Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 91 : Kanza yang menjadi Jahat?


__ADS_3

Dua Hari kemudian, Ren duduk di sebuah Kursi yang ada di Taman. Meski Kursi ini sederhana dan hanya terbuat dari Kayu, namun itu malah membuat Ren merasa Nyaman. Apalagi saat ini Ren sedang Berpikir, suasana yang tenang dan nyaman seperti ini sangat cocok baginya.


"Syarat untuk membangun sebuah Negara ya. Jika itu Rakyat dan Wilayah, mungkin aku sudah menemukannya."


Dua Hari yang lalu, Ren telah mengirim Surat pada para Bawahannya yang ada di Kerajaan Suci Sancteral. Isi dari Surat itu berkaitan dengan Rencana Ren membuat sebuah Kekuasaan Baru dan menanyakan bagaimana kabar Penyelidikan mereka.


Lalu Satu Hari yang lalu, Ren membawa kembali Arystina ke [Shade of Spirits] Untuk berdiskusi dengan para Roh lain. Sekaligus Ren telah mengirim Nirlayn ke Kerajaan Aulzania untuk mengatur Pertemuan Ren dengan Raja Esdagius.


Bagaimanapun, Ren masih membutuhkan sebuah Kerajaan untuk mengakui Wilayah Kekuasaan Barunya nanti. Meski Pengakuan dapat Ren dapatkan dengan cara Paksaan, namun tetap saja diakui dengan sukarela itu lebih baik.


Ketika Ren memikirkan semua ini, Arystina berjalan menghampiri Ren dengan Secangkir Gelas di Tangan.


"Saya telah membawakan Teh sesuai dengan yang anda Minta Yang Mulia. Sebaiknya anda beristirahat terlebih dahulu."


Arystina langsung memberikan Secangkir Gelas itu dan dengan Senang Hati Ren terima. Aroma dari sebuah Teh yang Wangi segera memenuhi Indera Penciuman Ren. Perlahan, Ren menyeruput Teh itu secara Elegan, begitu dia menikmati Rasanya dengan baik dia memejamkan Mata.


"Hm ... Teh ini Enak. Oh, ada sesuatu yang ingin kukatakan ..."


"Sore Hari ini, aku akan Pergi ke Kerajaan Aulzania. Dapatkah aku memintamu bersama dengan Avrogan untuk menjaga Istana ini sementara Waktu?"


Ren belum dapat sepenuhnya mengerti dalam membuat sebuah Pelindung. Andaikan seseorang atau Keberadaan yang tidak diketahui menyerang Istana ini, sementara ada Avrogan dan Arystina yang menjaganya, maka Ren dapat merasa sedikit Tenang.


"Anda tidak perlu khawatir Yang Mulia, jika memang saya dapat berguna, maka saya pasti akan melakukannya."


Balasan Arystina membuat Ren tersenyum karena merasa Arystina cukup dapat diandalkan sebagai seorang Bawahan.


"Aku mengandalkanmu."


____________________________________________


* * *


* * * ____________________________________________


Dengan mengenakan Pakaian Jas Formal dari Dunia nya yang dulu, Bumi. Ren bersiap untuk Pergi menuju Kerajaan Aulzania. Butuh beberapa Waktu untuk tiba di Kerajaan Aulzania meski itu dengan Kecepatan Terbang milik Ren, jadi dia saat ini memutuskan untuk pergi lebih awal daripada yang dijadwalkan.


"Selama aku Pergi, tolong jaga tempat ini. Ah, ada satu hal lagi, kalian tidak diperbolehkan untuk memasuki beberapa Ruangan. Untuk Ruangan apa saja itu, sudah kutuliskan disini."


Ren memberikan selembar Kertas pada Arystina yang diatas Kertas itu tertulis beberapa Ruangan yang tidak boleh dimasuki. Sesaat Arystina membaca Kertas itu lalu mengangguk pada Ren dengan penuh Pengertian.


"Baiklah, saatnya aku pergi."


Sepasang Sayap tercipta, kemudian Ren terbang ke Udara, meninggalkan mereka Berdua yang menatapnya dari Istana.


"Sepertinya aku benar - benar membutuhkan Pasukan bukan?" Gumam Ren seorang diri.


Ren belum dapat berpergian dengan Bebas karena Istana miliknya tidak dijaga dengan benar. Arystina dan Avrogan tentu tidak akan dapat menjaga Istana itu setiap Waktu ketika Ren pergi. Jadi hanya ada dua pilihan yang dapat Ren ambil, Pertama adalah Pelindung dan Kedua adalah Pasukan.


"Yah, akan sangat bagus jika ada Keduanya."


Pemandangan Hutan yang luas menemani Ren yang sedang berpikir di Udara. Hutan ini jika dipandang memang seolah tidak akan pernah habis, namun kenyataannya tidak begitu, di ujung sana, ada sebuah Kerajaan yang dituju oleh Ren saat ini.


Beberapa Waktu yang cukup lama telah terlewati, pada akhirnya, Benteng Kota Aulzania terlihat kembali ...


Ren mendarat di Mulut Hutan Loudeas, karena takutnya, jika Ren terbang melewati Kota secara terang - terangan akan mengundang Hal yang tidak diinginkan.


Bekas Medan Pertempuran masih dapat dilihat dengan Jelas. Banyak Tanah - Tanah yang Rusak dan Terlubangi akibat beberapa Serangan yang Dahsyat. Namun mengesampingkan Kerusakan Medan, Bangkai para Monster sepertinya telah ditangani dengan baik. Tidak ada satupun dari Bangkai para Monster itu yang terlihat.


"Kerajaan Aulzania sepertinya bekerja dengan baik."


Ren berjalan diantara Tanah - Tanah yang berlubang. Dari Kejauhan, sepertinya sosok Ren yang berjalan dapat dilihat dengan mencurigakan. Terbukti dari beberapa Prajurit yang berpatroli diatas Benteng langsung Waspada akan Kehadirannya.


Mereka memberi Tanda Berhenti, yang tentu saja Ren sama sekali tidak mempedulikan mereka. Ren terus berjalan dengan santai sambil terlihat tenang tanpa khawatir sedikitpun.


Gerbang Benteng terbuka dan beberapa Prajurit segera menghampiri Ren dengan Persenjataan Penuh. Pada awalnya, mereka terlihat sangat Waspada, namun ketika Wajah Ren terlihat lebih Jelas, mereka langsung mengenali siapa sosok Ren yang sebenarnya.


"Hallo, apakah kalian dapat memberiku Jalan masuk? Ada urusan Penting yang harus kubicarakan dengan Sang Raja."


Mereka saling menatap satu sama lain, lalu dengan Gerakan yang terlatih dan cepat, mereka mulai berbaris dan memberikan sebuah Jalan bagi Ren.


"Silahkan Tuan!" Mereka berkata secara serempak.


Melihat Sikap dan Perilaku mereka yang mengenali Ren. Dapat dipastikan bahwa para Prajurit ini diperintahkan langsung oleh Raja Esdagius untuk menjaga Benteng yang mengarah Hutan Loudeas. Tentu dengan Tujuan untuk menyambut Kedatangan Ren.

__ADS_1


Ren kembali berjalan dengan penuh kebanggan. Melewati mereka para Prajurit yang berbaris Rapi di Kedua sisi. Namun tidak lama setelah itu, Nirlayn datang dari arah Gerbang dengan tergesa - gesa.


"Maafkan saya Ren-sama! Saya tidak tahu anda akan datang secepat ini!"


Ekspresi Nirlayn penuh dengan Penyesalan, meski yang salah disini adalah Ren karena tiba lebih cepat dari yang direncanakan.


Ren mengibaskan lengan seraya berkata, "Tidak apa, aku memang datang lebih cepat dari yang direncanakan."


"B-Benarkah itu?" Tanya Nirlayn ragu - ragu.


Ren mengangguk pelan, lagipula yang seharusnya menyambut kedatangan Ren adalah Pihak Kerajaan Aulzania. Tidak sepantasnya Nirlayn terlalu memikirkan hal ini secara berlebihan.


"B-Baiklah Ren-sama, mari kita Pergi ke Istana. Saya sudah menyiapkan Kereta Kuda disana."


Nirlayn bahkan telah menyiapkan Kereta Kuda, sepertinya Nirlayn memang Bekerja cukup Keras. Ren patut mengapresiasinya nanti, mungkin dengan sedikit Hadiah? Namun, jika Berbicara soal Hadiah, Ren melupakan sesuatu ...


' ... Ah, aku lupa memberikan Hadiah yang telah kubuat pada Arystina dan Aurlin.' Batin Ren berbicara.


Saat ini sudah terlanjur, mungkin Ren akan membuat beberapa Hadiah lagi nanti. Hadiah itu akan Ren berikan pada semua Bawahannya ketika mereka semua telah kembali. Keadilan memang diperlukan bahkan dalam memberikan Hadiah bukan?


Kembali pada Topik, Ren yang mendengar Nirlayn sudah menyiapkan Kereta Kuda merasa menyesal karena sebenarnya dia telah memiliki Niat yang lain, "Tidak perlu, aku merasa semua akan menjadi menarik jika aku berjalan. Bagaimana denganmu? Mau berjalan bersama?"


"EH?!" Mereka semua berteriak secara bersamaan.


Bukan hanya Nirlayn, tetapi bersama dengan para Prajurit yang mendengarkan Ren bicara. Nirlayn terkejut karena Kereta Kuda yang telah dia persiapkan ternyata tidak berguna, sedangkan para Prajurit, mereka tidak percaya seorang yang penting seperti Ren mau berjalan untuk sampai ke Istana.


"Apa ada yang salah?" Ren bertanya pada semua orang.


"Tidak ada Ren-sama, saya hanya sedikit terkejut anda lebih memilih berjalan." Balas Nirlayn.


Semua orang pun mengangguk dengan cara yang sama setelah Nirlayn berbicara.


"Aku mengerti, kalau begitu, aku akan berjalan ... Sampai nanti." Ren pergi dan melambaikan Tangan pada semua orang.


Dengan Uniknya, semua orang pun melambaikan Tangan mereka. Tanpa terkecuali Nirlayn, dia dengan tatapan yang kosong melambai pada Ren dan menyaksikan Kepergiannya.


"Um ... Anu, Nona?" Salah satu Prajurit berusaha menyadarkan Nirlayn.


"Ada apa?"


"......"


"Mengapa kalian tidak memberitahuku?!" Bentak Nirlayn pada para Prajurit.


Nirlayn pun berlari seraya mengangkat Ujung Pakaian yang dia kenakan. Lalu dengan sebisa mungkin, "Ren-sama! Tunggu!" Dia berteriak.


____________________________________________


* * *


* * * ____________________________________________


Kota Aulzania, dipenuhi dengan suasana Bahagia. Mungkin semua ini disebabkan karena Invasi Monster telah berhasil dilalui. Ren sendiri tidak yakin, tetapi ada satu Hal yang Ren ketahui. Dibalik Kebahagiaan ini, ada Kesedihan dari orang - orang yang telah Kehilangan.


"Tuan Muda, apa anda ingin membeli Perhiasan ini?"


"Tuan Muda, Harga dari Daging ini murah tetapi enak."


"Tuan Muda, Pelayanan kami sangat baik. Maukah anda mampir disini sebentar?"


Perhiasan? Sayang sekali Ren dapat membuat Perhiasan dan tidak membutuhkannya. Lalu, Daging? Ren tidak memiliki Hasrat Lapar untuk saat ini. Kemudian, Pelayanan yang baik? Apa yang mereka maksudkan? Ren tidak mengerti dan mengabaikannya.


"Tuan Muda ... Bukankah Panggilan ini juga cocok untuk anda Ren-sama?"


Mendengar Pernyataan Nirlayn, Ren tertawa kecil, "Hahahaha, apa dirimu bercanda? Aku sama sekali tidak berpikir itu cocok denganku."


"Um, anda ini ..." Balas Nirlayn Kecewa.


Semua orang menatap pada Dua orang yang berjalan dan menarik Perhatian ini. Tidak ada satupun lelaki yang tidak terpesona ketika melihat Nirlayn, dan tidak ada satupun Wanita yang tidak terpesona ketika melihat Ren. Di Mata mereka, Ren dan Nirlayn bagaikan seorang Pasangan yang serasi.


"Nirlayn, apa kau terganggu oleh tatapan para lelaki itu?"


Nirlayn memiringkan Kepala dan dengan Imut dia berbicara, "Mengapa saya harus terganggu oleh Tatapan mereka?"

__ADS_1


"Hm, biasanya seorang Perempuan akan merasa terganggu jika ditatap dengan cara seperti itu." Ren memegang Dagu dan berpikir dengan sangat dalam, beberapa saat kemudian, dia kembali berbicara, "Baiklah, lupakan yang barusan aku kataka- ..."


"Ren-sama! Awas!"


Shing! Clank!!!


Dua Garis Cahaya Ungu bertemu dan berbenturan dengan Garis Cahaya Merah. Semua itu terjadi tepat dihadapan Mata Ren yang sedang diam.


"Kanza, apa maksudmu dengan menyerang Ren-sama." Ucap Nirlayn dengan penuh Kemarahan.


Memang saat ini, Kanza mencoba menyerang Ren dengan Kedua Pisau miliknya. Akan Tetapi, Serangannya berhasil dihalau oleh Nirlayn menggunakan Blood Sword disaat - saat terakhir.


Semua orang yang ada disekitar mereka segera menyingkir dan menjauh. Ada beberapa orang yang kabur karena merasa semua ini akan menjadi berbahaya. Lalu ada juga beberapa orang yang memilih diam karena Penasaran dengan apa yang terjadi.


Sementara itu, Kanza menanggapi pertanyaan Nirlayn dengan senyum yang mengerikan.


"Itu tidak ada urusannya denganmu!" Kanza berteriak.


Kanza lalu melakukan sebuah Gerakan untuk menghempaskan Pedang Nirlayn yang menahan Kedua Pisaunya. Perbedaan Kekuatan diantara mereka berdua membuat Kanza dapat dengan mudah melakukan Hal itu, Pedang Nirlayn sedikit dihempaskan dan membuat Nirlayn kehilangan Keseimbangan.


Tidak membiarkan Kesempatan ini lewat begitu saja. Kanza langsung membuat sebuah ancang - ancang dan melakukan Tusukan ke arah Nirlayn. Celakanya, Nirlayn yang masih kehilangan keseimbangan tidak dapat Bereaksi sedikitpun.


Pisau Ungu milik Kanza menembus Udara dengan Kecepatan yang tidak dapat dibayangkan oleh Mata. Semua orang menutup Penglihatan mereka ...


Dan disaat itulah ...


Jlebbb!


Nirlayn tidak diberikan Kesempatan untuk melawan dan Pisau Kanza tanpa halangan berhasil menembus ...


"Hentikan Sandiwara ini, kau membuat Bawahanku Ketakutan." Ucap Ren seraya menahan Lengan Kanza dan menangkap Nirlayn yang kehilangan Keseimbangan.


Disaat yang bersamaan, semua orang dapat menyaksikan Pisau Kanza yang menembus sebuah Apel. Sebuah Apel yang terdapat Bekas Gigitan pada salah satu sisinya.


"Hey! Apelku?!" Teriak salah seorang yang menyaksikan.


Namun sayang sekali, tidak ada yang mempedulikan dirinya disaat yang seperti ini.


"Ah, Ha-ha ... T-Tuan Dirvaren, aku hanya sedikit bercanda." Kanza berkata dengan Wajah Pucat.


Aura Menakutkan yang dikeluarkan oleh Ren ditujukan hanya kepada Kanza. Itulah mengapa Kanza merasa ketakutan sementara orang - orang yang hadir disana tidak merasakan apapun.


"Ha ..." Ren menghela Napas dan melepaskan Tangannya yang menahan Lengan Kanza sekaligus Ren juga melepaskan Nirlayn yang berada dalam Pelukannya, "Lakukan Permintaan Maaf yang baik pada Nirlayn."


Kanza segera menarik Lengan dan menyarungkan kembali Kedua Pisaunya. Dalam Kecepatan yang tidak dapat dilihat, dia membungkuk ke arah Nirlayn.


"Maafkan aku!" Teriak Kanza penuh Penyesalan.


"Hm, aku akan memaafkanmu. Karena dirimu aku juga mendapatkan sesuatu yang tidak terduga." Balas Nirlayn dengan pipi yang Merah Merona.


"EH?!" Semua orang berteriak kecewa.


Mereka tidak menyangka semua yang terjadi ternyata hanya Sandiwara belaka, dan karena merasa Kesal, mereka melanjutkan kembali kegiatan masing - masing dengan Perasaan yang Kecewa.


Satu per satu dari orang - orang yang menyaksikan membubarkan diri. Sampai hanya menyisakan Dua orang yang masih menatap Ren dengan penuh Perhatian.


Menyadari Tatapan mereka berdua yang aneh, Ren tersenyum penuh makna pada Kanza dengan cara yang mengerikan.


"Hei Kanza, sepertinya kau akan menyebabkanku terseret pada hal yang merepotkan bukan?"


Kanza menampilkan Ekspresi Tanda Tanya pada Ren sebagai bentuk Tanggapan dan bukti ketidak mengertian yang dia rasakan saat ini. Namun sebelum Kanza dapat bertanya apa maksud dari Perkataan Ren, dua orang itu mendekat ke arah mereka.


"Permisi, dapatkah aku berbicara dengan kalian?" Ucap salah seorang dari mereka berdua.


Melihat ini, Kanza akhirnya mengerti mengapa Ren mengatakan Hal yang merepotkan. Lalu, Kanza dengan diam - diam menghilangkan Keberadaan dan berusaha untuk kabur. Akan tetapi, Ren tentu tidak akan membiarkan Hal itu dan menahan Pakaian yang Kanza Kenakan.


"Uh ... Sepertinya aku tidak dapat kabur." Gumam Kanza.


"Berbicara? Baiklah, tapi tempat ini sepertinya tidak cocok untuk dijadikan tempat pembicaraan, mari kita pergi ke tempat lain." Ucap Ren seraya pergi bersama dengan Nirlayn dan Kanza yang dia seret.


Kedua orang yang mengenakan Penutup Kepala itu saling menatap satu sama lain. Lalu dengan terpaksa, mereka mengikuti Ren bersama dengan Nirlayn dan Kanza ...


______

__ADS_1


*Catatan Author : Hallo~


Selanjutnya* ...


__ADS_2