
Hutan Loudeas, dikatakan Hutan ini merupakan area yang sangat berbahaya. Jenis Monster yang kuat mendiami wilayah ini. Bahkan Kerajaan Aulzania yang memegang Hutan Loudeas sama sekali tidak berani untuk mengganggu Hutan ini.
Saat ini, di salah satu kawasan Hutan Loudeas, terlihat tiga bangkai Naga yang tergeletak di Tanah. Bersama dengan, tiga orang yang terletak tidak jauh dengan bangkai itu...
"Jadi Namanya adalah Reynalue... Tidak memiliki kecocokan sama sekali."
Ren sedang berjalan dengan tenang, menghampiri dua orang yang tak jauh darinya. Mereka berdua adalah Nidgor dan Reynalue, seorang yang menjadi musuh Ren saat ini.
"Tidak ada ampunan bagi kalian... Takdir kalian sudah pasti, menuju ke neraka keputusasaan tanpa batas."Perkataan Ren sangat dingin dan kejam, suara nya terdengar seperti Lantunan Kematian bagi Nidgor dan Reynalue.
Ketika Ren berjalan mendekati mereka berdua, tatapannya hanya terpaku pada Wanita yang telah kehilangan separuh dari kedua kakinya, Reynalue.
"Grrggg... Siapa kau?! kami tidak memiliki masalah apapun denganmu!" Nidgor berteriak, dia terlihat putus asa saat meneriakan hal ini.
"Siapa yang mengizinkanmu bicara?" Ren melirik pada Nidgor, hanya sebuah lirikan biasa disertai oleh matanya yang menyala.
Namun semua itu sudah cukup membuat Nidgor merasakan sebuah Keputusasaan yang begitu luar biasa. Wajah Nidgor membiru seketika, perkataan tidak dapat lagi dia lontarkan.
"Jangan menggangguku, aku akan mengurusmu nanti, [Blood Prison Cube]."
Seketika sebuah Kubus merah transparan membungkus tubuh Nidgor yang sedang membeku. Nidgor yang tidak mengetahui apa sebenarnya kubus ini terbelalak.. Ketakutan dihatinya kini diiringi oleh keterkejutan.
"Wuaah....?!" Nidgor berteriak dengan Nada yang tak cocok dengan penampilannya.
Satu kata yang tepat menggambarkan ketakutan dan keterkejutan Nidgor, yaitu Menyedihkan.
Ren yang sedang dipenuhi oleh emosi yang dalam juga meringis, melihat seseorang yang berpenampilan menyeramkan seperti Nidgor gemetar ketakutan. Tapi.. Segera dia mengabaikan Nidgor dan berjalan kembali untuk menghampiri Reynalue.
"Hei kau, dimana perempuan yang bernama Kinna?" Ren bertanya dengan sepenuh hati.
Namun, Wanita Necromancer Reynalue tidak memperhatikan pertanyaan Ren yang satu ini. Dia masih berteriak kesakitan karena luka yang disebabkan oleh kedua kakinya yang hilang.
"Kyaarh! Arrhhgg!"
Reynalue berteriak, luka yang dia alami begitu membuatnya tersiksa. Penampilan nya yang seperti ini menyedihkan dan seharusnya membuat orang merasa kasihan. Namun, itu tidak berlaku pada Ren saat ini, dia tidak bergeming sedikitpun, dia hanya menatap dengan tatapan dingin pada Reynalue yang berguling kesakitan.
"Cobalah untuk bersikap lebih baik dihadapanku..."
Ren mengulurkan lengannya, pada Reynalue yang sedang menjerit kesakitan. Sebuah Cahaya merah darah perlahan terbentuk di tangan Ren, Cahaya itu membentuk sebuah bola kecil dan langsung menuju Tubuh Reynalue.
Reynalue kemudian dibungkus oleh Cahaya merah darah, luka yang ada di kakinya seketika menjadi tertutup. Kini, Reynalue telah sepenuhnya berhenti berteriak.
Dia sepertinya tertegun, tidak dapat memahami apa yang terjadi pada dirinya sendiri. Kemudian, dia duduk diatas tanah dengan wajah melongo pada Ren yang ada di hadapannya.
"Um... Kau menyembuhkanku?" Reynalue mengatakannya dengan percaya diri.
"Tentu saja..." Ren memasang senyuman manis di wajahnya.
"Eh? Tapi mengapa, bukankah kau ada-?!"
Shyuttt! Duar!
Reynalue seketika terbang dengan kecepatan tinggi. Menabrak sebuah pohon besar dan membuat kerusakan disana. Semua ini disebabkan karena Ren yang telah menendang wajahnya itu..
"Aku menyembuhkanmu, karena aku ingin menyiksamu..." Ren tersenyum tulus.
Bagaikan sebuah Boneka yang tak memiliki nyawa, Reynalue Jatuh Terkulai dengan cara yang menyedihkan dari batang pohon besar.
Terlihat Ekspresi Kesakitan kembali di wajahnya.
Dengan bersusah payah, Reynalue mencoba bangkit. Menggunakan kedua lengannya yang berdarah sebagai alat untuk menopang tubuhnya.
"Si-Sialan.. Ka-?!"
Duarr!
Belum sempat Reynalue menyelesaikan perkataannya. Ren sudah melesat dan membantingkan wajahnya pada Pohon besar itu kembali. Wajah Reynalue Ren tekankan pada pohon dengan tenaga yang cukup untuk menahannya agar tak bergerak.
"Kau tidak berhak berbicara selain menjawab pertanyaanku... mengerti?"
"Grgg... Af-ah Yah-ang Khau Mouh (Apa yang kau mau)?!"
"Hahaha, cara berbicaramu itu sangat lucu, kau tahu badut? ya.. kau mirip seperti itu."
Waja Ren terlihat senang ketika mengatakan itu, mungkin lebih tepat jika dikatakan dia senang mendapatkan sebuah mainan baru.
Berkebalikan dengan kesenangan yang dirasakan oleh Ren. Reynalue terlihat meringis kesakitan, beberapa lubang di wajahnya terlihat mengeluarkan berbagai macam cairan berwarna merah darah.
"K-Kuhurang Ajhar Khau (Kurang ajar kau)?!"
Dihadapan Ren yang begitu menakutkan, Reynalue masih berusaha untuk melawan. Kepribadian Keras Kepala nya ini, Justru membuat seringai kesenangan yang ada di wajah Ren semakin melebar.
"Aku menyukai orang yang keras kepala, begitu menyenangkan menyiksa orang sepertimu... Hei, kau tahu? aku mempunyai banyak cara agar dapat membuatmu mengalami siksaan.. Tentu saja, siksaan itu bahkan bisa melebih kematian." Ren menjelaskan panjang lebar.
Tetapi, Reynalue terlihat tidak terlalu memperhatikan perkataannya ini. Membuat, sebuah senyuman penuh makna terbentuk secara tiba - tiba di wajah Ren.
"Aku anggap, kau meremehkanku? baiklah biar kuberikan satu contoh yang paling ringan.."
Ren mengeluarkan sebuah Cahaya Merah Darah yang sama persis dengan sebelumnya.
Cahaya itu kemudian mengenai Reynalue, dengan seketika menyembuhkan semua luka yang dia terima.
__ADS_1
Bumm!
Wajah Reynalue kembali dibantingkan pada Pohon besar. Membuat sebuah Retakan yang dalam muncul di batang Pohon itu. Tak dapat dipungkiri lagi, seluruh bagian wajah Reynalue kini tidak dapat dikenali.
"Grahh..."
Reynalue bahkan mengerang lebih lemah dari sebelumnya. Dia tak mampu untuk berteriak walau seluruh wajahnya mengalami kesakitan yang luar biasa.
"Aku tidak memberimu izin mati, kita masih dalam tahap memberikan sebuah Contoh."
Ren terlihat memiliki Ekspresi sedih di wajahnya. Seolah, dia tidak merelakan Reynalue untuk meninggalkan dunia ini.
Perasaan itu membuatnya mengeluarkan Cahaya Merah Darah kembali, dan menyembuhkan seluruh luka Reynalue.
"Aku memohon padamu, jangan tinggalkan aku seorang diri di Dunia ini... Aku masih sangat, menyukaimu...."
Sebuah senyum tulus terpancar dari wajahnya ketika Ren mengatakan hal itu. Namun senyum itu berubah seketika menjadi senyum yang sepenuhnya mengejek.
"Tentu saja aku bergurau hahaha." Ren tertawa kecil.
Baammm!!
Ren melakukan aksi nya kembali, membantingkan wajah Reynalue ke batang pohon besar yang ada di hadapannya. Wajah Reynalue, kembali menjadi menyedihkan seperti semula. Tapi kali ini, terlihat mulutnya yang sedikit bergerak.. dia mengeluarkan sebuah suara yang lemah.
"A-Ahku.. Mehnyera... Behrhenti."
Mendengar pernyataan lemah dari Reynalue, wajah Ren menjadi murung. Senyum telah sepenuhnya menghilang dari sana.
"Jadi kau meremehkanku kembali ya, aku masih bisa melakukan hal ini sebanyak yang kau inginkan.. Tetapi, dengan kejamnya kau berbicara seolah aku tak mampu."
"Hm...? Ya ampun, kau mengotori lengan pakaian yang aku kenakan dengan darahmu. Bagaimana kau membayar atas hal ini?"
Ren menghela napas, sebelum akhirnya dia menampakan Ekspresi yang mengatakan bahwa dia telah memutuskan sesuatu.
Dengan cara yang sama, Ren menyembuhkan seluruh luka yang ada pada tubuh Reynalue.
Setelah wajahnya kembali, Reynalue menampakan kebencian yang mendalam ketika dirinya menatap mata Ren. Meski begitu, kebenciannya terkalahkan oleh ketakutan akan siksaan yang sederhana namun menyakitkan dari Ren.
"Jangan menatapku seperti itu, aku sudah cukup baik padamu... Jadi, jawablah segala macam pertanyaanku." Senyum menakutkan kembali memenuhi wajah Ren.
"Ugh....."
Reynalue tidak menanggapi pernyataan Ren, dia sedang dilanda oleh keputusasaan yang hebat. Disatu sisi, hatinya merasa takut akan disiksa secara terus menerus. Di sisi lain, dia tidak dapat membocorkan informasi apapun.
"Begitu, aku mengerti...." Ren mengangguk tanpa alasan yang jelas.
"Ini membuatku sedih, mengetahui bahwa kau tidak bisa berbagi Rahasia denganku..."
Ren mengocehkan hal yang tidak jelas kembali. Kali ini dia melepaskan cengkeraman nya pada kepala Reynalue. Ren berdiri dan berbalik ke arah lain, lalu dia menoleh ke arah Reynalue kembali.
"Aku sudah menciptakan beberapa... Um? mungkin kalian menyebutnya, Sihir?Skill?Teknik? Yah... terserah yang manapun tetap sama."
"Salah satu dari itu adalah Temperature Blood Control. Sebuah skill yang unik menurutku, kau tahu mengapa? Umm.. Kau tidak tahu? Baiklah, aku akan memberikanmu contoh, dengan menggunakan Pria Botak itu.."
Ren melirik pada seorang Pria Tua Botak yang ada di dalam kubus merah, dia tidak lain adalah Nidgor, teman seperjuangan yang Reynalue miliki.
"Perhatikan ini baik - baik.. Aku akan sangat senang jika kau masih tenang setelah melihat hal ini..."
Takk!
"[Temperature Blood Control : 400 C° Active]"
Tidak ada yang terjadi pada awalnya, membuat Nidgor dan Reynalue yang memperhatikan hal ini memiringkan kepala mereka, dan berpikir bahwa Ren hanya mengatakan sebuah lelucon.
Namun, semua itu berubah menjadi keputusasaan yang tak berujung pada Reynalue. Nidgor seketika melepuh, daging nya mencair menjadi sesuatu yang menjijikan. Nidgor, meronta - ronta kesakitan, dia membantingkan tubuhnya ke segala arah.
Sebuah pemandangan yang cukup aneh jika dilihat secara sekilas, mengingat tindakan Nidgor yang membantingkan tubuhnya malah akan memperparah Rasa sakit yang dia alami. Hanya Ren seorang yang memikirkan tentang hal ini, meski begitu sebuah senyum menakutkan masih terlukis di wajahnya.
Berbeda dari Ren yang memikirkan tindakan Nidgor yang aneh. Reynalue, melihat hal ini dengan jatuh terlutut, kedua tangannya menutup bibir yang dia miliki. Bahkan seorang iblis sepertinya masih dapat ketakutan dan merasa tidak percaya.
Keputusasaan semakin melanda hatinya, ketika mengetahui bahwa siksaan yang dialami Nidgor tak akan pernah berakhir. Semua itu karena tubuh Nidgor akan kembali sembuh ketika melewati batas tertentu. Membuatnya terlihat sebagai penyiksaan yang abadi. Perkataan Ren yang menyatakan bahwa dia akan mengirim Reynalue dan Nidgor ke Keputusasaan Neraka tanpa akhir kini terbukti.
"A-Apa ini...."
Seorang yang kejam pasti akan ketakutan ketika melihat sesuatu yang lebih kejam darinya. Mungkin kata - kata itu cocok untuk menggambarkan hati Reynalue saat ini.
"Contoh pertama... selesai."
Tak!
Sebuah Jentikan Jari menghentikan mimpi buruk dan keputusasaan. Reynalue terlihat menghela Napas lega, sebuah perilaku yang aneh. Mengingat bukan dia yang disiksa seperti itu melainkan Nidgor yang merupakan temannya. Nidgor.... dia masih dalam keadaan yang menyedihkan, seluruh tubuhnya telah sembuh, tapi dia masih berguling - guling dan membantingkan Tubuhnya.
"Perasaan buruk memang tidak mudah hilang ya...." Ren memperhatikan Nidgor dan memegang dagunya.
"Jadi begitu, Contoh ini kurang bagimu..." Dengan tatapan masih terpaku pada Nidgor, Ren mengatakannya dengan tenang.
Tetapi perkataannya ini ditujukan pada Reynalue, dia segera tersentak, keringat dingin mengalir dari seluruh bagian tubuhnya. Reynalue berusaha mengatakan semua ini telah cukup, namun Ren tidak membiarkan hal itu, dengan senyum nya yang sepenuh hati menakutkan. Dia mengatakan sesuatu yang menakutkan.....
"Contoh kedua, aku tidak memiliki Nama untuk yang satu ini... Tapi, lihat saja dengan matamu sendiri."
Tak!
__ADS_1
Duar! Shrattss! Duar Shratss
Sebuah Jentikan Jari membuat sebuah Rantai Ledakan kecil yang terdengar terus menerus di tempat itu. Reynalue, perlahan mengalihkan kembali pandangan wajahnya pada Nidgor dengan Putus asa.
"Hii....!" Reynalue merangkak mundur, menjauh karena tak percaya.
Pemandangan yang menakutkan terlihat dalam pandangan mata Reynalue. Dari dalam tubuh Nidgor meledak, mengeluarkan sesuatu yang mirip duri berwarna darah meruncing. Duri itu merobek seluruh bagian tubuh milik Nidgor, namun beberapa saat kemudian itu akan sembuh dan meledak kembali.
"A-Aku menyerah!! H-Hentikan semua in-i!"
Reynalue memohon dengan wajah yang menyedihkan. Ini adalah sesuatu yang tidak Ren harapkan, maka dari itu Ren berbalik padanya dengan tatapan dingin.
"Siapa yang mengizinkanmu menyerah? siapa yang mengizinkanmu memerintahku...?"
Ren mengatakannya sambil berjalan mendekati Reynalue kembali. Berbeda dari yang pertama, Reynalue kini berusaha untuk melarikan diri. Keputusasaan telah memenuhi hatinya, dia tidak peduli apa yang akan terjadi padanya nanti. Yang terpenting, dia harus lari dan lari, terus berusaha menjauh.
Tap Tap Tap
Reynalue berlari dengan putus asa diantara Pepohonan Hutan yang lebat. Pada saat seperti ini, dia bahkan tidak mampu menggunakan kekuatannya, hanya dapat berlari dengan cara biasa.
Tap Tap Tap
Dengan cara yang putus asa, dia berbalik melihat ke arah belakang. Berusaha memastikan apakah dirinya berhasil lari atau tidak, meski dia sendiri menyadari pelarian tidak mungkin berguna.
"D-Dia tidak mengejark-?!"
Buum!!!
Ren muncul entah darimana, dia mencengkeram Kepala Reynalue dan langsung membantingkan nya pada tanah. Membuat keadaan Reynalue kembali menyedihkan.
"Jangan jadi merepotkan, aku tidak menyukai hal yang merepotkan... sudah cukup kita bermain - main. Jawab beberapa pertanyaanku, mengerti?"
Reynalue mengangguk lemah, tidak ada sedikitpun keinginan dalam dirinya untuk melawan.
"Gadis baik, [Blood Prison Cube]."
Setelah menyembuhkan kembali luka Reynalue, Ren melepaskan tekanannya. Lalu, dengan cepat dia mengurung Reynalue ke dalam Kubus Merah miliknya.
"Hiiii...?!" Reynalue berteriak histeris.
"Pertanyaan pertama, dimana Wanita bernama Kinna?" Ren langsung bertanya, tidak mempedulikan ketakutan yang dialami Reynalue.
"Aah... Aku, t-tidak tahu.. siapa Wanita itu." Sebuah jawaban dengan Nada gemetar Reynalue balaskan pada Ren.
"Biar kuperjelas, Wanita yang bernama Kinna ini kau sandera untuk menjadikan Demi-Human Rakuza sebagai salah satu bidak hidupmu..."
Ekspresi Reynalue seketika berubah, seakan dia memang benar mengingat seseorang yang Ren bicarakan. Menanggapi ini, sebuah senyum menakutkan muncul di wajah Ren.
"Cepat katakan.."
"Uh... Itu." Reynalue terlihat Ragu - Ragu.
"Begitu... kau ingin mengalami hal tadi kan." Ren menunjukan Jarinya yang siap menjentik kapanpun dia mau.
"T-Tidak - Tidak! Jangan! Aku akan mengatakannya! Wanita itu ada di Temple of Abyss yang ada..." Reynalue berbicara, namun pada saat - saat terakhir, dia tidak mengeluarkan sedikitpun suara meski bibirnya bergerak.
Sepertinya, ada suatu pengekangan yang menahan agar dirinya tidak mengeluarkan suara apapun. Tapi, pengekangan ini sangat lemah, Ren masih bisa membaca apa yang dikatakan oleh Reynalue.
"Kerajaan.. Sanc..tu.. Fu...neral?" Ren mengatakan kembali secara perlahan apa yang di katakan Reynalue.
"Pertanyaan kedua, apakah kau mengetahui, tentang kegelapan dunia yang menelan Dragon God?" Ren bertanya kembali. Kali ini wajahnya terlihat sangat serius.
Pertanyaan ini membuat wajah Reynalue terlihat Rumit sekaligus kebingungan.
"A-Aku tidak tahu apapun tentang itu... Serius, aku tidak mengetahui apapun...!" Reynalue berusaha menjawab dengan putus asa.
"Kau tahu kan, nasib apa yang menantimu..?" Tatapan Ren lebih tajam dari sebelumnya.
"To-long...! Aku, mengatakan yang sesungguhnya, aku sendiri tidak tahu.. siapa yang kau maksud Dragon God?"
"Hm? Apa maksudmu..?"
Ren menampakan keterkejutan, seharusnya seorang yang menyandang Gelar Dewa terkenal dan diketahui oleh siapapun. Lalu, mengapa Dragon God ini tidak dikenal?
"M-Maksudku... Siapa Dragon God? selama aku hidup, aku tidak mengetahui bahwa Ras Naga memiliki seorang Dewa.." Reynalue menjelaskan, Nadanya masih putus asa dibawah tatapan yang dingin dan menakutkan dari seorang Ren.
"Ahh... Aku mengerti, kau sama sekali tidak berguna.... Rasakanlah penderitaan, [Temperature Blood Control : 400 C° Active]."
Wajah Reynalue seketika menjadi sangat terkejut. Keputusasaan dan ketakutan yang teramat sangat muncul disana.
"T-Tunggu! ini tidak ad-"
Takk!
Reynalue tidak sempat menyelesaikan perkataan nya. Seluruh tubuhnya menjadi meleleh, menjadi sesuatu yang sangat menjijikan. Dia melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh Nidgor, membantingkan seluruh tubuhnya ke segala arah.
"Baiklah... Mari ikuti aku."
Swoosshhh
Sayap yang terlihat seperti terbuat dari Kabut berwarna Merah Darah tercipta di punggung Ren. Setelah itu, dua kubus merah yang mengurung Reynalue dan Nidgor mendekat ke arah Ren dengan sendirinya.
__ADS_1
Swooshh!!
Ren terbang ke udara, di ikuti oleh Kedua Kubus merah yang terbang di sisinya..