
Matahari telah berada di puncaknya, namun belum ada tanda - tanda Turnamen akan segera berakhir. Pertandingan demi Pertandingan telah terlewati, tidak ada satupun dari mereka yang menarik minat Ren. Selain dari Arniga dan Ksatria Wanita, semua Pertandingan berlangsung dengan cara yang membosankan.
Saat ini, Ren sedang berada dihalaman sebuah Mansion yang cukup besar. Alasan Ren berada disini saat ini, karena tidak ada lagi Pertandingan yang menarik perhatiannya.
"Bukankah anda sedang menonton Turnamen?" Kanza yang muncul dari dalam Mansion bertanya.
Ren datang lebih awal daripada yang dijanjikan, karena itu Kanza merasa sedikit kebingungan atas kedatangan Ren kali ini.
"Tidak ada pertandingan yang menarik perhatianku, maka dari itu aku memutuskan untuk memenuhi janji ini lebih awal." Balas Ren.
"Ha.. Begitukah? Oke, mari ikuti aku untuk bertemu dengan Ketua. Kebetulan, ada seseorang yang mungkin anda kenal."
"Seseorang yang aku kenal..?"
Selama tiba ke dunia ini, hanya sedikit orang yang telah Ren kenali. Jika perkataan Kanza memang benar, seharusnya itu orang dari Party Four Springs. Tetapi, semua kemungkinan bisa saja terjadi, Ren mencium bau - bau permasalahan baru kali ini.
"Lupakan itu, ayo segera menemui ketuamu." Ren mengindikasikan Kanza agar segera memandunya.
Dengan di pandu oleh Kanza, Ren memasuki mansion bersama kedua orang bawahannya.
Seperti biasa, kedua orang bawahan Ren sama sekali tidak bersuara. Mereka hanya akan bersuara ketika saat - saat tertentu saja. Ren juga sedikit penasaran akan sikap mereka yang satu ini.
"Oh, aku melupakan satu hal, siapa Nama Ketua Guild mu itu Kanza?" Ren bertanya pada Kanza yang berjalan di depannya.
"Ah, Apakah aku belum memberitahu anda?" Kanza berbalik dengan wajah tanpa dosa miliknya.
"Hm.. Kepalamu ingin kuledakan??" Senyum menakutkan melengkung di wajah Ren.
"Ugh... Jangan berkata seperti itu, aku hanya sedikit pelupa... Ketua adalah seorang yang menduduki Peringkat Ke-17 dari seluruh COTHENIC, dan Namanya adalah, Arnicko." Jelas Kanza.
"Arnicko..? Nama yang aneh." Ren mengangkat alisnya.
Nirlayn dan Rakuza yang sedari tadi selalu menyimak pun memasang wajah aneh. Mereka juga menganggap Nama yang satu ini cukup aneh. Kanza yang menyadari Ekspresi ketiga orang di belakangnya segera memberi penjelasan.
"Itu adalah Nama yang Ketua Gunakan dalam Game, Nama aslinya aku tidak tahu." Kanza menggelengkan kepala nya.
"Aku mengerti, bahkan Nama ku dalam Game sama anehnya...." Ren mengakui hal itu.
Pembicaraan antara Ren dan Kanza membuat perjalanan menjadi tidak terasa. Kanza tiba - tiba berhenti di depan sebuah pintu yang cukup besar. Ren bisa merasakan beberapa mana dari banyak orang yang ada di balik pintu ini. Ada satu mana dengan jumlah terbesar diantara yang lainnya, Ren menebak bahwa orang yang memiliki mana ini adalah Ketua Guild Petualang, Arnicko.
"Kita sudah sampai, aku harap Tuan Dirvaren siap.." Kanza memperingatkan.
Tanpa basa - basi, Kanza langsung membuka pintu tersebut. Pintu terbuka dengan cara yang amat Dramatis, itu terbuka secara perlahan - lahan, menghasilkan suara yang menderu ketika pintu dengan sedikit demi sedikit terbuka.
"Aku mengerti..." Ren mengangguk atas peringatan Kanza.
Pintu terbuka, sebuah Ruangan yang di dalamnya terdapat sebuah Meja yang memanjang. Di Kedua sisi Meja, terdapat Kursi - Kursi yang berjajar Rapi. Mayoritas dari Kursi yang ada telah terisi, ada sebagian pria dan ada sebagian wanita.
Sontak saja, semua yang sedang duduk di Kursi itu mengalihkan perhatian mereka pada Ren dan lainnya. Mereka menatap dengan seksama, terutama pada Ren dan Kedua orang yang ada di belakang nya.
"Semua, dia adalah sosok R.Styx yang aku bicarakan..." Kanza menunjuk Ren yang berdiri di dekatnya.
Semua orang pada awalnya memandang satu sama lain, sebelum akhirnya mereka dapat mencerna apa yang dikatakan oleh Kanza.
"Jadi dia?!"
"Serius!?"
"Kyaa! idaman!"
Orang - orang yang sedang duduk itu seketika heboh. Mereka dengan cepat berlari dan mendekati Ren yang sedang berdiri.
"Apa itu benar?! R.Styx?!"
"Tuan R.Styx! aku tak menyangka akan bertemu denganmu di dunia ini!"
"Aww! Tampan sekali!"
Mereka semua berkerumun mengelilingi Ren dari semua sisi. Kanza yang sedang berdiri di dekat Ren mau tak mau tersingkir menjauh karena kerumunan ini. Pemandangan ini terlihat mirip seperti seorang Idola yang dikerumuni penggemarnya.
Tidak semua orang dari mereka mengerumuni Ren, ada tiga orang yang masih duduk di tempatnya. Seorang lelaki yang cukup tua adalah salah satunya. Kemudian, dua orang lagi adalah seseorang yang Ren kenal. Mereka adalah, Cethy dan Yarth dari Moon Alliance.
Brak!
Lelaki yang cukup tua itu memukul meja dengan tangan kanan nya. Sontak semua orang yang mengerumuni Ren berbalik dengan wajah yang pucat pasi.
"Kalian duduk kembali!" Lelaki itu berteriak marah.
Suaranya begitu keras dan berat, cocok dikatakan jika dia adalah seseorang yang mudah marah dan kejam. Hanya dengan satu teriakannya, mereka yang mengerumuni Ren satu per satu duduk kembali.
"Ketua, tidak menyenangkan..."
"Sstt, nanti Ketua mendengarmu.."
__ADS_1
"Hii.. Ketua memang menakutkan."
Mereka berbisik satu sama lain, bisikan mereka sebenarnya tidak berguna. Semua bisikan mereka terdengar dengan jelas. Mendengar bisikan ini, wajah Lelaki Tua mengeras, urat - urat wajahnya bahkan terlihat.
"Diam! kalian, apakah kalian ingin kusiksa lagi ha?!"
Lelaki itu marah dengan wajah yang menggebu - gebu, semua orang diam seketika. Mereka tidak berani berbicara sedikitpun setelah lelaki itu mengatakan akan menyiksa mereka.
Perilaku mereka yang unik mengundang ketertarikan dari seorang Ren. Dia memperhatikan dengan seksama mereka, terutama pada Lelaki yang sedang memarahi para bawahannya itu.
'Hei, seorang yang menarik, pantas Kanza tidak ingin diam lebih lama di Guild Petualang ini..' Hanya sedikit, Ren merasakan apa yang dirasakan oleh perasaan Kanza.
Lelaki itu sepertinya menyadari Ren yang memperhatikan mereka dengan wajah aneh. Dia segera memperbaiki postur dan ekspresi wajahnya. Lalu, dia tersenyum ke arah Ren...
"Ehm! Maafkan sikapku barusan... Selamat datang, Tuan R.Styx yang terhormat."
Lelaki itu menyambut Ren dengan tulus, dia mengatakan hal itu dengan nada yang penuh kesopanan.
"Tidak masalah, aku sudah terbiasa dengan hal itu." Balas Ren dengan tersenyum kecut.
"Aku senang mendengarnya, Tuan R.Styx..."
Lelaki itu memandangi kedua orang dibelakang Ren, perilaku dia sangat jelas menandakan Rasa penasarannya tentang siapa Kedua orang di belakang Ren.
"Oh, kau penasaran siapa dua orang di belakangku? ini adalah Rakuza, dan ini adalah Nirlayn, mereka berdua adalah bawahan yang aku percayai." Ren menunjuk bergiliran pada Rakuza dan Nirlayn.
"Jadi begitu, Aku mengerti Tuan R.styx, tetapi maafkan aku karena kursi disini tidak cukup untuk mereka..." Lelaki itu terlihat bermasalah.
"Tunggu sebentar.. Nirlayn, Rakuza, kalian tak masalah jika berdiri untuk sementara waktu?" Ren melirik keduanya.
"Tidak masalah, Ren-sama." Nirlayn menjawab dengan mantap.
"Tidak apa, Tuan Dirvaren." Balas Rakuza.
Semua orang saling memandang satu sama lain. Mereka merasa bingung oleh Rakuza dan Nirlayn yang memanggil Ren dengan cara yang berbeda.
"Baiklah, mereka bilang tak masalah..." Ren berbalik pada lelaki itu dan tersenyum.
"Um.. Kalau begitu, silahkan duduk Tuan R.Styx, begitu juga denganmu Kanza."
Ren dan Kanza duduk di tempat yang telah di sediakan sebelumnya. Ren duduk berhadapan dengan Ketua Guild Petualang yang ada di sisi lain. Sementara Kanza, duduk di sebelah Ren, untuk Nirlayn dan Rakuza, mereka berdiri di kedua sisi Ren yang sedang duduk.
"Baiklah Tuan R.Styx, mungkin kami semua tahu siapa anda. Tapi, aku yakin anda tidak mengenal kami kecuali Kanza dan dua orang disana." Ketua Guild, Arnicko menunjuk Cethy dan Yarth.
"Ya, kau benar..." Ren mengangguk.
Arnicko, terlihat berada di umur 30 tahunan. Dia memiliki wajah yang tegas, Rambut coklat yang disisir kebelakang, serta tubuhnya yang masih kokoh.
"Hmm... lalu apa pembicaraan serius itu, tentu ini bukan hal yang baik kan?" Ren menyipitkan matanya.
"Pertama biarkan mereka berdua bercerita..." Arnicko menunjuk pada Yarth dan Cethy.
"Hm..?" Ren melirik kedua orang itu.
Sebelumnya, Ren sama sekali tidak menyadari wajah suram dari Yarth dan Cethy. Tetapi, setelah memperhatikan mereka dengan seksama, Ren sadar bahwa mereka sedang murung dan sangat bersedih
"Terima kasih Tuan Arnicko..." Yarth berbicara lemah.
Ren menyadari ada sesuatu yang tidak beres disini. Yarth dan Cethy tidak pernah mengeluarkan ekspresi seperti ini, bahkan ketika bawahan mereka terbunuh di Reruntuhan Kota Napetha.
"Sepertinya, kalian mengalami masalah serius. Katakan padaku, apa itu.." Ren bertanya pada Yarth yang murung.
"Aku tak menyangka seseorang yang menyelamatkan kami adalah R.Styx... Jika tahu lebih awal, mungkin kami berdua akan berbicara sopan pada anda..."
Tidak ada semangat sedikitpun dalam perkataan Yarth.
"Yah, lupakan itu, Tuan R.Styx... sebenarnya kami telah dikhianati." Yarth menunduk dan menatap meja.
Mendengar kata Pengkhianatan, merubah Ekspresi Ren dalam sekejap mata. Kini wajahnya menjadi serius, hanya dengan melihat sorot matanya sudah mengindikasikan dengan jelas, bahwa suasana Hati Ren sudah menjadi buruk.
"Aku paling tidak suka mendengar hal ini, siapa yang mengkhianati kalian?"
"Orang yang paling kami percaya, adalah orang yang mengkhianati kami... Dia adalah Master Zenzu, pemimpin dari Moon Alliance."
Yarth mengepalkan kedua tangannya di atas meja. Perasaan menyesal yang amat besar terlihat dalam wajahnya yang murung. Bukan hanya itu, sorot matanya kini dipenuhi oleh kebencian yang mendalam.
"Ya ampun, ternyata ini penyebab perasaan tidak enak dihatiku." Ren memegang kepalanya.
"Jelaskan padaku secara Rinci, sekarang juga." Nada Ren sangat dingin, sangat jelas bahwa dia dalam kondisi hati yang buruk.
Semua orang merasakan udara menjadi berat setelah Ren mengatakan hal itu. Aura yang Ren keluarkan dengan tidak sengaja membuat tubuh mereka bergetar sesaat.
"Yah, Aku tidak akan menganggapnya master lagi, Zenzu sialan itu..." Yarth menggemertakan giginya.
__ADS_1
"Anda tahu? sejak saat Di Kota Ceeven, pengkhianatan dari Zenzu dimulai.."
"Cethy saat itu mengabarkan padaku tentang kematian dua orang temanku, yaitu Verthin dan Rugma. Saat itu kami berdua tidak menyadari keanehan sedikitpun..."
"Maksudmu, kedua temanmu itu dibunuh oleh Zenzu ini..?" Ren bertanya pada Yarth yang sedang bercerita. Nadanya begitu dingin dan menusuk.
"Tidak, Kedua teman kami dibunuh oleh kelompok Night Corpse, tetapi orang yang memberitahu keberadaan mereka adalah Zenzu.."
"Darimana kau meyakini bahwa Zenzu penyebab semua ini..?"
Ren kembali bertanya, pemandangan ini terlihat seperti... Orang yang sedang di interogasi. Tetapi orang yang menanggapi pertanyaan Ren bukan Yarth melainkan Kanza.
"Biar aku tebak, kau menemukan sesuatu yang mencurigakan pada saat itu, lalu kecurigaan mu ini dipastikan kebenarannya belum lama ini. Apa aku benar?" Kanza menyuarakan pendapatnya dengan percaya diri.
"Kanza kan? kau benar.... Lalu, pada saat kami berencana menyerang kelompok Night Corpse yang ada di Reruntuhan Napetha itu... Seharusnya kami menyadari kejanggalan perintah Zenzu yang aneh. Begitu juga dengan Night Corpse yang seakan menyadari serangan yang di rencanakan oleh kita."
"Tetapi, dengan cerobohnya kita masih melaksanakan perintahnya itu. Sebenarnya, aku sedikit menyadari keanehan dari semua itu, tetapi karena kepercayaan ku pada Zenzu, aku berusaha menyangkalnya..."
"Pengkhianatan Zenzu semakin terlihat setelah berpisah dengan anda di Kota Rondelia, kami kembali ke markas utama Moon Alliance. Namun, saat kami kembali para pemain yang menjadi anggota Moon Alliance semakin berkurang jumlahnya.."
"Lagi - Lagi kami mengabaikan semua itu, kami lebih mempercayai perkataan Zenzu yang mengatakan bahwa mereka terbunuh oleh Kelompok Night Corpse."
"Semakin hari, orang - orang semakin menghilang tanpa kabar.. Aku dan Cethy menerima laporan dari Zenzu bahwa mereka dibunuh oleh Night Corpse, kami pun merasakan kemarahan yang luar biasa."
"Disaat kami merasakan amarah, sebuah Informasi baru muncul dari bawahanku. Dia mengatakan Night Corpse akan mengadakan pertemuan mereka kembali..."
"Pertemuan itu dilaksanakan malam tadi di Mansion Kosong sebelah Timur Kota ini. Aku dan Cethy, bersama dengan anggota yang masih ada kesana, dengan cerobohnya kesana, untuk membalaskan dendam teman - teman kami yang mereka bunuh....."
"Tapi, anda tahu apa yang kami lihat ketika kami sampai disana..?" Yarth menatap Ren dengan wajah penuh kesedihan.
"Zenzu sialan itu, sedang tertawa bersama dengan kelompok Night Corpse, dia dengan wajah tanpa dosa nya itu, memberikan anggota dari Moon Alliance yang kami sangka telah terbunuh, pada kelompok Night Corpse...!"
Kedua mata Yarth mengeluarkan air mata, dia tidak sanggup menahan kesedihan dan kemarahannya saat ini. Bibirnya bergetar saat bercerita...
"Zenzu sialan itu, dia hanya memikirkan diri sendiri..."
"Kami mengetahui semua niat busuk dia malam tadi... dia dengan sengaja menyerahkan anggota Moon Alliance agar dirinya tidak dibunuh oleh perempuan itu.."
"Perempuan itu sangat mengerikan, dengan kemampuan Necromancer miliknya.... Dia mengendalikan mayat - mayat manusia sebagai pasukan nya."
"Perempuan Necromancer ya.... Rakuza, katakan padaku apa kau mengetahui soal ini." Ren melirik pada Rakuza, bermaksud untuk menanyakan perihal Wanita Necromancer.
Tapi.... Wajah Rakuza menegang, dia mengingat seseorang yang amat dia benci. Seorang yang telah membunuh teman - temannya dulu, seorang itu adalah... Wanita Necromancer. Wanita itu pula yang telah menjadikan Temannya Kinna, sebagai sandera sampai saat ini.
"Grgg.... Tuan Dirvaren, dia adalah... musuh terbesarku." Rakuza mengatakannya dengan penuh kebencian.
"Begitu, lanjutkanlah Yarth.."
"Tuan R.Styx Keputusasaan menyerang kami pada saat kami menyadari, bahwa mayat - mayat itu ternyata anggota Moon Alliance yang telah Zenzu serahkan..."
Brukkk!
"Hiks...! Hiks...!" Cethy tersungkur pada meja, dia menangis mendengar perkataan Yarth yang mengingatkannya pada mimpi buruk.
"Teman kami dijadikan pasukan m-mayat, Grtt.. lebih ku-kurang ajarnya lagi....!. Tubuh mereka digabungkan dengan tubuh monster..! Pemandangan itu... Pemandangan itu.... Sangat - Sangat kejam...!"
Yarth menangis, dia mengepalkan Tangan nya, wajahnya terlihat ketakutan, namun disisi lain dia juga sangat marah.
"Dari semua orang yang melaksanakan aksi itu... hanya kami berdua, yang selamat. Ka-Karena pengorbanan.. para bawahan kami." Yarth, berbicara putus asa.
Seketika semua orang yang hadir merasakan perasaan yang sama.. Perasaan itu adalah kemarahan yang muncul dihati mereka. Kemarahan yang amat sangat dalam...
Suasana di Ruangan itu menjadi sangat suram, tidak ada yang mengomentari perkataan Yarth. Hanya dua orang yang menangis terisak lah yang mengeluarkan suara.
Dururururur!
Getaran yang hebat menggoncang seluruh mansion. Semua orang yang hadir merasakan Goncangan yang amat tiba - tiba ini. Lalu, mengikuti Goncangan itu, Aura yang amat mengerikan menyembur dengan hebatnya...
Aura itu, berasal dari seorang yang sedang duduk dengan wajah tenang. Namun, dibalik ketenangan nya itu, tersimpan amarah yang sangat besar.
"Hei, Dimana pria yang kau sebut Zenzu? Dimana wanita Necromancer itu..?" Suara Ren bagaikan sebuah Nafsu membunuh, semua yang hadir merasakan nafas mereka menjadi sesak seketika.
Kedua mata merah Ren menyala dengan hebat, Aura merah darah tidak henti - henti nya menyembur keluar dari tubuhnya itu.
"Rencanaku berubah, aku akan membinasakan Zenzu dan Wanita ini terlebih dahulu... Dimana mereka berada sekarang, cepat jawab aku." Ren, benar - benar... marah.
"Guhk... Tuan R.Styx, m-mereka a-akan datang sendiri... saya mendengar Rencana mereka yang akan menyerang Colosseum esok hari.." Yarth menghentikan tangisannya, Aura yang dikeluarkan Ren mengalahkan kesedihan yang dia Rasakan.
"Hahaha..Lupakan, mereka telah menyerahkan nyawa mereka sendiri....." Ren mengatakannya dengan senyuman menakutkan.
Mereka semua tidak mengerti, apa yang dimaksud oleh Ren menyerahkan nyawa mereka sendiri. Yang pasti, mereka menyadari, bahwa sang legenda hidup bernama R.Styx, saat ini benar - benar marah..
Hanya beberapa detik kemudian....
__ADS_1
Badummm!
Sebuah Ledakan yang luar biasa terdengar, asal suara ledakan ini dapat dipastikan berasal dari.... Colosseum Kota Aulzania.