Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 156 : Jangan Meremehkan Orang Kaya


__ADS_3

Selama di perjalanan menuju penginapan, Nivania membicarakan begitu banyak hal yang sudah terjadi. Mulai dari awal mula mengapa dia memutuskan untuk pergi Ke Kota Aulzania, sampai hal-hal kecil yang tidak terlalu penting ketika ia berada dalam perjalanannya.


Ekspresi Nivania ketika menceritakan itu terlihat begitu semangat dan bahagia seakan dia menikmati setiap detik waktu yang berlalu ketika mereka bersama. Sesekali dia akan tertawa lepas, lalu tiba-tiba terlihat sedih, dan kemudian tampak kesepian.


Begitu banyak ekspresi yang Nivania tunjukkan sampai-sampai membuat Ren terkagum oleh betapa beragamnya mimik wajah yang perempuan itu miliki. Perasaan kagum itu juga dipengaruhi oleh kenyataan bahwa Ren tidak terlalu pandai dalam mengekspresikan perasaannya.


Nah, itu bukan berarti Ren tidak bisa berekspresi sedikitpun. Akan tetapi, ekspresi Nivania dan ekspresinya jelas berbeda, mereka sama-sama beragam tapi apa yang dimiliki oleh Nivania terlihat begitu alami dan murni, tidak seperti miliknya yang hanya dipenuhi oleh kepalsuan.


Kepalsuan yang dimaksud adalah kebiasaan buruknya yang selalu memanipulasi ekspresi. Ketika merasa marah, dia dapat dengan mudah membuat ekspresinya terlihat senang atau malah sebaliknya. Hal itu juga berlaku untuk tindakan dan perilakunya.


Terkadang karena kebiasaan ini hampir mendarah daging membuatnya tidak bisa mengetahui apa yang sebenarnya dia rasakan. Mungkin terdengar tidak masuk akal, tapi memang itulah kenyataan yang dia alami.


"Mengenai Pahlawan Aulzania," ucap Ren. Langkahnya terhenti, dan Nivania ikut diam sambil memiringkan kepala penuh tanya.


"Mengapa kau begitu yakin kalau Pahlawan Aulzania itu adalah aku?" tanya Ren melanjutkan.


Nivania menggerakan jari telunjuk untuk menyentuh bibirnya. Ini adalah pose di mana dia sedang berpikir dalam-dalam untuk memberikan jawaban yang memuaskan.


"Mhm, mungkin karena firasatku mengatakan begitu?"


Tidak mungkin, sebenarnya ada beberapa alasan lain termasuk beberapa dokumen yang merujuk sosok Pahlawan Aulzania memiliki ciri-ciri yang hampir serupa dengan Ren, tetapi Nivania terlihat ingin menutupi fakta tersebut.


Sementara itu, Ren hanya mengernyitkan alis karena tidak mengerti mengapa sebuah firasat mampu mendorong Nivania untuk melakukan perjalanan jauh dan berbahaya. Apakah perempuan ini tidak pernah berpikir tentan risiko bagaimana jika pahlawan itu adalah orang lain? Memang sulit dimengerti.


"Keh," Ren sedikit terkekeh.


Nivania yang melihatnya menganggap Ren sedang menertawakan dirinya padahal tidak seperti itu. Ren terkekeh sebab mengasihani diri sendiri karena tidak bisa memahaminya dengan jelas.


"A-apa yang kamu tertawakan?"


Nivania menutup wajahnya karena malu. Mungkinkah jawabannya sangat lucu? Atau malah memalukan? Kurang lebih pikirannya diisi oleh pertanyaan demikian.


"Tidak ada. Hanya sedikit debu yang menggelitik hidung membuatku ingin tertawa," jelas Ren berbohong.


Entah karena apa, Ren tiba-tiba merasa ingat dengan Arystina, atau Nirlayn, mereka kadang kala berpikir terlalu jauh yang membuat kesalahpahaman semakin membesar, dan ternyata Nivania juga memiliki perilaku yang mirip.


"Uhhh, kenapa aku merasa merinding dengan tatapanmu?" Nivania menjaga jarak sambil bersikap waspada.


Namun Ren berjalan lagi melewati Nivania sambil merasa tidak peduli. Sekarang adalah waktunya melanjutkan perjalanan, mereka tidak akan pernah sampai jika terus menerus berbincang.


Nivania pun menyadari hal itu dan segera menyusul Ren dari belakang untuk memimpin jalan. Setelah beberapa waktu berjalan, Ren menyadari bahwa jalan yang mereka lalui terasa tidak asing.


"Hanya memastikan, kau tidak menginap di Penginapan Twin Lotus 'kan?"


Bahu Nivania seketika bergetar ketika mendengar pertanyaan itu. Dugaan itu memang tidak salah lagi, dan mengenai sasaran yang sangat tepat. Lalu Nivania dengan enggan menoleh ke belakang sambil memberi sedikit alasan.


"Uhm, mengapa kamu bisa tahu?" Nivania menggigit bibir tampak sedikit kesal, "Jujur aku dalam keadaan yang sulit."


Keadaan yang sulit.

__ADS_1


Kalimat ini sering digunakan oleh mereka yang sedang mengalami masalah yang tidak bisa dikatakan. Masalah itu tidak diukur berdasarkan seberapa besarnya, tapi seberapa memalukan untuk mengatakannya.


Namun bagi Ren untuk mengetahui apa masalah yang dialami oleh Nivania itu sangat mudah. Tidak sesulit membalikkan gunung, dan semudah membalikkan telapak tangan untuk menduganya.


"Oh, aku mengerti. Kau kehabisan uang bukan?"


Nivania tersentak dengan mata yang membulat, "B-bagaimana bisa kamu tahu?"


Ren menyipitkan mata dan menelaah kondisi Nivania, "Ada tiga alasan utama mengapa aku mengetahuinya. Pertama, kau terlihat sedikit kurus dan berantakan. Kedua, perutmu terkadang bersuara walaupun hampir mustahil bagi orang biasa mendengarnya. Ketiga, kau memilih Penginapan Twin Lotus sebagai tempat tinggalmu."


Alasan ketiga memang sedikit tidak pasti. Ren menebaknya karena Nivania bereaksi aneh ketika dia menyinggung nama penginapan itu. Saat dulu dia menginap saja, biaya permalam di penginapan itu cukup murah sehingga tidak menutup kemungkinan sekarang menjadi lebih murah lagi.


"Ahh, aku mengerti," Nivania merespon lesu.


Tidak lama setelah itu mereka tiba di halaman depan Penginapan Twin Lotus. Penampakan luar dari penginapan ini masih tetap sama, hanya yang berbeda adalah keadaan di sekitarnya yang lebih sepi dan sunyi.


"Aku sungguh penasaran, apa yang terjadi dengan penginapan ini?"


Mungkinkah pengunjung mereka semakin sepi setiap harinya sampai mencapai titik di mana hanya Nivania yang berkunjung dalam satu bulan terakhir?


"Mari masuk," ucap Nivania menarik Ren untuk memasuki penginapan.


Nivania membuka pintu masuk lalu melangkah ke dalam dengan diikuti oleh Ren dari belakang. Berbeda dari penginapan pada umumnya, tidak ada tanda-tanda kehidupan selain mereka di sini selain seorang wanita paruh baya yang sedang duduk di ujung ruangan.


"Nyonya pemilik, aku sudah kembali."


"Selamat datang kembali, Nivania."


Wanita paruh baya itu sesaat terdiam karena sadar ada seseorang yang datang selain Nivania. Dia lalu dengan profesional bersikap seperti biasa agar tidak menyinggung pengunjung baru yang datang ini.


"Siapa ini, Nivania? Kekasih yang telah lama kamu cari?"


Kali ini tidak hanya Nivania, tetapi juga Ren dibuat tertegun. Bagaimana bisa wanita tua ini mengarahkan hubungan mereka menjadi sepasang kekasih padahal tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan mereka memiliki hubungan seperti itu? Sebuah pemikiran yang tidak berdasar.


"Kami bukan sepasang kekasih, Nyonya pemilik. Jangan membicarakan hal itu lagi ya? Takutnya Ren merasa tidak nyaman."


Wanita paruh baya itupun mengangguk mengerti. Tapi dalam hati, dia berpikir mungkin mereka berdua terlalu malu untuk mengatakan kebenarannya.


"Jadi laki-laki di sana, apakah kamu mau menginap di sini?"


Ren tidak langsung merespon melainkan mengamati seluruh bagian penginapan untuk mencari seseorang. Saat orang aneh itu menghilang begitu saja, dia entah mengapa tidak bisa menahan rasa penasarannya.


"Di mana orang itu?" tanya Ren penasaran.


"Siapa yang kamu maksud?"


"Perempuan muda yang menyebalkan bernama Vinri. Aku tidak pernah lupa saat dia memaksaku memasuki penginapan ini dulu."


"Oh ... seperti yang diharapkan dari anak muda. Meski sudah memiliki Nivania kamu ternyata sangat rakus ya?"

__ADS_1


Wanita paruh baya itu mencoba untuk mengatakan sebuah lelucon, tapi karena suatu hal leluconnya mendapatkan respon berupa tatapan kematian yang diberikan oleh Nivania dan Ren hingga membuatnya tersedak.


"Ha-hahaha ... maaf-maaf. Aku sudah tua, tolong jangan menekanku seperti ini."


Ren dan Nivania kemudian melepaskan tatapan tajam yang menekan. Meski perkataan wanita paruh baya itu terasa menyebalkan tetapi belum memasuki ranah yang mengharuskan mereka menyiksa orang tua.


"Sudahlah, aku tidak tertarik lagi. Berapa biaya permalam?"


Wanita paruh baya itu beralih ke meja penerimaan tamu. Saat dirinya mulai mengatakan harga, di saat itulah dia sadar bahwa laki-laki ini adalah orang yang pernah dibawa Vinri di masa lalu.


"Oh, tidak mahal. Hanya satu koin emas per-empat malam."


Ren lalu mengambil koin emas dari saku setelah mendengar harga menginap dari wanita paruh baya. Semua koin yang ada dalam saku itu dia keluarkan, lalu ketika dihitung jumlah keseluruhannya mencapai seratus tiga puluh koin emas.


"Apa-apaan ini," ucap Ren tak percaya.


Wanita paruh baya dan Nivania sontak terkejut dan menyangka Ren telah mengalami sesuatu yang buruk? Karena itulah dirinya tampak kesal ketika melihat koin emas yang berserakan di atas meja.


"Ada apa, anak muda?"


"Kenapa, Ren?"


Ren hanya menggelengkan kepala pasrah, "Tidak apa-apa. Aku hanya lupa untuk mencari uang tambahan."


"U-uang tambahan?" Nivania dan wanita paruh baya menatap bingung.


Mereka bertanya-tanya dalam hati, bukankah uang sebanyak ini sudah lebih dari cukup untuk menginap selama beberapa bulan?


"Jangan khawatir. Nah, ambillah semua koin ini untuk membayar biaya penginapanku dan Nivania."


Mereka yang mendengarnya hampir menjatuhkan rahang mereka. Siapa dia ini, mengapa orang ini memberikan sejumlah koin yang cukup untuk menyewa kamar selama satu tahun lebih?


"A-anak muda, apa kau yakin ingin menginap di tempat ini selama itu?"


"Ren, apa yang kau lakukan! Jangan terlalu boros, bagaimana dengan kebutuhanmu yang lain?!"


Ren menghela napas lelah. Dia yang mengeluarkan uang mengapa malah mereka yang membuat keributan? Lagipula, hanya seratus tiga puluh koin emas adalah jumlah yang sedikit.


"Jangan khawatir, apa kaliang mengerti? Besok aku akan mencari uang lagi. Lalu soal menginap seberapa lama, mungkin aku hanya tinggal selama dua hari saja."


Dan-


"HAAAHH?!"


Pemilik penginapan dan Nivania pun berteriak keras.


...______________...


Tidak pandai, tidak pandai. Kehidupan sehari-hari adalah sesuatu yang sulit untuk dibayangkan....

__ADS_1


__ADS_2