Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 136 : Roh yang Aneh


__ADS_3

Muncul dari balik pepohonan adalah dua orang roh yang berpenampilan sama, tapi nampak berbeda dalam hal usia. Satu adalah perempuan muda yang terlihat di kisaran umur 20-25 tahun, dan satunya lagi terlihat berada di kisaran umur 7-12 tahun.


Ren yang saat itu sedang duduk beristirahat menyadari kehadiran mereka. Lagipula sebelum mereka muncul persepsi mananya telah menangkap dua keberadaan itu terlebih dahulu. Namun karena tidak terpancar gelombang mana yang menunjukan permusuhan, Ren membiarkannya mendekat.


Satu dari yang lebih tua dari mereka berbicara pelan seolah meminta perizinan. "Permisi, apakah kami mengganggu?"


Jika pertanyaannya merujuk pada pekerjaan, Ren mungkin akan membalas tidak karena pekerjaannya telah selesai beberapa saat yang lalu. Tapi jika pertanyaan ini dirujukan padanya yang sedang beristirahat, maka sudah pasti mereka mengganggu walau sedikit.


"Uhm, mungkin tidak, kebetulan aku sedang beristirahat. Jadi, siapa kalian ini? Apakah ada semacam urusan denganku?"


Wajah keduanya cukup asing. Tidak, mungkin Ren sedikit familiar dengan wajah salah satu dari mereka, yaitu perempuan yang berusia 7-12 tahun. Penampilannya mengingatkan Ren pada sosok anak kecil yang ditemuinya saat tak sengaja memasuki wilayah Shade of Spirits pertama kali.


"Dia anak yang menangis waktu itu 'kan?" pikir Ren, mencoba mengingat dengan seksama.


Saat Ren berpikir perempuan yang lebih tua terlihat menghela napas lega. Dia kemudian membungkuk secara hati-hati, bersama dengan perempuan yang lebih kecil disampingnya.


"Terima kasih," ucapnya.


"Aku tidak ingat telah berbuat sesuatu sehingga layak mendapatkan terima kasihmu itu?"


Tidak ada alasan untuknya berterima kasih, jadi mengapa dia berterima kasih? Ren tidak bisa menemukan alasan yang masuk akal.


Perempuan itu menggelengkan kepala pelan sambil tersenyum manis. "Tidak, saya berterima kasih karena telah menerima kami berdua dengan ramah."


Mendengar itu, mata Ren menelaah dengan baik untuk mencari apakah ada niat tersembunyi. Akan tetapi, senyuman yang murni, gerak-gerik yang alami, dan gelombang mana yang normal itu memberitahu kepadanya bahwa perempuan tersebut berkata jujur.


"Aku tidak terlalu mengerti. Mari kita ubah arah pembicaraan ini pada hal yang lebih masuk akal, kalian memiliki urusan denganku 'kan?"


Tidak mungkin rasanya dua orang perempuan asing datang bersamaan hanya untuk menyapa dengan sengaja. Terlebih tempat Ren berada saat ini cukup jauh dari Shade of Spirits. Dengan kata lain, mereka berdua mengambil risiko besar untuk keluar dari naungannya sendiri.


Alih-alih membalas dengan segera, perempuan itu malah terlihat ragu-ragu. Hal ini sedikit membuat Ren bingung, mengapa dua orang itu datang jika masih ragu-ragu dalam mengatakan urusannya?


"Tidak perlu ragu mengatakannya, kalian adalah keluarga Arystina yang berarti keluargaku juga."


Perkataan Ren terdengar cukup naif, tapi itu bukan masalah besar selama bisa menghilangkan keraguan perempuan itu.


"Mhm, saya ... sedikit bingung bagaimana menyampaikannya." Perempuan itu melirik dengan gelisah ke arah Ren, dan perempuan kecil disampingnya secara bergiliran. Kemudian dengan kalimat yang terbata-bata, dia berbicara sambil merasa malu. "J-Jika diperkenankan, saya akan menyampaikan ini secara rahasia."

__ADS_1


"Apa maksudnya dengan rahasia?"


Ren sedikit berpikir, mungkinkah perempuan ini akan mengirim pesan tersirat menggunakan gelombang mana? Atau mungkin dia akan menuliskan pesan tertulis dalam sebuah surat?


Meskipun nantinya perkiraan Ren benar, dia tidak mengerti mengapa perempuan itu merumitkan suatu hal yang mudah. Seperti, apa susahnya untuk berbicara secara langsung dengan terang-terangan? Tempat ini aman, dan tidak ada siapapun selain mereka disini.


Saat perempuan itu ingin berbicara kembali, Ren menghentikannya menggunakan isyarat tangan.


"Baiklah, lakukan sesukamu." Ren tidak memiliki cukup waktu untuk basa-basi, apalagi memikirkan suatu hal yang tidak penting. Pilihannya dalam memberi izin merupakan keputusan yang tepat untuk menghemat waktu.


Tapi tanpa diduga, perempuan itu bergerak meninggalkan gadis kecil untuk melangkah ke depan mendekati Ren yang sedang duduk. Dia menyodorkan kepala sambil mendekatkan bibirnya pada telinga Ren lalu kemudian mengatakan sesuatu yang mengejutkan.


Setelah berbisik, perempuan itu lekas mengambil langkah mundur, dan berdiri kembali di samping gadis kecil sambil menunggu respon yang diberikan. Tampak di wajahnya yang manis, ada sedikit kecemasan yang terpancar keluar.


"Apa lagi ini, ya ampun." Ren memijat kening sambil merasa heran, sekaligus merasa aneh. "Aku mengerti situasinya tapi ...."


Bagaimana bisa perempuan itu meminta agar Ren menjadi ayah bagi gadis kecil di sampingnya? Sedikit tidak masuk akal, dan terlalu tiba-tiba, alasan yang diberikan kepadanya pun terlalu sederhana.


"Siapa nama kalian berdua?"


Perempuan itu menunggu balasan, tapi yang dia dapatkan malah sebuah pertanyaan. Dengan sedikit canggung dan terlihat sedikit enggan, dia membuka suara pelan.


"Ah!" Ren akhirnya mengingat nama anak itu. Dia memang gadis kecil yang pertama kali dia temui di Shade of Spirits ini. Lalu, mengapa seorang gadis kecil yang pernah menangis karena takut terhadapnya sekarang malah berbalik, dan meminta ia menjadi seorang ayah?


Ren memikirkan serta mempertimbangkan masalah ini, dan berakhir pada satu kesimpulan bahwa tidak ada yang salah dengan menerimanya. Menjadi seorang ayah angkat bukan berarti harus senantiasa mengurusinya bukan?


"Yah, aku tidak masalah dengan itu. Namamu adalah Laselta bukan?' tanya Ren tersenyum ramah.


Gadis kecil itu -- Laselta, mengangguk penuh semangat. Sepertinya Enrielta memang serius tentang permintaan ini yang didasarkan pada keinginan dari Laselta itu sendiri.


"Nama yang bagus. Mulai saat ini kamu bisa memanggilku sebagai Ayah."


Meski sedikit sulit karena sangat memalukan untuk mengatakannya, tapi Ren berusaha sekuat tenaga agar tidak mengecewakan seorang anak kecil yang sangat antusias dihadapannya.


"A-Ayah ...?" ucap Laselta, kemudian bergegas sembunyi dibalik tubuh ibunya.


"Hahaha, dia sangat lucu." Ren tertawa lepas melihat tingkah menggemaskan Laselta."Berapa umurmu saat ini?" tanya Ren kembali.

__ADS_1


"S-Seratus ...." Laselta diam, sepertinya malu. Kemudian Enrielta dengan sabar meneruskan ucapannya. "Laselta baru berusia 172 tahun berdasarkan perhitungan kami, namun seharusnya itu tidak jauh berbeda dengan dunia luar."


Alis Ren sedikit berkedut. "Ehm ... bisa diulangi?'


"Laselta baru saja berusia 172 tahun, itulah mengapa sikapnya masih kekanak-kanakan, saya mohon Anda memakluminya."


"Ah, aku mengerti."


"Sial, lelucon ini sama sekali tidak lucu. Daripada seorang anak, bukankah dia seperti nenek buyutku?" ucap Ren dalam pikirannya.


Sayang sekali bahwa kata yang telah diucapkan tidak bisa ditarik kembali. Mungkin, Ren akan menerima penghargaan sebagai satu-satunya ayah yang memiliki anak satu abad lebih tua darinya.


Ren beranjak sambil menghilangkan segala keluhan yang ada dalam dirinya. Dia menghampiri Enrielta dan Laselta, lalu berhenti tepat dihadapan mereka untuk kemudian menyamakan posisi dengan tubuh kecil Laselta.


"Kemarilah, apa kau ingin melihat benda besar itu dari dekat?"


Ren merujuk pada pesawat yang baru selesai dibuat. Enrielta sedikit terkejut, karena dari awal sebagian perhatiannya teralihkan pada keberadaan benda asing itu.


"Ehm, Yang Mulia?" Enrielta sedikit bingung harus memanggil dengan sebutan apa, tapi untuk sekarang dia menggunakan gelar yang digunakan oleh ratunya, Arystina.


"Apa?" balas Ren yang sedang menunggu Laselta menghampirinya.


"Ah, tolong lupakan saya hanya asal bicara." Enrielta segera sadar bahwa bertanya lebih jauh sama halnya dengan tidak sopan dan lancang. Diapun mengubah target bicara menjadi Laselta yang masih bersembunyi. "Laselta, pergilah. Itu tidak baik mengabaikan, A-Ayahmu."


Laselta mengintip, sebenarnya dia merasa senang tapi terlalu malu untuk menunjukan sikap senangnya. Perlahan-lahan dia keluar, lalu berjalan menghampiri Ren dengan ekspresi gelisah.


"Nah, ulurkan tanganmu."


Meskipun sedikit sulit tapi akhirnya Laselta menurut. Ketika Laselta menyentuh tangan Ren menggunakan tangan kecilnya, perasaan hangat menyelimuti Laselta yang seketika menghilangkan rasa ragu dihatinya. Laselta tersenyum cerah merekah seindah bunga yang baru saja mekar. Tampak di senyumnya, kebahagiaan yang tak terbendung.


Namun di sisi lain, Ren merasakan kedinginan dalam diri Laselta. Kedinginan ini tidak hanya diciptakan dari suhu tubuh, tapi juga perasaan sepi yang mungkin dirasakan Laselta selama ini.


"Mungkinkah, semua roh merasakan hal yang sama?"


Ren menghilangkan pertanyaan itu sementara, ada hal yang harus dia lakukan terlebih dahulu.


Bersama Laselta, dan tentu Enrielta, Ren mengajak mereka berdua melihat keadaan pesawat baik bagian dalam maupun bagian luar pesawat.

__ADS_1


"Setelah ini aku akan memberitahu Arystina agar mereka semua bersiap."


__ADS_2