Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 31 : Pemakaman dan Lost Magic


__ADS_3

Ren sedang berada di penjara bawah tanah Kediaman Duke. Bersama dengan Nirlayn, Ksatria Aulzania dan Duke Tayslen sendiri.


Ren sedang berdiri dihadapan sebuah penjara yang di dalamnya terdapat seorang wanita yang sedang tertidur.


Wanita yang berwajah mirip dengan Rin-Yu. Keadaannya cukup menyedihkan, dengan alas seadanya dia tertidur menggunakan pakaian sederhana. Tubuhnya terlihat Kotor dan berdebu.


Melihat ini, Hati Ren merasakan sedikit Nostalgia. Rin-Yu yang dia temui di penjara itu juga dalam kondisi seperti ini.


"Halo? Halo? apakah kau yang bernama Lin-Ya.?"


Ren berbicara dengan perlahan, bermaksud untuk membangunkan wanita yang ada di dalam penjara.


Wanita itu terlihat mendengar suara panggilan Ren, tubuhnya sedikit bergerak.


"Kau Lin-Ya kan.?" Ren sekali lagi bertanya.


Meski wanita itu bergerak beberapa kali, tapi dia masih tetap tidak menjawab. Ren mau tak mau harus menyebutkan suatu hal yang paling tidak mau dia sebutkan terlebih dahulu.


"Hei, Aku hanya ingin memberitahu bahwa adikmu. Rin-Yu telah terbunuh kemarin malam." Ren mengatakan ini dengan ekspresi Enggan.


Setelah mengatakan hal ini, Wanita itu akhirnya beranjak bangun.


"Ri-Rin-Yu, telah meninggal.?"


"Benar, dia telah tiada....." Ren berkata dengan Nada bersalah.


Mendengar perkataan Ren, Lin-Ya meneteskan air mata.


Wajahnya menunduk, seperti orang yang telah kehilangan Harapan. Dia terisak menangis, memukul dan memukul pada lantai.


"R-Rin-Yu... Hiks... Hiks... Ini Tidak mung-kin.... Hiks... Hiks.."


Melihat ini, Ren memasang Ekspresi bersalah.


"Tch....... Nirlayn."


"Baik, Ren-sama."


Nirlayn menggunakan Blood Art dan menciptakan Cakar di kedua lengannya.


Tindakan Nirlayn yang tiba - tiba membuat para Ksatria Aulzania menjadi waspada.


"Apa yang akan kau lakukan Bocah?!" Duke Panik.


"Jadi kau ingin menyerang kami.?"


"Tch... Jangan salah sangka, lakukan Nirlayn."


Sring! Sring! Sring! Sring!


Nirlayn melakukan tebasan menyilang. Jeruji penjara yang terbuat dari besi terpotong tanpa perlawanan.


Ren berjalan ke dalam penjara, mendekati wanita yang sedang terisak menangis.


Ren duduk dihadapan wanita itu, kemudian mendekapnya.


"Maafkan aku, semua ini salahku karena lalai dalam menjaganya." Ren berbicara dengan lemah.


"Semua ini bukan salahmu, Rin-Yu mati dalam keadaan tersenyum. Dia mati tanpa memiliki penyesalan apapun." Ren mengusap kepala Lin-Ya


"Huwaa........! Kau bohong kan? Rin-Yu masih hi-hidup... kan?"


"Tidak... Dia benar - benar telah tiada." Ren menggelengkan kepala.


"Huwaa... Hiks... Hiks... Ti-Tidak.... Tidak mung...kin. Hiks... Hiks..."


Pemandangan ini mau tak mau membuat para Ksatria Aulzania merasa sedikit terharu. Nirlayn yang berada di dekat Ren pun memasang Ekspresi suram, terlihat seperti dia mengingat suatu hal yang buruk baginya.


Hanya Duke Fedel yang terlihat biasa saja, malahan dia terlihat seperti membenci sesuatu.


"Tch.. Apanya yang mengharukan dari adegan seperti ini?" Duke berkomentar.


Satu Jam kemudian, akhirnya Lin-Ya telah berhenti menangis. Tetapi wajahnya masih menampakan kesedihan yang mendalam.


"Umm.... Siapa kamu? Bagaimana kamu tahu bahwa Rin-Yu terbunuh...?"


"Aku sungguh minta maaf.... Rin-Yu adalah Temanku, kami dijadikan umpan pada operasi yang sama. Karena kecerobohan dan kebodohanku, Rin-Yu tewas terbunuh...." Ren berbicara, seolah - olah dia sangat menyesal.


"Um.... Ini bukan salahmu... Aku juga salah karena menyeret dia kedalam semua ini..."


"Tidak, itulah kenyataannya. Aku memang bersalah, itu tidak dapat diubah." Ren bersikeras.


Nirlayn tiba - tiba datang mendekat dan berkata..


"Ren-sama, maafkan saya yang menyela ini. Tapi, jika pembicaraan saling menyalahkan ini terus berlanjut itu tidak akan ada habisnya."


"Kau benar Nirlayn...... Namamu Lin-Ya kan? aku kesini untuk membebaskanmu dan mengajakmu untuk memakamkan Rin-Yu bersama - sama."


"Um... Tapi, para Ksatria itu... apakah kita benar - benar bisa bebas? Sepertinya mereka bukan temanmu.... dan Duke itu..."


"Tidak usah khawatir, mereka bukan teman maupun musuhku. Akan kujamin kau bebas dan aman, itulah janjiku." Ren tersenyum.


Ren kali ini masih memakai penyamaran. Senyum yang dia tunjukan bukanlah senyum yang indah seperti biasa. Bisa dibilang kali ini senyuman Ren terlihat jelek.


"Kalau begitu, Lin-Ya ikuti aku... Ayo makamkan Rin-Yu dengan layak."


"Ah.. Baik."


"Pria Tua, akan kutepati janjiku soal membebaskan putrimu. Namun, biarkan aku menyelesaikan urusanku yang satu ini terlebih dahulu, kau mengerti?" Ren berbalik dan menatap Duke Tayslen dengan tatapan dingin.


"Uh??! Ba-Baiklah...." Wajah Duke pucat.


Derrian yang menyaksikan ini mengangkat alis.


'Hm? Sihir apa itu tadi...?' Derrian bergumam dalam hati.


Ren, Lin-Ya, kemudian Nirlayn berjalan lebih dulu untuk keluar dari penjara.


Sementara para Ksatria Aulzania mengikutinya, agar Ren tidak dapat kabur kemanapun.


*


*


*


*


*


*


Pemakaman Rin-Yu dilakukan di halaman Rumah Rin-Yu sendiri.


Karena sedang terburu - buru, Ren hanya bisa memakamkan dirinya dengan sederhana.


Sosok Lin-Ya yang bersedih terlihat duduk dekat makam Rin-Yu. Meski begitu, kesedihan nya terlihat sedikit berkurang setelah melihat bahwa mayat Rin-Yu meninggal dengan Tersenyum.


Ren dan lainnya hanya melihat dari kejauhan, menunggu sampai Lin-Ya selesai mendoakan sosok Rin-Yu yang telah tiada.


Disaat yang hening ini, Derrian bertanya pada Ren..

__ADS_1


"Ren, dengan ini kau bersedia untuk melepas kutukan itu dan mengikuti kami ke ibukota kan?"


"Tenang saja ketua, jika dia berusaha kabur kami akan menangkap dan mematahkan kaki nya."


"Benar sekali..."


Beberapa Ksatria Aulzania lain mengatakan suatu hal yang menyeramkan.


"Tentu saja, aku tidak akan mengingkari janjiku. Lagipula, aku memang berencana pergi kesana... walau kali ini sedikit melenceng dari Rencana itu."


"Bagus sekali, seorang pria memang harus menepati janji nya."


Suasana menjadi hening kembali setelah Derrian mengatakan hal itu.


Akhirnya, Lin-Ya selesai berdoa dan beranjak pergi menghampiri Ren.


Wajahnya terlihat tenang dan bahagia kali ini.


"Ren... Terima kasih... Karena mu, aku dapat memakamkan adikku dengan layak." Lin-Ya membungkuk.


"Hahhh.... Jangan berterima kasih seperti itu. Justru aku merasa pemakaman ini kurang layak. Aku merasa bersalah." Ren menggaruk kepalanya.


"Mhm.... Ini sudah cukup. Aku yakin Rin-Yu akan tenang disana."


"Iya, aku juga yakin akan hal itu. Ngomong - Ngomong, Tuan Derrian." Ren berbalik pada Derrian.


"Bisakah Lin-Ya ikut bersamaku ke ibukota? aku merasa tidak aman baginya untuk tetap disini..."


"Eh?? Ren, kau tidak harus berbuat seperti itu untukku...." Lin-ya terdengar bermasalah.


Para Ksatria Aulzania terlihat marah mendengar permintaan Ren.


"Apa? kau hanya seorang tahanan! tidak berhak meminat suatu hal seperti itu!"


"Tch! Tak tahu diuntung mati ka-!? Ketua?"


"Aku mengerti, namun dia akan tinggal dimana?" Derrian mengangguk mengerti.


"Mari kita pikirkan itu nanti, bukankah aku harus menghapus kutukan itu terlebih dahulu?"


"Kau benar, ayo pergi."


Ren dan lainnya berjalan meninggalkan tempat itu untuk menuju ke kediaman duke sekali lagi. Tujuan Ren selanjutnya adalah melepaskan Gyslen dari pengaruh Blood Ruler miliknya. Meski Ren memiliki dendam pada dirinya, Ren masih harus menepati janji nya.


*


*


*


*


*


*


Ren, Nirlayn dan para Ksatria Aulzania dibawa oleh Duke Tayslen menuju tempat dimana Gyslen berada.


Gyslen sepertinya sengaja di tempatkan jauh dari orang - orang. Sudah beberapa kali Ren melewati lorong - lorong yang cukup panjang. Di tambah setiap Lorong dijaga oleh beberapa Prajurit dikedua sisi nya.


"Sebentar lagi kita akan tiba, hey bocah... jika kau tidak bisa mengangkat kutukan itu. Jangan harap bisa keluar dari sini hidup - hidup." Duke Tayslen berkata dengan Tajam.


"Tenang saja, aku menjamin hal itu....."


Ren melanjutkan berjalan menyusuri lorong yang panjang.


Pada akhirnya, beberapa saat kemudian sebuah pintu besar terlihat diujung lorong.


Duke berhenti tepat dihadapan Pintu itu, Ren dan lainnya ikut berhenti.


Beberapa prajurit yang menjaga tempat itu memberikan penghormatan pada Duke dan Ksatria Aulzania.


Tok. Tok. Tok.


"Nona Sarlyn, aku akan masuk." Duke berbicara dengan sopan.


Ren yang mendengar Duke berbicara sopan yang bahkan tidak dia lakukan pada Derrian mengernyitkan alisnya.


'Seseorang yang penting di kerajaan ini?' Ren bergumam.


Perlahan, pintu gerbang terbuka dengan sendirinya. Menampakan kondisi ruangan yang ada di balik pintu itu.


Hal pertama yang Ren dan lainnya lihat adalah seorang wanita.


Seorang Wanita dewasa berambut ungu, Rambutnya terurai panjang. Sebelah mata yang dia miliki tertutupi oleh Rambut depannya. Dia memakai kacamata kotak kecil yang terlihat sedikit modern. Dengan pakaian yang elegan berwarna putih menambah kesan seorang wanita elegan yang dia miliki.


"Ada apa, Duke Tayslen?" Sarlyn bertanya dengan suara halus dan menenangkan.


"Tidak, hanya saja. aku telah membawa pelaku yang mengutuk putriku. Dia berjanji akan melepaskan kutukan ini sekarang..." Duke Tayslen masih memakai nada yang sopan.


"Apa...?" Sarlyn itu mengangkat alis.


"Kau sedang tidak ditipu bukan Duke? dan kau juga Derrian.?" Sarlyn bertanya dengan curiga.


Tentu saja kecurigaan Sarlyn merupakan hal yang wajar. Siapa yang tidak akan mencurigai penjahat yang mengaku dan menyerah begitu saja? hanya orang bodoh yang akan langsung percaya.


"Tenang saja, Nona Sarlyn. Aku cukup percaya dia memang yang menanamkan kutukan itu." Derrian menunjuk pada Ren.


Ren yang ditunjuk oleh Derrian menggelengkan kepala dan menghela nafas.


Kemudian Ren berkata...


"Sudah kubilang bukan? Nirlayn lah yang menanam itu...." Ren melirik pada Nirlayn yang hanya diam.


Semua pandangan kini terarah pada Nirlayn. Begitu juga dengan Sarlyn, dia menatap Nirlayn dengan seksama. Seakan mencoba memeriksa setiap inci dari tubuhnya.


"Sudah cukup diskusinya, cabut kutukan itu dengan segera.!" Duke berkata dengan kesal pada Ren.


"Baiklah, ikuti aku." Sarlyn berbalik dan berjalan masuk ke ruangan.


Ren, Nirlayn beserta para Ksatria mengikuti Sarlyn. Sedangkan untuk Duke sendiri, dia memilih untuk diam di luar ruangan.


"Jika memang kau adalah orang yang menanamkan kutukan ini, aku penasaran sihir macam apa yang kau gunakan." Sarlyn melirik pada Nirlayn.


"Yah untuk saat ini...... Disini." Sarlyn membuka sebuah tirai yang menutupi sebagian ruangan ini.


Disana terlihat sebuah kubus merah transparan. Di dalam nya ada sosok Gyslen yang sedang berteriak dan berguling - guling kesakitan.


"Aku sengaja menutup area ini dengan peredam suara yang berasal dari sihir angin. Itu alasan mengapa kalian tidak dapat mendengar suaranya." Sarlyn menjelaskan.


Namun, hanya Ren dan Nirlayn yang mengangguk dan mendengarkan Sarlyn.


Tidak ada satupun dari Ksatria Aulzania yang menghiraukan penjelasan Sarlyn.


Bahkan Derrian yang merupakan seorang ketua dari Ksatria itu sendiri.


Mereka semua terpaku, pada kubus merah transparan. Mata mereka melotot, terkejut dengan apa yang ada di dalamnya.


Mereka berpikiran sama, apa yang mereka lihat bukanlah suatu hukuman.


Penyiksaan Kerajaan bahkan lebih baik daripada ini. Sebuah Terror yang amat menakutkan. Sebuah siksaan yang tiada henti, hanya keputusasaan yang ada di dalamnya.

__ADS_1


Penampakan yang ada dalam kubus itu sangat cocok dengan sebuah kata.


'Penyiksaan Neraka!'


Mereka bergumam dalam hati pada saat yang bersamaan. Ada yang memasang wajah pucat. Ada juga yang menggigil ketakutan. Setiap inci dari tubuh mereka merasakan terror yang sesungguhnya dari sebuah siksaan.


Mereka akhirnya mengerti, mengapa Duke Tayslen sendiri enggan memasuki tempat ini. Mereka akhirnya tau, mengapa Duke Tayslen mengakui kesalahan hanya karena ingin melepas sebuah kutukan.


Ksatria Aulzania yang dihormati bahkan gemetar melihat penyiksaan yang begitu membuat putus asa ini.


Tapi, apa yang mereka lebih takutkan adalah sosok yang menanamkan Kutukan ini, yaitu Nirlayn sendiri.


Prok.


"Aura of Courage." Sarlyn menyebutkan sebuah sihir.


"Jangan biarkan ketakutan menguasai hati kalian. Pada awalnya, aku juga merasa ketakutan dan terror seperti kalian. Beruntung aku memiliki Sihir yang meningkatkan mental dan keberanian." Sarlyn berkata seolah mengerti apa yang Ksatria Aulzania rasakan.


"Ugh... Terima kasih, Nona Sarlyn." Derrian meneguk ludahnya.


"Sama - Sama, Nah.... Sekarang lepaskan lah kutukan ini. Aku ingin melihat kalian melakukannya." Sarlyn memandang Ren dan Nirlayn.


Ren mengangguk dan berbalik ke arah Nirlayn.


"Nirlayn, lakukanlah..." Ren berkata dengan tenang.


"T-Tapi... Ren-sama...." Nirlayn terlihat bimbang.


"Tenang saja, tidak perlu khawatir. Kau yang menanamkan kutukan ini dan kau pasti bisa melepasnya kan.?" Ren meyakinkan Nirlayn.


"Lagipula, kutukan ini hanya memakan 10 tahun umur hidup mu ketika ditanamkan. Tidak mungkin mengambil umurmu lagi ketika dicabut bukan.?" Ren lebih meyakinkan Nirlayn.


Ksatria Aulzania dan Sarlyn akhirnya mengerti. Mengapa kutukan ini begitu menakutkan, Kutukan yang memakan nyawa seseorang selama 10 tahun pasti memberikan dampak yang mengerikan bukan?


Mereka mengangguk dalam hati masing - masing. Perasaan mereka juga sedikit lebih tenang, kutukan ini bukan sesuatu yang dapat di gunakan dimana saja dan kapan saja membuat mereka menghela nafas.


"Baiklah.... Saya percaya pada Ren-sama." Nirlayn mengangguk dan berjalan mendekati Kubus itu.


Nirlayn menyodorkan kedua lengan nya ke arah Kubus itu. Lalu Nirlayn memejamkan mata dan mengatakan mantra yang aneh dari mulutnya.


Seketika, sebuah lingkaran sihir berwarna merah muncul di bawah Nirlayn.


Lingkaran sihir yang Rumit dengan beratus simbol aneh di dalamnya.


Setiap simbol bergerak melingkar secara terus menerus. Semakin lama lingkaran sihir itu semakin bersinar.


Sarlyna terbelalak melihat lingkaran sihir ini. Matanya fokus menatap lingkaran sihir berwarna merah yang ada dihadapan nya.


Sarlyna menutup mulutnya seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Inikan...??? Lost Magic....!?" Sarlyn berteriak.


Derrian dan Ksatria Aulzania lainnya mendengar Gumaman Sarlyn.


Mereka memasang Ekspresi terkejut, meski mereka tidak meneliti sejarah sihir atau semacamnya. Tapi, Istilah Lost Magic sudah tak asing di telinga mereka.


Sebuah Istilah bagi Sihir yang telah lama hilang dan masih dicari keberadaan nya.


Siapa yang tidak akan terkejut ketika melihat sihir yang telah menjadi legenda ada dihadapan mata?


"Los- Lost Magic...? Nona Sarlyn, apakah anda serius?" Derrian bertanya dengan terkejut.


"Ini kenyataan, aku telah lama meneliti berbagai macam Lost Magic. Salah satunya, ada yang benar - benar mirip dengan ini!" Sarlyn berkata dengan yakin.


Para orang - orang ini dengan cepat melupakan Terror dari kutukan yang menimpa Gyslen. Mereka sekarang hanya menatap dengan takjub pada pertunjukan Lost Magic di hadapan mereka ini.


Lingkaran sihir bersinar selama 15 menit penuh. Sebelum akhirnya perlahan - lahan meredup dan menghilang.


Kubus merah transparan pun menampakan Retakan demi Retakan yang kemudian menjadi pecah tak bersisa.


Sosok Gyslen terlihat tergeletak tak sadarkan diri di lantai.


"Fyuhh.....Melelahkan sekali, Ren-sama." Nirlayn terlihat sedikit protes.


"Bagus sekali Nirlayn. Dengan ini, janji kita sudah terbayar. Benarkan begitu, Tuan Derrian?" Ren berbalik pada Derrian.


"Ya, kau benar. Tapi aku tak menya-"


Perkataan Derrian tersela oleh Sarlyn yang berlari dan menghampiri Nirlayn.


"Apakah yang kau gunakan adalah Lost Magic? katakan padaku?!" Sarlyn bertanya dan memegang bahu Nirlayn dengan semangat.


"Hey... Nirlayn sedang lelah karena melepas kutukan itu, bisakah kau tidak mengganggunya?" Ren memberikan penjelasan pada Sarlyn.


Namun, Sarlyn malah berbalik dan menatap tajam pada Ren. Matanya terlihat seakan Ren adalah seekor kecoak.


"Apa? kau berani memerintahkanku? seorang yang buruk dalam sihir dan mana tidak pantas memerintahku." Sarlyn berkata dengan tajam.


"Hah....?" Ren berbicara.


Durururu.....


"Eh? Getaran apa ini....?" Sarlyn bergumam.


"Sebuah gempa...?" Derrian menggumamkan hal yang sama.


Getaran kecil terasa di kediaman ini, udara tiba - tiba menjadi berat.


Namun, dalam sekejap udara berat dan getaran itu kembali menghilang.


"Hahahaha... Maafkan aku Nona Sarlyn.. Maafkan aku." Ren menggaruk kepala dan membungkuk pada Sarlyn.


"Sudahlah, sia - sia aku bicara dengan lelaki menjijikan sepertimu." Sarlyn mengabaikan permintaan maaf Ren dan berbalik kembali pada Nirlayn.


"Kau, Namamu Nirlayn kan? apakah kau tertarik menjadi penyihir kerajaan?" Sarlyn tersenyum pada Nirlayn. Cara nya berbicara sangat berbeda pada Nirlayn.


"Maaf saja, Aku hanya melayani Ren-sama....." Nirlayn menjawab dengan dingin.


"Eh? Apakah begitu.... Jika kau berubah pikiran datang saja ke Akademi Aulzania. Aku akan menerimamu kapan saja.... Jadi cobalah untuk memikirkannya..." Sarlyn menawarkan ini dengan sopan dan tersenyum.


*


*


*


*


*


Pelepasan kutukan akhirnya selesai, Ren dan Nirlayn akan dibawa oleh Derrian menuju Ibukota Kerajaan.


Begitu juga dengan Duke Tayslen, dia akan menyusul setelah putrinya, Gyslen tersadar.


Sarlyn terus menerus menawarkan agar Nirlayn bergabung dengan Akademi Aulzania. Meski Nirlayn telah menolak beberapa kali dia masih gigih untuk melakukan nya.


Sementara itu.... Ren sedang berjalan menuju tempat dimana teleportasi berada.


Bersama dengan Ksatria Aulzania, Nirlayn dan Lin-Ya.


'Sekali lagi, aku direndahkan.... Apa yang harus kulakukan untuk membalas ini? fufufu..."

__ADS_1


Ren bergumam dalam hatinya, wajahnya menampakan senyum yang menakutkan....


__ADS_2