Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 145 : Dibalik Penyerangan


__ADS_3

Rusava memasuki mode pertempuran. Tangannya merentang ke atas untuk memanggil sebuah sabit yang diselimuti oleh aura merah darah yang pekat. Kekuatan melonjak naik, dan perlahan-lahan aura merah itu memperkuat statistik dasar miliknya.


"Ini adalah rasa dari kekuatan!" seru Rusava.


Kalimat telah berakhir, Rusava meluncur ke arah tiga bersaudara sambil mengayunkan sabitnya dengan kuat dalam bentuk horizontal. Di tengah ayunan, Rusava menambahkan api biru miliknya sehingga ayunan itu menghasilkan gelombang api yang menyerang terlebih dahulu.


Menghadapi keganasan api yang bersuhu tinggi, Kogia memblokir api dengan menggunakan serangan yang setara. Ledakan hebat terjadi sesaat setelah kedua serangan bentrok untuk saling memusnahkan satu sama lain.


Kabut asap yang menyelimuti lingkungan sekitar digunakan oleh Rusava untuk menyerang Kogia. Sosoknya yang muncul dari balik kabut langsung menebaskan sabit, berusaha memotong tubuh Kogia.


Namun dengan refleks yang cepat, Kogia berhasil menghindari serangan mematikan itu dengan cara menunduk. Begitu sabit melewati tubuhnya, Kogia melancarkan serangan balik berupa tusukan super cepat.


Tidak ada yang berharap serangan semacam itu akan mengakhiri semuanya. Rusava dengan mudah memblokir serangan sederhana itu menggunakan gagang sabit miliknya.


Sesaat Kogia kehilangan keseimbangan karena tusukan yang super cepat dan dipenuhi kekuatan itu dipentalkan begitu saja. Beruntung Kogia masih dapat melakukan manuver darurat sehingga Rusava tidak bisa memanfaatkan kesempatan itu dengan baik.


Ketika Rusava hendak menyusul Kogia dan menyerangnya kembali, Hairan muncul dari arah belakang. Secara frontal Hairan melancarkan puluhan tinju berlapis api yang menghasilkan ledakan kecil setiap kali Rusava memblokirnya.


Rusava terkejut dengan efek ledakan yang dihasilkan, dengan terpaksa dirinya terpukul mundur sedikit demi sedikit. Kesempatan itu tidak dibiarkan begitu saja, Kogia dan Murga pun ikut membantu Hairan dalam pertempuran.


Beralih ke pertempuran semi-udara, kini Rusava harus menghadapi Hairan dan Kogia yang menyerang secara bersama-sama. Rusava semakin direpotkan ketika Murga terus-menerus memberikan bantuan berupa tembakan anak panah yang tidak bisa dia abaikan.


Rusava semakin dipojokkan saat Hairan memasang beberapa lingkaran sihir jebakan yang ada di medan pertempuran. Itu akan otomatis aktif saat Rusava melewati, atau dekat dengannya sehingga ledakan yang sulit terelakkan terus terjadi.


"Flame Explosion!!"


Enam belas ledakan beruntun menghalau Rusava untuk bisa bergerak dengan bebas. Lalu Murga memanfaatkan kesempatan ini untuk melepaskan tembakan pamungkas miliknya secara bertubi-tubi.


"Dragon Lightning Arrow!"


Satu, dua, tiga, empat, lima, anak panah berbentuk petir naga ditembakan ke arah Rusava. Ia yang sedang disibukkan oleh ledakan Flame Explosion tidak akan bisa menghindari keseluruhan anak panah. Situasi Rusava semakin dipersulit oleh Kogia yang juga memanfaatkan momen ini untuk menyerang.


Pedang Kogia dilapisi oleh mana yang menciptakan energi kuat di sekitaran bilahnya. Energi itu memancarkan cahaya berbentuk pedang sehingga pedang Kogia lebih besar dan panjang dari semula. Sesaat setelah persiapan, Kogia menyerang ....


"Existence Extinguish!"


Dua tebasan silang dilancarkan, menciptakan bilah energi berwarna hitam pekat meluncur terbang kepada Rusava. Rentetan serangan yang kuat itu tidak hanya menutup jalur pelarian Rusava, tetapi juga memiliki kemungkinan untuk membunuhnya.


Rusava berusaha mencari jalan keluar, dia berpikir dengan sangat keras. Bahkan untuk dirinya tidak mungkin menahan banyak serangan kuat sekaligus, melarikan diripun akan sulit karena jebakan yang dipasang oleh Hairan.


"Oh ... celaka."


Boooommm!!


Ledakan massive yang memekakkan telinga tercipta ketika semua serangan bertemu sekaligus. Dampak ledakan itu menyebabkan sebuah gelombang hebat yang mana menyerupai sebuah ledakan bom nuklir dalam skala yang lebih kecil.


Awan kabut yang menyerupai jamur mengepul ke udara, gelombang kejut yang dihasilkan menyapu daratan dalam radius dua kilometer, dan seluruh makhluk hidup biasa yang berada dalam radius lima ratus meter dimusnahkan.


Serangan itu menghancurkan sebagian besar area hutan, membuat hutan yang dirimbuni pepohonan kini berubah menjadi tanah gosong yang panas dan gersang.


Tidak akan ada yang menyangka beberapa serangan itu menghasilkan dampak yang sangat mengerikan. Bagaimanapun, kekuatan setingkat ini sudah lebih dari cukup untuk memusnahkan sebuah kota kecil.


Kogia, selaku orang yang menciptakan kombinasi serangan itu terbatuk oleh debu yang berterbangan. Kedua tangan dan kaki miliknya kini benar-benar terbebani karena dipaksa menggunakan kekuatan yang belum sepenuhnya dikuasai.


Namun saat Kogia melihat ledakan yang sangat dahsyat itu, dirinya berpikir bahwa semua pengorbanan ini cukup setimpal. Jika mereka tidak memakai kombinasi mematikan ini, kemungkinan besar mengalahkan musuh hanya angan-angan semata.


"Huh ... hah ... seharusnya dia sudah musnah bukan?" ucap Kogia terengah-engah.


Kogia tidak memikirkan dua hewan yang mengikuti musuh sebelumnya. Dia berpikir kedua hewan itu pasti [Beast Servant] dan tidak perlu dikhawatirkan, beberapa Flame Explosion milik Hairan pasti bisa memusnahkan mereka.


Sayangnya, Kogia mengambil kesimpulan yang salah. Perasaan menang dan tenang yang ada dalam diri Kogia seketika sirna saat melihat sebuah cahaya biru membara di pusat ledakan. Cahaya itu memang tertutupi kabut, tetapi Kogia, Hairan, dan Murga tahu betul sumber cahaya tersebut.


"M-Mustahil ... bagaimana bisa?" gumam Kogia tak percaya.


Hairan dan Murga pun memberikan reaksi yang sama. Keterkejutan mereka tidak berhenti sampai di situ, setelah kabut menghilang sepenuhnya mereka dibuat menganga dengan keberadaan seseorang yang telah mereka kira sudah tewas ternyata masih hidup.


Hati mereka enggan menerima kenyataan yang mengerikan ini. Bagaimana tidak, seseorang yang telah dianggap musnah ternyata masih hidup dan dalam kondisi yang sangat sehat.


Tidak ada luka, bahkan pakaian yang dia kenakan tidak memiliki kerusakan sedikitpun. Hal itu secara alami membuat kepercayaan diri mereka hancur, dan kini perasaan khawatir, takut, dan lemas memenuhi sekujur tubuh ketiganya.


Namun orang itu, Ren mengatakan sesuatu kepada Rusava dengan enteng, seolah perasaan tiga bersaudara sama sekali bukan urusannya. Rusava kini dalam keadaan terluka parah, dia mampu bertahan di detik terakhir pun cukup beruntung karena api biru bertindak sebagai pelindung.


"Sekarang kau mengerti? Mereka memang tidak terlalu kuat, tapi memiliki beberapa rahasia yang cukup berbahaya."

__ADS_1


Ren menyerahkan satu botol potion penyembuh tingkat tinggi kepada Rusava. Luka yang memenuhi tubuh Rusava adalah luka bakar yang parah, bahkan beberapa bagian kulitnya sudah terbakar dan terkelupas, tapi dengan satu botol potion itu semua lukanya membaik, dan sembuh dengan cepat.


Menyaksikan pemandangan itu, Kogia, Murga, serta Hairan dibuat terkejut sekali lagi. Mereka mengenal dengan baik potion penyembuh tingkat tinggi yang memiliki efektivitas luar biasa dalam menyembuhkan, namun selama mereka di dunia ini keberadaan potion tingkat tinggi sudah sangat terbatas.


"Kogia, aku khawatir," Murga berbisik.


"Apa kau berpikiran sama?" tanya Kogia kembali.


"Entahlah, mungkin jika itu benar kita bisa bernegosiasi dengannya?" Murga memberi usulan.


Perbincangan mereka bertiga masuk ke telinga Ren, membuat dahinya berkerut karena kesal. Nada yang dingin dan tidak berperasaan muncul, seolah-olah itu adalah suara dari panggilan kematian.


"Percuma saja, tidak ada kesempatan bagi kalian bernegosiasi denganku."


Ren melangkah dengan pasti, menghampiri ketiga bersaudara dengan tenang dan mencekam. Rusava, Avrogan, dan Indacrus mengikutinya dengan tenang dan tanpa bersuara.


"G-Gawat, kita harus melarikan diri!" teriak Hairan.


Kogia dan Murga mengangguk setuju, mereka mulai mengambil langkah mundur untuk lari tetapi semua itu sia-sia. Langkah mereka tertahan, gerakan mereka dibatasi, dan ketiganya telah dikurung dalam kubus merah semi-transparan.


"Lari dariku hanyalah ilusi," ucap Ren dengan tatapan yang dipenuhi hawa membunuh yang kuat.


Hairan mengepalkan tangan, dan lantas memberikan pukulan yang berisi sihir Flame Explosion dengan maksud menghancurkan kubus merah yang mengurung mereka. Akan tetapi, serangan itu dengan bodohnya gagal dan meledak di dalam kubus sehingga melukai diri mereka sendiri.


"Heh, bahkan tikus di istanaku lebih pintar darimu."


Tentu saja itu hanya perkataan sarkasme. Bagaimana mungkin istana miliknya dihuni oleh para tikus? Bahkan jika seekor dari mereka hidup, Ren akan langsung memusnahkannya tanpa ampun.


Menyadari semua usaha melarikan diri akan sia-sia, Kogia yang memimpin tim berusaha berbicara untuk meminta belas kasihan. Sesuatu seperti harga diri sudah tidak lagi dia pedulikan.


"T-Tuan ... maafkan kami. Tidak bisakkah Anda memberi belas kasihan dan mengampuni kita bertiga?"


"Hei, Kogia!" teriak Hairan tidak terima.


"Ssttt! Diam kau, Hairan!" bentak Murga.


Ren terus berjalan tanpa mempedulikan permohonan atau perselisihan di antara mereka bertiga. Sesampainya di hadapan kubus merah itu, dia tersenyum dengan cara yang membuat orang-orang merinding.


"Pengampunan? Memangnya apa yang bisa kalian berikan agar aku mengampuni kalian?"


"S-Semuanya! Kami akan memberikan seluruh harta yang kami miliki!"


Suasana diselimuti oleh keheningan sesaat, dan itu terasa cukup mengerikan bagi Kogia, dan Murga, terkecuali bagi Hairan yang dalam hati masih enggan menyerah karena harga dirinya yang begitu tinggi.


"Hm ... biarkan aku bertanya berapa banyak kekayaan yang kalian miliki? Jangan sampai aku menyesal karena telah mengampuni kalian."


Bersamaan dengan itu sebuah kursi yang mirip dengan singgasana terbentuk dari aura merah darah yang merembes di sekitar tubuhnya. Ren lantas duduk di atas singgasana darurat itu sembari menyilangkan kaki dengan sombong.


Hairan, Kogia, dan Murga merasa kesal dengan sikap yang sombong itu, tetapi karena mereka tidak berada dalam posisi yang mampu menentang maka yang bisa mereka lakukan hanya diam dalam kekesalan.


"M-Masing-masing dari kami memiliki rumah mewah yang indah dan nyaman. Tidak hanya itu, seluruh kekayaanku bisa mencapai 190.000 koin emas."


"Aku ... memiliki 154.000 koin emas," ungkap Hairan dengan tidak terima.


"Aku juga, meski tidak banyak setidaknya ada 187.000 koin emas."


Mereka bertiga mengungkapkan harta yang dimiliki oleh masing-masing. Ren tersenyum serakah mendengarnya, lalu tanpa banyak basa-basi dia bertanya sekali lagi.


"Hehehe, jumlah yang lumayan. Dimana rumah kalian berada?"


Ketiga bersaudara itu menghela napas lega, mereka sekarang dapat tenang karena sudah tahu bahwa musuh kali ini dapat dibeli menggunakan uang. Hanya beberapa ratus ribu koin emas dan rumah, itu tidak sebanding dengan nyawa mereka sendiri.


"Rumah itu ada di Kekaisaran Lodysna. Tempatnya juga sangat strategis karena berada di ibukota. Bagaimana, Tuan? Kesepakatan yang tidak buruk bukan?" Kogia memberitahu dengan terus terang.


"Hohoho ... tempat itu pasti bagus. Baiklah, aku akan menerimanya."


Kogia benar-benar merasa lega, sedangkan Murga merasa tidak yakin dengan pilihan mereka, tapi seorang Hairan dengan hati-hati tersenyum licik dan berpikir dirinya akan membalas penghinaan ini beberapa kali lipat di masa depan.


"B-Benarkah?! Kalau begitu, terima kas- ..."


"Tapi ampunanku itu kematian loh," ucap Ren tanpa ekspresi.


Suasana membeku seketika, termasuk ketiga bersaudara yang sudah tidak sanggup berkata apa-apa lagi. Mereka sangat bingung dan ketakutan, mengapa suasana mendadak berubah menjadi terasa begitu mencekam dan menekan?

__ADS_1


"Tadinya aku penasaran siapa yang berani membunuh hewan peliharaanku. Apakah mereka membunuh tanpa sengaja? Pertanyaan itu sempat terlintas dalam benakku, dan kupikir aku akan mengampuni mereka jika saat pertama kali bertemu mereka meminta maaf dengan sepenuh hati."


GLEKK


Kogia menelan ludahnya sendiri. Mereka telah melakukan kesalahan, kesalahan yang sangat fatal dan mematikan. Seharusnya pada saat itu mereka tidak berusaha kabur, atau melawan balik, tapi meminta maaf dengan bersungguh-sungguh!


"K-Kalau itu ... kami tidak tahu."


Ren menyeringai hebat sekaligus merasakan kecewa dengan tiga orang bersaudara dihadapannya.


"Hei, aku tidak menyangka bahwa manusia bumi akan begitu egois dan arogan. Jangan bilang kalian harus selalu diberi pelajaran untuk meminta maaf setiap kali melakukan kesalahan? Bukankah itu sama dengan tidak tertolong lagi? Dalam kasus ini, membiarkan kalian mati adalah cara terbaik untuk membersihkan kotoran di dunia."


Tidak ada lelucon dalam setiap kata yang diucapkannya. Mereka bertiga tahu bahwa setiap dari ucapan itu benar-benar serius. Apabila ucapan itu berkata ingin mencincang tubuh mereka, maka pasti seperti itulah kenyataannya.


"Sial, memangnya mengapa kalau egois dan arogan? Selama aku memiliki kekuatan aku tidak peduli dengan hal semacam itu!" pikir Hairan.


"Celaka, orang ini ... sangat mengerikan. Setiap kata yang terlontar dari mulutnya begitu menekan, dan semuanya serius!" pikir Murga ketakutan.


"Meski begitu ... perkataannya memang benar. Aku yang salah disini, tetapi apakah ada jalan untuk kembali? Perkataan ia yang menyinggung bumi, seharusnya dia pemain juga bukan?" pikir Kogia lesu.


"Karena kalian diam, aku anggap kalian sudah mengerti. Maka aku akan mengampuni kalian dengan ... kematian."


Ren memisahkan ketiga bersaudara dari kubus merah yang sama. Dia kemudian menempatkan masing-masing dari mereka dalam kubus yang berbeda agar pekerjaannya lebih mudah dilakukan.


"Ini adalah pertanyaan terakhirku, siapa yang memerintahkan kalian?"


Kogia menutup mata, dan menghela napas panjang. Pikirannya mulai bergerak untuk mengingat masa-masa di mana dia hidup di bumi sebagai pria sederhana yang serba berkecukupan, tapi itu membuatnya senang.


"Baiklah, aku akan mengatakannya ... orang yang memberi kami perintah adalah Kaisar Lodysna, atau lebih tepatnya, [The Four Sovereigns]."


Kogia membeberkan rahasia seolah tidak memiliki beban. Hal itu dipicu oleh keyakinan bahwa dirinya sebentar lagi akan mati, lagipula dia muak diperintah oleh pimpinan tertinggi yang semena-mena itu.


Mengikuti penjelasan Kogia, Murga memberikan rincian yang lebih detail mengenai siapa itu [The Four Sovereigns] yang merupakan pemain teratas dari game Cothenic.


"[The Four Sovereigns] terdiri dari empat orang yang menduduki puncak Cothenic. Tuan, seharusnya Anda tahu maksudnya bukan? Mereka adalah Nezy, Gen-Z, Casmeus, dan terakhir Devaran."


Kogia menimpali, "Mereka memerintahkan kami bertiga untuk menelusuri hutan ini demi mencari sumber kekuatan besar yang dirasakan oleh Devaran. Bagaimanapun, kami hanya sebatas peninjau awal yang dimaksudkan untuk mencari informasi dasar hutan ini."


Lalu, Hairan yang sedari awal diam tersenyum penuh dendam. Sikapnya ini sama sekali tidak menunjukan bahwa ia telah menyerah, malah terlihat seperti seseorang yang menantang kematian.


"Hahahaha, kau memang kuat! Tapi apa kau yakin menyinggung mereka berempat?! Mereka adalah puncak di antara puncak, bahkan jika R.Styx pemain legendaris itu muncul tidak mungkin mampu melawan mereka semu- ... arghh?!!!"


Bibir Hairan meledak tanpa sebab yang pasti. Duri-duri kecil yang berwarna merah muncul dan mengoyak daging serta tulang yang berada di antara mulutnya.


Hairan menjerit kesakitan, dia berguling-guling tak karuan dengan darah yang terus mengucur dari mulutnya yang hancur. Baik Kogia ataupun Murga tidak tahu apa yang sedang terjadi, mereka hanya bisa menatap putus asa atas nasib mengerikan yang diderita temannya.


"Kau terlalu banyak bicara. Apa orang yang bernama Devaran ini sehebat itu? Menggelikan sekali."


Ren lalu menyembuhkan Hairan dan berhasil membuatnya terdiam dalam keputusasaan. Perasaan sakit yang sangat luar biasa itu masih membekas dalam diri Hairan seolah-olah mulutnya masih tetap dalam keadaan hancur.


Kogia bergetar hebat, begitu pula dengan Murga, mereka dengan serentak bersujud untuk meminta keringanan.


"T-Tuan, saya mohon belas kasihan dengan membunuh kami tanpa siksaan seperti itu!"


"T-Tuan, berikanlah Hairan juga belas kasihan. Dia tidak berniat mengatakan itu, dia hanya asal bicara, aku dapat menjaminnya!" pinta Kogia.


Ren memperhatikan mereka bertiga dengan seksama. Lalu, senyum yang tidak berbahaya muncul, dan diikuti oleh keputusan yang telah dia buat.


"Permintaanmu itu, aku tidak dapat mengabulkannya."


TAK! TAK! TAK!


Jentikan jari terdengar tiga kali. Selama itu, Hairan mengalami penyiksaan hebat di mana setiap jentikan akan membuat sebagian anggota tubuhnya meledak dan terkoyak oleh duri-duri merah yang muncul dari dalam dirinya.


Tidak terhitung berapa kali Hairan menjerit kesakitan dan berguling-guling sambil membantingkan tubuh ke pembatas kubus. Hanya yang jelas, ketika Ren menyembuhkan Hairan untuk yang terakhir kali, cahaya kehidupan telah menghilang dari matanya.


"Jika kau memiliki sedikit daripada hati yang tulus maka aku akan memberikan ampunan yang mudah."


TAK!


Jentikan yang terakhir menghancurkan seluruh tubuh Hairan. Kini, Hairan telah benar-benar dimusnahkan dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Sebagai teman, Kogia dan Murga hanya bisa menyaksikan dalam kesedihan akhir kehidupan Hairan yang sangat menyakitkan.


"Kalian berdua, ikut aku kembali dan jelaskan semua yang kalian ketahui!"

__ADS_1


Ren bangkit dari singgasana lalu memerintahkan Avrogan untuk kembali ke bentuknya semula. Hawa dingin memenuhi punggung Kogia dan Murga sesaat setelah menyadari bahwa dua hewan yang mereka kira [Beast Servant] biasa ternyata sama kuatnya dengan Rusava.


"Dari awal, kami tidak mungkin menang ya?" gumam Kogia seraya membayangkan nasib seperti apa yang akan dia terima.


__ADS_2