Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 96 : Awal Kekejaman


__ADS_3

"Milžiniška gyvatė! Ular Rendahan! Kau tidak akan bisa melarikan diri dari Murkaku!"


Tubuh Avrogan Bersinar, kemudian Petir Menyambar.


Jeduaaarrrr!


Setiap kali Avrogan melancarkan Serangan Petirnya, maka Tubuhnya akan membesar. Sampai saat ini, bahkan Ukuran Tubuh Avrogan telah membesar sebanyak sepuluh kali lipat dari Ukurannya yang asli. Hal ini dikarenakan Avrogan menggunakan Mana melebihi Kapasitas yang dia miliki.


Sebagian Besar Mana yang digunakan Avrogan untuk melancarkan Serangan Petir itu diambil dari Alam. Karena menyerap terlalu banyak Mana dari Alam, Tubuh Avrogan semakin membesar setiap Waktunya. Jika ini diteruskan maka ...


"Argghh!! Kau akan merasakan Petirku!"


Avrogan akan melancarkan kembali Serangan Petir. Tubuhnya kembali Bersinar dan semakin membengkak, tetapi sesaat sebelum Avrogan benar - benar melancarkan Serangannya, ada sebuah Suara yang menghentikan segala macam tindakannya.


"Sebaiknya kau berhenti, jika kau meneruskannya, maka kau akan meledak."


Avrogan berbalik pada asal Suara sambil mengerang Penuh Kemurkaan. Tapi, Avrogan langsung terdiam begitu melihat sosok yang mengatakan Kalimat itu.


"T-Tuan ...?" Gumam Avrogan tak percaya.


"Apa? Kau lupa sebuah kenyataan bahwa hanya aku yang memiliki sosok ini?" Balas Ren.


Sosok dan Penampilan Ren memang sama ketika Avrogan memperhatikannya. Namun, Avrogan menyadari ada sesuatu yang berbeda dari dalam diri Ren, dan itu membuat Avrogan curiga.


"Kau memang memiliki Penampilan yang sama dengan Tuan, tetapi jangan harap membuatku Percaya begitu saja! Buktikan bahwa dirimu adalah Tuan yang sesungguhnya! [Divine Thunder]!"


Kemarahan akan membuatmu Buta, sekarang Ren mempercayai kalimat yang satu ini. Avrogan yang langsung menyerang seperti itu pasti telah ditelan oleh Kemurkaan. Masih mengingat sosok Ren pun bisa dianggap sebagai Keberuntungan untuk Avrogan.


"Kebetulan sekali, aku merasa Tubuhku Dua kali lebih baik dari sebelumnya. Mengapa tidak coba menangkis Petirmu dengan Jari Kelingkingku?"


Kata - Kata Provokasi dari Ren membuat Avrogan semakin murka, "Kau! Terlalu menyombongkan diri!"


'Sudah Kuduga.' Benak Ren Berbicara.


Kewarasan Avrogan telah ditelan oleh Kemurkaan. Avrogan yang telah Kehilangan Rasa Hormatnya pada Ren sudah cukup untuk membuktikan semua ini.


Ren menengadah ke atas langit ...


Petir yang ada dalam Pusaran Awan di atas langit telah berubah, dari yang asalnya berwarna seperti Petir Biasa, kini menjadi Petir Merah yang mengerikan. Ren yang menyaksikan Perubahan ini Menyeringai, karena pada Hakikatnya, Petir Merah ini merupakan Kombinasi antara Petir Avrogan dan Aura Darah yang telah Ren berikan.


"Tidak Buruk, sepertinya ini adalah Skill Baru yang kau miliki? Namun aku tidak akan merubah Pendirian, aku akan tetap menggunakan Jari Kelingking untuk menahannya."


Ren mengejek pada Avrogan seraya menunjukan Jari Kelingking nya dengan santai. Avrogan yang dihina seperti itu, tentu tidak dapat menahan Kesabaran dan segera melancarkan Petir itu tepat ke arah Ren.


Petir Menyambar dengan cepat, tetapi begitu Petir itu akan mengenai Ren, Jari Kelingking Ren menahannya dan membelokkan Petir itu.


Alhasil, Petir Avrogan malah menyambar Kawasan Hutan yang berada di sisi Kanan Ren. Menghanguskan Tanah dan Pepohonan serta segala sesuatu yang ada disana.


"Aihh ... Jari Kelingkingku Tergores, sepertinya kau benar - benar Berniat membunuhku kan?"


Ren sama sekali tidak berdusta, di Bagian Ujung Jari Kelingkingnya, terdapat sedikit luka Bakar yang disebabkan oleh Petir milik Avrogan. Hanya saja, sedikit luka yang tak berarti seperti ini akan langsung disembuhkan dalam Waktu kurang dari satu detik. Bisa dikatakan, Ren sama sekali tidak terluka setelah terkena Serangan Avrogan.


Tubuh Avrogan tidak dapat menahan Beban lebih lama lagi. Bahkan tanpa harus Ren Serang, Avrogan akan meledak dengan sendirinya. Namun sebagai seorang Penguasa, Ren tidak bisa membiarkan Bawahannya meledak begitu saja.


"Hm ... Aliran Mananya sudah Rusak dan Kacau tidak karuan. Satu - satunya cara agar Avrogan bisa selamat adalah dengan memperbaiki Aliran Mana itu sendiri dalam Tubuhnya." Ren menganalisa situasi dan dengan cepat menemukan Solusi.


"He, aku menemukan sebuah cara bagus untuk memperbaikinya, [Blood Art]."


Dengan menggunakan [Blood Art] Ren menciptakan Sembilan Jarum Besar di sekeliling Tubuhnya. Sembilan Jarum ini akan digunakan untuk menusuk beberapa Titik yang ada di Tubuh Avrogan.


Sebelum mengirim Jarum itu pergi, Ren menyatukan Jarum dan Tubuhnya dengan Mana yang dibuat seperti sebuah Benang.


Setelah semua Persiapan awal selesai, Ren mengirim Jarum itu menuju Avrogan.


Sembilan Jarum melesat, meninggalkan sebuah Garis Cahaya Merah yang terlukis di Udara. Avrogan yang sedang mengerang Kesakitan Mustahil untuk menghindari Jarum ini. Lalu tanpa Halangan Jarum itu menusuk di beberapa Titik Tubuh Avrogan yang telah ditentukan oleh Ren.


Benang Mana yang menyambungkan Sembilan Jarum itu dengan Tubuh Ren mengeluarkan Cahaya. Membuatnya dapat terlihat Jelas bahkan tanpa harus menggunakan Persepsi Mana.


"Kerusakan ini ... Lebih parah daripada yang aku duga. Avrogan, apa yang sebenarnya telah kau lakukan."


Ren memutuskan untuk tidak memikirkan Hal yang lain terlebih dahulu. Kini Ren harus Fokus untuk memperbaiki Aliran Mana milik Avrogan agar tidak terjadi Kesalahan. Berkat latihan yang Ren lakukan selama di Kekosongan, Ren dapat memindahkan Kesadarannya ke dalam Mana.

__ADS_1


Kesadaran Ren mengikuti Mana yang mengalir menuju Tubuh Avrogan. Setelah memasuki Aliran Mana Avrogan, Ren merasakan dirinya seolah ada dalam lubang terowongan bercabang yang tak terhitung Jumlahnya.


Tanpa menunggu Waktu lagi, Ren memperbaiki segala macam Kerusakan yang ada. Mulai dari Kebocoran Aliran Mana sampai dengan mengalirkan kembali Mana ke arah yang seharusnya.


Beberapa Waktu terlewati, Ren segera menarik kembali Kesadaran ke dalam Tubuhnya setelah memperbaiki Aliran Mana Avrogan. Entah mengapa, Ren merasa bahwa Cara yang satu ini seperti sedang melakukan Operasi. Lebih sulit dan lebih Rumit daripada yang diperkirakan.


"Hahh ... Menyusahkan saja."


Ren mengalihkan Perhatian pada Tubuh Avrogan. Disana, Avrogan telah kembali ke bentuknya yang seperti semula. Namun sepertinya Kesadaran dia masih belum ada, sehingga dengan Terpaksa, Tubuhnya terjatuh.


"Ah, kau terjatuh. [Blood Prison Cube]."


Kubus Merah menyelimuti Tubuh Avrogan yang terjatuh. Kemudian, Avrogan yang dikurung dalam Kubus berhenti terjatuh dan diam di Udara.


"Selanjutnya ..."


____________________________________________


* * *


* * * ____________________________________________


Pada Wilayah lain Hutan Loudeas.


Nirlayn duduk bersandar pada sebuah Pohon. Tatapannya terpaku pada langit, dan diantara Matanya yang indah itu, terdapat kesedihan yang amat mendalam. Kesedihan yang terlampau dalam sehingga Air Mata pun sudah tidak mengucur lagi.


Shing!


Nirlayn menghunuskan Pedang yang diberikan oleh Ren sebelumnya. Ada sebuah alasan khusus mengapa Nirlayn menghunuskan Pedang ini, bukan karena ada musuh atau ingin membunuh musuh. Melainkan karena, Nirlayn Berniat untuk mengakhiri Nyawa yang dia miliki.


"Kehidupan ini tak berguna, tanpa anda Ren-sama. Saya berharap, dikehidupan selanjutnya kita dapat bertemu."


Nirlayn mengarahkan Ujung Pedang yang Tajam itu tepat ke arah Jantungnya. Kemudian secara perlahan - lahan, Nirlayn menggerakan Pedang itu untuk menusuk dirinya sendiri. Mungkin jika dilakukan dengan cepat, maka kematian Nirlayn tidak akan terasa. Namun Nirlayn berpikir, Dosa karena membiarkan Ren terbunuh itu harus ditebus dengan Kematian yang menyakitkan.


Nirlayn memejamkan Mata dan berbicara, "Saya mencintai anda ... Ren-sama."


Apakah Nirlayn sudah Mati? Dia sendiri tidak tahu. Tidak ada Rasa sakit, mengapa? Apakah pada akhirnya dia Mati tanpa Rasa Sakit? Jika begitu, Rasa Bersalah akan selalu menghantuinya.


Kehidupan yang masih dapat dirasakan. Udara, Dingin, Tubuh, semua itu masih bisa dirasakan oleh Nirlayn. Namun mengapa Tangannya tidak dapat bergerak lagi?


"Jika kau Mati, pada siapa aku harus membalas Pernyataan ini?"


Nirlayn perlahan membuka Mata, Hal pertama yang dia lihat adalah sosok Ren yang tersenyum seraya menahan Lengannya untuk bergerak lebih Jauh. Lalu, apa yang Nirlayn Rasakan? Keterkejutan, Kebahagiaan, Kesenangan dan Kesedihan disaat yang bersamaan.


Nirlayn tidak peduli apakah sosok Ren ini hanya sebuah Ilusi atau Permainan Takdir, Hal yang terpenting dari semua ini adalah ... Menahan agar Ren tidak pergi lagi.


"R-Ren ... sama!"


Nirlayn melepaskan Pedang yang dia genggam. Lalu tanpa Peringatan, Nirlayn melompat dan memeluk Ren dengan Erat.


Menangis penuh kebahagiaan seraya memanggil Nama Ren berkali - kali. Seperti Halnya pada Arystina, Ren pun membiarkan Nirlayn untuk menangis sementara Waktu sampai dirinya benar - benar dapat tenang.


____________________________________________


* * *


* * * ____________________________________________


"Apa kau mendapat Informasi?"


Sumber dari Informasi yang ingin Ren dapatkan telah Mati. Benar, Irlyana telah Mati dalam Kondisi yang sangat mengenaskan. Nirlayn mengakui dengan sendirinya bahwa dialah yang telah membunuh Irlyana. Itulah mengapa Ren bertanya pada Nirlayn apakah dia mendapat suatu Informasi. Namun sepertinya ...


"Um ... M-Maafkan, saya ..."


... Nirlayn tidak mendapatkan Informasi apapun.


"Mengapa?"


Apakah karena Irlyana yang tidak berbicara apapun? Apa karena itu Nirlayn tidak mendapatkan Informasi sedikitpun? Ren masih berusaha mencari Jawaban.


"S-Saya, kehilangan kendali dan membunuhnya langsung ..." Jawab Nirlayn.

__ADS_1


"Hm?" Ren tidak percaya begitu saja san memperhatikan semua Hal yang ada disekitarnya. Mulai dari Mayat Irlyana yang dalam keadaan mengenaskan sampai beberapa Potongan Tubuh yang menjijikan.


Semua itu terlihat seolah membuktikan Kebohongan Nirlayn. Mustahil Irlyana dalam Keadaan seperti ini jika Nirlayn langsung menghabisinya. Berdasarkan hal ini, Ren dapat menyimpulkan bahwa, Nirlayn menyiksa Irlyana secara terus - menerus sampai Irlyana benar - benar Mati.


'Hah, ya ampun.'


Ren berjalan ke arah Nirlayn dan Berhenti tepat dihadapan Nirlayn. Kemudian, Ren mendekatkan Tangannya ke arah Dahi Nirlayn dan menjentikan Jarinya. Tindakan Ren yang tak terduga ini, membuat Nirlayn mengerang Kesakitan dan memegang Dahinya seraya mengeluarkan Ekspresi Tanda Tanya.


"Kau ini ... Darimana dirimu Belajar menjadi Kejam seperti ini? Lagipula, seseorang sepertiku tidak pantas membuatmu Kehilangan Kendali."


"A-Apakah anda tidak menyukainya ...?" Gumam Nirlayn Lirih.


"Bukan seperti itu, hanya saja ..." Ren berbalik kembali pada Mayat Irlyana, lalu berjalan mendekati Mayat itu sambil merentangkan Lengan ke Udara Kosong. Dari Udara Kosong itu, muncul Pintu Inventory. Kemudian daripada Inventory, Ren mengambil sebuah Botol yang berisi Cairan aneh berwarna Emas.


"... Seorang Wanita lebih cocok dengan Sikap lemah dan lembut." Sambung Ren seraya melemparkan Botol itu pada Irlyana.


Crakk!


Botol Pecah ketika Bersentuhan langsung dengan Dahi Irlyana. Cairan yang ada dalam Botol itu dengan sendirinya mengalir ke seluruh tubuh Irlyana. Masuk dan Menembus melalui Celah - Celah yang ada pada kulitnya. Pada akhirnya, Cairan Berwarna Emas itu Bersinar dari dalam tubuh Irlyana, dan mengembalikan Warna tubuhnya yang Pucat.


Semua luka yang dia Derita sembuh, bersamaan dengan terbentuknya kembali beberapa anggota tubuh yang hilang. Lalu, Keajaiban muncul, dimana Irlyana yang sudah tak bernyawa kini dihidupkan kembali.


Nirlayn terperangah akan Keajaiban yang baru saja dia saksikan. Sementara Ren terkagum karena Cairan yang ada dalam Botol itu berfungsi sebagaimana seharusnya.


"Y-Yang mulia? Ini ..."


"Elixir ... Sebuah Cairan yang dapat merubah Takdir."


Satu Botol Elixir ini begitu berharga, tetapi dengan tidak peduli, Ren menggunakannya begitu saja. Dan andaikan ada seseorang yang berasal dari Bumi mengetahui Hal ini, maka dirinya akan Pingsan karena tak kuasa menahan keterkejutan.


"Elixir? Jika memang dapat merubah Takdir bukankah seharusnya itu sangat berharga, mengapa anda menggunakannya pada Makhluk Rendahan ini?" Nirlayn sedikit Protes disini.


Nirlayn yang Protes memang suatu hal yang wajar. Ren menggunakan Elixir yang sangat berharga untuk menghidupkan kembali musuh, tidak ada tindakan yang lebih bodoh daripada ini. Hanya saja, Ren telah memikirkan dengan Baik tindakannya, ada beberapa alasan mengapa Ren menggunakan Elixir untuk menghidupkan Irlyana.


"Ada beberapa alasan mengapa aku melakukan hal ini. Jika ada waktu, mungkin nanti kau bisa datang dan meminta Penjelasannya padaku."


Sebagai seorang Bawahan, sudah menjadi suatu Kewajiban untuk mempercayai Tuannya. Maka dari itu, Nirlayn memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh lagi dan menghormati Keputusan yang telah diambil oleh Ren.


"Haih, ini akan sulit untuk menginterogasi dirinya, mengingat dia yang telah mengalami Kematian." Ren berbicara pada dirinya sendiri.


Kemudian, Irlyana membuka Mata ...


Pertama kali yang dilihat oleh Kedua Matanya adalah sosok dari seorang lelaki, Anryzel Dirvaren. Sosok yang telah dia yakini, pergi meninggalkan Dunia ini. Lalu, yang Kedua adalah sosok dari seorang Perempuan yang mengerikan. Sosok Perempuan ini, mengingatkan kembali Irlyana pada Pengalaman Penyiksaan yang begitu membuat Putus asa.


Sontak, Irlyana pun berteriak ketakutan, "Hiiiii! Menjauh! Menjauh! Ampuni aku!"


Irlyana merangkak mundur untuk menjauhi Ren dan Nirlayn yang sedang memandanginya. Teriakan - Teriakan Putus Asa terus keluar dari mulutnya, walaupun sebenarnya Ren dan Nirlayn tidak melakukan apapun.


Semakin lama, teriakan itu semakin terasa menyebalkan. Ren tidak dapat menahan kesabarannya lebih lama lagi, dan menghampiri Irlyana yang masih merangkak.


Ren berhenti tepat dihadapan Irlyana yang merangkak, seolah dengan Jelas mengatakan bahwa tidak ada kesempatan untuk Irlyana kabur.


"Cukup memberitahuku sesuatu, maka aku akan mengampuni Nyawamu." Ucap Ren seraya tersenyum lembut dengan Mata tertutup.


"M-Menjauh! B-Bagaimana, mungkin ... Kau dapat hidup kembali ... M-Monster!"


Plakk!


Ren menampar Irlyana ... Membuat Irlyana terdiam dan tidak dapat berkata - kata.


"Kau telah sekali membuatku terlihat menyedihkan, hanya karena itu kau merasa dirimu hebat dan menolak kebaikanku?"


Ren mengangkat Kepala Irlyana agar sejajar dengan tatapannya. Cara yang dilakukan oleh Ren sama sekali tidak mengandung kelembutan. Dimana, Ren mencengkeram Rambutnya dan sama sekali tidak mempedulikan Erangan Irlyana.


"Arghh! L-Lepas ... Kan."


"Hei, aku memberimu Dua pilihan." Ren menggenggam Lengan Irlyana menggunakan Tangganya yang lain. Lalu, dengan sebuah Ancaman yang nyata, Ren mematahkan Lengan itu seolah - oleh Lengan itu hanya sebuah Ranting yang Rapuh.


Trakkk!


"Graaahhhhh!!"

__ADS_1


Meski dihadapkan dengan orang yang terlihat begitu menyedihkan. Ekspresi Ren sama sekali tidak bergeming, "Pilihanmu adalah, Berbicara atau disiksa."


__ADS_2