
"Eh, apa kau bilang?"
Ren merasa tidak percaya atas apa yang dikatakan oleh Kanza. Bagaimana mungkin, beberapa Wanita yang tidak mengenalnya tiba - tiba ingin bertemu? Ren tidak mengerti sedikitpun soal ini.
'Apa mungkin, musuh?'
Beberapa pemikiran yang mencoba menebak Identitas sebenarnya dari para Wanita yang mencoba mengenalnya ini memenuhi kepala Ren. Dimulai dari Musuh baru yang secara diam - diam mencari Informasi, sampai kemungkinan dari seseorang yang memiliki dendam padanya. Semua itu Ren pikirkan di otaknya, namun dia sama sekali tidak dapat menemukan sebuah Jawaban yang benar.
Seakan - akan waktu telah berhenti, Ren mencoba secara terus menerus memikirkan segala kemungkinan yang ada. Rencana dia selama ini sudah beberapa kali berubah, jika ada potensi musuh baru, dia harus segera menumpas itu semua demi keberlangsungan Rencananya.
"Para Wanita Muda itu sepertinya tertarik pada Tuan Dirvaren, mungkin karena penampilan anda?"
Sebuah Jawaban muncul dari Mulut Kanza, sebuah Jawaban yang masuk akal dan tidak berlebihan seperti yang dipikirkan oleh Ren. Sayang nya, Ren saat ini sedang terlarut dalam pikirannya sendiri, dia sama sekali melupakan kemungkinan para Wanita itu yang hanya ingin mendekati dirinya.
Dengan Dagu yang dipegang oleh tangannya, Ren menatap pada udara kosong dengan tatapan yang kosong pula. Membuat Kanza, Rakuza dan Nirlayn memiringkan kepala mereka kebingungan. Mereka semua tidak mengetahui, betapa rumit dan berlebihan nya apa yang dipikirkan oleh Ren saat ini.
Beberapa Waktu terlewati, Rakuza, Kanza dan Nirlayn hanya bisa diam dan menatap. Dalam Hati mereka dipenuhi oleh sebuah pertanyaan, apa yang sebenarnya dilakukan oleh Ren? Mereka sekali lagi tidak memiliki keberanian untuk menanyakan nya langsung pada Ren. Mereka hanya bisa menunggu, dalam ketidakpastian kapan Ren akan tersadar dari lamunan nya itu.
"Hm ... Aku mengerti."
Ren secara tiba - tiba memejamkan matanya dan berkata demikian. Sontak saja, ini membuat Ketiga orang itu saling memandang kebingungan.
"Apa yang anda pikirkan, Tuan Dirvaren?"
Kanza adalah orang yang pertama mencoba untuk bertanya pada Ren. Dengan harapan mendapat sebuah Jawaban, dia memberanikan diri untuk mengeluarkan pertanyaan ini.
Ren langsung membuka mata dan memalingkan muka kepada Kanza. Dengan sebuah senyum mengerikan penuh makna, dia menjawab ...
"Aku hanya memikirkan beberapa hal kecil, dimana para Wanita yang kau sebut itu?"
'Apanya yang memikirkan Hal kecil!?' Adalah apa yang tertulis dalam Wajah Rakuza, Kanza, dan Nirlayn.
Mereka semua sama sekali tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh Ren 'Sebuah Hal Kecil'. Dalam Lubuk Hati mereka, ada sebuah keyakinan yang mempercayai bahwa Ren telah memikirkan sesuatu yang besar dan mengerikan.
"Anda ingin menerimanya? Baiklah, mari kesini ...."
Ren menggangguk sebagai Tanda persetujuan atas Jawaban dari Kanza. Kemudian, Ren dan Kanza berjalan menghampiri para Wanita Muda yang dibicarakan oleh Kanza itu. Rakuza dan Nirlayn pun berniat untuk mengikuti mereka berdua tapi, sebuah Kalimat dari Ren mengurungkan Niat mereka berdua.
"Ah, Rakuza dan Nirlayn, maafkan aku, tapi aku ingin kalian menunggu disini."
Begitu Ren mengatakannya, tidak ada pilihan lain bagi Rakuza dan Nirlayn selain berdiam diri dan menunggu kembali. Mereka sama sekali tidak memiliki Niatan untuk menentang keputusan Ren, dan hanya mengangguk setuju.
"Um ... Bagus." Ren tersenyum.
Ren dan Kanza melanjutkan langkahnya untuk menghampiri para Wanita Muda yang berada di salah satu sudut Aula. Dari kejauhan, terlihat para Wanita itu sedang duduk dan berbicara satu sama lainnya.
Mereka pada awalnya tidak menyadari kedatangan Ren dan Kanza. Namun, setelah Jarak Ren semakin dekat, mereka akhirnya menyadari dan terlihat bergembira.
Dari sinilah, Ren mulai menunjukan salah satu kemampuan yang dia miliki. Sudut bibir Ren mulai membentuk sebuah senyum Ramah yang menenangkan Jiwa. Dari Kejauhan para Wanita itu sudah dapat melihat senyum Ren yang satu ini.
Ren berjalan Elegan dan dipenuhi oleh kemartabatan dari seorang Penguasa. Orang - orang yang ada di Pesta yang kebetulan menghalangi Jalan dengan sendirinya menyingkir karena melihat Ren seperti ini.
Tidak butuh waktu lama bagi Ren untuk tiba di tempat para Wanita Muda itu berada. Senyum Ren yang memang sudah terlihat dari Kejauhan kali ini semakin terlihat Jelas oleh mereka.
__ADS_1
"Selamat Malam, Nona - Nona. Aku dengar kalian ingin bertemu denganku, apakah itu benar?"
Tenang, Ramah, Bijaksana dan Bermartabat, itulah Nada Bicara yang digunakan oleh Ren untuk menyapa para Wanita. Seketika mereka semua terpesona oleh gerak - gerik dan sikap yang ditunjukan oleh Ren.
"A-Ah! Benar, kami memang ingin bertemu dengan anda ...." Ucap Wanita pertama.
"Kami sangat senang, anda dapat memenuhi permintaan ini, hehehe." Ucap Wanita Kedua.
"Awhh ... Keren sekali." Ucap Wanita Ketiga.
"S-Selamat Malam juga." Ucap Wanita Keempat.
Ren masih bersikap dengan tenang menanggapi mereka semua. Sejauh ini, semua hal yang terjadi sudah biasa dia alami.
"Benarkah itu? Aku turut senang, boleh aku dan Kanza ini duduk bersama dengan kalian?"
"Tentu saja, silahkan ... Tuan Kanza juga, silahkan duduk."
Wanita Kedua mempersilahkan Ren dan Kanza untuk menduduki tempat yang kosong.
Tanpa banyak tingkah, Ren dan Kanza langsung duduk sesuai dengan Instruksi Wanita Kedua.
Mereka semua duduk dalam posisi yang melingkari meja. Tidak ada yang berbicara pada awalnya, para Wanita hanya bisa diam dan tersenyum dengan canggung. Kanza juga tidak mengeluarkan tanda - tanda akan bicara.
Mata Ren melirik ke segala arah, berusaha mencari Informasi tentang keadaan yang ada di sekitarnya. Saat memastikan seluruh kondisi dan situasi sudah aman, Ren menarik Napas dan mulai membuka pembicaraan ....
"Jadi ... Kesepakatan macam apa yang kalian inginkan?"
Suara dan Nada Ren menjadi serius seketika, hal ini tentu membuat semua orang yang hadir menjadi terkejut sekaligus kebingungan.
Kanza langsung menarik diri dan mendekat pada Ren yang sedang duduk di samping nya. Dengan wajah kebingungan yang tanpa dibuat - buat, dia berbisik pada Ren ...
"Apa yang anda katakan?! Bukankah seharusnya anda memperkenalkan diri terlebih dahulu?!" Kanza berbisik pada Ren, tentu saja dengan suara yang amat pelan.
"Apa yang aku katakan kau bilang? Aku hanya mencoba membongkar Niat mereka yang sesungguhnya, apa yang salah dengan itu?" Ren membalas bisikan Kanza tanpa merasa berdosa sama sekali.
"Ni-Niat yang sesungguhnya ...." Kanza tidak dapat berkata - kata lagi.
Kanza tidak dapat berkata lebih jauh lagi. Jawaban dari Ren membuat dirinya berpikir dengan keras. Apakah perkataan Ren merupakan sebuah kebenaran? Para Wanita itu memiliki semacam Niat tersembunyi tertentu mendekati mereka berdua? Pikiran ini memenuhi seluruh Kepala Kanza. Namun disisi lain, Kanza merasa bahwa Ren adalah orang yang terlalu berlebihan dalam memikirkan ini semua.
Sementara Kanza terlihat sedang melamun dalam pikirannya sendiri. Ren masih tampak tenang dengan sebuah senyum Ramah yang masih melengkung di wajahnya.
"Ah, Maafkan aku sebelumnya karena tidak memperkenalkan diri ...."
Ren bangun dari posisi duduknya, kemudian dengan cara yang Elegan, Ren membungkuk ala Bangsawan.
"Namaku adalah Anryzel Dirvaren, senang bertemu dengan kalian semua."
Setelah melakukan itu, Ren kembali duduk, suasana disekitar yang awalnya tegang menjadi tenang kembali. Para Wanita Muda itu juga terlihat menghela Napas setelah melihat Ren memperkenalkan diri.
"Huff ... Baiklah, sekarang giliran kami, Nama saya adalah Runia Escootten, senang bertemu dengan anda."
"D-Dan saya adalah Lealunie Rihnotia, senang bertemu dengan anda."
__ADS_1
"Nurialen Isvinenta, senang berkenalan dengan anda, hihi."
"Awwhh, dan terakhir saya, Scruvi Lunndenor, senang bisa kenal dengan anda ...."
Wanita Pertama, Keempat, Kedua dan terakhir adalah yang Ketiga. Mereka memperkenalkan diri secara bergantian.
Mereka semua menggunakan Nada bicara yang sopan. Tidak ada yang mengetahui apa penyebab sesungguhnya mereka bertindak sopan pada Ren saat ini. Mungkin, karena Ren yang berpenampilan seperti Bangsawan kelas tinggi? Ren sendiri tidak mengetahui dan tidak mempedulikannya.
"Nah, Tuan Dirvaren, bisa kami mengetahui darimana anda berasal?" Runia mulai melontarkan pertanyaan.
Sebuah Pertanyaan sederhana, namun menjadi Rumit ketika ini sampai pada Otak Ren. Sekali lagi, Ren berpikir bahwa pertanyaan ini mengandung maksud tersembunyi, yaitu untuk mengetahui darimana dirinya berasal. Dengan kata lain, Ren berpikiran bahwa Wanita dihadapannya berusaha membongkar kebenaran tentang dia yang berasal dari Dunia lain.
'Heh, aku mengetahui Niatmu dengan jelas' Ren tersenyum dengan penuh kemenangan.
Dengan sebuah suara yang bermartabat dan tenang, Ren menjawab pertanyaan Runia ....
"Aku adalah seseorang yang berasal dari Kota Ceeven, apa ada sesuatu dengan itu?"
"Ah, begitu rupanya ... Jadi anda adalah Bangsawan dari Kota Ceeven? Tapi aku dengar tempat itu menjadi wilayah Duke Fedel kan?" Runia terlihat sedikit kebingungan.
"Eh, Maafkan pernyataan saya ini, tapi apa mungkin anda adalah seorang Bangsawan Viscount kebawah?" Nurialen menyuarakan pendapatnya.
"Ehm ... Itu masuk akal jika seperti itu." Lealunie masuk ke dalam pembicaraan.
Ketiga Wanita itu asik sendiri dalam membicarakan tingkat Bangsawan yang sedang Ren sandang saat ini. Membuat Ren mengambil sebuah kesimpulan yang menyimpang kembali.
'Jadi begitu, mereka berusaha memancingku dengan menyebutku seorang Bangsawan?'
Ren kembali berpikir, tidak mungkin bagi para Wanita itu yang merupakan seorang Bangsawan tidak mengetahui Bangsawan lainnya. Mereka dengan sangat jelas sudah mengetahui bahwa Ren bukanlah seorang Bangsawan. Mereka hanya mencoba memancing Ren dengan mengatakan bahwa Ren adalah seorang Bangsawan.
Oleh sebab itu, Ren memutuskan untuk mengikuti permainan mereka lebih lama.
"Maafkan aku, tapi aku bukanlah seorang Bangsawan, hanya seorang Lelaki biasa." Ren mengatakannya sambil tersenyum canggung.
Ketika Ren mengatakan bahwa dirinya hanya seorang Lelaki biasa, Kanza yang ada disamping nya dengan cepat melotot ke arah Ren. Pada wajahnya terlukis dengan Jelas kalimat 'Kau seorang Lelaki Biasa?! Mustahil!' sesuatu seperti itu.
Sementara itu, para Wanita hanya bisa terkejut oleh pernyataan Ren yang satu ini. Mereka saling memandang satu sama lain dengan aneh. Entah karena mereka merasa aneh dengan kenyataan bahwa Ren bukan seorang Bangsawan atau mereka memang tidak mempercayai perkataan Ren.
"Hahaha, saya baru pertama kali ini menemui Bangsawan yang tidak mengakui dirinya sendiri."
"Dirimu benar Runia, biasanya para Lelaki Bangsawan itu adalah orang yang suka menyombongkan diri bukan?"
"Yah mungkin seseorang seperti Tuan Dirvaren masih ada beberapa di Dunia ini ...."
Mereka tidak mempercayai perkataan Ren sama sekali. Mereka mengira bahwa Ren hanya seorang Bangsawan Rendah Hati yang tidak ingin Identitas dirinya diketahui.
"Kalian salah, aku memang seorang Lelaki Biasa, bukan seorang Bangsawan." Ren kembali menegaskan perkataannya.
Atas pernyataan Ren yang menegaskan bahwa dirinya bukan seorang Bangsawan ataupun semacamnya. Para Wanita itu hanya bisa menatap dengan tidak percaya sama sekali.
Lalu, sebuah suara samar - samar memasuki pendengaran Ren. Suara seorang lelaki yang mengatakan sepatah kata dengan suara yang Rendah...
'Lelaki Biasa? Dusta ....'
__ADS_1
Suara itu tidak dapat dipungkiri lagi berasal dari Pria yang sedang duduk di samping Ren, yaitu Kanza.