makin memperdalam ciumannya, tangan Kiano perlahan menyentuh leher Zavira, ia pun menuntun istrinya dengan mengalungkan tangan Zavira ke lehernya.


Ciumna Kiano kini turun ke leher Zavira, menggigit sedikit dan meninggalkan bekas merah disana. Perlahan Kiano membaringkan istrinya di atas kasur, dan melanjutkan kembali aksinya.


Saat Kiano akan melepaskan tali lingerie yang digunakan oleh Zavira, tiba-tiba istrinya berucap.


"Kak." panggil Zavira.


"Hemmm...." sahut Kiano yang sedang menggigit kembali pundak Zavira. Panggilan dari Zavira tidak berhasil menghentikan aksi Kiano yang sedang menggila di atas tubuh Zavira.


"Kak..." panggil Zavira lagi, kali ini Kiano sejenak menghentikan aksinya dan menatap wajah cantik istrinya.


"Aku.... lagi halangan." akhirnya Zavira bisa mengatakannya.


"Maksudmu?" tanya Kiano bingung.


"Aku, lagi dapat tamu bulanan." bisik Zavira.


Mata Kiano membulat, ia tidak percaya pada ucapan istrinya dan segera menatap wajah Zavira lagi untuk meyakinkan, Zavira menganggukan kepalanya.


Kiano menjatuhkan tubuhnya kembali diatas tubuh istrinya.


"Kamu gak lagi bales ngerjain aku kan Za?" bisik bisik Kiano di balik ceruk leher istrinya.


"Gak Kak, kalau gak percaya liat aja." ucap Zavira.


"Ngapain diliat, gak bisa dipake juga." keluh Kiano kesal.


Ia pun bangun dari atas tubuh Zavira kemudian berjalan ke arah lemari pakaian, mengambil kaos dan celana pendek.


"Kakak mau kemana?" tanya Zavira cemas, ia takut suaminya marah.


"Kebawah, kumpul sama yang lain." jawab nya.


"Lho.. tadi katanya capek mau istirahat." lanjut Zavira lagi.


"Gak mood lagi, kamu kalau mau tidur, tidur aja. Aku mau nonton bola sama yang lain." jawab Kiano berjalan ke arah pintu.


"Kak.... Kakak marah ya, maaf ya!" Zavira menundukan kepalanya.


Kiano menghentikan langkahnya dan berbalik mendekati istrinya.


"Sayang... aku gak marah, aku memang ingin menghabiskan malam ini dengan teman-teman aku yang baru datang kemarin."


"Kamu gak marah, gara-gara kita gagal...." Kiano membungkam mulut istrinya dengan bibirnya.


Kali ini Zavira perlahan membalas ciuman suaminya dengan membuka mulutnya, Kiano melepaskan pautan nya.


"Udah mulai berani ya!" ucap Kiano sembari mencubit hidung istrinya. "Belajar dari mana?"


"Dari Kakak barusan." jawab Zavira tersenyum dan mengalungkan tangannya di leher Kiano.


"Ya, udah tidur dulu ya, nanti kalo udah selesai baru kita lanjutin lagi." Kiano mengelus pipi istrinya. "Aku turun dulu ya." Kiano kembali mengecup kening Zavira, setelahnya ia pun keluar dari kamar.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2