Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 159 : Teknologi dari Floating Magic Ship


__ADS_3

Cuaca hari itu seketika berubah menjadi cerah. Saat matahari mulai menampakan dirinya dari balik awan yang tersingkir, suatu objek besar muncul di langit Kota Aulzania. Tepatnya, objek itu berada di dekat istana kerajaan, dan memiliki bentuk seperti kapal laut yang mengambang di udara.


Floating Magic Ship, adalah nama dari benda tersebut. Sebuah teknologi mutakhir yang diciptakan oleh Kekaisaran Agung Exousillia, dan memiliki bentuk seperti kapal layar berukuran besar.


Floating Magic Ship mengandalkan sihir sebagai sumber tenaga untuk mendorong kapal agar bisa tetap di udara. Sementara layar-layar yang berada di atasnya digunakan untuk menentukan arah ke mana mereka akan pergi.


Kekuatan Floating Magic Ship dalam menampung beban cukup luar biasa, dengan beban maksimum seberat dua ton kurang lebih. Perhitungan itu sudah termasuk ke dalam awak kapal dan barang-barang yang ada di dalamnya.


Meskipun kemampuan yang dimiliki oleh Floating Magic Ship itu luar biasa, tetapi ada kekurangan dalam hal tertentu yang masih perlu ditingkatkan. Contohnya adalah kecepatan mereka terbang yang hanya mampu melaju dengan kecepatan 25 - 40 Km/h tergantung beban muatan.


Dengan begitu dalam situasi terburuk di mana Floating Magic Ship hanya mampu melaju dengan kecepatan 25 Km/h, untuk mencapai Kekaisaran Agung Exousillia itu membutuhkan waktu selama tiga hari.


Dari sudut pandang orang-orang di dunia ini waktu tempuh selama itu merupakan hal yang menakjubkan mengingat beban muatan yang dibawa, tetapi menurut Ren yang berasal dari dunia modern, kecepatan tempuh selama itu sangatlah lambat dan memakan banyak waktu.


"Tentu saja aku akan terlambat untuk bertemu dengan klien pada kecepatan tempuh yang lambat itu."


Namun sekali lagi, ini adalah dunia yang berbeda. Ren tidak bisa membandingkan keduanya karena peradaban di Bumi sudah sangat maju. Lagipula mengatakan Floating Magic Ship sangat lambat akan memancing kemarahan pihak kekaisaran sehingga dirinya lebih memilih untuk diam.


Sekarang Ren sedang berada dalam kondisi yang kurang tepat. Armilein sangat berantusias dalam menjelaskan segala macam kehebatan yang ada dalam Floating Magic Ship walaupun menurut Ren itu biasa saja.


Memang setelah meninggalkan penginapan, Ren langsung menuju istana dan bertemu dengan keluarga kerajaan yang sedang melihat persiapan utusan kekaisaran yang akan pergi.


Pada kesempatan itu, Armilein memenuhi janjinya dan mengajak Ren untuk melihat-lihat Floating Magic Ship sembari memperkenalkan setiap sudut dengan cukup detail.


"Floating Magic Ship ini menggunakan Crystal Mana sebagai sumber bahan bakarnya. Sebuah teknologi yang kami ciptakan dapat memproses Crystal Mana agar menyerap Mana dari alam, kemudian menyimpannya, dan merubah Mana itu menjadi Sihir Angin yang membuat kapal tetap berada di udara."


Ren mengangguk-angguk sambil memperlihatkan ekspresi tertarik. Tak perlu dijelaskan lagi bahwa ekspresinya itu hanya kebohongan belaka untuk menyenangkan lawan bicaranya.


"Ohoo ... berapa banyak Crystal Mana yang digunakan?" tanya Ren menyempatkan diri.


Armilein menghentikan langkah lalu berbalik dengan antusias, "Anda pasti terkejut! Kami menggunakan Crystal Mana berjumlah dua dengan ukuran sebesar telur Wyvern!"


Ren mengernyitkan alis dan berkata dalam hati, "Bukankah itu terlalu sedikit?"


Pantas kecepatan Floating Magic Ship ini begitu lambat. Mereka hanya menggunakan Crystal Mana sebanyak dua buah dengan ukuran yang kecil, bahkan merupakan suatu keajaiban benda itu dapat bergerak dan berjalan.


"Aku mengerti, tapi bukankah itu tidak cukup? Kau harus menggunakan Crystal Mana lebih banyak dari itu untuk mendapatkan kecepatan yang ideal."


Ren menyuarakan pendapat yang masuk akal tapi sebenarnya tidak mudah untuk dilakukan. Terbukti dari ekspresi Armilein yang seketika berubah menjadi rumit dan penuh masalah.


"Ini ... bukannya kami kekurangan Crystal Mana, hanya saja teknologi yang mampu memproses Crystal Mana lebih banyak dari itu masih dalam tahap penelitian."


Ren akhirnya mengerti, karena ada kepercayaan yang telah melekat dalam diri setiap orang mengenai sihir yang baru diciptakan adalah mustahil, maka penelitian mereka tidak kunjung berhasil.


Jika memang ada seseorang yang mengerti mengenai pembuatan sihir yang baru di Kekaisaran Agung Exousillia, tentu mereka tidak akan repot-repot membuat teknologi yang jangkauan penggunaannya terbatas.

__ADS_1


"Oh begitu."


Ren membalas singkat, ia kembali mendengarkan setiap perkataan yang keluar dari mulut Armilein dalam diam. Hingga tidak terasa, mereka telah menghabiskan waktu cukup lama dan memutuskan untuk segera berhenti.


"Itu saja, beberapa hal sengaja dirahasiakan jadi aku tidak bisa memberitahukannya."


"Tidak apa, sudah wajar."


Dari kejauhan datang Raja Esdagius bersama Ratu Rialna dan kedua anaknya. Dan seperti biasa, Raja Esdagius langsung bertanya tanpa menjelaskan apa yang sebenarnya sedang ia tanyakan.


"Bagaimana, Tuan Dirvaren?"


Mata merah Ren melirik kemudian diikuti oleh tubuhnya yang ikut berbalik. "Apa yang bagaimana?"


Raja Esdagius tertawa, "Hahaha! Tentu saja mengenai Floating Magic Ship yang luar biasa. Kekaisaran Agung Exousillia memang hebat, andai suatu hari nanti kerajaanku dapat memiliki sesuatu yang serupa!"


Atas pujian Raja Esdagius yang sedikit bersemangat, Armilein tampak merasa bangga dengan kendaraan yang diciptakan oleh kekaisarannya. Adapun tanggapan Ren ... dia hanya tersenyum kasihan.


"Ahhh, Floating Magic Ship ini sangat luar biasa. Sungguh, Kekaisaran Agung Exousillia memiliki orang-orang berkemampuan tinggi!" seru Ren ikut meramaikan suasana.


Alhasil, Armilein semakin merasa bangga dan tersenyum lebar. Kemudian dia dengan semangat menjelaskan kembali kehebatan kekaisaran tanpa ada yang meminta dan menyuruhnya.


Waktu berlalu cukup lama saat Armilein menceritakan seluk-beluk informasi umum mengenai Kekaisaran Agung Exousillia. Tidak sedikit dari mereka yang mendengarkan merasa kagum, tetapi ada juga satu orang yang merasa cerita itu cukup membosankan.


Lalu pada akhirnya, cerita itupun berakhir ketika seseorang yang bertugas mengoperasikan Floatint Magic Ship menghampiri mereka.


Semua orang bertepuk tangan untuk menunjukkan kekaguman mereka terhadap cerita Armilein mengenai Kekaisaran Agung Exousillia. Dalam hal ini, Ren ikut andil dalam tindakan tersebut karena dirinya mendapatkan informasi yang cukup banyak mengenai kekaisaran mereka.


Armilein pun segera merubah sikap, dan membungkuk hormat kepada Raja Esdagius sambil berkata, "Saya Armilein Nhi Ruvilla, meminta pamit untuk pergi. Semoga di lain waktu, kita dapat bertemu kembali dalam keadaan yang baik."


Raja Esdagius mengangguk penuh wibawa, "Uhm, semoga kita bertemu lagi dalam waktu yang dekat, dan dalam keadaan yang baik."


Armilein berbalik, tetapi sebelum pergi dia membisikkan sesuatu kepada Ren.


"Tidak perlu berpura-pura kagum, aku mengetahui ekspresi itu cukup tidak alami."


Armilein tersenyum ramah, tetapi tidak salah lagi ada ketidak senangan dalam kata-kata yang dilontarkannya. Semacam perasaan tidak suka karena Ren telah meremehkan teknologi mereka walaupun secara samar-samar.


Ren yang bermata merah itu hanya tersenyum puas seakan tidak peduli terhadap kata-kata yang tidak menyenangkan dari Armilein.


"Tidak aku sangka kau bisa menyadarinya. Yah, mengesampingkan kemampuanku, Floating Magic Ship kalian memang cukup menakjubkan."


"Tch." Armilein berdecak kesal kemudian berkata, "Seolah-olah Anda dapat membuat sesuatu yang lebih hebat?"


Armilein merasa sedikit kesal karena seseorang telah meremehkan Kekaisaran Agung Exousillia terlepas dari seberapa besar kekuatan orang yang meremehkan itu. Armilein percaya, meskipun Ren kuat tetapi jika dibandingkan dengan kaisar mereka, maka Ren tidak akan sebanding.

__ADS_1


"Ehh ..."


Ren sempat terdiam oleh ucapan Armilein. Selama dirinya terdiam, Armilein sudah bergerak memasuki Floating Magic Ship dengan langkah yang terburu-buru.


"Sungguh wanita yang sulit belajar dari pengalaman. Aku bertanya-tanya, apa yang akan terjadi padanya jika Nirlayn, atau salah satu bawahanku ada di sini?"


Seringai penuh kejahatan kemudian tampak di wajah Ren bersamaan dengan munculnya sebuah ide yang menurutnya sangat brilliant.


"Raja Esdagius, bukankah tadi kau berkata ingin memiliki sesuatu yang serupa dengan kapal jelek itu?"


Raja Esdagius tersentak karena tidak menyangka Ren akan bertanya dalam keadaan wajahnya yang sedang tersenyum licik.


"A-Ah! Iya, tetapi itu hanya angan-anganku. Apakah ada sesuatu yang mengganjal di hati Anda, Tuan Dirvaren?"


Ren tidak langsung membalas perkataan Raja Esdagius, melainkan menatap pada Floating Magic Ship yang mulai melambung ke udara. Tampak di atas sana, Armilein melambaikan tangan kepada keluarga kerajaan sambil tersenyum manis.


Namun Ren menatap bukan karena ingin melihat Armilein, tetapi karena dirinya berpikir apakah Floating Magic Ship cukup pantas untuk mengeluarkan sesuatu yang belum sempurna?


"Benar juga, ini waktunya untukku pergi. Maaf saja Raja Esdagius, tetapi ada suatu hal yang harus kulakukan terlebih dahulu. Untuk itu aku akan pergi tanpa bisa mengikuti jamuan makan yang tadi kau sebutkan."


Ren berjalan menjauh ke area yang sedikit lebih luas dan kosong. Kini ia memusatkan pikiran, lalu mengaktifkan Blood Art dan membentuk sesuatu yang luar biasa.


Nah ... itu adalah Prototype Anti-Detection Aircraft namun dalam versi yang lebih kecil.


Baik Raja Esdagius, maupun seluruh orang yang menyaksikan hal itu sangat terkejut dengan bentuk yang asing ini, termasuk Armilein yang telah berada di udara.


"Amati ini baik-baik. Tidak ada salahnya untuk menunjukkan kehebatan, tetapi jangan merasa sebagai yang terbaik."


Karena berbagai alasan suara Ren mampu didengar oleh Armilein dan Raja Esdagius. Hati mereka berdebar-debar, pikiran mereka mencoba menerka apa yang sebenarnya akan dilakukan oleh Ren dengan benda asing tersebut.


Namun tidak ada yang menyangka, bahwa Ren akan menaiki benda tersebut. Dalam satu kedipan mata, benda yang memiliki bentuk aneh di mata orang-orang itu mulai terbang ke udara, dan kini menyusul ketinggian yang dicapai oleh Floating Magic Ship.


"Hei, apakah kalian tahu kecepatan standar pesawat itu 1000 Km/h? Oh, mungkin utusan Armilein tidak tahu, akan kumaklumi karena yang kalian miliki adalah kapal yang dipaksa untuk mengudara, dan bukan pesawat."


Ren menatap pada utusan Armilein dalam garis yang lurus. Mata merahnya menyala seolah mengisyaratkan agar tidak memprovokasi Blood Devil yang tidak memiliki kepribadian yang pasti ini.


Pesawat yang ditumpangi oleh Ren pun melesat dengan kecepatan tinggi. Angin dan energi yang dihempaskan olehnya sanggup membuat Floating Magic Ship mengalami ketidak seimbangan dalam waktu yang singkat.


Seluruh awak kapal panik, dan berpikir bahwa benda yang asing itu akan menyerang. Namun Armilein terduduk dengan lutut yang lemas, sekali lagi kebanggaan yang telah ada dalam hatinya dihancurkan oleh sesuatu yang dibuat oleh satu keberadaan.


Armilein mengeluarkan air mata, menangis kecil sambil bergumam, "Hiks ... hiks ... dia bahkan menghancurkanku sampai seperti ini?"


Sesaat setelah melesat dengan kecepatan tinggi, Ren memutar balik dengan tujuan kembali ke Kota Aulzania.Hal yang dia lakukan sebenarnya memiliki niat yang baik, yaitu memberi pelajaran terhadap seseorang yang bersikap arogan tanpa memiliki kekuatan.


Namun hal yang tidak Ren sadari adalah kegaduhan yang disebabkan setelahnya. Dia tidak tahu bahwa Raja Esdagius hampir pingsan karena melihat sesuatu yang sangat luar biasa, dan dia tidak tahu bahwa tindakannya akan mempengaruhi hubungan dengan Armilein di masa depan.

__ADS_1


"Saat ini adalah waktunya melihat Nivania. Semoga dia baik-baik saja."


Ren menghilangkan pesawat yang terbuat dari Blood Art kemudian menggunakan sayap untuk terbang ke Kota Aulzania. Dengan membawa perasaan yang sedikit khawatir, dia berharap tidak ada suatu hal buruk yang terjadi pada Nivania.


__ADS_2