Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 100 : Kejayaan untuk Anryzel Dirvaren!


__ADS_3

"Aku masih belum menemukan Rahasia dari Perpindahan Ruang."


Ren mengekspresikan kekecewaannya ketika mengatakan kalimat itu. Nirlayn, Arystina dan Avrogan yang baru saja kembali, melihat ini dan terkejut. Hal apa yang bisa membuat Tuan mereka sampai kecewa seperti itu? Pertanyaan ini muncul dalam diri mereka semua.


Diantara Ketiganya, Nirlayn adalah orang yang melakukan pergerakan lebih dulu, menghampiri Ren dengan berlari kecil seraya menampilkan kecemasan.


"Apa ada sesuatu yang terjadi Ren-sama?" Tanya Nirlayn sembari mengungkapkan kecemasannya.


Namun, kelakuan kecil Nirlayn ini membangkitkan perasaan 'tersaingi' dalam diri Arystina. Bergegas Arystina menghampiri Ren dengan cara yang sama, tapi dia bertanya dengan kalimat yang berbeda.


"Yang Mulia, mengapa anda terlihat kecewa?"


Dua Perempuan ini dengan sengaja menunjukan wajah cemas mereka masing-masing dikedua sisi Ren. Meski dalam Ekspresi mereka murni hanya ada kecemasan alami, tapi Ren dapat merasakan Aura persaingan diantara keduanya.


"Hm?" Mata Ren berkilau ketika berusaha melihat apa yang sebenarnya direncanakan oleh Kedua Perempuan dihadapannya, namun Ren tidak menemukannya, "Tidak perlu cemas, aku hanya sedikit kecewa karena tidak dapat melakukan sesuatu."


Jarak antara Ren dan mereka berdua menjadi sangat dekat. Membuat Kecantikan dari mereka berdua dapat dilihat oleh Ren secara langsung. Di Mata Ren, Kondisi keduanya yang bisa dibilang acak - acakan juga memiliki daya tarik tersendiri.


'Uh?!'


Ren langsung berbalik seraya menahan suatu perasaan dalam dirinya. Perasaan itu adalah Rasa Malu yang belum pernah dia rasakan kembali semenjak pindah ke Dunia ini. Pemicu dari Rasa Malunya ini tidak lain adalah ingatan tentang pernyataan Arystina dan Nirlayn sebelumnya.


Namun dengan otoritas Blood Ruler, Ren menyembunyikan sebaik mungkin Ekspresi itu dari para bawahannya. Tidak mungkin bukan? Bagi seorang Penguasa terlihat malu-malu.


'Sial, ada apa denganku? Bukankah sebelumnya aku merasa biasa saja.' Ren protes pada dirinya sendiri.


Alih-alih mencurigai sikap Ren yang sedikit berbeda dari biasanya, dua perempuan itu malah terlihat tidak percaya. Tidak percaya dengan apa yang Ren katakan sebagai penjelasan.


"S-Sesuatu yang tidak bisa anda lakukan?" Nirlayn mengucurkan keringat di dahinya.


"A-Apakah itu menghancurkan Alam Semesta, Yang Mulia?" Arystina menebak sesuatu yang berada di luar akal.


Seketika, Hati Ren merasa sedikit tersakiti, mengapa semua orang menganggap bahwa dirinya ini dapat melakukan segala hal?


"Ya ampun ..." Ren menenangkan diri sebelum menanggapi mereka berdua. Beberapa saat setelah menenangkan diri, perasaan yang tiba-tiba muncul itu akhirnya menghilang, dan mengembalikan kepribadian Anryzel Dirvaren yang biasanya.


"Haha, kalian terlalu melebih-lebihkan diriku, tidak mungkin bagiku untuk bisa melakukan semua hal. Kalian juga pasti mengetahui bukan? Aku ini bukan Dewa atau sesuatu yang lebih tinggi dari itu."


Dengan penjelasan dan penegasan ini, Ren berharap mereka semua menerima kenyataan bahwa dia juga Makhluk biasa, tidak dapat melakukan apapun yang dia inginkan. Ya, Ren mengharapkan jawaban mereka yang seperti 'Oh benar' atau 'Saya mengerti' dan sesuatu semacam itu.


Ren juga sangat percaya diri, kalimat yang dia katakan barusan itu sangat ampuh dalam hal mengakui kekurangan tapi tidak menurunkan kewibaan. Intinya, Ren berusaha menaikan Kerendahan Hatinya di Mata mereka semua dengan cara mengakui kekurangannya.


Namun ternyata ...


"H-Hahaha, R-Ren-sama, anda pasti bercanda."


"H-Haha, benar ... Saya malah berpikir anda dapat menghancurkan Dunia jika anda menginginkannya."


Jawaban mereka sangat bertolak belakang dengan apa yang diharapkan ...


'Sudahlah.' Ren berkata pasrah seraya menjauhi keduanya, 'Sia - sia aku berkata pada kalian yang terlampau setia.'


Melihat Ren menjauh begitu saja tanpa mengatakan sepatah katapun, mereka semua tentu sangat kebingungan. Anehnya, tidak ada satupun dari mereka yang menyadari bahwa semua ini disebabkan oleh ulah mereka sendiri.


Arystina dan Nirlayn saling menatap ketika melihat kepergian Ren. Keduanya pun saling mengangguk dan mengikuti langkah kaki Ren yang berada didepan mereka. Untuk Avrogan, tidak ada yang mengetahui mengapa dirinya sama sekali tidak berbicara.


Setelah mencapai Ujung dari Taman Istana, Ren diam dan berhenti, menatap pada luasnya Padang Rumput yang ada dalam Wilayah Istana.


"Sst ... Nirlayn, apa kita mengatakan sesuatu yang menyinggung perasaan Yang Mulia?" Bisik Arystina yang mendekatkan diri pada Nirlayn.


Nirlayn terlihat terkejut karena Arystina tiba-tiba berbisik padanya, "Ah, Arystina ... Mungkinkah kamu bertanya karena belum lama mengenal Ren-sama? Aku hanya ingin mengatakan sedikit informasi, Ren-sama adalah orang yang terlampau sulit untuk ditebak."


"Eh, maksudmu ...?"


"Aku sendiri tidak tahu, yang mana kepribadian asli dari Ren-sama."


"..."


Mereka melanjutkan perbincangan dalam bisikkan seperti seorang Teman dekat yang telah lama saling mengenal. Ini patut dipertanyakan, mengapa mereka bisa berubah menjadi sangat dekat dalam waktu yang sangat singkat? Mungkin jika Ren mendengarnya, dia akan berusaha memikirkan ini semua dengan serius.


Perbincangan mereka berdua pun berakhir, perhatian mereka diambil alih oleh Avrogan yang berjalan menghampiri sosok Ren yang sedang diam.


"Tuan, dapatkah saya membicarakan sesuatu dengan anda?"


"Apa? Aku harap ini suatu hal yang penting." Balasan Ren singkat seperti biasa.


"Saya ... Belum sempat untuk meminta ampunan karena telah menyerang anda. Tidak ada yang lebih memalukan dari seorang bawahan yang menyerang Tuan mereka sendiri."

__ADS_1


Ren melirik sekilas sosok Avrogan dan berkata, "Aku tidak mempermasalahkannya, kau marah dan kehilangan kendali itu karena diriku. Kau tak perlu mengkhawatirkannya lagi ..."


Dalam Hati Ren bergumam, 'Jadi begitu ...' Alasan mengapa Avrogan tidak berbicara itu karena Rasa bersalah yang bersarang dihatinya.


"Terima kasih banyak Tuan. Sebagai bentuk untuk menebus kesalahan, izinkan saya kembali ke alam [Beast Servant] untuk memusnahkan Cacing Besar itu."


Kata-kata Avrogan mengandung kemarahan yang mendalam. Aura menyeramkan yang Avrogan keluarkan menjadi bukti bahwa perkataannya sangat-sangat serius.


"Hm." Perkataan Avrogan membuat Ren memegang dagu, "Jadi Cacing Hitam itu kabur ke alam [Beast Servant] ya."


Pantas saja Ren tidak merasakan keberadaan Cacing Hitam itu di Hutan Loudeas. Ternyata dia sendiri sudah melarikan diri ke alam [Beast Servant]. Namun jika dipikirkan, bukankah kekuatan Cacing itu cukup hebat? Karena dapat membunuh Ren dalam sekejap Mata. Lalu, mengapa dirinya melarikan diri?


"Sepertinya kau sangat yakin dapat memusnahkan Cacing Hitam itu?"


"Tentu saja Tuan, bahkan dalam semua [Beast Servant] Tingkat Legendaris. Dia termasuk dalam yang terlemah." Avrogan dengan terang-terangan mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak dia katakan.


"T-Terlemah ... Katamu?"


Suram ... Ren berubah menjadi Suram. Lagipula, jika Cacing Hitam itu adalah [Beast Servant] Legendaris dengan kekuatan yang terlemah, mengapa dia dapat mengalahkan Ren dengan begitu mudah? Bukankah ini sama saja dengan mengatakan bahwa Ren tidak lebih Hebat dari Seekor Cacing?


Avrogan yang sadar akan kesalahannya dalam berucap langsung mengeluarkan keringat. Walaupun, Keringat itu sendiri ada atau tidak dalam Tubuh Kudanya, tidak ada yang tahu.


"M-Maafkan saya ... S-Saya tidak bermaksud mengatakan anda lemah Tuan!"


"Jika begitu ..." Ren berbalik dan menatap Avrogan dengan Mata Merah yang menyala Hebat, "Pergi dan bawa dia kehadapanku!"


"Hiii~ Baik!"


Lingkaran Sihir yang sama dengan proses Pemanggilan muncul di Bawah Avrogan. Secara Paksa menarik Avrogan ke dalamnya dan membuat dia menghilang dari sana. Faktanya, Ren lah yang menciptakan Lingkaran Sihir ini agar Avrogan dapat kembali ke alam [Beast Servant] dengan cepat lalu menyeret Cacing Hitam itu kehadapannya.


Arystina dan Nirlayn yang melihat Ren seolah dalam Kondisi Hati yang buruk segera mendekat. Kali ini, mereka benar-benar khawatir dan merasa apakah mereka lah yang menyebabkan suasana Hati Ren yang buruk.


"R-Ren-sama, maafkan perkataan kami jika ada yang menyinggung anda!"


"Itu benar! Anda tidak perlu mendengarkan kami!"


Keduanya berbicara dan berusaha untuk menghentikan Ren yang terlihat akan menghancurkan apapun yang ada disekitarnya. Aura dan Kekuatan Ren meledak-ledak, menandakan kekesalan yang tengah ia rasakan.


"Ren-sama, jangan menghancurkan Istana hanya karena anda kesal pada kami!"


"Yang Mulia! Istana ini begitu penting untuk anda!"


Seketika, seluruh Aura dan Kekuatan yang meledak-ledak itu hilang. Menyisakan Ren yang menatap pada mereka berdua dengan keheranan.


"Apa yang kalian lakukan?"


"Eh? Kami hanya ingin menghentikan anda yang akan menghancurkan Istana."


"Yang Mulia, mohon maafkan kami, kami tidak ada maksud untuk menyinggung anda."


Ren menghela napas kemudian dengan paksa melepaskan tangannya yang ditahan oleh mereka berdua. Senyum mengerikan kembali ditampakan oleh Ren , "Hahaha! Kebetulan sekali, aku akan melampiaskan semua kekesalan karena dikalahkan oleh seekor Cacing itu disini." Teriak Ren seraya tertawa layaknya Iblis.


"Hahaha! Kalian berdua tak perlu khawatir, aku hanya akan menggunakan setengah dari Mana yang aku miliki!" Ren kembali menyatakan sesuatu yang menyeramkan sambil tertawa dengan cara yang menyeramkan pula.


Setengah? Setengah? Setengah?


Kata itu terngiang-ngiang dalam Pikiran Arystina dan Nirlayn. Setengah dari Mana yang dimiliki oleh Ren dapat menjelaskan suatu Kehancuran. Jika Ren serius dalam perkataannya, mungkin Hutan Loudeas akan musnah dari Dunia ini.


Lonceng Kehancuran yang ada dalam diri Arystina dan Nirlayn berbunyi tanpa henti. Segera, mereka berdua berusaha menghentikan kehancuran yang akan datang itu dengan cara berteriak sebisa mungkin, "T-Tunggu! Ren-sama ..."


Namun belum sempat mereka menyelesaikan teriakannya, Ren sudah melakukan apa yang ingin dia lakukan.


Lingkaran Sihir yang tak terhitung Jumlahnya muncul dihadapan mereka semua. Ukuran dan Bentuk dari Lingkaran Sihir ini berbeda-beda, ada yang luar biasa besar dan ada juga yang sekecil bola. Tidak hanya di atas Tanah, bahkan Lingkaran Sihir muncul di Udara. Seolah-olah menampakan dengan jelas, bahwa kehancuran akan segera tiba.


Kemudian tidak lama, Sinar yang sangat menyilaukan memenuhi seluruh Istana. Arystina dan Nirlayn tak memiliki pilihan selain menutup Mata dan menunggu Kehancuran yang akan segera tiba.


Namun ...


"Semoga saja ini adalah terakhir kalinya aku merubah keputusan dan menghancurkan keegoisan."


... Suara Ren bergema.


Apa yang dimaksud oleh Ren? Tidak ada satupun diantara keduanya yang mengerti. Akan tetapi, seolah menjelaskan segala macam situasi yang terjadi, beberapa suara dari binatang memenuhi tempat ini.


Ssssttt!


Groaaarrrr!

__ADS_1


Auuuuu!


Kiiiikkk


Hosshh!


Hiiii~


Chuu~


Nirlayn dan Arystina lekas membuka Mata untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Kemudian, mereka terdiam ...


Entah itu Puluhan, Ratusan atau bahkan Ribuan, Lautan [Beast Servant] Memenuhi Padang Rumput yang ada di wilayah Istana. Segala macam [Beast Servant] ada, mulai dari Ular, Singa, Serigala, Burung, Serangga, dan Binatang - Binatang lainnya, tidak ada satupun yang terlewati.


Diantara semua hal yang ada, sesuatu yang lebih membuat Nirlayn dan Arystina tertarik adalah sosok Ren yang tengah duduk diatas singgasana dengan senyum penuh kepuasan.


"Mulai sekarang, kalian adalah Hewan ternak milikku!"


____________________________________________


* * *


* * * ____________________________________________


Antrian yang sangat panjang merupakan mimpi buruk dalam kehidupan. Lalu, bagaimana jika yang mengantri adalah para [Beast Servant]?


Mungkin itu dapat dilihat dalam situasi yang ada di sekitar Ren saat ini. Dimana para [Beast Servant] yang melambangkan kekuatan para Summoner dipaksa untuk mengantri demi mendapatkan sebuah Nama.


Para Summoner yang melihat ini tidak akan lagi menangis maupun tak sadarkan diri, melainkan mereka akan segera bunuh diri.


[Beast Servant] yang mengantri ini bagaikan sebuah lautan tanpa henti. Ren sendiri tidak mengetahui dengan pasti berapa Jumlah mereka sebenarnya. Ketika memanggil mereka semua, Ren hanya memikirkan untuk memanggil semua [Beast Servant] menggunakan separuh Mana yang dia miliki.


Ren sama sekali tidak memikirkan keberhasilan, yang ada dalam pikirannya saat itu hanya menghabiskan separuh Mana demi mengobati Kekesalannya. Namun tidak disangka, pemanggilan itu sendiri justru berhasil dan muncul lah Lautan [Beast Servant] dihadapannya.


"[1270]"


"[1271]"


Nama yang diberikan sudah mencapai angka [1271] Namun antrian yang ada belum menunjukan tanda - tanda akan berakhir. Ren tidak mempercayai hal ini, mengapa separuh dari Mananya dapat memanggil [Beast Servant] sebanyak ini?


Jumlah mereka yang luar biasa memaksa Ren memberikan mereka Nama dengan sebuah Angka. Setelah Angka yang disebutkan mencapai [2578] Barulah Ujung dari Antrian dapat dilihat oleh pandangan.


"K-Kau adalah yang terakhir ... [2677]."


Para [Beast Servant] yang telah diberi Nama itu berbaris seperti sebuah Pasukan yang telah terlatih dengan baik. Mereka diam dan menunggu apa yang akan diperintahkan oleh sang pemanggil, yang tidak lain adalah Ren.


"R-Ren-sama ... Sungguh luar biasa." Ucapan Nirlayn dimaksud untuk menghibur diri Ren.


"Apakah saya sedang bermimpi?" Arystina mencubit-cubit pipinya sendiri.


Alih-alih menanggapi Pujian dari mereka berdua, Ren malah membicarakan sesuatu yang berbeda, "Mulutku sedikit kering, adakah diantara kalian berdua yang bisa menyajikanku Minuman?"


Nirlayn dan Arystina seketika saling menatap dengan Kilatan Mata. Keduanya ternyata berusaha untuk melakukan persaingan kembali.


"Arystina ... Bukankah tadi kamu berkata lelah? Sebaiknya segera beristirahat. Biarkan aku yang mengambil Tugas ini." Ucap Nirlayn dengan senyuman.


"Tidak Nirlayn, seketika aku bersemangat kembali setelah menyaksikan sesuatu yang luar biasa seperti ini. Bukankah aku yang sedang bersemangat ini lebih pantas untuk menerima Tugas dari Yang Mulia?" Balas Arystina dengan tersenyum.


Ren merasa ... Aura Persaingan sekali lagi muncul diantara mereka berdua. Karena penyebab dari sikap mereka ini tidak lain adalah dirinya sendiri, Ren dengan terpaksa harus mengeluarkan perintah yang baru.


"Hentikan, aku berubah pikiran. Aku menginginkan kalian berdua yang menyajikan Minuman."


Nirlayn dan Arystina yang sedang saling menatap tajam pun berbalik dan berkata, "Baik." Secara bersamaan.


Keduanya pun pergi, meninggalkan Ren yang duduk diatas singgasana Blood Art seorang diri. Ketenangan akhirnya kembali dirasakan oleh Ren, walaupun sebenarnya, suara-suara dari [Beast Servant] masih terdengar memenuhi sekitar tempat itu.


Disaat seperti ini, seketika muncul sebuah Ide bagus yang layak untuk dicoba dalam Pikiran Ren.


Ren membuat Bola Air Raksasa dan melukai Tangannya disaat yang bersamaan. Darah yang mengucur dari Tangannya yang terluka itu bergerak dengan sendirinya menuju Bola Air Raksasa. Darah menyatu dengan Air, dan Cahaya Kemerahan kemudian terpancar dari Bola Air Raksasa.


"Sebagai Peliharaan Anryzel Dirvaren ..." Ren mengendalikan Air Berwarna Merah itu menuju langit yang berada diatas Lautan [Beast Servant] dan melanjutkan perkataannya, "Kalian akan menerima Berkah dari Darahku!"


Tak!


Bamm!!


Bola Air Raksasa yang telah dicampur dengan Darah Ren meledak diatas langit. Menurunkan sebuah Hujan Buatan yang berwarna Kemerahan. Semua [Beast Servant] yang telah menyentuh titik air yang jatuh bercahaya. Sebuah Cahaya yang menandakan bahwa sesuatu yang dicoba oleh Ren berhasil.

__ADS_1


Para [Beast Servant] yang telah menerima berkah itu secara serentak berteriak menggunakan Bahasa mereka ...


"Kejayaan untuk Tuan Anryzel Dirvaren!"


__ADS_2