Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 40 : Nirlayn dan Persiapan Konferensi.


__ADS_3

Ren terbangun, mata nya memandangi segala hal yang ada di sekitarnya.


"Hm..? Matahari belum terbenam..? Tidak, ternyata hari sudah berganti."


Ren menyadari bahwa dia telah tertidur cukup lama. Waktu yang seharusnya masih sore sebelum Ren tertidur kini sudah berganti menjadi pagi hari.


"Ya ampun, ternyata apa yang aku lupakan adalah Nirlayn dan Lin-Ya. Tetapi, seharusnya mereka akan baik - baik saja kan? Mari kita panggil Nirlayn nanti."


Ren beranjak bangun, dia meregangkan anggota tubuhnya, kemudian mulai berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Beberapa menit kemudian..


Ren telah keluar dari kamar mandi dan langsung mengenakan Pakaian miliknya kembali. Dia kemudian duduk di Ranjang kamar itu dengan Elegan terlihat tengah mempersiapkan sesuatu.


"Penuhi panggilanku, [Contract : Call]."


Tubuh Ren bersinar merah tetapi itu hanya berlangsung sesaat sebelum menghilang kembali. Ren mengangguk dan terlihat puas setelah melakukan hal ini.


Tidak lama setelah itu, ada sebuah angin yang tiba - tiba berhembus dari arah luar jendela. Diikuti oleh sebuah sosok yang memasuki Kamar ini dengan cepat. Sosok itu langsung menghadap dan berlutut ke arah Ren yang sedang duduk di kasurnya.


"Ren-sama, Terima kasih telah memanggil saya."


Sosok itu tidak lain adalah Nirlayn Mlaina, seorang yang menjadi bawahan Ren. Karena dirinya memiliki Kontrak yang terikat dengan Ren, maka Ren dapat memanggilnya kapan pun. Tetapi, bukan berarti Nirlayn bisa langsung hadir di hadapan Ren layaknya sebuah teleportasi. Lebih tepatnya Ren yang menunjukan lokasi dimana dia berada, lalu Nirlayn akan bergerak dengan cepat menuju lokasi itu.


-


"Nirlayn, pertama maafkan aku karena telah mengabaikanmu untuk sementara waktu." Ren berkata dengan tulus, dia memang benar - benar meminta maaf.


"A-Anda tidak perlu meminta maaf, Saya tidak memikirkannya sedikitpun." Nirlayn buru - buru menggelengkan kepala nya.


"Apakah itu benar..? lalu sebelum aku mengatakan suatu hal. Apa ada sesuatu yang ingin kau bicarakan?"


"Anda menyadarinya Ren-sama? Baiklah Ren-sama, saya ingin mengatakan suatu hal berkaitan dengan Vampire."


'Vampire?' Ren mengerutkan alisnya.


Vampire adalah Ras yang populer di Game COTHENIC dulu. Mereka berspesialisasi dalam Sihir kabut dan Pikiran, dan menggunakan Cakar mereka sebagai senjata jarak dekat. Sebenarnya, mereka dapat menggunakan senjata umum seperti halnya Ras lain. Namun, keefektifan mereka dalam menggunakan senjata sangat kecil. Maka dari itu Mayoritas pemain lebih mengutamakan Kemampuan Sihir Kabut Ilusi dan Cakarnya itu dibandingkan menggunakan senjata atau Sihir lainnya.


Ren menghilangkan segala pikiran yang ada di otaknya. Tidak baik bagi Ren untuk melamun sendiri sementara Nirlayn menunggu jawabannya.


"Vampire, ada apa dengan mereka?"


"Ya, mereka telah berkhianat Ren-sama."


Raut wajah Ren berubah seketika, dari yang awalnya keheranan sekarang bertambah menjadi kebingungan.


"Apa maksudmu...?" Ren mencoba meminta penjelasan pada Nirlayn.


"Ya, mereka telah mengkhianati Ras kita, bagaimana mungkin Ras kita dilupakan jika itu bukan perbuatan dari mereka?" Kata - Kata Nirlayn dipenuhi oleh Rasa marah.


"Tunggu, aku akan berpikir lebih dulu..." Ren mencoba mencerna maksud dari perkataan Nirlayn.


Ren baru menyadari setelah mendengar perkataan Nirlayn, sejak pertama kali dia datang ke dunia ini, Ren belum pernah sekalipun mencari informasi tentang keseluruhan Ras yang ada. Semua itu disebabkan karena kepercayaan diri Ren bahwa Ras dunia ini pasti lah sama dengan Ras yang ada di Game COTHENIC.


'Tch.. Bagaimana mungkin aku melewatkan semua ini... Sekarang semua Rencanaku menjadi berantakan.'

__ADS_1


Ren menyesali segala kecerobohan yang telah dia perbuat. Seharusnya, Ren mencari segala informasi tentang dunia ini. Bukan hanya menyimpulkan sesuatu secara langsung karena Dunia ini mirip dengan Game yang dia mainkan, yaitu COTHENIC.


"Katakan padaku Nirlayn, saat ini ada berapa Ras yang ada di dunia ini..?"


"Saya mengetahui hal ini dari Lin-Ya, dia mengatakan bahwa Ras di dunia ini hanya ada sembilan. Yaitu Manusia, Elf, Dwarf, Roh, Peri, Demi-human, Iblis, Naga, dan Malaikat."


"Apa..?" Ren terkejut.


'Hanya sembilan Ras? dimana yang lainnya? Dracula? Undead? dan masih banyak, kemana mereka?'


Ren bertanya - tanya dalam hati, jika di hitung secara keseluruhan. Ras yang ada dalam COTHENIC itu sangat banyak. Memang jika dihitung hanya dari Ras utama itu berjumlah sedikit. Tetapi, jika itu dihitung bersama Sub-Ras bisa dikatakan sangat banyak untuk sebuah Game.


"Ada apa Ren-sama..?" Nirlayn bertanya khawatir.


"Tidak ada Nirlayn, aku mengetahui bahwa kau merasakan amarah karena Vampire yang telah berkhianat. Tapi, kita tidak bisa bertindak untuk saat ini, ada sebuah Rencana yang harus aku lakukan terlebih dahulu."


Ren sebenarnya tidak mengetahui, apa yang dimaksud oleh Nirlayn tentang pengkhianatan para Vampire. Berdasarkan Ekspresi yang dikeluarkan oleh Nirlayn, Ren dapat menebak bahwa itu adalah sesuatu yang serius.


'Yah.. Meski aku tidak benar - benar mengerti apa itu.'


Ren merasa bersalah pada Nirlayn karena telah berpura - pura mengerti sepenuhnya. Meski begitu, tidak ada yang dapat Ren lakukan untuk saat ini. Rencana yang dia jalankan bahkan belum sepenuhnya tuntas.


"Saya mengerti Ren-sama, maafkan keegoisan saya ini.." Nirlayn terlihat sedikit kehilangan harapan.


"Maafkan aku Nirlayn..... Mari kita bahas hal yang lain. Dimana Lin-Ya sekarang?" Ren memutuskan untuk mengganti topik pembicaraan.


"Ya Ren-sama, dia saat ini ada di Istana Kerajaan."


"Hm, bagus sekali. Aku dapat menjamin dia aman disana..." Ren mengangguk puas.


"Oh, Aku melupakan satu hal Nirlayn, ini sudah lama mengganjal dihatiku." Ren tiba - tiba berbicara kembali.


"Saat itu aku melihatmu menggunakan Blood Art yang membentuk sebuah Cakar. Aku ingin bertanya padamu, apakah kau bisa membentuk suatu hal yang lain...?"


"Kenapa anda menanyakan suatu hal yang jelas seperti itu Yang Mulia...? Bukankah anda sudah mengetahui alasannya?" Wajah Nirlayn terlihat Ragu - Ragu.


"Apa maksudmu aku mengetahuinya? Sudah jelas aku bertanya karena aku tidak tahu kan."


"Benarkah begitu..... Ren-sama, saya juga mempunyai sesuatu hal yang mengganjal di hati saya." Nirlayn terlihat menunduk.


"Kau malah balik bertanya? Hah... sudahlah apa yang mengganjal hatimu itu?" Ren menggelengkan kepalanya.


"Siapa anda sebenarnya Ren-sama? saya yakin bahwa anda adalah seorang yang berasal dari Ras Blood Devil. Tetapi, disisi lain, anda seperti bukan seorang yang berasal dari Ras Blood Devil."


"Tapi...! tidak masalah jika anda tidak ingin menjawabnya Ren-sama."


"Um. Aku mengerti..."


Ren mengangguk dalam hatinya, sebuah keraguan di hati Nirlayn adalah sesuatu hal yang wajar. Ren belum pernah mengatakan kebenaran bahwa dirinya berasal dari Dunia lain selain pada para pemain seperti Kazumi dan teman - teman nya.


"Nirlayn, biar aku beritahu padamu... Setelah mengetahui kebenaran ini, keputusan ada di tanganmu. Entah itu masih mempercayaiku atau tidak, aku tidak akan memaksamu.."


Ren beranjak dari posisi duduknya, berjalan untuk menghampiri Nirlayn yang sedang berlutut. Sementara Nirlayn yang tidak mengerti apa yang dilakukan Ren, hanya diam menatap Ren.


"Nirlayn..."

__ADS_1


Ren menyamakan posisi tubuhnya dengan Nirlayn yang sedang berlutut.


"Eh?!" Wajah Nirlayn sedikit memerah, hal ini disebabkan oleh Ren yang mendekatinya secara tiba - tiba.


Menggunakan tangan kanan nya, Ren memegang Dagu Nirlayn, seakan - akan semua ini dia lakukan agar Nirlayn dapat mendengarkan perkataannya dengan baik.


Mata merah Ren dan Nirlayn kini saling menatap. Wajah Nirlayn semakin memerah, tidak mengerti apa yang dilakukan oleh Ren.


"Kau tahu... Sebenarnya aku bukan berasal dari Dunia ini." Ren mengatakan ini dengan tersenyum tulus.


"Bu-Bukan berasal dari Dunia i-ini..?" Nirlayn menjawab, namun dengan terbata - bata. Situasi saat ini membuatnya merasakan malu yang luar biasa.


"Yah... Aku adalah Blood Devil dari Dunia lain, mungkin kau bisa menyebutnya seperti itu..?"


Ren menggerakan tangan nya, untuk membelai Rambut hitam Nirlayn yang indah dan lurus.


"Kau adalah bawahan pertamaku Nirlayn, sebenarnya akan sangat disayangkan jika kau pergi dari sisiku. Tapi, aku tidak akan memaksamu untuk tetap mempercayaiku. Kebebasanmu adalah yang utama..." Setelah Tersenyum lalu bersedih, itulah apa yang tampak di wajah Ren saat ini.


"Huu... R-Ren-sama.... Tidak adil.!" Nirlayn merajuk.


"Ba-Bagaimana saya dapat menolak jika anda mengatakannya dengan cara seperti ini..." Nirlayn mengatakan ini dengan mata berkaca - kaca.


"Hahaha.... Kau ini, lucu sekali..." Ren tertawa dengan lembut. Kemudian melepaskan tangannya dari Rambut Nirlayn. Ren kembali duduk di atas Ranjang nya.


"Nirlayn, aku memberikanmu dua pilihan. Satu tetap menjadi seseorang yang berada di sisiku atau yang kedua, yaitu kebebasan, tentu aku akan melepaskan semua ikatan yang mengekang dirimu...."


"Ren-sama.... Meski anda bukan berasal dari Dunia ini, saya akan tetap, berada di sisi anda... Mohon terima permintaan saya." Nirlayn mengatakannya dengan bersungguh - sungguh.


"Aku senang mendengarnya... Jadi, jika aku tidak mengetahui suatu hal.. Maukah kau menjelaskan nya untukku?" Ren mengulurkan tangannya pada Nirlayn


"Te-Tentu Ren-sama!" Wajah Nirlayn diliputi oleh kebahagiaan. Dia kemudian meraih tangan Ren yang diulurkan padanya.


*


*


*


*


*


*


Istana Kerajaan Aulzania, sebuah Istana yang memiliki Luas yang sangat besar. Skala bangunan Istana adalah yang terbesar di Kerajaan ini, lalu yang kedua terbesar adalah Akademi Kerajaan Aulzania.


Di Istana ini, terdapat berbagai macam tempat yang berbeda. Ada Ruang Takhta yang merupakan tempat terbaik di Istana. Ada juga tempat Keluarga Kerajaan yang merupakan tempat tinggal Sang Raja dan Keturunan nya. Lalu, ada sebuah tempat dimana Sang Raja mengerjakan pekerjaannya sebagai Raja. Ruang ini disebut, Ruang kerja Sang Raja.


Di Ruangan ini, Sang Raja yaitu Esdagius Losgan Ri Aulzania sedang duduk dan melakukan pekerjaannya sebagai seorang Raja. Di samping nya, seorang pria paruh baya yang terlihat bijaksana membantu Sang Raja melakukan hal itu.


"Margen, apakah persiapan Konferensi sudah selesai?" Raja bertanya, tetapi matanya masih fokus untuk melakukan pekerjaan nya.


"Yang Mulia tak perlu khawatir, semuanya telah dipersiapkan dengan baik." Pria paruh baya yaitu Mergen, menjawab Sang Raja.


"Begitu? Baguslah, jangan lakukan sedikitpun kesalahan. Orang yang akan menghadiri Konferensi ini begitu penting...." Raja mengangguk.

__ADS_1


"Ya, Yang Mulia."


Ruangan itu menjadi hening, keduanya masing - masing fokus melakukan pekerjaan nya.


__ADS_2