Cinta Karena Janji

Cinta Karena Janji
Hutang


__ADS_3

"Kenapa paman...? (Kata Nayna)


"Begini nay, paman mau ambil sertifikat rumah ini (sambil menatap Nayna, melihat reaksinya dari mimik wajahnya)


"Sertifikat rumah ini paman, (masih dengan mimik wajah yang biasa saja)


Maaf paman nay gak bisa nyerahkan sertifikat rumah ayah sama paman.


"Nay, paman gak mau kamu salah pengertian.


"Maksud paman...?


"Rumah ini adalah milik kami (sambungan bibi sewot)


"Maksud bibi...!!!


Paman, tolong jelaskan sama nay apa maksud dari ucapan bibi barusan, nay gak ngerti...(mulai berkaca-kaca)

__ADS_1


"Ma, mama diam dulu biar papa yang jelasin sama Naynanya. (sambil berbisik kepada sang istri)


"Tapi papa kelamaan (balas berbisik)


"Mama...


"Iya iya mama diam, tapi cepatan gak usah bertele-tele.


"Udah paman diskusinya (Nayna mulai sewot)


"Iya nay, begini dulu ayah mu sebelum membeli rumah ini beliau pernah meminjam uang kepada paman sebesar 50 jt, tetapi belum di bayar sampai mas Bram meninggal dunia. mas Bram pernah menelpon paman dua hari sebelum kecelakaan itu katanya dia akan menyerahkan rumah ini kepada paman untuk membayar hutang-hutangnya..


"Nay paman tau pasti kamu tidak percaya dengan paman, tapi semua yang paman bilang barusan adalah benar nay, paman tidak lagi mengarang cerita. kalau bunda mu hidup kamu bisa bertanya kepada dia, karena Mbak Lia tau semuanya. kamu masih bayi waktu itu jadi kamu gak akan tau. itu perjanjian antara mas Bram dan juga paman.


"Tapi paman, apa paman ada buktinya kalau ayah pernah pinjam uang sama paman.


Seketika bibi pun mengeluarkan selembar kertas tanda bukti perjanjian hutang piutang antara ayah Bram dan paman Anto.

__ADS_1


Nayna mengambil kertas itu, dan membacanya dengan teliti. Nayna tidak percaya dengan isi yang ada di dalam kertas itu, tetapi Nayna mulai bertanya kenapa di kertas itu ada tanda tangan ayahnya.


"(Nayna menghela nafas berat dan mulai berbicara) kalau nay serahkan sertifikat rumah ini ke paman, jadi mau paman apakan sertifikat itu.


"Maaf ya nay, paman ngerti keadaan kamu gimana. bukannya paman gak peduli sama kamu, tapi sekarang paman lagi membutuhkan uang, karena paman capek di tagih terus-terusan sama rentenir itu. dan paman juga kasihan sama keluarga paman di teror terus. Jadi rumah ini terpaksa paman jual. Untuk melunasi hutang paman.


"Gak, paman gak boleh jual rumah ini, nay mohon paman, (dengan mengatupkan kedua tangannya) rumah ini sangat bearti untuk nay, karena di rumah ini begitu banyak kenangan ayah dan bunda. karena tinggal di rumah ini nay merasa bunda dan ayah selalu di dekat nay. nay mohon paman jangan jual rumah ini. (mulai terisak)


"Tapi nay paman tidak ada pilihan lain lagi. paman gak mau mengorbankan keluarga paman.


Kalau paman tidak segera melunasi hutang itu, paman harus rela menukarkan nyawa keluarga paman kepada rentenir itu. (sambil memasang wajah sok sedihnya)


"Tapi paman, nay harus tinggal di mana kalau rumah ini di jual.


"Itu urusan kamu, kenapa tanya sama kami (Sewot si bibi)


"Baiklah paman, bisa kasih nay waktu untuk berpikir (Pasrah Nayna)

__ADS_1


"Kenapa kamu masih minta waktu, apa kamu mau melihat kami semua terbujur kaku dulu baru kamu mau menyerahkannya. (kata bibi)


Seketika Nayna melihat ke arah si paman yang bungkam, berharap paman mau mengabulkan permintaannya.


__ADS_2