Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 155 : Floating Magic Ship?


__ADS_3

Ruang pertemuan diliputi oleh ketegangan yang intens. Raja Esdagius tampak cemas berlebihan, dan hal itu muncul dengan jelas di wajahnya sampai-sampai semua orang bisa tahu hanya dengan melihatnya sekilas.


"Yang Mulia, haruskah saya mencari ke mana perginya Tuan Dirvaren?" usul Derrian yang tak tahan lagi melihat Raja Esdagius merasa cemas.


Raja Esdagius tampak putus asa, usul yang diberikan oleh Derrian sebetulnya tidak berguna. Memang ada kesempatan bagi Derrian untuk menemukan di mana keberadaan Tuan Dirvaren, tetapi ketika orang itu ditemukan apa yang bisa mereka lakukan?


Lupakan apa yang bisa mereka lakukan, ada kemungkinan pula pada saat itu utusan Armilein sudah tidak tertolong lagi. Jika hal itu terjadi, maka Raja Esdagius tidak tahu harus menjelaskan seperti apa kepada Kekaisaran Agung Exousillia.


"Tidak perlu, Derrian. Mari kita menunggu saja nasib apa yang akan menimpa kita semua."


Derrian mengangguk dan tersenyum penuh pengertian, kurang lebih dia mengerti perasaan sang raja yang dihadapkan dengan kemungkinan terburuk di mana Kerajaan Aulzania akan berada dalam posisi yang sangat terancam.


"Saya mengerti."


Derrian kembali bersiaga di dekat Raja Esdagius, matanya bergerak memperhatikan beberapa orang yang tersisa di ruang pertemuan. Di sana selain dirinya hanya ada dua Ksatria Aulzania lain, Raja Esdagius, dan seorang perempuan yang sedang duduk canggung dengan mata melihat ke bawah.


Para pengawal yang dibawa oleh utusan Armilein telah pergi sambil merasa panik dan berusaha mengejar Armilein yang dibawa oleh Tuan Dirvaren. Sayang sekali, bahkan Derrian tidak akan semudah itu menemukan keberadaannya, apalagi mereka yang hanya pihak luar dan tidak tahu apa-apa.


Sambil mengasihani para pengawal Armilein yang bernasib buruk, Derrian memperhatikan kembali sosok Nivania yang masih menunduk dengan tatapan penuh curiga.


"Hmmm? Perempuan ini terasa mirip dengan seseorang," telaah Derrian dalam hati.


Raja Esdagius yang menyadari tatapan Derrian sudah memasuki ranah tidak sopan dan berusaha mencari informasi orang lain segera berdeham pelan sambil mengingatkan Derrian untuk berhati-hati.


"Ehm. Derrian, jangan berpikir macam-macam."


Derrian tersentak lalu segera menarik tatapannya ke arah yang lain. Dia mengerti apa yang dimaksud oleh sang raja dengan "Macam-macam" yang mengisyaratkan kepadanya untuk tidak mengincar perempuan yang dimiliki oleh Tuan Dirvaren.


Suasana di antara mereka-pun diliputi oleh keheningan yang canggung untuk waktu yang lama. Namun ketika mereka mulai merasa tidak nyaman dengan suasana itu, seseorang menerobos masuk ke dalam ruang pertemuan melalui jendela.


Hal itu menyebabkan jendela yang rusak dan pecah di ruangan itu bertambah menjadi tiga buah. Akan tetapi, tidak ada yang berani memarahinya karena dia adalah Tuan Dirvaren yang telah mereka tunggu-tunggu.


Alih-alih datang seorang diri, Ren ternyata kembali bersama Armilein yang masih utuh dan sehat. Armilein masih di kurung dalam kubus merah, tetapi ada sesuatu yang berbeda dari ekspresinya seolah-olah perempuan yang bermartabat itu kini lebih diam dan penurut.


Setelah mendarat dengan elegan, Ren membersihkan sisa-sisa pecahan kaca yang terselip pada beberapa bagian di pakaian. Karena proses itu termasuk ke dalam memperbaiki diri, dia juga sekalian merapikan rambut yang telah acak-acakan tertiup angin sambil sedikit mengeluarkan candaan.


"Ya ampun. Padahal aku telah yakin untuk mengincar jendela yang telah rusak, tetapi sepertinya aku sedikit meleset. Mengapa bisa begitu, Raja Esdagius?"


Ada apa dengan pernyataan konyol ini!

__ADS_1


Semua orang protes secara serentak dalam benak mereka. Di saat mereka merasa cemas dan khawatir, mengapa orang ini masih berani bersikap santai seolah tidak terjadi apa-apa?


"A-Aku mengerti, ini pasti angin yang membuat Anda salah sasaran, Tuan Dirvaren," jawab Raja Esdagius dengan kaku dan terpaksa.


Pada saat seperti inilah Raja Esdagius kadang menyesal mengapa seorang [Monarch] harus memiliki sikap yang terlalu santai seperti ini.


"Oh, mungkin kau benar. Apakah Sarlyn yang melakukan hal ini, sepertinya dia masih memiliki dendam kesumat terhadapku?"


Jelas Ren tidak menganggap serius masalah ini, dia menyinggung Sarlyn hanya karena perempuan itu mahir dalam sihir angin, tidak lebih dan tidak kurang.


"Ha-hahaha, Anda pasti bercanda. Sarlyn tidak mungkin berani berbuat seperti itu lagi."


Ren hanya tertawa kecil saat mendengar respon Raja Esdagius yang menganggap itu sungguhan. Kemudian, dia mulai bersikap serius kembali saat melepaskan Armilein dari kubus merah.


Armilein berjalan terhuyung-huyung, pandangannya terpaku pada Ren dengan selangkah demi selangkah mendekatinya. Tatapan Armilein begitu buas, tapi dia tidak mengeluarkan nafsu membunuh, atau aura kebencian, melainkan memiliki sesuatu yang lain untuk dikatakan.


"K-Kau ... aku minta maaf!" sesal Armilien dengan penuh ketulusan.


Semua orang di ruangan kecuali Ren mengeluarkan suara "Ehh" secara bersama-sama. Kebingungan melanda mereka karena situasi ini benar-benar berbeda dari apa yang mereka harapkan, atau perkirakan sebelumnya.


"Aku tidak peduli. Lagipula pembuktian itu tidak dilakukan agar membuatmu sepenuhnya percaya, ini demi kepuasanku."


Armilein mengangguk tanpa membantah, dia lalu mendekati Raja Esdagius dengan hormat untuk menjelaskan semua yang terjadi. Ketika itu, Nivania segera mundur mendekati Ren sambil bertanya untuk memenuhi rasa penasaran di hatinya.


"Hanya perasaanmu, aku masih sama sebagai Anryzel Dirvaren yang pertama kali kau temui."


Nivania mengerutkan dahi, merasa dipermainkan oleh jawaban yang sangat tidak menjelaskan apapun. Karena merasa sedikit kesal, Nivania menyerang Ren dengan beberapa cubitan ke perutnya, namun yang terjadi malah ....


"Eh? Sangat keras dan berbentuk!!" teriaknya dalam hati.


Alih-alih memberikan rasa sakit yang membuat lawan menyerah, Nivania malah terkena serangan balik oleh perut yang sangat berotot dan menggoda milik Ren.


"A-Apa ini ... padahal aku tidak merasakan apapun saat mengobatinya dulu!"


Nivania terlarut dalam perasaan yang tidak bisa dia ungkapkan. Hal itu secara tidak sadar membuatnya terdiam dengan tangan yang masih memegang perut Ren dalam waktu yang lama.


Ren awalnya tidak masalah dengan usaha Nivania untuk menyerangnya menggunakan beberapa cubitan kecil, tetapi situasi entah mengapa berubah menjadi sedikit aneh dan tidak wajar.


"Hei, meskipun kau sangat menyukai perutku tetapi apakah perlu untuk menyentuhnya dalam waktu yang lama?" tanya Ren menyadarkan Nivania.

__ADS_1


Ren melihat Nivania dengan pandangan aneh sambil berpikir ternyata perempuan itu menyukai sesuatu yang absurd seperti perut miliknya.


"A ... ah, eh?" Nivania langsung menarik diri karena panik.


"Oh tidak, a-apa yang telah aku lakukan ...?"


Nivania menunduk, wajahnya memerah akibat merasakan malu yang tidak terbendung. Bahkan walau ini sedikit tidak masuk akal, tapi wajah yang memerah dan panas itu seakan bisa meledak kapan saja.


"Sepertinya kau sakit? Baiklah, aku akan mengantarmu ke penginapan."


Adapun pandangan orang-orang yang menyaksikan hal itu cukup bermacam-macam. Seperti Raja Esdagius yang tersenyum bahagia tanpa alasan yang jelas sambil berpikir bahwa wanita yang mengelilingi Tuan Dirvaren semakin bertambah, dan akan sulit bagi putrinya untuk mengambil kesempatan.


Lalu Derrian yang melihat dengan mata kekaguman terhadap Tuan Dirvaren karena mendapatkan sesuatu yang disebut dengan pengetahuan baru. Mungkin setelah ini Derrian akan mencari seorang wanita untuk dijadikan pasangan hidup yang bahagia.


Sementara Armilein, dia hanya tersenyum pahit dan menyesal. Ternyata pria itu tidak seperti yang dia pikirkan, kenyataannya dia bisa tersenyum lembut dan ramah seperti pria tampan yang sesungguhnya.


"Sudahlah, aku mulai bosan dengan situasi ini. Aku bisa pergi sekarang 'kan?"


Raja Esdagius melirik kepada utusan Armilein yang kemudian dibalas oleh anggukan kecil dari Armilein.


"Ya, tentu saja."


Mendengar persetujuan Raja Esdagius, Ren lantas berpamitan dengan cara yang elegan dan sesuai dengan aturan yang dibicarakan oleh Armilein. Dia dengan lembut menarik lengan Nivania yang masih merasa malu dan canggung.


Mereka berdua pun berjalan keluar sambil ditatap pergi oleh Raja Esdagius dan yang lain. Begitu mereka membuka pintu dan akan benar-benar keluar dari ruang pertemuan itu, Armilein meneriakkan sesuatu.


"Tuan Dirvaren! Jangan lupa untuk menemuiku dua hari lagi karena pada saat itu aku akan kembali ke kekaisaran menggunakan [Floating Magic Ship]. Aku harap Anda bersedia karena ini menyangkut perintah Yang Mulia Kaisar!"


Teriakan itu terdengar jelas oleh Ren, lalu sebagai respon dia melambaikan tangan yang mengisyaratkan dirinya sudah mengerti.


Setidaknya, ada satu hal yang membuat Ren tertarik untuk mengetahuinya. Apalagi kalau bukan [Floating Magic Ship] yang terdengar seperti kendaraan berbentuk kapal yang melayang di udara?


"M-maaf, aku tidak bermaksud menyentuhmu seperti itu," lirih Nivania meminta maaf kepada sosok yang menariknya.


Akan tetapi, sosok itu malah melihat ke udara kosong dengan penuh ketertarikan sambil bergumam, "Mari kita lihat nanti, apakah kapal mereka lebih hebat dari pesawatku?"


Tentu Nivania tidak mengerti apa arti dari gumaman ini, dan dirinya lebih memilih untuk diam karena tidak tahu lagi apa yang harus dibicarakan.


...__________________________...

__ADS_1


Catatan Author :


Anehh ....


__ADS_2