
"Ren-sama, mengapa anda belum kembali?"
Pertempuran melawan Invasi dari para Monster telah cukup lama selesai. Tidak hanya itu, Pertempuran ini pun dimenangkan oleh Kerajaan Aulzania. Lalu mengapa Ren masih belum kembali?
Nirlayn menatap pada Kejauhan Hutan Loudeas seraya merasakan Kekhawatiran yang luar biasa. Sekalipun dia mempercayai Ren dapat menjaga dirinya sendiri, tetapi Kekhawatiran yang ada dalam Hati tidak dapat dia hilangkan.
Dalam Keheningan Malam yang Gelap Gulita, Nirlayn yang seorang Wanita menunggu dengan Setia diatas Benteng Kota Aulzania. Siapa yang berani membiarkan seorang Wanita merasa seperti ini seorang diri? Mungkin hanya Ren Jawabannya.
Kekhawatiran Nirlayn semakin lama kian memuncak. Dengan Hati yang mantap, dia akhirnya memutuskan untuk mencari Keberadaan Ren walaupun dia harus memasuki Hutan yang berbahaya seorang diri.
Sepasang Sayap dari Ras Blood Devil Tumbuh di Punggungnya. Lalu tanpa menunggu waktu yang lebih lama, Nirlayn terbang ke Udara. Lalu dia menatap pada Hutan yang Gelap diantara Angin yang berhembus kencang.
Semakin lama, Nirlayn semakin dalam memasuki Hutan Loudeas. Pada saat ini pula, dia merasakan Angin yang berhembus lebih Dingin dari biasanya. Suasana dan Perasaan Nirlayn semakin terasa tidak mengenakan ketika dia masuk lebih dalam ke Hutan Loudeas. Meski demikian, Nirlayn masih tetap bersikeras untuk mencari Keberadaan Ren di Hutan Loudeas ini.
Sampai dia tiba pada salah satu Kawasan Hutan Loudeas, Perasaan tidak mengenakan itu meningkat Drastis. Nirlayn terpaksa mendarat disana dengan Kewaspadaan yang tinggi.
"Hawa Keberadaan ini ..." Nirlayn berkata Pelan.
Dibawah Kegelapan, Pandangan Nirlayn yang merupakan seorang Blood Devil cukup terbatas. Nirlayn hanya dapat mengandalkan Cahaya Bulan dan sedikit Persepsi Mana. Kemampuan Nirlayn dalam Persepsi Mana sendiri tidak dapat diragukan lagi, jauh dibawah Ren. Nirlayn hanya dapat mengidentifikasi beberapa Objek tertentu dengan Persepsi Mana itu.
Dururururu!
"Sebuah Getaran?!" Nirlayn meningkatkan Kewaspaan dan memperhatikan sekelilingnya.
Getaran Tanah itu masih terus berlangsung dan diikuti oleh Berbagai macam suara yang menyusulnya. Pohon yang seakan Tumbang, Langkah Kaki yang cepat, dan Banyak Suara aneh lain yang tidak diketahui oleh Nirlayn.
Sssssssssssshhhh!
Ctctctctcttctctctctc!
"Dua arah yang berbeda?!"
Dua Suara yang berbeda dan dari Dua arah yang berbeda pula. Nirlayn langsung menghunus Pedang yang diberikan oleh Ren dan disaat yang bersamaan dia menciptakan Pedang menggunakan Blood Art.
Bahkan sebelum Nirlayn dapat menarik Napas, Dua Sosok Monster Raksasa muncul dengan cara menerobos Pepohonan dan menghancurkannya. Ular dan Kalajengking, adalah Bentuk Dasar dari Monster yang mengerikan itu.
Dua Monster ini adalah Dua Keberadaan Kuat yang dirasakan oleh Ren sebelumnya. Mereka adalah [King Scorpion Corossive] dan [Lightning Blade Snake].
Ular Raksasa yang dapat mencapai Panjang Seratus Meter dan Kalajengking Raksasa yang dapat mengeluarkan Racun Korosif.
Mereka kini berada di Kedua Sisi Nirlayn dan berusaha menyerang dirinya.
"Ini bahaya!"
Nirlayn mundur secepat yang dia bisa untuk menghindari Tabrakan antara Kedua Monster Raksasa itu. Dengan Jarak yang sangat kecil, Nirlayn berhasil menghindari Tabrakan Keduanya. Tabrakan itu menghasilkan Suara "Bammm!" Yang amat Keras.
Sssssssshhhhhh!
Tctctctctctctcttc!
Setelah saling bertabrakan, Dua Monster itu saling menatap dengan Mata yang Tajam. Mereka yang tidak melirik ke arah Nirlayn membuktikan bahwa mereka sebenarnya bukan menyerang Nirlayn, melainkan menyerang satu sama lain.
"Mengapa Dua Monster ini ... Muncul disaat yang bersamaan?"
Nirlayn perlahan - lahan melangkahkan kaki untuk Mundur dan Mengobservasi situasi terlebih Dahulu. Dalam Pandangan Nirlayn, Kalajengking Raksasa dan Ular Raksasa itu masih saling menatap satu sama lain.
Ssssssshhhhh!!
Ular Raksasa adalah yang Pertama Bergerak, dia mengembangkan Sisik - Sisik diseluruh Tubuhnya yang terlihat seperti Kristal. Kemudian, Aliran - Aliran Listrik terlihat diantara Sisiknya yang mengembang.
Setelah itu Ular Raksasa bergerak dengan cepat dan Berusaha untuk memutari Kalajengking Raksasa. Beberapa kali Kalajengking itu mencoba untuk menangkap Tubuh Sang Ular menggunakan Capitnya yang mengerikan. Namun, semua Usaha Kalajengking berakhir sia - sia, Ular Raksasa itu dapat dengan mudah menghindarinya.
Ular Raksasa dengan cepat melilit Tubuh Kalajengking Raksasa. Dengan Tubuhnya yang dapat mencapai Seratus Meter, dia dapat dengan Mudah menutup seluruh Tubuh Kalajengking Raksasa itu.
Belum cukup sampai disana, Tubuh Sang Ular Raksasa mengeluarkan Cahaya. Cahaya yang dapat dijadikan sebagai Tanda bahwa dia mengeluarkan Listrik dengan Daya kekuatan yang luar biasa.
Kemudian setelah itu ... Ledakan Cahaya terjadi.
Zrrratsssss! Boooooomm!
Nirlayn langsung menutup Mata sebagai bentuk dari Reaksi Cahaya yang begitu menyilaukan. Hawa Panas dari Ledakan Cahaya bahkan dapat dirasakan oleh Nirlayn.
Kekuatan ini, memang cocok untuk menyandang Gelar Monster Tingkat Tinggi.
Beberapa saat kemudian, Nirlayn mencoba membuka Mata, namun apa yang dia lihat tidak seperti yang dia bayangkan.
"B-Bagaimana bisa ...?" Nirlayn bergumam tak percaya.
__ADS_1
Pemandangan yang sulit untuk dipercaya terlihat, dimana Ular Raksasa yang mengeluarkan Serangan Luar Biasa malah terkulai tak berdaya. Tubuhnya melepuh dan membusuk dengan cara yang menjijikan.
Sementara Ular itu telah kehilangan Nyawa, Kalajengking Raksasa malah diam tanpa terluka. Tidak ada satupun Goresan yang terlihat setelah diserang dengan Kekuatan Listrik Ular Raksasa.
"Uh ... Monster itu sangat kuat." Ucap Nirlayn seraya mundur Perlahan - lahan.
Namun seperti yang diharapkan dari Dunia Fantasy, Nirlayn tidak akan dapat mundur dengan Mudah. Secara tidak sengaja, Nirlayn mundur tanpa melihat Jalan dan tersandung pada sebuah Akar Pohon sehingga membuatnya Terjatuh.
Bruukkk!
"Ah, Tidak."
Dam! Dam! Dam! Dam!
Kalajengking Raksasa itu menyadari Keberadaan Nirlayn dan menghampirinya dengan Langkah yang berat. Disini Nirlayn berpikir mengapa Kejadian seperti itu terjadi padanya?
Tctctctctctctctc!
Dengan sebuah Ancang - Ancang, Kalajengking Raksasa mengarahkan Capitnya pada Nirlayn. Capit itu begitu mengerikan ketika dilumuri oleh Cairan Korosif yang dapat melepuhkan Kulit Ular Raksasa.
Bam!
Capit Raksasa menghantam Tanah dan membuat Tanah itu menjadi busuk seketika. Sementara itu, Nirlayn yang dijadikan sebagai Target telah menghilang dan berpindah Tempat
"Hahh ... Hampir saja." Nirlayn menghela Napas.
Kalajengking Raksasa itu terlihat tidak Terima Serangannya berhasil dihindari. Dia segera melangkahkan Kaki - Kaki nya dengan cepat seraya mengancam Nirlayn menggunakan Ekor dan Capitnya.
Meskipun Persentase Kemenangan Nirlayn cukup Kecil, namun dia akan tetap berusaha untuk melawan. Terbukti dari Matanya yang dipenuhi oleh Tekad ketika menatap Kalajengking Raksasa.
Kali ini Nirlayn tidak akan membiarkan Kalajengking Raksasa itu berbuat sesuka Hatinya. Nirlayn langsung melesat dengan menggenggam Dua Pedang disaat yang bersamaan. Blood Sword mengeluarkan Cahaya Merah sehingga menghasilkan Garis Cahaya Merah ketika Nirlayn melesat.
Bagian Tubuh dari Kalajengking Raksasa yang paling memungkinkan untuk dia serang adalah Kaki. Maka dari itu, Nirlayn menjadikan Kaki Kalajengking itu sebagai Target terlebih dahulu.
Nirlayn menggunakan Teknik Pertama yang diajarkan oleh Ren. Nama Teknik ini sendiri tidak diberitahukan, yang jelas, Nirlayn mengingat ini sebagai Teknik yang sangat mengandalkan Kecepatan.
Shing! Shing! Shing! Shing!
Nirlayn melesat seraya menebas Kaki Kalajengking Raksasa sedikit demi sedikit. Keberhasilan dari Teknik ini sendiri dapat diraih ketika Musuh Tumbang tanpa harus menyadari atau dapat menahan Serangan.
Sementara saat ini, Nirlayn memang tidak disadari oleh Kalajengking Raksasa. Namun dia tetap tidak dapat memberikan Kerusakan yang berarti. Hanya terdapat sedikit Goresan pada Kaki Kalajengking Raksasa meski Nirlayn telah menyerang beberapa kali di tempat yang sama.
Karena Nirlayn melesat dengan Kecepatan tinggi sementara Kalajengking itu sendiri menyerang disaat yang bersamaan, Nirlayn tidak dapat menghindar kali ini. Dia terpaksa menyilangkan Kedua Pedangnya di depan untuk menahan Serangan itu sebisa mungkin.
Draaaaankkk!
Bam!
Nirlayn terpental dengan Kecepatan tinggi, kemudian dia menabrak beberapa Pohon dan menghancurkannya. Sampai dia menabrak satu Pohon Kokoh dan berukuran besar, disanalah dia berhenti.
"... Guhk!" Nirlayn terbatuk dan mengeluarkan Darah ketika dia menabrak Pohon Besar.
Serangan dari Kalajengking Raksasa terlalu berat untuk ditahan. Nirlayn yang hanya memiliki Kekuatan sedikit diatas Derrian mana mungkin bisa menahannya. Terpaksa dia harus merasakan sakit disekujur tubuh karena Dampak dari Serangan itu.
"R-Ren... Guhk ... Guhk ... Sama."
Pandangannya telah memburam dan Dunia seketika menjadi suram. Beberapa Organ dalam Nirlayn ada yang telah Hancur. Maka demikian, Nirlayn sama sekali tidak dapat bergerak dan hanya bisa mengerang Kesakitan.
Semakin lama, Kesadaran Nirlayn tidak dapat dipertahankan lagi. Pada saat ini, Nirlayn merasa menyesal karena telah menjadi orang yang lemah. Orang yang lemah, yang bahkan tidak dapat meraih Harapan dari Tuannya.
Sebelum Mata dan Kesadarannya menutup, Nirlayn melihat sosok Tuannya yang sedang tersenyum padanya. Nirlayn sendiri menyadari bahwa Sosok Tuannya ini hanya sebuah Ilusi semata. Namun, itu sudah lebih dari cukup untuk sedikit menenangkan Rasa Khawatir yang dia Rasakan.
"Ren-sam ... a"
Itulah kata - kata terakhir yang diucapkan Nirlayn sebelum kehilangan Kesadaran. Disaat yang bersamaan, Kalajengking Raksasa menghampiri Nirlayn dengan Langkah yang berat.
Namun bahkan sebelum dia dapat mencapai Tubuh Nirlayn yang tak berdaya. Sebuah Petir Raksasa menyambarnya dengan Hebat. Sambaran Petir yang begitu Luar Biasa seketika menghanguskan dan membinasakan [King Scorpion Corrosive]. Tanpa sempat Bereaksi, Kalajengking Raksasa telah Binasa menjadi Abu tanpa sisa.
Setelah itu, Avrogan terlihat, yang dengan bangganya datang Terlambat ...
____________________________________________
* * *
* * *
* * * ____________________________________________
__ADS_1
Braakkk!
Sebuah Pintu Besar terbuka, dari sana muncul sosok Ren yang sedang membawa Nirlayn yang terluka. Ren langsung bergegas untuk mendekati Tempat Tidur dan membaringkannya dengan Hati - Hati. Tubuh Nirlayn sudah dipenuhi oleh Luka, tidak mungkin Ren akan melemparkan Nirlayn secara Kasar bukan?
Lalu Setelah Nirlayn terbaring dengan sempurna, Ren mengulurkan Lengan. Dari Jari Jemari Ren, muncul sebuah Bola Cahaya berwarna Merah Darah. Bola Cahaya itu langsung menghampiri Nirlayn dan menyelimuti seluruh Tubuhnya. Secara Perlahan dan Menakjubkan, semua Luka yang dialami oleh Nirlayn menghilang dan sembuh.
Ren yang melihat Hal ini segera memastikan keadaan Nirlayn. Setelah mengetahui bahwa semua baik - baik saja, barulah Ren menghela Napas lega.
"Mengapa dirimu begitu Ceroboh?." Ren berkata penuh kekhawatiran.
Tidak biasanya Ren menampakan Kekhawatiran yang dalam. Mungkin karena dia menyadari alasan dari mengapa Nirlayn melakukan Tindakan Ceroboh dengan memasuki Hutan Loudeas seorang diri.
Tidak lama, Pintu kembali Terbuka dan Arystina muncul dari sana.
"Yang Mulia, apa dia baik - baik saja?"
"Dia baik - baik saja, beruntung Avrogan tiba disana tepat waktu ..."
Berdasarkan Cerita Avrogan, Ren mengetahui Penyebab mengapa Nirlayn terluka. Nirlayn melawan Monster yang seharusnya tidak dia lawan dengan kemampuannya saat ini. Ren sendiri tidak mengerti, mengapa Nirlayn tidak kabur saja dari sana? Tetapi dia dengan cerobih malah melawan Monster itu dan akhirnya menerima Kekalahan.
"Yang Mulia, dia adalah Nirlayn yang anda bicarakan?"
Arystina bertanya seraya memperhatikan sosok Nirlayn dengan seksama. Ren yang menyaksikan hal ini mau tak mau mengangkat Alis karena Heran.
"Ya, dia adalah Nirlayn." Balas Ren singkat.
Arystina sedikit cemberut, kemudian dia mundur beberapa Langkah dan berkata, "Dia ... Wanita yang Cantik, entah mengapa saya merasa sedikit Kesal." Secara Perlahan.
Namun, jangan sekali - kali meremehkan Pendengaran milik Anryzel Dirvaren. Perkataan Arystina yang pelan dapat dengan Mudah Ren dengarkan. Cantik dan Kesal? Ren mengerti jika itu Cantik, karena kebanyakan Wanita yang pernah dia temui memiliki Paras yang Cantik. Akan tetapi, Ren tidak mengerti mengapa Arystina merasa Kesal.
'Menurutku, mereka berdua Cantik dan pantas untuk diperebutkan lelaki.' Hati Ren berkata.
Ren bisa dikatakan sebagai sosok lelaki yang hampir mendekati Kata Sempurna. Kekuatan yang Besar, Kekayaan yang melimpah, Kebaikan yang ada dalam Hatinya, Kejahatan yang ada pula dalam Hatinya, dan Paras yang Tampan. Dia memiliki semua itu. Hanya satu hal yang membuat dia tidak Sempurna, itu adalah Penyakit Menyedihkan yang sudah melekat dalam dirinya.
Penyakit itu adalah ... Kerusakan Indera Tanggapan terhadap Perasaan Wanita.
Kembali pada Ren ...
Dia saat ini sedang berpikir bagaimana jika Avrogan terlambat sedikit saja. Mungkin Nirlayn sudah kehilangan Nyawa saat ini, hanya dengan membayangkan Hal itu membuat Ren merasa Ketakutan. Ketakutan akan Perasaan menyesal yang mungkin dia alami.
Berbicara soal Avrogan, dimana Avrogan saat ini? Ren tidak melihatnya dimanapun.
"Arystina, dimana Avrogan?"
"Ah, dia berkata kalau Seekor [Beast Servant] Sepertinya tidak pantas untuk memasuki Istana anda yang begitu Hebat. Ya, Istana yang sangat Hebat."
Sepertinya Kuda yang memasuki sebuah Istana memang Hal yang aneh. Namun apa? Ren tidak melarang Avrogan untuk memasuki Istana. Ini adalah Istana miliknya dan tidak ada yang dapat melarang Avrogan untuk memasuki Istana selain dirinya.
Mungkin, Esok Hari Ren akan mengatakan Perihal Masalah ini pada Avrogan. Ren sudah merasa cukup lelah untuk Hari ini ...
"Arystina, sebaiknya kau beristirahat terlebih dahulu. Ini sudah sangat Larut Malam ..."
"Lalu ... Bagaimana dengan anda Yang Mulia?"
"Aku akan Istirahat disini dan menjaga Nirlayn terlebih dahulu."
"Yang Mulia ... Jika seperti itu, maka Izinkan saya menggantikan anda untuk menjaga dia."
"...."
Dan begitulah, karena desakan dari Arystina, Ren mau tak mau meninggalkan Arystina untuk menjaga Nirlayn dengan Wajah yang tidak mengerti.
____________________________________________
* * *
* * *
* * *
____________________________________________
[The Throne Room]
Ini adalah ... Ruang Khusus bagi Sang Penguasa. Seorang Penguasa dari [Bloody Palace of the Monarch]. Sang [The Blood Monarch] Anryzel Dirvaren.
Anryzel Dirvaren duduk diatas Singgasana dengan cara yang menampilkan Keagungan.
__ADS_1
Lalu dengan Nada yang sangat menampakan seorang Penguasa, dia berbicara ...
"Sekarang adalah saat dimana [Continents Holder, The Monarch] Kembali."