
Kelompok A yang terdiri dari 30 orang ksatria, 20 orang penyihir, dan 15 orang murid akademi ditugaskan untuk menangani arah utara perkemahan di mana monster-monster kelas tertinggi muncul di sana.
Monster-monster tersebut adalah King Scorpion Corrosive, Lightning Blade Snake, dan Twin Head Wyvern. Mereka adalah monster kelas tertinggi di hutan ini, dan merupakan penguasa yang terkuat di antara monster-monster lainnya.
Sebagai perumpamaan, seekor King Scorpion Corrosive bisa menjadi ancaman besar bagi kota Aulzania, sementara itu yang mereka hadapi kali ini adalah lima ekor King Scorpion Corrosive, delapan ekor Lightning Blade Snake, dan sepuluh Twin Head Wyvern.
Sekelompok monster yang tidak mungkin bisa mereka kalahkan walaupun mengerahkan seluruh kemampuan dari satu kerajaan. Akan tetapi, meski tidak ada kemungkinan menang, mengapa mereka tetap berusaha melawan? Ini karena kepercayaan mereka yang sudah kuat.
Mereka telah percaya dengan keyakinan penuh terhadap kata-kata Anryzel yang mengatakan bahwa mereka mampu, dan jika kemungkinan terburuk muncul, mereka juga percaya bahwa Anryzel akan datang untuk menyelamatkan. Oleh karena itu, semua anggota kelompok A yang dipilih berdasarkan kemampuan terbaik dari para ksatria, penyihir, dan murid akademi telah membuat barisan pertahanan yang rapi dan kokoh.
Para ksatria menyebar dalam bayang-bayang hutan, memantau situasi dan pergerakan para monster yang berdatangan. Sementara itu, para penyihir sibuk merapalkan berbagai macam sihir, mulai dari sihir perlindungan kepada garis terdepan, sihir penghalang dari serangan, dan beberapa sihir jebakan yang mungkin akan berguna di pertempuran.
Lalu murid akademi membantu ksatria dan penyihir dalam berbagai hal, mereka yang memiliki kemampuan observasi tentu akan bersama dengan para ksatria, sedangkan sisanya yang tidak, bertugas untuk melindungi penyihir yang sedang fokus dengan sihir mereka.
Waktu terus berjalan sampai akhirnya, satu ekor King Scorpion Corrosive telah tiba di tempat mereka. King Scorpion Corrosive yang memiliki tubuh raksasa berjalan terus di antara pepohonan, dan menghancurkan apapun yang terinjak olehnya.
King Scorpion Corrosive tidak begitu sensitif, untuk itu dia tidak menyadari keberadaan para ksatria, dan jebakan-jebakan sihir yang telah dipasang oleh para penyihir. Begitu King Scorpion Corrosive tiba di suatu titik, jebakan sihir masif yang dibuat oleh beberapa penyihir aktif sehingga membuat tanah di sekitar King Scorpion Corrosive bergerak dan mengikatnya.
King Scorpion Corrosive menggeliat, berusaha melepaskan ikatan tanah yang mengekang erat sejumlah kakinya. Tubuhnya kemudian mengeluarkan asam kuat yang sanggup melelehkan besi sekalipun, tetapi itu sepertinya tidak berpengaruh pada sihir tanah yang disiapkan oleh penyihir.
Begitu King Scorpion Corrosive mulai kehabisan akal untuk melepaskan diri dan berniat menggunakan seluruh kekuatannya untuk terbebas, para ksatria muncul dengan senjata di tangan mereka.
"Semuanya, serang di titik-titik lemahnya!" perintah pemimpin pasukan.
__ADS_1
Lima belas orang dikerahkan untuk menumbangkan King Scorpion Corrosive. Mereka kemudian berpencar untuk mengincar titik-titik lemah dari King Scorpion Corrosive dengan jumlah lima orang untuk setiap titik lemah. King Scorpion Corrosive memiliki tiga titik lemah yang berada di pangkal ekor bagian bawah, perut, dan mata.
Hal ini seperti yang dijelaskan oleh Anryzel ketika para ksatria berada dalam masa-masa pengajarannya. Anryzel secara rinci menerangkan bahwa King Scorpion Corrosive memiliki ketahanan yang sangat tinggi untuk serangan fisik dan sihir, tetapi memiliki kelemahan yang sangat rentan di antara ketiga titik tersebut.
Anryzel juga memberikan saran kepada mereka, jika melawan King Scorpion Corrosive alangkah baiknya dengan menggunakan jebakan tanah, lalu beberapa orang bertugas untuk menyerang titik lemahnya. Adapun serangan yang dianjurkan untuk menghabisi King Scorpion Corrosive adalah sebuah serangan yang kuat dan berelement.
Untuk itu, lima orang masing-masing akan silih berganti menyerang dengan serangan berelement pada titik-titik lemah yang telah ditentukan. Hal ini dilakukan agar menghemat waktu dan tenaga pasukan untuk menghadapi monster yang lainnya.
"Sekarang!!!" teriak pemimpin pasukan.
Mereka mulai menyerang titik lemah King Scorpion Corrosive. Gelombang serangan pertama dilakukan oleh para pengguna pedang. Mereka menebaskan pedang yang diperkuat oleh sihir element pada titik lemah King Scorpion Corrosive.
Serangan beruntun yang dilakukan secara bersama-sama dan menyerang titik lemahnya membuat King Scorpion Corrosive bergetar kesakitan. Dia lantas melakukan pemberontakan dengan cara membanting-bantingkan bagian ekor yang tidak terikat.
Para ksatria segera menarik mundur terlebih dahulu, dan para penyihir langsung memperkuat efek jebakan yang dihasilkan. Setelah beberapa saat, King Scorpion Corrosive kembali melemah, dan gelombang serangan kedua dilancarkan secara beruntun dan bersama-sama pula.
Melihat tanda-tanda King Scorpion Corrosive yang akan segera tewas, membuat sang pemimpin pasukan memerintahkan para penyihir untuk melakukan serangan penghabisan, yaitu serangan sihir berelement.
Serangan sihir berelement pun dilancarkan sehingga membuat satu ekor King Scorpion Corrosive tewas seketika. Meskipun King Scorpion Corrosive berhasil dikalahkan tanpa perlawanan yang berarti, tetapi sebenarnya membutuhkan banyak usaha untuk menumbangkan satu saja.
Mana para penyihir memiliki batas, dan itu sudah banyak terkuras hanya untuk menahan pergerakan King Scorpion Corrosive. Sedangkan para ksatria, mereka memang memiliki banyak tenaga yang tersisa, tapi tanpa bantuan penyihir maka situasi seperti ini tidak akan pernah terjadi.
Oleh karena itu, mereka hanya berharap bisa melakukan perlawanan sebaik mungkin walaupun memusnahkan semua monster tingkat tinggi itu adalah hal yang mustahil.
__ADS_1
Satu ekor King Scorpion Corrosive adalah pemanasan dan pembukaan karena pertempuran yang sebenarnya akan tiba di hadapan mereka. Empat ekor King Scorpion Corrosive bergerak bersama-sama, diikuti oleh delapan Lightning Blade Snake, dan sepuluh Twin Head Wyvern.
Tiga jenis monster terkuat yang biasanya saling memperebutkan wilayah kekuasaan, kini malah bekerja sama untuk menyerang perkemahan mereka. Mungkin tidak ada yang menyadari bahwa semua ini disebabkan oleh guru sekaligus pembimbing mereka, yaitu Anryzel itu sendiri.
Ketika kelompok A mulai ragu-ragu dengan pertempuran yang akan hadapi, dan ketidakpercayaan diri mulai muncul dalam diri masing-masing, saat itulah bala bantuan datang dari kelompok lain yang telah menyelesaikan tugasnya.
Dalam kelompok bala bantuan tersebut juga terdapat seorang Nivania. Kedatangan bala bantuan ini tentu menambahkan kembali kepercayaan diri kelompok A sehingga mereka merasa yakin bahwa kemenangan berada di tangan mereka.
Alih-alih menyerah, mereka bertekad untuk memenangkan pertempuran ini. Tidak hanya sebagai titik pembuktian kemampuan dan perkembangan, tetapi juga demi kesejahteraan kerajaan. Karena dengan berkurangnya jumlah monster kuat di hutan ini, meningkatkan kemungkinan kemajuan kerajaan Aulzania dalam mengelola wilayahnya.
Sementara itu di sisi yang lain, Anryzel menatap semua muridnya yang bersiap menghadapi para monster. Anryzel berada dalam mode penyembunyian diri sehingga keberadaannya tidak disadari, baik itu oleh para monster maupun para murid.
"Bagaimana menurutmu, berapa besar kemungkinan mereka menang?"
Mantan True Devil yang masih bersemayam dalam diri Anryzel bertanya secara tiba-tiba. Entah karena merasa tertarik, atau merasa khawatir, Ahn bertanya dengan nada suara yang beremosi.
"Jujur saja, mungkin hanya lima puluh persen."
Anryzel menjawabnya dengan santai. Kemungkinan menang sebesar lima puluh persen itu tidak ada bedanya dengan pertaruhan. Tidak ada yang pasti, kalah ataupun menang semuanya tergantung keberuntungan.
"Bagaimana jika mereka dikalahkan? Akankah kau membantu?"
Anryzel mengernyitkan alis ketika mendengar pertanyaan Ahn. Apa yang dirasakan oleh Anryzel saat ini adalah kepercayaan penuh terhadap muridnya. Apapun yang terjadi, bagaimanapun caranya, Anryzel berharap para murid bisa menang tanpa bantuannya.
__ADS_1
Akan tetapi, apabila situasi terburuk memang benar-benar terjadi, maka tidak ada pilihan lain selain membantu mereka. Setidaknya, jangan sampai ada korban jiwa karena itu akan melanggar janjinya.
"Tentu saja," balas Anryzel singkat.