Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Bloods 4 - Dimension Ring


__ADS_3

"Skill macam apa yang kau gunakan untuk menyembuhkan mereka?"


Anryzel bertanya dengan alis yang berkerut. Rasa penasaran membuatnya tanpa sadar menanyakan hal yang seharusnya tidak perlu dia tanyakan.


"Hm, kau ingin tahu? Tapi itu adalah rahasia."


Nivania tersenyum, senyum itu sangat jelas menunjukan jika dia sedang mencoba untuk mempermainkan Anryzel.


"Hei, kau cukup mengesalkan," ujar Anryzel dalam hati.


Waktu pun berlalu, semua orang yang terluka telah disembuhkan dan saat ini telah kembali ke rumahnya masing-masing. Begitu pula dengan Anryzel dan Nivania, mereka telah kembali ke rumah.


Pada awalnya Anryzel menyuarakan niat untuk membasmi kelompok Redwolf yang menyerang penduduk itu pada Nivania. Tapi entah mengapa Nivania melarang keras dirinya untuk pergi kesana.


Nivania berkata kalau Anryzel mungkin masih dalam proses pemulihan, dan hari pun sudah mulai gelap gulita. Sangat berbahaya bagi Anryzel untuk berkeliaran di hutan seorang diri apalagi bertarung dengan mereka.


Meskipun Anryzel bisa dengan mudah mengalahkan ratusan Redwolf dalam satu waktu dalam Cothenic. Tapi Anryzel berpikir bahwa kali ini adalah dunia nyata. Suatu hal yang berbahaya dapat terjadi kapan saja.


Berbeda dari game yang dimana kematian bukan sebuah masalah yang besar, di dunia nyata nyawa adalah taruhannya. Kematian memiliki arti sebagai game over, dan mungkin tidak akan ada lagi kesempatan kedua. Untuk itu, Anryzel memutuskan untuk menerima saran Nivania terlebih dahulu.


Lalu malam pun segera datang, Anryzel dan Nivania hanya tinggal berdua di rumahnya. Jujur, situasi ini membuat Anryzel merasa sedikit canggung. Bagaimanapun, dia adalah laki-laki dan Nivania adalah perempuan, dan kondisi seperti ini adalah hal yang cukup berbahaya.


"Oh, kita belum makan malam, tunggu sebentar aku akan segera menyiapkan makan malam," ucap Nivania seraya beranjak pergi.


"Baiklah, sekali lagi terima kasih atas pertolonganmu. Sepertinya aku akan merepotkanmu lagi kali ini, Nivania."


"Ya, jangan khawatir dan tunggu saja di situ oke?"


Nivania lantas pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Sedangkan Anryzel lebih memilih untuk pergi ke kamar dan melakukan sesuatu terlebih dahulu.


Anryzel menyadari keberadaan sebuah cincin yang melingkar di jarinya ketika dia dan Nivania selesai menyembuhkan penduduk desa. Cincin ini sangat aneh karena tidak bisa dilepaskan maupun digerakkan. Seolah-olah cincin itu memang bagian dari anggota tubuhnya sendiri.


Anryzel tidak pernah memiliki cincin yang seperti ini, bahkan ketika ia berada dalam game Cothenic. Kesimpulan awal yang bisa dia dapatkan adalah perkiraan, bahwa cincin ini memiliki sesuatu yang spesial di dalamnya.


Sekarang bagaimana caranya untuk membuka rahasia yang ada di balik cincin ini? Anryzel benar-benar serius berpikir. Jika cincin ini termasuk ke dalam item, maka sudah pasti ada cara untuk di aktifkan.


"Jika ini dalam game pasti ada opsi "Gunakan" bukan? Nah, mari kita pikirkan di dunia nyata apa yang bisa kita jadikan sebagai opsi gunakan ini."


Fakta tersebut membuat Anryzel mengingat suatu hal yang paling penting. Sumber dari fenomena dan apa yang menjadi pemicu dari kemunculan fenomena tersebut.

__ADS_1


Jika prinsip di dunia ini hampir sama dengan dunia game tapi hanya berbeda dari segi cara, maka ada satu hal yang patut ia coba. Skill dan sihir adalah fenomena, dan mana (MP) adalah pemicunya.


"Mungkinkah mengaktifkan sebuah item misterius juga menggunakan mana?"


Menyadari ini Anryzel berusaha merasakan mana yang ada dalam dirinya. Tidak membutuhkan waktu lama sebelum dia bisa sedikit demi sedikit merasakan sesuatu yang mengalir di dalam tubuh.


Disaat yang sama, Anryzel mampu merasakan benang-benang bercahaya redup dimana-mana. Apakah ini yang dinamakan dengan mana? Dia tidak tahu dengan pasti.


Setelah bisa merasakan ini dengan baik, Anryzel mencoba untuk mengendalikan dan mengarahkan mana itu ke cincin. Mana itu semakin lama semakin banyak dan terkonsentrasi pada jari miliknya.


Namun karena Anryzel menutup mata untuk meningkatkan konsentrasi, dia tak menyadari bahwa cincin yang dia miliki mengeluarkan cahaya indah berwarna merah. Cahaya itu bagaikan gelombang yang berputar mengelilingi cincin dan jari-jemarinya.


Semakin lama gelombang cahaya semakin membesar, kemudian bergerak perlahan ke hadapan Anryzel. Cahaya itu lantas membentuk sebuah kotak yang lama kelamaan kotak itu menjadi sesuatu yang terasa mirip dengan sebuah pintu.


Anryzel pun membuka mata, dia sedikit terkejut ketika melihat kemunculan pintu cahaya berwarna merah itu. Anehnya, cahaya merah ini hanya berlaku di sekitar pintu, sehingga ruang di sekitar tidak terkena dampak cahaya dan tetap menjadi gelap.


Keterkejutan Anryzel tak berlangsung lama, dia segera memutuskan untuk memasuki pintu itu. Sesaat setelah Anryzel memasuki pintu, kini pandangan nya dipenuhi oleh sebuah ruangan besar yang di isi oleh berbagai macam item layaknya museum.


Anryzel sangat-sangat terkejut, sekaligus merasa bahagia. Secara tidak sadar, dia terperangah dan berkata, "Inventory?!"


Anryzel tidak menyangka akan menemukan inventory yang kini berubah menjadi sebuah cincin. Tentu saja ini keuntungan besar baginya, di dunia yang tidak diketahui keberadaan inventory ini sangat membantu.


Mengesampingkan perasaan senang, Anryzel kemudian menyusuri Inventory yang berubah layaknya sebuah museum itu. Setiap dari item terbungkus oleh kubus transparan seperti kaca. Walau begitu ketika dia mencoba untuk menyentuhnya itu tembus tanpa ada hambatan sama sekali.


Pengamatan Anryzel mendapat sebuah kesimpulan nyata, dimana setiap item ternyata dikelompokan pada tempat yang berbeda-beda.


Mulai dari senjata, zirah, aksesoris, core, potion dan item-item lain yang tidak mungkin disebutkan satu per satu itu difilter berdasarkan kategori masing-masing. Kebetulan, Anryzel memiliki item terbaik berupa senjata, jadi dia menyusuri bagian kategori senjata.


"Aku akan senang jika mereka bertiga masih ada." Mata Anryzel dipenuhi dengan tekad yang membara.


Setelah menyusuri beberapa saat, perhatian Anryzel terfokus pada tiga kubus berwarna biru transparan yang berbeda dari yang lain.


Anryzel pun menghampiri ketiga kubus cahaya biru tersebut. Setelah benar-benar bisa melihat tiga senjata yang ada dalam masing-masing kubus, kegembiraannya memuncak.


"Ahhh ... terkadang takdir tidak selalu berbuat jahat padaku."


Tiga senjata terkuat sekaligus yang terbaik milik Anryzel ini berupa pedang, tombak dan belati. Ketiga senjata itu bahkan tidak digunakan ketika melawan Dragon God yang super kuat.


"<> Nuxuria. Kau memang layak disebut sebagai pedang kelas tertinggi. Bahkan dalam game, sistem tak mampu mendeteksi seberapa hebatnya pedang ini."

__ADS_1


Anryzel menyentuh Divine Soul Sword yang diberi nama, Nuxuria. Memiliki warna putih murni, dan bentuknya sangat sempurna serta berkilauan. Pada gagang nya terdapat ukiran-ukiran indah, bahkan Anryzel bisa mengetahui ukiran ini layak disebut sebagai karya seni sejati.


Anryzel mendapatkan pedang ini pada saat menjelajahi suatu tempat di Cothenic yang bernama Reruntuhan Kuno Langit. Tempat yang secara tak sengaja dia kunjungi, dan di indikasikan sebagai area tanpa peta.


Pedang ini adalah hadiah setelah Anryzel mengalahkan seorang <> yang menjaga tempat itu. Anryzel masih mengingat soal orang itu yang mengoceh bahwa dirinya adalah Dewa berpedang.


"Sungguh pengalaman yang konyol, bagaimana bisa seorang Dewa pedang dikalahkan oleh pendekar pedang sepertiku?"


Tapi, berkat pedang inilah Anryzel bisa mendapatkan kedua senjata lain yang tidak kalah hebatnya.


Anryzel mengarahkan pandangan nya ke arah samping. Disana terdapat kubus yang berisi sebuah Tombak berwarna hitam dengan corak merah yang unik. Tombak ini mengeluarkan aura merah kehitaman seperti angin tornado yang mengelilinginya.


"<>, Ganzalan. Nama yang membuatku merasa ragu, apakah dewa memang memiliki darah?"


Tombak ini Anryzel dapatkan saat dia berpetualang seorang diri di dunia bawah. Secara kebetulan, nasib membawanya ke sebuah Istana dari Demon God yang perkasa.


Beruntung pada saat itu Anryzel memiliki pedang Nuxuria di tangannya. Jadi dia bisa memenangkan pertempuran melawan musuh yang memiliki gelar Demon God itu.


Namun sayangnya, Anryzel tidak memiliki job apapun yang berkaitan dengan senjata tombak. Sehingga dia mungkin tidak akan mampu mengeluarkan potensi sesungguhnya dari Ganzalan.


"Kalau sekedar mengayunkan, sudah pasti aku bisa."


Anryzel melirik ke arah kubus berisi sebuah belati dan menyentuhnya. Sebuah belati indah semi-transparan yang warnanya tidak menunjukan suatu ketetapan.


Setiap saat warna belati itu selalu berganti menjadi merah, hijau, kuning, putih, biru, dan sebagainya. Belati itu melengkung dengan indah dan misterius, bahkan diantara ketiga senjata itu, dia mengakui bahwa belati ini adalah yang paling misterius.


Bisa dikatakan Anryzel mendapatkan belati ini juga secara tak sengaja. Namun berbeda dari dua senjata lain yang dia dapatkan sebagai hadiah mengalahkan musuh, belati ini di dapatkan dari sebuah ruang putih kosong pada saat dia tak sengaja memasukinya.


"Mungkinkah belati ini ada hubungan nya dengan para roh? mengingat namanya adalah <> Aschal."


Anryzel mengesampingkan pertanyaan tak berdasar itu. Hal yang paling penting disini adalah dirinya puas karena ketiga senjata ini masih ada dalam cincin misterius.


"Ah ... sial, aku harus segera kembali."


Anryzel berlari ke arah dimana pintu masuk berasal. Dia pun bergegas melompat keluar dari pintu tersebut. Matanya melihat ke kanan dan ke kiri untuk memastikan keadaan sekitar.


Dia pun menghela napas dan bergumam, "Masih aman."


Anryzel pun menuju ke ruang makan kembali, beruntung pada saat dia datang Nivania baru saja menyelesaikan persiapan makanannya. Sehingga, Anryzel bisa makan dengan tenang tanpa khawatir. Sesudah makan malam bersama, Anryzel segera menuju kamarnya dengan alasan beristirahat.

__ADS_1


___________________________________________


[#Author Note : Telah Direvisi sehingga dipastikan ada beberapa hal yang tidak sinkron dengan ch² selanjutnya!]


__ADS_2