
"Ini adalah Pengetahuan Umum di Masa itu, mereka adalah para pasukan ..."
Arystina Diam.
Seketika Ekspresi Arystina berubah menjadi orang yang Kebingungan. Dia hanya mengulangi Kata "Pasukan" untuk beberapa kali namun tidak pernah melanjutkannya. Beberapa kali dia mencoba untuk mengulangi Perkataannya tetapi selalu berhenti di tempat yang sama. Sikap Arystina yang aneh ini langsung membuat Aurlin dan Ren Keheranan.
"N-Nona ... Apa yang terjadi?"
Arystina tersentak lalu segera berbalik pada Aurlin. Dia mencengkeram dengan erat kedua Bahu Aurlin dan menatapnya seakan ingin menangis.
"A-Aurlin ... Aku melupakan ... nya. Aku melupakan Hal terpenting dalam Hidupku!" Ucap Arystina dengan Mata yang berkaca - kaca.
Ekspresi Aurlin langsung menjadi Rumit, dia tidak tahu harus berkata apa untuk menanggapi Arystina yang bersikap seperti ini. Sebelumnya, dia belum Pernah melihat Arystina yang dipenuhi berbagai macam Emosi. Sosok yang dia Hormati yaitu Arystina sekarang terlihat seperti Anak Kecil yang akan menangis.
"Huaaa! Aurlin ...!" Arystina mengeluarkan Air Mata lalu berteriak kemudian memeluk Aurlin dengan Erat.
Aurlin langsung terdiam, dan kebingungan untuk beberapa Waktu. Namun lama - kelamaan, dengan Enggan Aurlin mengelus Arystina untuk menenangkannya. Aurlin tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi hingga membuat Arystina menjadi seperti ini.
"Yang Mulia, apa yang sebenarnya terjadi?" Aurlin bertanya pada Ren dengan penuh Kekhawatiran.
'Mana aku tahu?' Ren hampir menjawab saja seperti ini. Namun, Ren memutuskan untuk menjawab dengan sesuatu yang dapat membuat Aurlin beserta Arystina tenang.
Meskipun ... Dia harus berbohong kembali.
Agar Aurlin tidak menunggu Jawaban lebih lama, Ren dengan segera menyilangkan Kaki, setelah itu Ren menopang Dagu menggunakan Lengan Kanannya. Kemudian Mata Ren menyipit seolah - olah dia sedang mengamati sesuatu dengan seksama pada diri Arystina.
"Hm ... Ini hanya Hal Sederhana, Ingatannya telah dikunci." Jawab Ren dengan Percaya diri.
Tidak ada kepastian apakah Arystina mengalami Ingatan yang dikunci seperti yang Ren katakan atau tidak. Sekali lagi, Ren hanya mengarang Jawaban ini untuk menenangkan Aurlin yang terlihat Khawatir.
Seraya mengelus Arystina yang masih menangis Aurlin langsung berpikir tentang apa yang dikatakan oleh Ren sampai Mengerutkan Dahinya dengan Jelas.
Ren yang melihat ini pun segera mengibaskan Lengan untuk menarik Perhatian Aurlin. Setelah Aurlin memperhatikannya kembali, Ren dengan senyum penuh Makna berkata, "Ada seseorang yang telah mengunci sebagian dari Ingatan Arystina. Mungkin, orang itu tidak ingin Masa lalu diketahui atau semacamnya."
Masa lalu? Bahkan Ren sendiri tidak tahu! Andaikan Aurlin mengetahui bahwa ini hanya Bualan Ren semata pasti dia akan murka. Namun sepertinya, Aurlin tidak menyadari Hal itu, dan membuat Ren menghela Napas lega.
"Jadi seperti itu ... Tapi, apakah Nona tidak dalam Bahaya?" Tanya Aurlin Cemas.
Aurlin ... Bukankah dia terlihat seperti seorang Ibu yang Khawatir terhadap Anaknya? Ren bahkan mulai meragukan siapa sebenarnya Roh tertua disini.
"Hah ... Kau tidak perlu Khawatir, tidak ada Bahaya sama sekali. Dia hanya butuh Waktu untuk menangis, biarkan dia seperti itu untuk sementara."
Tidak ada pilihan lain, Ren sendiri tidak mengetahui cara untuk menenangkan Arystina. Jadi, dia hanya berkata seperti itu untuk melemparkan Masalah ini pada Aurlin. Meski terdengar licik, namun memang seperti itulah pantasnya.
"Aku akan Keluar dari Ruangan ini ..." Ucap Ren sambil beranjak Pergi untuk meninggalkan Ruangan.
Sebelum membuka Pintu Keluar, Ren menoleh terlebih Dahulu pada Aurlin dan Arystina. Melihat mereka berdua, membuat Ren merasa aneh, beberapa saat sebelumnya, mereka adalah Orang Asing bagi Ren. Namun untuk saat ini, mereka terlihat menghormati Ren walaupun Ren sendiri tidak tahu apakah Rasa Hormat itu Tulus atau tidak.
"Aurlin ... Aku tidak memaksamu untuk memanggilku dengan sebutan "Yang Mulia" Kau boleh memanggilku dengan sebutan yang lain."
Ren berbicara pada Aurlin seraya membuka Pintu, setelah itu dia langsung Keluar Tanpa menunggu Jawaban dari Aurlin. Ren sendiri mengatakan ini karena merasa bersalah telah membohongi mereka Berdua. Setelah Urusan Ren disini selesai, dia akan kembali ke Kerajaan Aulzania secepatnya agar tidak membuat mereka tertipu lebih daripada ini.
Namun ada satu Hal yang tidak diketahui oleh Ren tentang mereka berdua. Aurlin dan Arystina sejak awal sudah menyadari bahwa Ren bukanlah sosok biasa, namun karena dia terus menanyakan siapa sebenarnya mereka maka muncul lah Kecurigaan dalam diri Aurlin dan Arystina.
Secara diam - diam, Aurlin menatap pada Arystina dengan Penuh Kasih dan Sayang. Meski Arystina saat ini terlihat seperti seorang Anak Kecil, tetapi itu tidak merubah Perasaan Aurlin yang telah menganggap Arystina sebagai Ibu nya sendiri.
__ADS_1
Tidak mungkin bagi dia untuk tidak menghormati Ren. Sosok yang telah membuat Arystina mengeluarkan Emosi yang belum pernah dia tunjukan. Emosi yang bahkan pada saat Aurlin lahir, itu sudah tidak ada lagi.
"Terima kasih ... Yang Mulia." Ucap Aurlin seraya tersenyum lembut.
* * *
* * *
* * *
Ketika Keluar dari Ruangan Arystina, Ren langsung memasuki kembali Ruang Inventory miliknya. Sudah cukup lama sejak terakhir kali dia memasuki Inventory ini. Tidak ada Alasan Istimewa mengapa Ren pergi ke Inventory, dia hanya bingung harus pergi kemana dan akhirnya memutuskan untuk kesini.
"Haa ... Ya ampun, aku tidak merasa bahwa Berbohong seperti itu akan membuatku merasa Bersalah seperti ini."
Ren berjalan dalam Ruang Inventory tanpa Tujuan yang pasti. Sesekali, Ren melihat Item dari berbagai macam Kategori yang sama sekali tidak dia gunakan. Seperti Halnya Tanaman Herbal untuk dijadikan Campuran dalam membuat Potion, mereka hanya dijadikan Hiasan tanpa digunakan sekalipun.
"[Folsearctos] [Tractrantoplan] ... Hm, Sepertinya aku melupakan banyak Nama dari Tanaman Herbal ini. Sudah lama pula aku tidak menggunakan [Alchemist]."
Selanjutnya, Ren memeriksa Tempat dari Berbagai Macam Item yang dibutuhkan untuk melakukan segala macam Hal yang berhubungan dengan [Blacksmith]. Ada Berbagai macam Logam maupun Item yang digunakan untuk Bahan menempa seperti Tembaga, Besi, Perak, Emas, Platinum, Crystal Mana, Crystal Mana Essence, dan Divine Crystal.
Semua itu Ren kumpulkan dalam Waktu yang tidak sedikit. Butuh Usaha dan Perjuangan untuk Ren mendapatkan mereka semua. Diantara semua Item diatas, Item yang paling sulit didapatkan oleh Ren adalah Divine Crystal. Dimana Ren harus menyelesaikan Satu Dungeon untuk mendapatkan satu Divine Core.
Belum cukup sampai disana, Divine Core harus diproses terlebih dahulu untuk dijadikan Divine Crystal seperti yang ada dihadapan Ren saat ini. Lalu dalam Proses itu, Ren terkadang mengalami Kegagalan yang menyebabkan Item Musnah secara sia - sia.
"Pada saat itu, aku merasa seperti orang Bodoh karena mengumpulkan Barang yang belum tentu aku Gunakan." Ren tersenyum kecut.
Ren berniat untuk melangkahkan kaki kembali, namun itu terhenti ketika sebuah Pemikiran muncul secara tiba - tiba. Sebuah Pemikiran tentang, bagaimana jika dirinya memberikan sesuatu untuk mengobati Rasa Bersalah dalam Hatinya?
"Ah, itu layak dicoba."
Segera Ren mengambil Item - Item yang dia perlukan untuk membuat Barang yang akan diberikan pada Arystina dan Aurlin.
Diantara Item - Item yang diambil oleh Ren itu, ada beberapa Item yang sangat Langka, bahkan Ren sendiri menganggap bahwa itu cukup berharga. Item itu adalah Jantung dari Monster [Vandenyn’ ‘Caraloeus] dan Ranting Pohon [Sventadis].
Vandenyn’ ‘Caraloeus adalah Boss Monster Lautan berbentuk Ular yang amat Besar. Dia memiliki Gelar Raja Lautan karena Keganasan dan Kekuatan yang dia miliki. Sementara itu, Pohon [Sventadis] Sendiri bukanlah Pohon Biasa, Pohon ini hanya Hidup di Puncak Gunung tertinggi dan dijaga oleh Seekor Burung Phoenix Raksasa.
Meski Dua Item ini sangat Langka, namun Ren sama sekali tidak membutuhkannya.
Setelah mengumpulkan semua Bahan, Ren memulai Proses Pembuatan Barang itu menggunakan beberapa Item yang telah dia kumpulkan. Sebagai seorang [Blacksmith] Ren tidak membutuhkan alat - alat seperti [Blacksmith] Biasa untuk membuat sesuatu. Dia hanya menggunakan Mana dan Sihir untuk membuat Barang sesuai dengan apa yang dia inginkan.
Dapat dipastikan, para Ahli [Blacksmith] di Dunia akan menangis atau bahkan tidak sadarkan diri ketika mengetahui cara Ren yang absurd dalam menempa.
Namun untuk saat ini, mari kita kesampingkan Hal itu dan Fokus kepada Ren yang telah memulai Proses Pembuatannya. Untuk meleburkan Bahan menggunakan Mana dan Sihir ketika di Udara, Ren membutuhkan Konsentrasi Tingkat Tinggi agar tidak gagal dalam Prosesnya.
Pertama, Ren mengendalikan Mana untuk mengangkat beberapa Bahan ke Udara secara terpisah dan menjaganya disana. Setelah itu, Ren harus menggunakan Sihir Api untuk meleburkan mereka. Mungkin terdengar Mudah, tetapi kenyataan nya tahap ini begitu sulit karena Ren harus benar - benar mengendalikan Kedua Hal yang berbeda, yaitu Mana dan Sihir secara bersamaan.
"[Ancient Blue Flame]."
Beberapa Bola Api Biru yang membara tercipta, dan mulai menyelimuti satu per satu dari Bahan yang ada di Udara. Hanya butuh beberapa saat untuk Meleburkan semua Bahan yang ada disana. Setelah semua Bahan melebur, Ren segera memadamkan Api untuk melakukan Tahap Lanjutan dari Proses ini, yaitu Tahap Pembentukan.
Pada Tahap Pembentukan, Ren harus membayangkan dengan teliti semua Bentuk dari Bahan yang telah melebur. Karena pada saat ini Ren akan membuat semacam Barang Kecil, itu malah lebih menyulitkan karena Kedetailan Barang itu harus diperhatikan.
Pembentukan sendiri dilakukan oleh Ren menggunakan Mana dan tanpa menggunakan Alat lain sedikitpun. Mungkin ini terdengar Mustahil, akan tetapi Mana adalah sesuatu yang Istimewa di Dunia. Bahkan Ren tidak dapat menjelaskan apa itu Mana, Darimana mereka berasal dan Bagaimana mereka diciptakan.
Singkatnya, Ren hanya akan menyebut Mana sebagai suatu Keberadaan yang "Serba Guna" di Dunia ini.
__ADS_1
Lalu setelah itu, Proses Pembentukan menggunakan Mana ini akan terus berlanjut sampai Barang yang telah Ren Rencanakan benar - benar terbentuk.
* * *
* * *
* * *
Aurlin segera mengikuti Ren yang telah Keluar dari Ruangan ini beberapa Waktu yang lalu begitu Arystina tenang dan tertidur. Dia membuka Pintu dan Lekas Keluar dari sana, namun kemanapun dirinya melihat, sosok Ren tidak ada.
'Mungkin Yang Mulia pergi ke Ruangan lain?' Pikir Aurlin.
Sepasang Kaki Aurlin yang sempurna itu mulai melangkah untuk mencari Keberadaan Ren. Akan tetapi, bahkan sebelum dia menyelesaikan Langkah yang Kelima, sebuah Suara dari Kaki yang menyentuh Lantai terdengar, bersamaan dengan seseorang yang berbicara ...
"Apakah Arystina sudah Tenang?"
Aurlin langsung berbalik dan terkejut ketika melihat Ren ada disana. Beberapa Detik yang lalu, Sosok Ren tidak ada dimanapun, namun saat ini dia muncul disana secara tiba - tiba. Suatu Hal yang Wajar jika Aurlin terkejut karena Hal ini.
"Ah, bagaimana anda bisa tiba - tiba disini?" Mulut Aurlin secara Spontan bertanya.
Dapat dilihat Aurlin sendiri terkejut oleh Mulutnya yang tiba - tiba bertanya. Tetapi apa boleh buat, perkataan sudah dilontarkan dan tidak bisa ditarik kembali. Beruntung Ren menanggapi Pertanyaan Aurlin dengan Ekspresi yang tersenyum.
"Tidak seperti itu, dari awal aku memang sudah ada disini." Ucap Ren.
"Lalu, bagaimana saya tidak dapat melihat anda dimanapun tadi?" Aurlin memiringkan Kepala karena Bingung.
"Aku hanya menghilangkan Hawa Keberadaan untuk berjaga - jaga andai ada Orang lain yang kesini."
"Oh ... Saya mengerti."
Aurlin mengangguk, meskipun dia belum sepenuhnya mengerti dengan Alasan Ren yang seperti itu. Mengingat, tidak akan ada seorangpun yang memasuki Kediaman ini kecuali mereka telah mendapatkan Izin dari Aurlin atau Arystina sendiri.
"Bagaimana dengan Arystina? Dia baik - baik saja?" Ren kembali bertanya namun dengan Ekspresi yang menunjukan seolah dia tidak peduli.
Aurlin menyadari Hal ini, Ren sengaja menyembunyikan Rasa Khawatirnya dengan Berekspresi seolah dia tidak peduli. Meski terkadang Ren bertindak Kejam dan Tak berperasaan, namun ada kalanya dia menampilkan sisi kelembutan yang selalu dia sembunyikan.
"Nona Arystina sedang tertidur Yang Mulia. Oh ya ..."
Aurlin menghentikan Perkataan di tengah Jalan seolah - olah dia Ragu untuk menyatakannya. Dengan terpaksa, Ren harus mengindikasikan agar Aurlin melanjutkan apa yang dia ingin katakan. Lalu berdasarkan Konfirmasi dari Ren pula, Aurlin berani untuk melanjutkan perkataannya.
" ... Bisakah saya mengajukan satu Permintaan untuk anda?"
Mata Ren langsung menajam ketika mendengar Hal ini. Keberadaan Aurlin langsung menciut ketika menyadari Ekspresi Ren yang seolah - olah tidak senang dengan Permintaannya.
"Sebelum aku setuju, Permintaan apa itu?"
Aurlin menghela Napas terlebih Dahulu sebelum Menjawab. Lalu dengan suara yang bergetar seolah ketakutan dia berkata, "Saya ingin memohon pada anda untuk membantu Nona mengatasi Masalah yang menimpa Shade of Spirits ini."
"Masalah?"
"Benar Yang Mulia, tetapi untuk Detail yang lebih Jelas, saya membutuhkan Persetujuan Nona."
Ren sudah pasrah dengan Keadaan yang menimpa dirinya saat ini. Dimana dia sepertinya sangat dicintai oleh Masalah sampai - sampai dimanapun dia berada, akan selalu ada masalah yang harus dia selesaikan. Tetapi, karena Perasaan Bersalah yang dia Rasakan, Ren mau tak mau harus menerima Permintaan Aurlin. Itulah Janjinya sebagai seorang Lelaki.
"Baiklah, aku akan mendengar Detail dari Masalah ini nanti. Dan akan aku pastikan untuk sebisa mungkin mengatasi Masalah ini."
__ADS_1