Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 158 : Hal Kecil Yang Datang Saat Gerimis


__ADS_3

Udara dingin di pagi hari menyelimuti suasana. Ren yang tertidur lelap terbangunkan oleh suara gemericik air yang turun dari langit. Kehangatan yang berasal dari kasur dan selimut seadanya sanggup memberikan rasa nyaman hingga dia enggan untuk beranjak pergi.


Meski begitu Ren masih memaksakan diri untuk tidak menjadi orang malas; dia segera bangun dari tempat tidurnya lalu mengenakan pakaian kasual untuk kehidupan sehari-hari.


Setelah berpakaian lengkap, Ren beranjak turun dari lantai dua tempat kamarnya berada menuju lantai satu penginapan. Di sana, dia telah disambut oleh pemandangan yang tak biasa, dan sedikit aneh.


Nivania terlihat sedang menyantap sarapan pagi, dia ditemani oleh pemilik penginapan yang duduk satu meja dengannya. Tidak ada yang aneh dengan sarapan pagi, tetapi ekspresi mereka berdua memberi indikasi bahwa telah terjadi suatu masalah yang cukup serius.


Sebagai seseorang yang selalu dilanda oleh masalah, baik itu masalah kecil maupun masalah besar, Ren tidak ingin ikut campur dengan urusan mereka, oleh karena itu dia berjalan seperti biasa dan duduk di salah satu meja seolah tidak tahu apa-apa.


Suara air hujan masih terdengar cukup deras, membuat udara dan suasana terasa dingin dan hangat di saat yang bersamaan. Mereka yang berkata dengan nada pelan tidak akan dapat terdengar oleh orang lain, maka dari itu Ren sedikit meninggikan suaranya saat berkata pada pemilik penginapan.


"Ehm, bisa aku meminta satu gelas minuman hangat?"


Pemilik penginapan tampak tersentak, ia kemudian memberi anggukan sebagai tanda mengerti sebelum akhirnya pergi ke dapur untuk menyiapkan pesanan yang diminta oleh Ren.


Kini yang tersisa di ruangan itu hanya Nivania dan Ren, mereka tidak saling berbicara tetapi saling memperhatikan satu sama lain. Nivania sadar dirinya telah memperhatikan orang lain dalam waktu lama, dia segera memalingkan pandangan dan melanjutkan sarapannya.


Sementara itu, Ren mengalihkan mata ke arah luar jendela. Melihat dengan seksama tetesan demi tetesan air yang berjatuhan. Hujan yang mengeluarkan suara khas itu sanggup membuatnya terlelap dalam lamunan sehingga dirinya tidak sadar bahwa beberapa menit telah berlalu.


Kemudian tidak lama, pemilik penginapan itu datang dengan membawa segelas minuman yang masih panas. Dia lalu memberikan segelas minuman itu kepada Ren sambil tersenyum lesu.


"Jangan sungkan untuk memanggilku apabila membutuhkan sesuatu, Anak Muda."


Pemilik penginapan itu pergi setelah sedikit berbicara, dia kembali duduk di hadapan Nivania seraya berdecak kecil. Mereka berdua lalu saling berbincang dengan nada yang rendah supaya pembicaraan mereka bersifat rahasia.


Namun hal itu percuma dilakukan karena tidak ada orang lain di ruangan itu selain mereka bertiga. Merahasiakan topik pembicaraan dari Ren pun bisa dikatakan sebagai hal yang sia-sia karena dia mampu mendengar semuanya.


Alhasil segala pembicaraan mereka yang tidak ingin diketahui orang lain tentu bisa diketahui oleh Ren dengan sangat mudah. Ini terasa seperti Ren telah melakukan suatu kecurangan karena ia tampak bisa melakukan segala sesuatu padahal kenyataannya tidak seperti itu.


Suasana di antara pemilik penginapan dan Nivania terasa cukup berat. Terutama ekspresi pemilik penginapan yang didominasi oleh rasa khawatir dan bingung.


Pemilik penginapan itu mendesah lesu sambil berucap, "Aku semakin tidak tenang."


Nivania selesai menyantap sarapan. Setelah merapikan peralatan makan ke samping meja, diapun memastikan sumber kekhawatiran pemilik penginapan.


"Mengenai Vinri?" tanya Nivania.


Pemilik penginapan itu memandang ke arah pintu seraya membalas pertanyaan Nivania.


"Iya, sebenarnya anak itu ke mana ya? Tidak pernah dia berkeliaran selama dua hari seperti ini. Biasanya, paling lama dia pergi keluar itu satu hari, itupun tidak sepenuhnya satu hari."


Nivania termenung karena bingung. Jangankan dia sebagai orang asing yang tidak mengenal baik Vinri, bahkan pemilik penginapan yang terlihat dekat dengan Vinri pun tidak tahu Vinri ada di mana, oleh karena itu dia hanya bersikap sebagai pendengar yang sedikit-sedikit memberi saran atau masukkan.


"Mungkin dia pergi ke temannya?" terka Nivania.


Bagi gadis seumuran Vinri, pergi bermain bersama teman itu adalah hal yang lumrah, dan merupakan alasan yang paling masuk akal mengapa dia menghilang selain kembali menemui keluarganya. Akan tetapi, pemilik penginapan itu menggelengkan kepala perlahan seolah menolak dugaan Nivania.


"Agak mustahil, aku mengetahui hampir seluruh kegiatannya setiap hari. Tidak pernah aku melihat dia pergi bersama teman seumurannya. Dia juga pernah bercerita bahwa dia adalah anak yatim piatu, dia tidak memiliki teman, dan menganggapku sebagai satu-satunya orang terdekatnya."


Mendengar itu, Nivania langsung terdiam. Dia tidak ingin mengambil kesimpulan yang buruk, atau membuat praduga yang tak berdasar, sampai keberadaan Vinri dapat ditemukan dia hanya bisa berharap agar Vinri baik-baik saja.


"Mhm, apakah Nyonya melihat ada yang aneh dengan Vinri akhir-akhir ini?"


Pemilik penginapan itu tertegun sambil berusaha mengingat segala gerak-gerik dari Vinri selama beberapa hari terakhir. Hasilnya, pemilik penginapan itu ingat bahwa selama dua hari terakhir sebelum Vinri menghilang, Vinri selalu berwajah pucat.

__ADS_1


"Ah ya. Empat hari yang lalu, setelah kembali dari pasar untuk membeli persediaan bahan makanan, Vinri bersikap sedikit aneh. Wajahnya tampak sangat pucat dan lesu, seperti sedang mengalami ketakutan yang berusaha dia sembunyikan. Pada waktu itu, kupikir dia mengalami demam atau semacamnya, tidak pernah berpikir hal yang aneh selain itu."


Nivania langsung beranjak bangun setelah mendengar penjelasan pemilik penginapan. Dia berpikir bahwa kondisi Vinri mungkin sedang terancam saat ini, karena itu dia mengubah rencana dan berniat untuk segera mencarinya.


"Mungkin itu! Bisa jadi Vinri terlibat dalam suatu masalah tetapi enggan untuk memberitahukannya pada orang lain? Kalau begitu, kita harus segera menemukannya!"


Nivania seketika berlari ke lantai dua penginapan. Hal itu dia lakukan dengan cepat, bahkan pemilik penginapan belum memberi tanggapan apapun terhadap keputusannya.


Ren yang mendengar dan menyaksikan semua percakapan mereka menguap karena bosan. Menurutnya, apa yang dialami oleh Vinri hanya masalah kecil, kemungkinan yang terburuk pun tidak lebih dari sekadar penculikkan biasa, tak ada yang istimewa.


Ren kemudian bersandar sambil sedikit menengadah ke atas. Matanya menatap langit-langit ruangan, dan pikirannya berkelana ke sana-sini.


"Tapi ... masalah tidak akan pernah menghilang dari dunia, huh?" gumam Ren pelan.


Saat itu Nivania turun dari lantai dua dengan memakai perlengkapan bertempur yang cukup lengkap. Berbeda dari kebanyakan wanita di dunia, Nivania tampaknya berada dalam kubu wanita yang cepat dan gesit, baik dalam pekerjaan maupun proses berdandan.


Semuanya terbukti dari waktu yang dibutuhkan oleh Nivania untuk berganti perlengkapan. Tidak hanya mengganti pakaian yang dikenakan menjadi zirah ringan, tetapi riasan wajah pun tidak lupa untuk dia oleskan.


Hal itu membuat diri Ren bertanya-tanya dalam hati, apakah Nivania benar-benar ingin bertempur, atau mengikuti semacam pesta kecantikan?


Pemilik penginapan segera menghadang Nivania, dia tahu dengan baik apa yang akan dilakukan oleh Nivania. Perasaan mereka sama, yaitu mengkhawatirkan Vinri yang kemungkinan berada dalam masalah serius. Akan tetapi, dia merasa tidak enak harus menyerahkan semuanya pada orang yang belum lama dia kenal, terlebih masalah ini berisiko tinggi.


"Nak, jangan gegabah! Jika memang hal buruk terjadi pada Vinri, bukankah sebaiknya kita meminta pertolongan pada orang yang lebih berpengalaman?"


Nivania menggelengkan kepala seraya berkata, "Tidak, jika kita meminta pertolongan kepada orang lain apakah ada yang akan menjamin bahwa Vinri masih selamat saat itu? Lagipula, kepada siapa kita bisa meminta tolong? Coba Nyonya pikirkan baik-baik. Vinri, dia harus segera dipastikan keselamatannya!"


DRETTT ....


Bunyi gesekkan menarik perhatian Nivania dan pemilik penginapan. Mereka melihat bahwa Ren beranjak bangun dari duduknya lalu menghampiri mereka berdua dengan mata yang lelah.


Untuk berbagai alasan, Nivania hanya diam. Dia menunduk dengan mata yang bingung karena sebenarnya, diapun tidak tahu harus memulai dari mana pencarian Vinri di kota yang luas ini.


"Belum tahu?"


Nivania spontan menggelengkan kepala pelan.


"Aku memang tidak tahu harus memulai dari mana, tapi nanti pasti ada semacam petunjuk."


Ren menatap penuh keraguan, lalu ia berjalan ke arah pintu penginapan dan membuka pintu tersebut. Angin dingin yang berhembus seketika dirasakan oleh mereka bertiga, dan pemandangan dari luar ruangan yang diguyur hujan terlihat oleh mereka.


"Hmm ... hujan yang cukup deras. Kau yakin ingin mencarinya dalam keadaan seperti ini?"


Meski bertanya, Ren sebenarnya telah memperkirakan jawaban yang akan diberikan oleh Nivania. Tebakannya ini diambil berdasarkan fakta bahwa sifat Nivania itu cukup keras kepala dan menjunjung tinggi nilai kebaikan.


"Aku tetap akan melakukannya," balas Nivania bersungguh-sungguh.


Sejauh ini jawaban Nivania masih sesuai dengan yang diperkirakan. Hanya saja, Ren tidak tahu alasan dibalik Nivania yang suka menolong orang. Apakah dia melakukannya karena ada niat lain, atau memang murni karena ingin melakukan kebaikan?


Ren bertanya lagi, "Mengapa kau begitu bersikeras? Belum tentu perempuan itu dalam kondisi yang membahayakan nyawa 'kan?"


Alasan yang masuk akal, dan juga tidak masuk akal di saat yang bersamaan. Bagaimanapun, keadaan Vinri memang masih belum jelas, dan ini merupakan faktor penting yang dapat dipertimbangkan untuk tidak mengambil keputusan gegabah, tetapi di sisi yang berbeda ada indikasi di mana Vinri mungkin berada dalam bahaya, dan tidak akan ada yang tahu sampai kapan dia akan selamat.


"Memang, tapi aku tidak bisa tenang sebelum kondisinya dipastikan selamat."


Ren cukup puas mendengar pengakuan Nivania yang masih teguh dalam pendiriannya. Tidak ada yang namanya kebaikan sejati, tetapi tidak ada yang salah dengan kebaikan itu sendiri.

__ADS_1


"Sudahlah, Nak. Itu terlalu berbahaya bagimu untuk mencarinya seorang diri. Tunggu aku meminta pertolongan, baru setelah itu kita mencarinya bersama-sama, ya?" usul pemilik penginapan di tengah pembicaraan.


Namun tanpa sepengetahuan mereka, Ren telah memulai pencarian Vinri dengan caranya sendiri. Dalam hitungan detik, dia telah menemukan di mana keberadaan Vinri yang ternyata Vinri di sekap di gudang bawah tanah dengan kondisi tubuh yang sangat lemah.


"Sayang sekali, kita sepertinya tidak memiliki waktu yang cukup untuk itu," ujar Ren kepada mereka berdua.


Keduanya menatap bingung lalu bertanya bersama-sama, "Apa maksudnya dengan itu?"


Alih-alih membalas pertanyaan mereka langsung, Ren malah menguap sambil merentangkan tangan seolah melakukan pemanasan.


"Liburan yang sangat singkat. Sepertinya, kedamaian tidak berpihak padaku?"


Seluruh tubuh Ren bercahaya, dampak dari mana yang melimpah mulai menunjukan reaksi terhadap pengendalian yang dilakukan olehnya. Mana itu mulai menari-nari, mengelilingi tubuhnya dalam pola tertentu yang indah.


Nivania yang tahu kekuatan sihir dengan baik dibuat takjub dengan pemandangan itu. Namun seperti yang diduga, Nivania tidak bisa menebak sihir macam apa yang akan digunakan oleh Ren dengan mana sebanyak itu.


Sementara pemilik penginapan, dia tidak mengenal baik kekuatan sihir dan mana yang menjadi kunci utama pembentukannya, hanya saja dia tetap menatap kagum terhadap kerlap-kerlip cahaya yang indah dan menakjubkan di seluruh tubuh Ren.


"Apa yang akan kamu lakukan, Ren?" Nivania tampak sedikit cemas ketika bertanya.


Ren melirik sedikit dan memberi jawaban, "Hanya sedikit membantumu."


Seketika itulah sebuah lingkaran sihir kecil berwarna hijau semi-transparan muncul di bawah kaki Ren. Sementara lingkaran sihir berada dalam ruangan, tetapi dampak yang dihasilkan terjadi di luar ruangan, yaitu langit Kota Aulzania yang sedang mendung dan turun hujan.


Angin yang terkonsentrasi muncul di antara awan yang mendung, semakin memadat dan memadat sampai akhirnya mencapai tingkat konsentrasi tertinggi dan meledak. Menghasilkan gelombang angin dahsyat di atas langit yang menyebabkan sekumpulan awan mendung beserta hujan yang turun dihempaskan dengan cepat.


Hampir seluruh orang yang berada di kawasan Kota Aulzania menyadari fenomena yang tiba-tiba terjadi ini, dan di antara mereka ada yang menyangka bahwa ini merupakan fenomena alam langka, tapi ada juga sebagian orang yang mengetahui bahwa fenomena ini disebabkan oleh sihir seseorang.


Sebagai orang yang termasuk mengerti sihir, Nivania akhirnya paham mengapa Ren mengatakan "Sedikit membantumu" dan ternyata ini adalah hasilnya; hujan telah berhenti yang berarti memudahkan dirinya dalam melakukan pencarian.


"Terima kasih, itu sangat membantuku," ucap Nivania sambil melangkahkan kaki keluar dari penginapan.


Ren yang baru membuka mata sesaat setelah melepaskan sihir tidak terdaftar segera menghentikan langkah Nivania dengan cara menahan bahunya pelan-pelan.


"Tunggu, aku belum selesai."


Sontak Nivania melepaskan bahunya, dan berbalik ke arah Ren dengan ekspresi yang penasaran sekaligus heran.


"Ren, aku tidak memiliki banyak waktu. Apa lagi?"


Ren lantas mengeluarkan sebuah salinan peta dari Kota Aulzania. Pada suatu titik di arah selatan kota, tepatnya di sebuah bangunan yang kecil dia membuat sebuah coretan merah berbentuk lingkaran lalu menyerahkan peta itu kepada Nivania.


"Pergilah ke sana, kau akan menemukan petunjuk. Ingatlah untuk berhati-hati."


Perkataan Ren membuat Nivania dan pemilik penginapan sedikit bingung tentang bagaimana caranya mengetahui kalau di tempat itu ada semacam petunjuk. Akan tetapi karena dipacu oleh waktu, Nivania tidak terlalu mempedulikannya dan hanya mengangguk lalu berlari pergi.


"Nak, membiarkan wanita pergi ke dalam bahaya seorang diri, apa kamu yakin?" tanya pemilik penginapan sangat khawatir.


Sebaliknya, Ren yang ditanya mengenai itu hanya membalas dengan ucapan yang sedikit dingin, "Tidak masalah. Justru aku heran, mengapa orang terdekat perempuan itu malah diam saja, mengapa dia tidak segera meminta bantuan seperti yang dikatakannya tadi?"


Pemilik penginapan itu tampak terkejut, dia kemudian mengangguk dan segera berlari ke luar penginapan dengan terburu-buru.


"Nak! Aku menitipkan penginapan padamu sebentar ya!" teriaknya dari kejauhan.


Ren hanya menghela napas, kemudian pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian dan bersiap-siap menuju ke istana kerajaan.

__ADS_1


__ADS_2