Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chatper 116 ~ Misi Penyamaran II


__ADS_3

Anryzel Dirvaren bersama dengan dua orang ksatria berzirah emas menghadap pada sebuah pintu raksasa bergambarkan sosok dewa yang sedang disembah oleh para pengikutnya.


Dalam pintu tersebut dewa digambarkan sebagai sosok manusia bersayap yang mengeluarkan aura suci sambil mengambil kendali atas sebuah simbol element tanah.


Penduduk Kota Soliedavosa memanggil dewa ini sebagai Augsnel. Sang penguasa tanah yang memberi kemakmuran dan kesuburan. Satu dari lima dewa element yang dipercayai oleh penduduk Kerajaan Suci Sancteral.


Namun bagi Ren semua ini terasa seperti lelucon, seorang dewa memiliki bentuk yang sama dengan ras malaikat? Dia hanya bisa tersenyum kecut karenanya.


Di lain sisi, Enshu dan satu ksatria zirah emas lainnya memberikan penghormatan dengan cara berlutut. Mereka kemudian memanjatkan kalimat yang terdengar seperti kalimat doa.


"Berikanlah kami petunjuk, Dewa Augsnel."


"Berikanlah kami petunjuk, Dewa Augsnel."


Melihat mereka yang berdoa pada sebuah pintu itu cukup lucu sampai membuat Ren ingin tertawa. Tapi dia tidak sebodoh itu untuk melakukannya ketika masih dalam bentuk penyamaran.


Tidak sulit untuk mengatasi situasi yang tiba-tiba ini, Ren hanya perlu meniru tindakan mereka dengan sebaik mungkin maka semua akan terselesaikan.


Pertama menegapkan badan secara sempurna. Kedua merendahkan diri secara hati-hati. Ketiga menundukan kepala dengan penuh kesungguhan. Lalu yang terakhir mengatakan apa yang mereka ucapkan.


"Berikanlah aku petunjuk, Dewa Augsnel."


Ren telah melakukannya dengan cukup sempurna hingga membuat Enshu cukup terpana. Tidak, apakah itu terpana atau heran? Ren tidak bisa memastikannya.


"Aku tidak perlu mempedulikan hal kecil," batin Ren.


Cahaya emas muncul dari sela-sela gambar dewa yang terdapat pada pintu. Mengalir dan mengalir sampai memenuhi setiap gambar yang ada dan merubah tampilannya menjadi luar biasa.


Pintu kemudian terbuka secara perlahan. Bersama dengan suara menderu yang bergema seperti sebuah musik yang mengiringinya.


Ruang dimana Great Bishop berada itu pun dapat terlihat oleh mata. Menampilkan karakteristik dari ruang itu yang tidak terlalu istimewa. Hanya sebuah ruang gelap yang diterangi sedikit cahaya.


Pada bagian ujung ruangan berdiri Dewa Augsnel dalam bentuk patung yang bercahaya kecoklatan. Sebelum tempat dimana patung itu berdiri, terdapat sebuah aula berbentuk lingkaran dengan banyak simbol unik tergambar di atasnya.


"Tuan Lart, apa yang Anda lamunkan?"


Suara itu menyadarkan Ren yang sedang melamun, membuatnya sedikit memutar kepala untuk melihat sosok Enshu yang sudah berada di dekatnya.


"Tidak ada," balas Ren singkat.


Terkadang Ren merasa kesulitan harus membalas dengan cara seperti apa ketika seseorang seperti Enshu bertanya atau berbicara padanya. Dan pada akhirnya, dia akan menggunakan sikap Lart yang sombong seperti biasa.


"Kalau begitu apa yang Anda tunggu? Yang Mulia Great Bishop telah menunggu."


Mata Ren bergerak mengikuti sosok Enshu dan ksatria lain berjalan masuk ke dalam ruangan. Dilihat dari gerak-geriknya, mereka berdua pasti memiliki urusan dengan sang Great Bishop.


Sebagai bentuk antisipasi terhadap bahaya, Ren mengaktifkan persepsi mana yang di fokuskan di sekitar tubuh. Baru setelah itu dia memasuki ruangan bersama Enshu dan lainnya.


"Hm? Keberadaan yang sangat tipis ..."


Ren tidak menyadari dengan pasti keberadaan Great Bishop di ruangan itu sebelumnya, tapi ketika dia benar-benar masuk sosok itu mulai terlihat seolah dia muncul begitu saja.


Tidak mengherankan keberadaan yang mencurigakan seperti ini mendapatkan gelar Great Bishop. Berbagai macam perasaan tidak mengenakan muncul dari sosok yang sedang berdiri diam itu.


Great Bishop itu menghadap pada patung Dewa Augsnel. Mengenakan sebuah jubah putih keemasan yang cukup serasi dengan rambutnya yang putih dan panjang.


Persepsi mana tidak mampu memperkirakan seberapa kuatnya dia karena terkendala oleh penghalang persepsi mana. Meski Ren bisa menembusnya dengan memfokuskan diri pada satu titik tapi itu tidak mungkin dilakukan di situasi semacam ini.

__ADS_1


Pandangan Ren kembali beralih pada sosok Enshu dan lainnya, mereka berdua kembali memberikan hormat dengan cara berlutut di belakang sang Great Bishop.


"Maafkan keterlambatan kami, Yang Mulia Great Bishop." Enshu menundukan pandangan seakan merasa malu.


Great Bishop itu diam, tidak membalas atau bergerak se-inci pun dari tempatnya.


Ren merasa ada yang salah, mengapa? Dia mencoba memikirkan solusi untuk mengatasi situasi yang hening dan cukup mencekam di sekitarnya.


"Oh, aku mengerti ...."


Ketika kaki Ren melangkah satu kali untuk meniru penghormatan yang dilakukan oleh Enshu, suara berat dari Great Bishop itu menghentikannya.


"Pendosa."


Enshu membulatkan mata karena terkejut, dia mengira 'pendosa' yang dikatakan oleh Great Bishop adalah dirinya. Oleh karena itu, Enshu semakin menundukan diri, menyesal karena telah terlambat datang memenuhi panggilan.


"M-maafkan saya, Yang Mulia! Saya rela menerima hukuman apapun untuk menghilangkan dosa ini!"


Great Bishop itu diam dan menoleh, "Jangan salah Enshu. Yang ku maksud pendosa itu ...."


Great Bishop memutar tubuhnya dengan cepat, menunjuk pada sosok Ren sambil tersenyum sinis.


"... adalah dia," sambungnya.


Keterkejutan membuat Enshu terdiam dengan mata yang membulat. Tapi tidak lama dia mengikuti arah tunjukan dari Great Bishop, memandang Ren dengan penuh ketidak percayaan.


Langkah kaki Ren terhenti, pada akhirnya penyamaran dia terbongkar oleh alasan yang tidak diketahui. Namun hal yang sudah terjadi biarkanlah terjadi, mau berusaha membela seperti apapun itu tidak mungkin dilakukan.


Informasi yang dibutuhkan untuk membela diri itu terlalu sedikit, bahkan kedudukan apa yang dimiliki oleh Lart masih belum diketahui. Keterbongkaran penyamaran ini seharusnya bukan hal yang mengecewakan, setidaknya begitu.


"Sial sekali bukan?" ucap Ren sambil menggelengkan kepala dan tersenyum pasrah.


"Aku rasa kau yang sial disini, Pendosa. Kau mungkin memiliki bentuk yang serupa dengan anakku, tapi kau tidak memiliki aura suci yang sama dengannya."


Ren meniru ekspresi Great Bishop dengan mengerutkan dahinya. Tidak menyangka bahwa sosok yang dia tiru adalah anak dari sang Great Bishop itu sendiri. Semua menjadi masuk akal, seperti darimana asal-usul kesombongan orang lemah seperti Lart itu.


Dua orang yang tidak mengerti situasi adalah Enshu dan ksatria zirah emas lain. Mereka hanya mampu memandangi tanpa mampu menimpali dan ikut terlibat dalam situasi.


"Aura suci? Tidak lupakan, aku mengerti ... ternyata dia adalah anakmu ya."


Ren menahan tawa dan semua orang yang ada disana menyadarinya. Karena ini pula, Enshu akhirnya mengerti apa yang dimaksudkan oleh sang Great Bishop.


Seketika Enshu berdiri dengan wajah yang dipenuhi dengan kemarahan. Dia baru saja tersadar bahwa selama ini telah ditipu oleh sosok Lart yang palsu.


"Jadi kau adalah pendosa itu?! Sialan, kembalikan ucapan hormatku padamu!" murka Enshu.


Enshu sudah bersiap untuk menerjang dan menyerang tapi semua itu dihentikan oleh tangan Great Bishop.


"Jangan dulu menyerang, pendosa ini bukan orang biasa," Great Bishop memperingatkan.


Sang Great Bishop merasakan ada sesuatu yang aneh dengan Ren. Great Bishop tidak merasakan apapun darinya, mana, aura negatif, aura suci atau bahkan niatan membunuh.


Namun karena tidak merasakan apapun itulah kewaspadaan dia meningkat pesat.


"Siapa kau sebenarnya pendosa?" tanya Great Bishop dengan tatapan mengintimidasi.


Kemunculan pertanyaan yang sangat membosankan dari mulut Great Bishop itu lantas membuat Ren tertawa kecil.

__ADS_1


"Aku tidak memiliki alasan apapun untuk menjawabmu."


Wajah Enshu seketika memerah karena marah, dia tidak bisa lagi mentoleransi seorang pendosa yang tidak tahu diri. Jika bukan karena Great yang Bishop menahannya untuk maju maka sedari awal Enshu sudah berniat menghukum Ren dengan kekerasan.


"Baiklah pendosa, sepertinya kau tidak memiliki niatan untuk menebus dosamu."


Great Bishop itu menarik tangan yang menghalangi Enshu. Kemudian dengan mata terpejam dia berkata, "Meniru orang lain, bersikap tidak tahu diri, dan mengacau."


"Kau pendosa yang tidak menginginkan ampunan dari dewa tidak pantas hidup di dunia. Enshu, aku memerintahkanmu untuk menghukum pendosa ini dengan hukuman yang setimpal sebagai ujung tombak penghakiman dari de-"


Great Bishop itu terdiam. Tubuhnya tiba-tiba bergetar hebat oleh alasan yang tidak diketahui. Dengan nada kesal, marah, dan murka, Great Bishop itu berteriak, "P-pendosa sialan! Kau telah mengalihkan perhatianku untuk mencuri pusaka kami?! Jangan mimpi! Enshu ini adalah perintah mutlak, ambil kembali pusaka kota ini, pencuri itu seharusnya belum pergi terlalu jauh!"


Meski masih dalam keadaan marah tapi Enshu menerimanya. Perintah mutlak dan pusaka lebih penting daripada menghukum pendosa, dia percaya bahwa Great Bishop tidak mungkin dikalahkan olehnya.


Bersama dengan ksatria zirah emas lain, Enshu berlari terburu-buru keluar dari ruangan. Meninggalkan sang Great Bishop bersama dengan Ren yang saling berhadap-hadapan.


Kepanikan Great Bishop membuat Ren tersenyum dengan sinis, "Hoo? Sepertinya kalian memiliki masalah sendiri."


Great Bishop yang sudah berumur tua itu dipaksa untuk mengeluarkan amarah yang tidak cocok dengan usianya.


"Pendosa kau bahkan berani mencuri pusaka yang diberikan oleh dewa? Jangan harap kau bisa kembali hidup setelah melakukan dosa tidak termaafkan seperti ini."


Ren mengerutkan dahi, merasa heran dengan tuduhan sepihak yang dilontarkan oleh Great Bishop. Bagaimana bisa Great Bishop menyangkut pautkan pencuri itu dengan dirinya?


"Tunggu, tidak mungkin itu kalian 'kan Nirlayn, Arystina?"


Andaikan itu memang benar-benar mereka berdua, Ren tidak mengerti lagi apa yang sedang dipikirkan oleh mereka.


"Yah, aku menyangkal pun pasti tidak akan dipercaya bukan? Mari kita hentikan omong kosong ini, mau mendengarkan sesuatu yang menarik?"


Bersama dengan waktu yang berlalu, Ren melepaskan sedikit demi sedikit Aura dan Mana yang telah dia tahan sebelumnya.


"Aku tidak membutuhkan omonganmu, pendosa."


Seakan tidak ingin mengalah, Great Bishop itu juga mulai mengeluarkan semua yang dimilikinya. Membuat udara di ruangan itu bergetar karena kekuatan yang hebat.


"Kau yakin? Padahal ini berkaitan dengan anakmu."


Ren coba untuk memprovokasi Great Bishop demi menghilangkan ketenangannya. Saat orang kehilangan ketenangan dalam medan pertempuran maka saat itulah dia dirugikan.


"Tch, aku tidak peduli pada anak yang hanya tahu bersenang-senang itu. Dia sama sekali tidak mencerminkan pengikut yang taat pada sang dewa."


Memprovokasi Great Bishop dengan menyinggung anaknya ternyata tidak berhasil. Di sisi lain, Ren tidak menyangka bahwa Great Bishop sendiri tidak menyukai anaknya.


"Ketenangan yang cukup mengesankan. Tapi, apa kau bisa menahan ketenanganmu saat aku mengatakan bahwa ..." Bibir Ren melengkung dengan cara mengerikan, " ... Dewa Augsnel yang kau sembah itu hanya omong kosong?"


"K-Kau ...!"


Krak!


Seluruh bangunan itu bergetar, keretakan terjadi dimana-mana akibat tekanan yang dikeluarkan dari kemarahan sang Great Bishop. Dia mungkin masih bisa menahan amarah jika yang disinggung itu bukan dewa yang dia sembah.


"Dengan ucapan yang kau katakan barusan maka aku tidak memiliki alasan lain untuk tidak memusnahkanmu!"


Simbol-simbol element tanah yang sama dengan simbol yang ada dalam gambar pada pintu masuk muncul dan mengelilingi sosok Great Bishop itu.


Disaat yang sama Ren sedikit merasa heran dengan kemampuan Great Bishop yang agak tidak sesuai dengan gelar yang dimilikinya.

__ADS_1


"Kekuatan dan tekanan ini, kau ternyata memiliki kekuatan yang lebih hebat dari dugaanku."


Mungkin, Ren akan sedikit bersenang-senang di tempat ini ...


__ADS_2