Cinta Karena Janji

Cinta Karena Janji
Flashback (pertemuan pertama)


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 01.00 tengah malam.


Di salah satu apartemen yang sangat mewah itu Nattan tidak henti-hentinya mondar mandir sambil sesekali menatap jam yang tergantung di dinding.


Nattan mulai mengomel saat melihat jarum jam, namun


Ardy yang duduk di kursi tamu tidak menghiraukannya, malah saat ini Ardy mulai memejamkan matanya karena rasa kantuk yang tidak dapat di tahan lagi.


Di jalan


Pak Dedi yang mengendarai mobil mulai menambah kecepatan mobil karena melihat jarum jam yang sudah menunjukkan pukul 01.00 tengah malam dan dia juga melihat kakek Yoga yang mulai memejamkan matanya di bangku belakang.


"Gak usah buru-buru Dedi, dan gak usah melihat ke belakang terus, Aku tidak apa-apa...! kamu fokus saja menyetirnya. (ucap kakek Yoga)


"Baik tuan, Maaf (ucap kak Dedi kikuk dan langsung fokus melihat ke depan)


Pak Dedi mengurangi kecepatan mobil, dan dia kembali fokus melihat ke depan, walaupun sesekali pak Dedi diam-diam melihat ke arah belakang, untuk memastikan majikannya baik-baik saja.


Dan tidak lama, tiba-tiba pak Dedi menghentikan mobil tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, dan itu membuat kakek Yoga yang duduk di belakang tampak kaget.


"Kenapa Dedi...? (tanya kakek Yoga, yang langsung membuka matanya)


"Anu tuan, itu...(ucap pak Dedi terbata-bata sambil menunjuk ke arah luar mobil)


"Anu itu anu itu, apa sih Dedi...! kalau ngomong itu yang benar. (bentak kakek Yoga)


"Anu tuan itu, (pak Dedi menunjuk ke arah luar) Di sana tuan, sepertinya ada seseorang yang ingin melompat dari jembatan itu (ucap kak Dedi lagi)


"Apa melompat...! di mana...? (tanya Kakek Yoga, dan matanya mulai menyoroti seluruh pinggir jalan kiri dan kanan)


"Itu di sebelah sana tuan. (ucap pak Dedi menurunkan kaca mobil lalu menunjuk ke arah orang yang memanjat besi pinggir jembatan)


"Astaghfirullah...


Cepat Dedi kamu bantu anak itu, sebelum dia mulai nekat (ucap kakek setelah)


Tanpa berkata-kata lagi, pak Dedi langsung turun dari dalam mobil lalu sedikit berlari menghampiri orang yang sedang berada di jembatan itu.


Tanpa berkata-kata apa-apa, pak Dedi dengan cepat menarik tubuh orang itu, dan seketika keduanya terhempas ke trotoar jalan.


Pak Dedi bangkit dan langsung menghampiri orang yang sudah terbaring tidak bergerak tidak jauh darinya.


Kakek Yoga yang tadinya ada di dalam mobil juga keluar, berjalan menghampiri pak Dedi yang berupaya membantu orang yang ingin melompat itu.


"Hai anak muda apa kamu sudah gila (bentak kakek Yoga dengan suara besar dan nada marah, setelah orang itu di bantu duduk oleh pak Dedi)


Orang itu hanya tertunduk diam, tidak menjawab apa lagi menanggapi apa yang di katakan oleh kakek.


"Kamu bantu dia Dedi, bawa dia ke mobil kita antar dia pulang biar keluarganya tau (ucap kakek Yoga dengan tegas, lalu berlalu pergi berjalan dan kembali masuk ke dalam mobil)


"Dasar perempuan zaman sekarang, taunya jalan pintas saja. Gak mikirin apa bagaimana keluarganya. Gak di indo di sini sama aja. (omel kakek saat sudah duduk di dalam mobil)


Dengan berlahan pak Dedi membantu orang itu masuk ke dalam mobil, setelah orang itu benar-benar masuk pak Dedi menutup pintu mobil lalu sedikit berlari pergi ke arah sisi kemudi mobil.

__ADS_1


Kakek Yoga yang duduk di belakang hanya menatap, orang itu diam tertunduk duduk di sisi samping supir.


"Kita jalan sekarang tuan...? (tanya pak Dedi kepada kakek)


"Ya kita antarkan anak ini dulu ke rumahnya (ucap kakek)


Mobil mulai bergerak


Sambil fokus menyetir pak Dedi bertanya alamat orang itu dengan bahasa Inggris, berkali-kali pak Dedi bertanya tetapi orang itu hanya tertunduk diam.


Kakek Yoga juga berusaha bertanya kepada orang itu tetapi dia tetap diam seribu bahasa.


Karena tidak ada jalan lain, pak Dedi dan kakek Yoga memutuskan untuk membawanya ke apartemen Nattan, karena sudah tidak ada pilihan lain, kakek Yoga gak mau meninggalkan dia di hotel karena takut dia nekad lagi.


Tidak butuh waktu lama akhirnya mereka sampai di apartemen Nattan, setelah memarkirkan mobil di parkiran apartemen, kakek Yoga dan pak Dedi turun dari mobil.


"Kamu bantu dan bawa dia masuk (ucap kakek Yoga lalu berlalu pergi)


Bel apartemen pun berbunyi dimana di sana sudah ada kakek Yoga yang berdiri di depan pintu menunggu seseorang yang membukakan pintu.


Nattan yang mendengar suara bel langsung berlari membukakan pintu.


Nattan sudah ingin membuka mulutnya tetapi tiba-tiba terhenti karena kakek memberi isyarat dengan tangan nya supaya Nattan tetap diam.


Nattan yang di beri isyarat seperti itu langsung cemberut dan berlaku pergi dan duduk di sofa di samping Ardy.


Kakek Yoga cuma menatap tingkah Nattan, dan tanpa berkata-kata kakek pun duduk di sofa yang sama dengan Ardy dan Nattan.


Nattan menatap kakek dengan sinis, Ardy yang sudah membuka matanya hanya menatap kakek dan cucu itu yang saling beradu tatap, secara bergantian.


Nattan dan Ardy seketika memutar kepalanya melihat ke sumber suara.


Saat melihat seseorang yang melangkah masuk Nattan dan Ardy serentak berdiri dari duduknya dan berkata.


"Siapa dia...? (tanya keduanya)


"Hai kamu gadis centil duduk di sini. (perintah kakek dengan tegas)


Orang itu berjalan berlahan sambil terus menunduk mengikuti perintah kakek.


"Udah gak usah takut...! Duduk...(ucap kakek lagi)


Orang itu pun duduk, di sofa tunggal tidak jauh dari kakek.


Ardy dan Nattan yang menatap penuh heran kembali duduk, itu semua mereka lakukan secara serentak.


"Kakek bisa di jelaskan siapa dia...? (tanya Nattan dengan menatap tajam ke arah kakek)


"Maaf nak Nattan biar bapak yang jelaskan (ucap pak Dedi yang masih berdiri di sana)


Kakek Yoga hanya diam, tatapan nya tidak lepas dari orang yang berpakaian perempuan yang masih tertunduk itu.


Pak Dedi menceritakan semuanya.

__ADS_1


Nattan dan Ardy sama-sama melihat ke arah orang itu setelah pak Dedi menceritakan apa yang terjadi dan kenapa mereka membawanya ke apartemen Nattan.


"Dedi coba kamu perhatikan baik-baik anak ini, seperti dia bukan seorang wanita...! (seru kakek Yoga yang masih menatap orang itu)


Pak Dedi, Nattan dan Ardy yang mendengar ucapan kakek tampak terkejut. Dan berlahan Ardy pun mendekati orang itu karena Ardy juga merasa sedikit curiga.


Ardy mendekat, lalu memerintahkan orang itu untuk berdiri dan mengangkat wajahnya, dan setelah melihat wajah orang Ardy juga sudah yakin dengan kecurangan nya dan membenarkan apa yang di katakan kakek.


Ardy menarik rambut panjang orang itu, seketika semuanya terkejut. Kakek dan Nattan berdiri dari duduknya.


Dengan tegas Ardy menanyai orang itu, Ardy mulai membentaknya, sampai akhirnya orang itu membuka suara, meminta maaf dengan bahasa Inggris karena ketakutan.


"Sudah saya duga orang ini pasti hanya menipu kakek dan juga Ayah, dia pura-pura mau bunuh diri untuk memuluskan aksinya. Di sini itu lagi marak kejahatan seperti itu sekarang, jadi kita harus lebih hati-hati. (ucap Ardy)


Setelah mengatakan itu Ardy kembali duduk, Nattan dan kakek juga kembali duduk.


"Ma..af...kan saya tu...an...(ucap laki-laki itu terbata-bata)


Kakek Yoga, dan semuanya kaget mereka seketika menatap ke arah sumber suara.


Orang itu tampak ketakutan, dia langsung berlutut di kaki kakek sambil berkata maaf dengan suara gemetaran.


"Udah nak jangan seperti ini, Ayo berdiri...ya saya maafkan kamu. (ucap kakek sambil membatu orang itu berdiri)


Beberapa menit kemudian suasana yang tadinya tegang sekarang sudah mulai tenang dan hening.


Kakek Yoga mulai membuka suara lagi, dia menanyakan semua tentang orang yang ada di hadapannya saat ini mulai dari nama, kota asal dan sebagainya.


Tidak hanya kakek Yoga yang bertanya pak Dedi, Nattan dan juga Ardy mereka juga ikut bertanya.


Laki-laki yang berdandan perempuan itu menjawab semua pertanyaan dan juga dia menceritakan apa yang terjadi dengan nya sampai akhirnya dia memilih jalan pintas seperti yang hendak dia lakukan.


Kakek Yoga cukup prihatin mendengar cerita dari laki-laki yang bernama Faris itu.


Kakek Yoga memberikan dia pekerjaan, membayar biaya kuliahnya dan juga tempat tinggal nya.


Fariz sangat terharu karena dia tidak menyangka bisa bertemu dengan orang sebaik kakek Yoga apa lagi di kota yang bukan tanah kelahirannya seperti ini.


"Jadi anak centil saya membantu kamu seperti ini tidak percuma ya, saya mau kamu membayarnya dengan kamu suatu saat nanti menjadi orang yang sukses dan bisa saya banggakan bukan seperti kamu yang sekarang. (ucap Kakek saat memeluk Fariz)


...Bersambung...


...Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya teman-teman semuanya, karena jejak yang di tinggalkan itu yang membuat Author semakin semangat 💪 untuk menulis ✍️ dan bisa Update setiap hari....


...🤗🤗🤗...


...Vote, Like dan Komen....


...Hidupkan juga tanda Favorit ❤ biar ada notif yang masuk setiap kali Author update....


...Semoga selalu menjadi pembaca setia dari Novel Author yang berjudul "Cinta Karena Janji" ini ya....


...🥰🥰🥰...

__ADS_1


...Nb: Tolong tinggalkan komen yang membangun ya...! jangan komen yang membuat Author nya down. ✌...


...Terima kasih 🙏...


__ADS_2