Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 139 : Peneliti Sihir dan Pertaruhan Bodoh


__ADS_3

Sihir adalah sesuatu yang menakjubkan. Sihir mampu menciptakan fenomena ajaib yang biasa hingga yang tidak masuk akal sekalipun. Walau ada perbedaan detail kecil antara skill dan sihir, tapi dasar-dasar yang membangun mereka tetaplah mana, sehingga segala macam skill yang ada di dunia dapat disebut juga sebagai sihir.


Pemahaman tentang konsep sihir adalah mutlak telah mengakar dalam kepribadian setiap orang. Kepercayaan ini mengacu pada ketetapan bahwa segala macam sihir, dan skill itu telah ada sejak dunia diciptakan, mereka tidak dapat dikurangi, ditambahkan, apalagi diciptakan.


Jika seseorang melihat sihir baru yang tidak mereka ketahui, maka pemahaman yang sudah mengakar itu akan mencari alasan klise yang menyatakan bahwa sihir itu memang sudah ada, tetapi hanya sedikit orang yang mengetahuinya.


Pemikiran yang sempit ini ironisnya sudah menjadi pemandangan umum di dunia yang sekarang. Mereka akan senantiasa mengaitkan sesuatu agar sesuatu itu sesuai dengan yang mereka yakini atau pahami.


Jenis orang seperti ini adalah mereka yang tidak akan melihat batasan dari dunia yang sesungguhnya.


Mengakhiri penjelasan panjang dalam pikiran seseorang, sebuah ledakan kecil terjadi. Ledakan ini membuat asap mengepul, menghalangi pemandangan terhadap seseorang yang mendecak kesal.


"Tch, percobaan ke-27 telah gagal."


Raytsa adalah satu dari sebagian kecil orang di dunia yang meyakini bahwa pemahaman sempit itu sangat menyesatkan. Keyakinan bahwa sihir itu tidak dapat dirubah adalah kesalahan, setidaknya Raytsa yakin setelah melihatnya dengan mata kepala sendiri ketika sebuah sihir baru dilahirkan.


Meskipun sihir yang diciptakan hanya berupa penyampai pesan, tetapi bagi seseorang yang mencari kebenaran mengenai penciptaan sihir itu benar-benar seperti petunjuk dari dewa. Bagaimanapun, Raytsa merasa dirinya adalah peneliti sihir paling beruntung di seluruh dunia.


"Yang Mulai berkata, jika aku bisa memahami struktur dasar dan konsep yang dibutuhkan untuk membangun sihir ini maka tidak mustahil bagiku untuk menciptakan satu yang lain. Itu terdengar sangat sederhana tapi ...."


Ada ribuan struktur yang harus diteliti, belum lagi konsep yang harus dimengerti begitu rumit dan sulit dipahami. Strukur itu terdiri dari berbagai pola mana yang menghasilkan dampak berbeda, tetapi uniknya setiap dari mereka saling melengkapi dan berkesinambungan.


Saat menyadari bahwa penelitian yang dia lakukan selama di kehidupan yang sebelumnya belum mencapai tingkat dasar sekalipun begitu membuat Raytsa terbenam oleh rasa malu yang luar biasa.


Dengan pemahaman yang sangat dangkal itu, bagaimana bisa dia yang dulu bercita-cita untuk membuktikan penciptaan sihir kepada dunia? Keinginan memang tidak salah, tapi ketidaksadaran dirinya lah yang bermasalah.


"Memikirkan betapa banyaknya struktur yang tersusun atas pola mana yang rumit dalam sebuah sihir sederhana seperti ini membuatku sadar akan betapa dangkalnya pengetahuanku selama ini!"


Sejumlah besar kemajuan dalam penelitian ini berasal dari kemurahan hati tuannya. Tidak hanya memberikan pemandangan yang nyata, tapi juga memberikan contoh dan petunjuk yang membuka matanya.


Jika tidak diberitahu, Raytsa tidak akan sadar bahwa sebuah sihir yang telah tercipta mengandung enkripsi yang bertindak sebagai pelindung agar sihir itu tidak bisa dirubah maupun dimanipulasi seenaknya.


Karena Raytsa diberikan satu contoh lingkaran sihir aktif penyampai pesan tanpa enkripsi, akhirnya dia mengetahui mengapa penelitan sihir tidak pernah mengalami kemajuan. Jelas sang pencipta sihir itu tidak ingin tekniknya diketahui, mereka pasti mengenkripsi sihir dengan sebaik mungkin untuk mencegah kebocoran informasi.


"Fufufu, benar juga. Tidak ada alasan untuk kesal karena gagal sebanyak 27 kali."


Motivasi kembali memenuhi Raytsa yang pada saat itu juga langsung meneruskan penelitian yang dilakukan olehnya. Kertas yang menumpuk, item yang melimpah, dan fasilitas yang mumpuni, ini adalah sebuah tempat bagiakan surga untuk peneliti!


......_______......

__ADS_1


Bloody Palace dalam kondisi seperti biasa. Kemegahan bangunan yang dibuat seindah mungkin menampilkan kejelasan saat matahari menyinari seluruh istana.


Terlihat di gerbang utama, dua ekor Beast Servant bersiaga seolah memberi isyarat, kepada siapapun yang ingin membuat kekacauan harus berurusan dulu dengan keduanya.


Tak perlu dipungkiri, monster tingkat rendah akan bergetar ketakutan hanya dengan merasakan kehadiran mereka, monster tingkat menengah akan lari begitu melihat sosok mereka, dan monster tingkat tinggi akan berpikir berulang kali sebelum menyerang mereka.


"Ini?" Avrogan membuka sebelah matanya yang sedang tertidur.


"Berpikir kau juga bisa merasakan keanehan itu, perkembanganmu sedikit patut untuk diapresiasi," ucap Indacrus dengan nada sinisme seraya bangkit dari tidur siangnya.


Benar, mereka berdua memang bersiaga tapi dalam kondisi tidur siang yang santai. Hal-hal akan berbeda jika ada tuan mereka disini, tapi saat ini orang yang dimaksud sedang pergi menjalankan sesuatu.


Sikap ini memang tidak patut untuk ditiru, tapi sebagai beast servant legendaris mencuri-curi waktu untuk bersantai itu terasa wajar. Pada dasarnya, mereka terbiasa menjalani kehidupan santai dan dilayani.


"Berhenti berkata omong kosong! Dari awal kemampuanku pendeteksiku tidak seburuk itu," balas Avrogan seraya bangkit mengikuti Indacrus.


"Oh, benarkah? Kalau begitu bagaimana dengan sebuah taruhan?"


Mata Indacrus menyipit, menampakan kelicikkan yang tersirat jelas dalam ekspresinya. Namun meski kelicikkan itu terlihat jelas, Avrogan memiliki harga diri yang tidak memungkin bagi dirinya menolak tantangan.


"Menarik, pertaruhan macam apa itu?"


"Hmph." Avrogan mendengus percaya diri. "Setuju. Ini akan menjadi perkara yang mudah. Namun, hal apa yang harus kita saling pertaruhkan?"


"Pekerjaan menjaga istana ini, bagaimana?"


"Hoo, tidak buruk!"


"Mari kita mulai."


"Jangan mengelak jika kau kalah, Indacrus!"


Keduanya mulai meningkatkan kemampuan pendeteksi mereka hingga maksimum. Indacrus memiliki keunggulan yang jelas berdasarkan spesies mereka yang merupakan ahlinya pendeteksi. Tapi fakta itu tidak membuat Avrogan menyerah begitu saja, dia menggunakan mode Blood Servant untuk memperluas jangkauan dan keakuratannya.


Selang beberapa waktu, mereka berdua percaya diri dengan tebakan masing-masing untuk kemudian menghentikan kemampuannya. Dengan senyum percaya diri khas kuda dan burung, mereka saling berhadapan untuk memberi jawaban.


"Aku menebaknya, Great Dragon!" Indacrus meneriakannya secara lantang.


"Heh, terjerumuslah dalam tebakanmu sendiri. Aku yakin itu adalah beast servant lainnya!"

__ADS_1


Atas jawaban yang telah dikemukakan masing-masing, mereka berdua menatap penuh persaingan. Namun karena kebenaran belum dipastikan, keduanya memutuskan untuk menunggu dan melihat tebakan siapa yang paling benar.


Seiring berjalannya waktu, keanehan yang mereka maksud sudah ada di depan mata. Tidak, keanehan itu hanya bisa dirasakan tapi tidak mampu untuk dilihat perwujudannya.


"Ilusi?" Indacrus bertanya.


"Sesuatu semacam itu," Avrogan membalas dengan yakin.


Terlepas dari apakah itu ilusi atau bukan, mereka berdua membuat keputusan untuk melakukan penyerangan. Baik Indacrus atau Avrogan langsung melesat dengan kecepatan tinggi, mengeluarkan aura permusuhan pada sesuatu yang tidak bisa mereka lihat.


Akan tetapi ....


"Kalian berdua hentikan sekarang juga!"


.... Teriakan itu menggema di kepala mereka. Suara yang dalam nan bijaksana itu sangat mereka kenal, terdengar menakutkan saat nadanya dipenuhi oleh kemarahan.


Avrogan tersentak, menghentikan laju terbangnya. Begitu pula dengan Indacrus yang hampir mengenai keanehan itu, dia melakukan manuver vertikal untuk menghindar dan bergerak kembali ke tempat Avrogan.


"Tuan?!" teriak mereka bersamaan.


Ya, itu adalah suara tuan mereka yang ditransmisikan melalui perantara hubungan kontrak. Mereka tidak mengerti tapi sepertinya, tuan mereka ada dalam keanehan tersebut.


Dan tak lama setelah keduanya berpikir, yang muncul dari udara adalah sesosok makhluk bertubuh merah yang megah sekaligus menakutkan. Betapa terkejut Indacrus dan Avrogan saat melihat sesuatu yang belum pernah mereka ketahui sebelumnya.


Namun disaat yang bersamaan, mereka merasakan aliran mana yang sangat familiar merembes dari setiap inci tubuh makhluk merah. Sontak pertanyaan konyol muncul dalam diri mereka, tidak mungkin bukan tuannya berubah menjadi sosok semacam ini?


"Jika kalian tidak berniat menyambutku sebaiknya menyingkirlah."


Avrogan, dan Indacrus dengan patuh memberi jalan saat mendengarnya. Mereka sendiri masih kebingungan, dan menelaah dengan baik apakah sosok itu benar-benar tuan mereka.


Sosok merah perlahan turun di halaman istana yang lebih luas dari ukuran tubuhnya. Tidak lupa, Indacrus dan Avrogan mengikuti untuk bersiaga kalau-kalau situasi buruk benar-benar terjadi.


Mereka sekali lagi dikejutkan saat makhluk itu mampu membelah bagian tubuhnya menjadi pintu yang mengeluarkan tangga. Akan tetapi disaat itu pula mereka sadar bahwa itu bukanlah makhluk hidup, melainkan semacam benda yang terbuat dari sihir.


Muncul dari balik pintu adalah sosok yang mereka patuhi. Ren keluar dengan ekspresi yang sangat lelah dan terbebani, walau begitu dengan bijaksana dia mengatur agar penumpang turun terlebih dahulu.


Avrogan dan Indacrus hanya menganga takjub. Ren yang merupakan tuan mereka, ternyata memiliki benda sihir semenakjubkan ini sehingga mereka berdua salah mengira kalau itu adalah Great Dragon, dan Beast Servant Legendaris.


Untuk penumpangnya sendiri, secara garis besar mereka berdua telah mengerti karena telah mendapatkan informasi sebelumnya. Itu adalah para roh yang semuanya terdiri dari perempuan tanpa seorangpun laki-laki.

__ADS_1


Pada tingkat ini, perasaan terkejut mereka membuat lupa bahwa tebakan yang dipertaruhkan sangat melenceng dari kebenarannya.


__ADS_2