Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 57 : The Seven True Ancestor


__ADS_3

Rusava, dan Raytsa, Dua orang yang mengaku sebagai Leluhur Sejati dari Ras Blood Devil. Kombinasi serangan dari Keduanya menciptakan Api Biru dan Hitam yang mengerikan. Daya Hancur dari Api itu sendiri tidak bisa sedikitpun diremehkan. Jika tidak ada penghalang yang mencegah Api menjalar ke segala arah, maka dapat dipastikan Kota Aulzania akan mengalami Kerusakan dari serangan itu.


'Ceroboh sekali diriku...' Ren berkata dalam benaknya.


Apa yang Ren maksud adalah ketika serangan Rusava dan Raytsa menghampirinya. Ren dengan Cerobohnya hanya menggunakan Api biasa untuk menahan mereka. Hampir saja semua menjadi berbahaya, beruntung saat itu Ren melepaskan serangan tersembunyi tambahan untuk menyaingi Api milik mereka berdua.


'Itu adalah sebuah Skill dan Teknik yang tidak aku ketahui... Hampir saja.'


[Scythe Technique : Hell Fire] adalah Skill atau Teknik yang Ren tidak ketahui, meski Ren cukup pintar dalam menghafal. Tetapi, untuk menghafal seluruh Skill dan Penjelasan dalam Game COTHENIC merupakan hal yang hampir mustahil.


Belum lagi, ada kemungkinan bahwa ini merupakan sesuatu yang asli berasal dari Dunia ini. Jadi, Ren sangat Ceroboh karena mencoba bertindak sombong, padahal kekuatan musuh tak dia ketahui.


Ren berusaha berpikir dengan keras, waktu nya sangat terbatas untuk menilai Jalan keluar dari semua ini. Pada akhirnya, Ren memutuskan untuk berbicara seperti biasa.


"Seorang seperti kalian belum cocok untuk memberontak padaku..."


Setelah mengatakan itu, Ren mengambil sebuah Posisi tubuh yang begitu menakjubkan. Posisi ini adalah sesuatu yang selalu dia lakukan ketika bertindak seperti seorang Penguasa. Dengan Kedua kaki menyilang, dan disertai oleh tangan nya yang menopang Dagu.


Mata merah darahnya yang bersinar di malam hari menambah kesempurnaan yang ia miliki.


Dalam helai Rambutnya yang hitam legam, memantulkan segala macam Cahaya yang ada di Arena.


Rusava dan Raytsa semakin melongo ketika menyaksikan pemandangan ini. Sesuatu yang ada di dalam diri Ren memicu keterkejutan mereka lebih jauh.


Blukk


Sabit Besar Rusava jatuh ke tanah, membuat sebuah suara yang berat. Raytsa yang berdiri di samping nya terlihat keheranan.


"R-Rusava..?"


"Kita berhenti, Raytsa. Dia adalah seseorang yang harus kita layani." Rusava berbicara dengan yakin.


Semua Aura permusuhan darinya kini telah lenyap. Hanya tersisa sebuah keyakinan yang terlihat disana.


"Maksudmu, kita menyerah untuk melawan? Kita yang seorang [True Ancestor]?" Raytsa membalas sambil menatap Rusava tak percaya.


"Kita bukan menyerah Raytsa, tapi semua ini merupakan Takdir." Rusava menyatakan sesuatu yang tidak dapat dimengerti Raytsa.


"Apa maksudmu? Aku tidak menger-"


Raytsa menghentikan perkataannya, dia terlihat mengingat sesuatu dan memejamkan mata. Lalu, dengan sebuah helaan napas dia berbicara..


"Baiklah Rusava, aku akan mengikuti apa yang kau percayai.." Raytsa mengangguk.


Sementara keduanya terlibat dalam pembicaraan yang serius. Ren malah terlihat kebingungan, Rusava yang menjatuhkan senjata nya bisa dianggap sebagai pernyataan menyerah. Tapi, bukan suatu hal yang mustahil pula itu merupakan suatu taktik pengecohan bagi Ren.


"Apa, kalian menyerah?" Nada Ren dibarengi oleh keangkuhan seorang Penguasa.


Suara Ren menjadikan Kedua orang itu mengalihkan pandangan padanya. Mereka awalnya saling memandang satu sama lain, lalu kemudian mengangguk sebelum berbalik kembali pada Ren.


Dengan sebuah Ekspresi yang Rumit, Kedua orang itu berjalan menghampiri Ren. Wajah mereka telah dipenuhi oleh tekad, seakan mereka tidak akan menyerah sampai titik darah penghabisan.


"Kami sama sekali tidak menyerah.." Rusava berbicara tegas.


"Benar, kami tidak menyerah." Raytsa menegaskan.


Pernyataan mereka sama sekali tidak membuat Ren bahagia. Bagaimana pun, jika mereka melawan dengan sekuat tenaga bukan tidak mungkin bagi Ren untuk terluka.


Skill dan Teknik mereka yang tidak diketahui pun membuat Hati Ren menjadi sedikit Resah.


Dengan suasana Hati yang suram dan Berat, Ren berkata....


"Jika keinginan kalian seperti itu, maka akan aku layani sampai titik darah penghabisan..."


Perkataan Ren dipenuhi oleh kepercayaan diri, sangat berbeda dengan suasana hatinya yang sedang suram saat ini. Ren berdiri dari singgasana miliknya yang terbuat dari Blood Art.


"Nah, Ayo mula-... Hm?!" Ren sudah siap bertarung, namun....


Brakk


Rusava dan Raytsa berlutut dengan cara yang dramatis. Keduanya menunduk dalam - dalam, seakan mereka sedang menghadap pada Raja mereka sendiri.

__ADS_1


Ren tidak dapat berkata - kata disini, semua yang dia Rencanakan untuk melawan mereka hancur seketika. Semua berada diluar harapan dan perkiraan, bahkan Rencana Ren untuk keluar dari situasi terburuk sekarang menghilang.


Kebingungan dan Keheranan Ren semakin bertambah, ketika Rusava dan Raytsa berbicara..


"Yang Mulia, kami bukan menyerah, melainkan memutuskan untuk melayani anda."


"Perkataan Rusava bukanlah dusta, Mohon terima pengabdian kami ini."


Ren sudah tidak mengerti lagi, dia saat ini sangat ingin berteriak Tentang bagaimana perubahan suasana yang berubah begitu cepat. Yang lebih membuatnya merasa aneh adalah... Perkataan mereka sama sekali tidak berbohong. Artinya, mereka sangat bersungguh - sungguh dengan perkataan mereka sendiri.


'Ya ampun, aku tidak mengerti lagi dengan ketidak masuk akalan Dunia ini... Oh, dari awal Dunia ini memang seperti itukan.'


Selagi Ren berpikir sendiri dalam pikirannya itu. Rusava dan Raytsa saat ini sedang menatap dengan penuh kecemasan. Tidak butuh waktu lama juga, sampai Ren menyadari tatapan mereka itu.


"Aku tidak mengerti, apa yang kalian katakan?" Ren mencoba memastikan kembali, berharap sebelumnya dia salah mendengar sesuatu.


"Kami akan melayani dan mengabdi pada anda."


"Akan kami pastikan anda tidak kecewa sedikitpun."


'Tidak, kau tidak mengerti apa yang aku maksud sedikitpun...' Ren ingin sekali memukul kepalanya sendiri.


"Ahh, Baiklah, kalau kalian memang bersungguh - sungguh, bicaralah tentang kehidupan kalian sebelum bereinkarnasi." Ren terlihat menyerah dengan usahanya untuk menyangkal semua ini.


"Baik, kami adalah sepasang suami dan is-"


"Tentu saja kalian hanya akan membicarakan suatu hal yang penting kan?"


Atas pernyataan Ren yang tanpa ampun, Rusava dan Raytsa kemudian bercerita.


*


*


*


Pada Zaman ketika Ras Blood Devil masih belum terlupakan. Ras Blood Devil adalah satu - satu nya Ras yang disebut Abadi. Ini karena mereka dapat bereinkarnasi secara terus menerus selama syarat - syaratnya terpenuhi.


Seorang Leluhur Sejati akan diberikan Gelar sesuai dengan dari Keluarga mana mereka berasal. Contohnya adalah Rusava, dia merupakan Leluhur Sejati yang memimpin Keluarga Wratherlord. Dia juga menyandang Gelar Leluhur Sejati Kemurkaan [True Ancestor of Wrath]. Lalu, Raytsa merupakan seorang Leluhur Sejati yang memimpin Keluarga Gridelnia, dia juga menyandang Gelar Leluhur Sejati Keserakahan [True Ancestor of Greed].


Seorang Blood Devil dapat dikatakan sebagai seorang Leluhur Sejati ketika semua syarat telah terpenuhi. Syarat - Syarat itu berupa ujian Kekuatan, Kecerdasan, serta Etika. Ketika seorang Blood Devil telah lulus dari semua hal itu, maka dia akan mengikuti sebuah Ritual Suci untuk menjadi Leluhur Sejati yang sesungguhnya.


Rusava, diberikan Gelar Leluhur Sejati Kemurkaan. Kekuatan yang dia miliki berupa Api Hitam yang mengerikan. Rusava mampu menghancurkan satu Kota dengan sekali serangan Api miliknya. Itulah kenapa dia diberikan Gelar Kemurkaan, karena jika dia murka maka kehancuran sudah dapat dipastikan.


Sedangkan Raytsa, dia memiliki berbagai macam kekuatan sebagai seorang Magus. Dia memiliki semua Element Dasar selain Cahaya, dia juga mampu membuat sebuah Api Biru yang tidak kalah hebatnya dengan Api milik Rusava. Kekuatannya yang cukup banyak dan tidak adil inilah penyebab dia menyandang Gelar Keserakahan.


Ketika Rusava dan Raytsa masih Hidup, Keluarga mereka menjadi yang terkuat diantara Keluarga lainnya. Menyebabkan keseimbangan antar Keluarga menjadi terganggu.


Semakin Hari perselisihan semakin memanas. Para Leluhur Sejati yang berasal dari Keluarga lain mulai melakukan tindak permusuhan pada Rusava dan Raytsa. Leluhur Sejati lain yang paling memusuhi mereka adalah, Leluhur Sejati Kesombongan [True Ancestor of Pride] dan Leluhur Sejati Kerakusan [True Ancestor of Gluttony].


Mereka secara terang - terangan melakukan permusuhan terhadap Rusava dan Raytsa. Leluhur Sejati Kesombongan dari awal memang memiliki dendam dengan Rusava. Sedangkan Leluhur Sejati Kerakusan adalah orang yang menyukai Raytsa, maka dari itu, ketika Rusava menikahi Raytsa, dia sangat menjadi benci pada Rusava.


Pada suatu Hari ketika Rusava dan Raytsa melakukan perjalanan. Mereka dikepung oleh pasukan milik Leluhur Sejati Kesombongan dan Leluhur Sejati Kerakusan. Seharusnya, pasukan milik Rusava dan Raytsa tidak mengalami masalah sedikitpun untuk melawan. Tetapi, karena suatu kecurangan dan sebuah pengkhianatan, Rusava dan Raytsa mengalami kekalahan.


"Lalu, kalian dibunuh...?"


Ren mencoba menebak - nebak dari apa yang Rusava dan Raytsa bicarakan. Namun, perubahan Ekspresi mereka setelah mendengar Pernyataan Ren membuktikan kebenarannya.


"Bisa dikatakan seperti itu, mereka berdua pada awalnya menawarkan pada kami untuk menyerah. Dengan sebuah syarat, aku harus menjadi bawahan mereka, dan Raytsa harus menikahi si Rakus itu." Rusava menjelaskan.


"Beruntung, pada saat itu Rusava telah mempersiapkan semua hal untuk bereinkarnasi. Jadi kami lebih memilih untuk dibunuh oleh mereka berdua."


Ren mengangguk dalam dengan penuh pengertian. Dia lalu mengalihkan pandangan nya ke atas langit.


"Hm... Sudah pasti seperti itu, sebuah hal yang biasa dalam kisah fantasy bukan?"


Ren memandangi Langit malam yang indah, tetapi kata - kata nya entah ditujukan pada siapa. Rusava dan Raytsa juga tidak mengerti, apa yang dikatakan oleh Ren saat ini.


"Jangan kebingungan seperti itu, aku hanya mengigau.. Lalu, apa tujuan kalian dikehidupan ini?" Perhatian Ren kembali dialihkan pada Rusava dan Raytsa.


"Saya... Tadinya ingin membalaskan dendam pada mereka yang telah membunuh kami. Tetapi, apakah mereka masih hidup? bahkan saya tidak tahu."

__ADS_1


"Rusava..."


Kesedihan, Kebencian, Kebingungan dan Kegelisahan, semua Ekspresi itu memenuhi wajah Rusava dan Raytsa. Sedikit, Ren merasakan sedikit Rasa kasihan pada mereka berdua.


"Hm..? Aku tidak mengerti, lalu mengapa kalian memilih mengabdi kepadaku?"


Ren mengerutkan alisnya, semua ini memang tidak masul akal. Jika mereka memang ingin balas dendam, seharusnya mereka tidak memutuskan untuk mengabdi. Itu hanya akan membatasi segala macam tindakan yang akan mereka lakukan.


"Karena saya merasa ini merupakan Takdir."


"Sebuah Takdir ya....." Ren mengangguk beberapa kali.


Meski Ren mengangguk, dalam hatinya dia masih menyimpan kebingungan.


'Apa maksudmu dengan takdir...?'


Takdir seperti apa yang bisa merubah seseorang dengan begitu cepat seperti ini, Ren tidak mengerti sedikitpun Takdir itu.


"Baiklah telah diputuskan, pengabdian kalian akan aku terima... Namun, jangan sampai kalian menyesalinya dan berkhianat. Aku sangat membenci Hal itu!"


Ren menegaskan suaranya ketika menyatakan bahwa dia membenci suatu Pengkhianatan. Itu adalah suatu hal yang amat dia benci, maka dari itu dia tidak akan memberikan kelonggaran sedikitpun.


"Jika kalian memang berniat seperti itu, maka hanya keputusasaan yang menunggu kalian, mengerti?"


Di Bawah Aura yang begitu Luar Biasa milik Ren. Rusava dan Raytsa mengangguk dalam - dalam, ada suatu hal yang aneh dari mereka. Rusava dan Raytsa, mata mereka sedikit berbinar ketika melakukan anggukan itu.


"Terima kasih, Yang Mulia." Ucap Rusava.


"Kami bersyukur, Yang Mulia." Ucap Raytsa.


Ren, dan Rusava, Raytsa kemudian melakukan sebuah Perjanjian Darah. Sama halnya dengan yang Ren lakukan terhadap Raja Esdagius. Rusava dan Raytsa, meski mereka adalah orang yang Ren bangkitkan, tetapi karena tingkatan mereka adalah seorang Leluhur Sejati, mereka tidak terikat dengan sendirinya seperti Nirlayn.


Setelah melakukan Perjanjian Darah, Ren memandangi sekitarnya. Lebih tepat jika dikatakan memandangi sebuah [Barrier] yang menutupi seluruh Arena.


"Rusava, apakah kalian yang memasang [Barrier] ini?" Ren bertanya.


[Barrier] yang melindungi Arena bukanlah sesuatu yang dibuat oleh Ren. Maka dari itu, Ren menanyakan Hal ini pada Rusava dan Raytsa, mereka adalah satu - satunya yang mungkin untuk melakukan ini.


"Ya, Yang Mulia, lebih tepatnya Raytsa lah yang melakukan itu." Rusava menunjuk pada Raytsa.


Ren mengalihkan pandangan pada Raytsa, dengan sebuah senyuman tulus, Ren berkata..


"Mhm, Begitu....Raytsa, bisakah kau melepas [Barrier] ini?" Ren terlihat seperti Ragu - Ragu ketika meminta hal ini.


"Ya, Tentu saja Yang Mulia." Balas Raytsa dengan tersenyum.


Kemudian, [Barrier] yang melindungi Arena perlahan - lahan menjadi pudar. Itu terjadi selama beberapa detik, sebelum akhirnya menghilang sepenuhnya.


Alasan Ren meminta untuk segera melepas [Barrier] ini karena ada seseorang yang terlihat kesulitan menembus [Barrier] dari Luar sana.


Dan benar saja, tidak lama setelah [Barrier] terlepas, seseorang yang misterius melompat dari dalam bayangan. Sosoknya yang seorang Lelaki segera menampakan diri dihadapan Ren dan lainnya. Sosok itu adalah seorang Pria Elf yang mengenakan Pakaian Assassin.


"Tuan Dirvaren! Apa anda baik - baik saja?!" Kanza bertanya khawatir, tetapi dia sama sekali tidak mengurangi kewaspadaan nya sedikitpun.


"Ya, aku baik - baik saja.. Ini hanya sedikit masalah kecil. Lalu, bagaimana dengan semua orang yang diungsikan?"


"Hah..?"


'Masalah Kecil Kau bilang?!' Adalah apa yang sebenarnya wajah Kanza katakan. Namun, Kanza segera menghilangkan Ekspresi nya itu, dia dengan tegas menjawab.


"Mereka sudah mendapatkan perawatan. Beberapa orang bahkan telah kembali ke Rumahnya masing - masing."


"Oh, bagu-"


"Tapi, Tuan Dirvaren, Putri Sylna sedang tak sadarkan diri. Dia terus - menerus memanggil anda. Raja Esdagius memintaku agar memberitahu anda secepatnya..."


"Memanggilku??" Ren terlihat bingung.


Tidak ada Alasan bagi Putri Sylna memanggil Ren secara terus menerus ketika tak sadarkan diri. Maka dari itu, Ren kebingungan saat ini.


"Yah, Lupakan itu... Rusava, Raytsa, aku ingin kalian bercerita lagi nanti, untuk sekarang ikuti aku. Dan Kanza.. Ayo segera kesana."

__ADS_1


Ren bersama dengan Rusava, Raytsa dan Kanza kembali ke tempat dimana Keluarga Kerajaan berada.


__ADS_2