
Siang berganti malam, keceriaan yang biasanya terpancar di wajah dita, malam ini tiba-tiba hilang. Dita yang biasanya ceria tiba-tiba sering melamun.
Sejak kedatangan tante dini ke dream house, membuat perubahan dengan sikap dita.
Saat ini ketiga gadis itu sedang menyantap makan malam yang sudah di siapkan oleh bik Minah yang di bantu oleh nayna.
Nayna melihat ke arah dita yang tampak tidak selera makan, dita terlihat lebih banyak mengaduk-aduk makanannya ketimbang menyuapinya ke dalam mulut.
"Dit...Dita...!! lo gak makan...? (tanya nayna, sambil memegang tangan sahabat nya itu)
"Ah...ya...ya... nay ada apa...? (ucap dita dengan suara bergetar, yang baru tersadar dari lamunannya)
"Lo baik-baik saja kan dit, kenapa lo gak makan...? (tanya nayna lagi)
"Ini gue lagi makan nay. (ucap dita sambil memaksakan senyum kepada nayna)
"Dita maaf. Gue tau ini adalah masalah pribadi lo, gue gak ada hak untuk mencampurinya, tetapi maaf dita apa gue boleh tau apa yang terjadi antara lo dan tante dini...? Gue penasaran dita sebenarnya apa yang sudah di lakukan oleh tante dini sampai-sampai Seorang dita yang biasanya selalu kuat, tidak takut apapun, Terlihat lemah dan ketakutan saat di dekat tante dini. Maaf ya dita gue cuma ingin tau. (ucap nayna, setelah meletakan sendok makan yang dia gunakan)
Dita menghela nafasnya lalu menghembuskan nya berlahan, dita meletakan sendok dan garpu yang di pegang nya. Lalu dita mengambil kedua tangan nayna dan menggenggamnya. Dan berkata
"Lo gak usah minta maaf nay ke gue, lo gak salah kok, lagian lo juga harus tau, dibalik dita yang selalu lo kenal kuat ini, ada sisi lemahnya juga. Gue akan cerita kan semuanya nay kepada lo.
Setelah melepaskan genggaman tangan nya dari tangan nayna, dita kembali membetulkan posisi duduk nya.
"Sebenarnya dulu tante dini itu tidak seperti itu nay, gaya berpakaian nya, gaya bicaranya, sangat jauh berbeda dengan tante dini yang dulu.
__ADS_1
Tante dini yang dulu itu selalu berpenampilan sederhana, bicaranya juga sangat sopan. Tetapi seminggu setelah Kakek meninggal dan tante dini tiba-tiba berubah. Tante dini menjual semua peninggalan kakek, termasuk rumah yang dia tempati bersama kakek saat itu. Tante dini pindah ke rumah kita, sejak awal ayah sudah keberatan tante dini tinggal bersama kita, tetapi karena ibu memohon kepada ayah akhirnya ayah memberi izin.
Satu bulan tante Dini tinggal di rumah awalnya baik-baik saja, tetapi di bulan berikutnya ada aja barang-barang di rumah yang tiba-tiba hilang begitu saja. Pada saat Itu ayah dan ibu hanya diam, mereka awalnya mengira ada maling yang mencuri di rumah, bahkan tante dini mengarang cerita kalau maling selama ini adalah bibik yang bekerja di rumah, dan bibik pun di pecat oleh ibu. Ya ayah dan ibu tidak pernah mencurigai tante dini, karena tante dini itu selalu bersikap baik di depan ayah dan ibu.
Pada suatu Hari, saat gue baru saja pulang dari sekolah, gue melihat tante dini baru saja keluar dari kamar ibu dan ayah, dan ada kotak perhiasan ibu di tangannya. Saat itu gue berusaha mencegah tante Dini membawa semua perhiasan itu, tetapi gue kalah kuat darinya, alhasil tubuh gue di tolak dan kepala gue terbentur ke tembok. Dan gue di temukan pingsan oleh ayah dan ibu saat mereka pulang dari Rumah Sakit.
Saat gue sudah sadar gue menceritakan semua nya kepada kedua orang tua gue, tetapi mereka gak percaya dengan apa yang gue cerita kan, karena pada saat itu, ibu bilang gak ada yang hilang di kamarnya, apa lagi perhiasannya seperti yang gue cerita kan, dan ibu bilang ke gue kalau gue pingsan dan terbentur dinding itu karena gue terpeleset air. Karena ada air di tempat gue jatuh itu.
Setelah beberapa hari setelah kejadian itu, tante dini kembali melakukan hal yang sama, tetapi dia mengancam gue kalau gue cerita kepada ibu dan ayah, tentang apa yang dia lakukan, dia akan bertindak yang lebih parah lagi kepada gue, bahkan tante dini mengancam membunuh gue dan kedua orang tua gue. Karena takut jadi gue gak pernah menceritakan apa yang di lakukan oleh tante dini pada Saat kedua orang tua gue gak ada di rumah.
Pada suatu hari, dia membawa dua orang Laki-laki ke rumah, dan saat itu gue lagi mengerjakan tugas bersama dinda di rumah. Tante dini meminta dinda pulang, dia memarahi dinda dan menyeret dinda sampai ke luar. Gue sangat marah dengan tindakan tante dini saat itu, gue berusaha memukulnya, tetapi kedua laki-laki itu di perintah kan oleh tante dini menyeret gue ke dalam kamar, dan mereka mengunci gue di dalam kamar, setelah beberapa kali tante dini memukul, menampar, serta menendang gue, sampai gue pingsan dan gue gak tau lagi ceritanya seperti apa karena pas sadar gue sudah ada di rumah sakit, di dampingi oleh dinda dan kedua orang tua nya. Serta kedua orang tua gue. (dita menarik nafasnya, lalu menghembuskan nya berlahan, dinda berdiri mendekati dita, sedangkan nayna menggenggam tangan dita memberi ketegaran kepada dita)
"Biar gue yang lanjutkan ceritanya dit, nay, karena pada saat itu gue ada di sana. (kata dinda)
"Ya nay, pada saat itu gue di tarik paksa oleh tante dini untuk keluar dari rumah dita, tubuh gue didorong oleh tante dini keluar, lalu dia langsung membanting pintu dan menguncinya. Dita selalu bercerita ke gue tentang kelakuan tante dini dan kedua orang tua nya yang tidak pernah percaya kepadanya. Pada saat itu gue takut tante dini akan melakukan hal yang tidak-tidak kepada dita, di tambah lagi saat itu kedua orang tua dita sedang ada di luar kota. Gue merasa takut. Gue berusaha untuk mencari jalan untuk masuk kembali ke dalam, supaya gue bisa membawa dita keluar dari sana. Saat gue berusaha mengintip dari jendela kamar dita, gue melihat tante dini memukul, menampar serta menendang dita, dita menjerit menangis meminta ampun, tetapi tante dini sepertinya tidak punya hati dia terus saja menyiksa dita, sampai dita pingsan. Dan tante dini dan kedua laki-laki itu keluar dari dalam kamar dan membiarkan dita tergeletak di lantai dengan berlumuran darah. Gue panik melihat itu semua, lalu gue menghubungi papa gue dan meminta tolong kepada papa, menceritakan semuanya serta apa yang baru saja gue lihat, papa gue memberi saran ke gue untuk melaporkan kepada tetangga yang ada di sana, dan meminta mereka melaporkan ke RT.
Gue menuruti apa yang di bilang sama papa. Setelah gue meminta tolong kepada tetangga yang ada di sana, termasuk keluarga si mantan dita. Mereka melaporkan ke RT lalu sama-sama membantu dita yang ada di dalam rumah, para warga tidak begitu ramai, karena dita kan tinggal di kompleks perumahan yang jarak rumah dengan tetangga cukup berjauhan. Mereka berusaha mendobrak pintu karena orang yang ada di dalam tidak mau membukakan pintu nya. Sebelum pintu Berhasil di buka paksa, papa gue datang membawa polisi. Dan rumah itu pun di buka paksa.
Singkat cerita, polisi pun menangkap tante dini beserta dua orang laki-laki itu, lalu dita di larikan ke rumah sakit. Papa menghubungi kedua Orang tua dita dan menceritakan semuanya. Kedua orang tua dita pun pulang dari luar kota saat itu juga.
Ayah dan ibu dita sangat marah dengan apa yang sudah di lakukan oleh tante dini kepada dita. Mereka menyesal tidak pernah percaya dengan cerita anak nya. Mereka menangis melihat kondisi putrinya saat itu. Dan dokter bilang saat itu tidak ada luka yang begitu parah yang di derita dita.
Setelah beberapa hari dita di rawat akhirnya dita pun di bolehkan pulang. Dan satu minggu setelah itu kita mendapat kabar kalau tante dini sudah di bebaskan dari penjara. Ada seseorang yang membantu nya bebas, kita gak tau siapa orang itu, dan sejak saat itu kita tidak ada lagi mendapatkan kabar tentang tante dini Selama tante dini, sampai suatu hari tante dini mengirimkan undangan pernikahan serta surat ke rumah gue dan juga dita. Ya kan dit...? (dinda)
"Ya nay, kita sekeluarga bahkan menganggap dia sudah tiada. Tapi hari ini, tante dini datang lagi. (ucap dita, lalu menutup wajahnya lalu menangis)
__ADS_1
"Maafkan gue ya dit, gue gak bermaksud lo mengingat kembali kenangan masa lalu lo itu. Maaf gue membuat lo mengingat itu lagi. (ucap nayna)
"Ya nay gak apa-apa (ucap dita sambil mengusap air matanya)
"Gue salut sama keberanian lo din. lo memang hebat, pantas tante dini terlihat takut sama lo. (kata nayna, mencairkan suasana)
"Ah lo bisa aja nay, kita kan sahabat, dan itu gunanya sahabat harus saling tolong menolong di saat apa pun. (ucap dinda)
"Ya kalian berdua memang sahabat gue yang paling is the best. (ucap dita sambil tersenyum)
Mereka bertiga pun berpelukan. Lalu tertawa bersama.
...*Bersambung*...
...Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya teman-teman......
...🤗🤗🤗...
...Vote, like dan komen....
...Hidupkan juga tanda Favorit nya ❤ biar tau kalau author sudah update....
...🥰🥰🥰...
...Terima kasih 🙏...
__ADS_1