
"Rajaku..?!" Ratu panik, melihat Sang Raja yang tergeletak di dalam kubus merah.
"Ayah...?! Apa yang terjadi...!" Sang Pangeran pun terlihat terkejut dan Panik.
"Yang Mulia!" Sementara Fraudlin, berlari mendekati Kubus yang mengurung Sang Raja.
Bam! Bam! Bam!
Pangeran berusaha keras untuk menghancurkan Kubus merah, berulang kali Pangeran memukul dan memukul kubus itu. Namun, tidak ada satupun tanda - tanda kubus itu akan hancur.
"Hei! Apa yang terjadi dengan Ayahku?!" Pangeran Etharez bertanya panik pada Ren yang masih berdiri di tempat yang sama.
"Hm...? Sepertinya, dia melihat sesuatu melalui mata uniknya itu.." Ren menjawab Ragu - Ragu.
Jawaban Ren tentu tidak memenuhi harapan Sang Pangeran. Dirinya terlihat marah dan semakin mencoba untuk menghancurkan Kubus merah itu.
Bam! Bam! Bam!
"Jika kau tidak tahu! Biarkan aku keluar dari sini!" Sang Pangeran tidak hanya memukul kubus itu, tetapi juga berusaha sekuat mungkin menendang nya.
"Ya ampun.. Padahal dia hanya tak sadarkan diri..." Ren memegang kepala dan menggelengkan nya.
"Terserahlah...." Ren bergumam pasrah.
Tak!
Suara sebuah Jentikan jari terdengar, bersamaan dengan munculnya sebuah Retakan - Retakan pada Kubus merah.
Trank!
Kubus merah hancur dengan cara yang dramatis. Membuat Sang Raja, Ratu dan Pangeran terbebas dari kurungan.
Ratu dan Pangeran langsung berlari menghampiri Sang Raja yang tak sadarkan diri. Mereka bahkan melupakan sosok Ren yang telah melepaskan kurungannya.
"Ayah...! Fraudlin cepat periksa kondisi Ayah!" Pangeran memerintahkan Fraudlin yang tak jauh darinya.
Fraudlin dengan cepat mengangguk dan memeriksa kondisi Sang Raja. Setelah beberapa saat kemudian, Fraudlin berhenti memeriksa. Ratu dan Pangeran terlihat khawatir, melihat Fraudlin yang hanya diam tak mengatakan apapun.
"Bagaimana...Fraudlin?" Ratu bertanya pelan.
"Yang Mulia....." Fraudlin menunda perkataannya.
"Apa...?! Ayahku kenapa?!"
"Hanya tak sadarkan diri biasa.... Tampaknya, Yang Mulia pingsan karena kelelahan.." Fraudlin menenangkan Pangeran yang diliputi kecemasan.
"Apa itu benar...? Haaahh.. Syukurlah." Ratu menghela Napas lalu tersenyum ke arah Raja yang terbaring.
"Baiklah, saya ingin bertanya sesuatu pada Master Ren terlebih dahulu. Ratu, Pangeran, Tolong jaga Yang Mulia." Setelah mengatakan ini, Fraudlin beranjak pergi untuk menghampiri Ren yang sedang terlihat di dekat Sarlyn.
*
*
*
*
*
*
'Ah... Aku melupakan satu hal..'
Ren tersenyum, memandangi sebuah kubus merah yang terletak tidak jauh darinya.
Di dalam kubus itu, terlihat seorang wanita yang tak sadarkan diri di dalamnya. Wanita itu tidak lain adalah Penyihir Kerajaan, Sarlyn.
Ren menghampiri kubus itu, kemudian Ren melepaskan kurungan Sarlyn.
"Sebenarnya aku tidak suka menyakiti seorang wanita, tapi jika dia menyebalkan maka akan menjadi sebuah pengecualian...."
Ren berbicara pada dirinya sendiri, wajah Ren menampakan sebuah senyum yang menakutkan. Dalam hati Ren, masih ada sedikit dendam pada Sarlyn ketika berada di Kediaman Duke Tayslen.
Mendekati Sarlyn yang tergeletak, Ren lalu duduk disamping nya. Merangkul Sarlyn yang tak sadarkan diri layaknya seorang putri.
"Master Ren, apa yang anda lakukan?"
Suara Fraudlin muncul secara tiba - tiba. Ren sedikit terkejut mendengarnya, tetapi dengan Cepat Ren berbalik pada Fraudlin dan tersenyum.
"Fraudlin ya, ini hanya sedikit hadiah dariku padanya." Senyum Ren melebar ketika mengatakan hal ini. Membuat seluruh tubuh Fraudlin merinding.
"A-Ah haha.. Be-Begitu.." Fraudlin tersenyum Canggung yang tidak cocok dengan usianya.
Ren tidak memperhatikan Fraudlin lebih jauh. Pandangan Ren kembali pada Sarlyn yang berada di pangkuannya.
"Nona... Nona.. Apakah dirimu akan tertidur terus menerus..?" Perkataan Ren dipenuhi dengan kelembutan dan ketulusan yang mendalam. Seakan, perkataan nya merupakan sihir pemikat itu sendiri.
__ADS_1
Sarlyn tidak bisa menahan Godaan akan panggilan dari Suara yang begitu indah di telinga nya. Perlahan, mata nya terbuka, menandakan bahwa dirinya telah kembali ke dunia nyata.
"Eh...?" Sarlyn terkejut, oleh sebuah Sosok Makhluk yang mempesona, indah, menawan dan menakjubkan di hadapannya.
"Si-Siapa.. Anda....?" Sarlyn menyadari dirinya telah dirangkul oleh sosok yang Luar biasa itu. Wajahnya mengeluarkan warna merah yang cerah.
Plakkk!
Sebuah Tamparan yang keras diberikan oleh Ren pada Sarlyn yang masih dalam Rangkulan nya.
"Apa... Maksu-"
Plakk!
"Tu-Tunggu.. Apa salahku in-"
Plakk!
"Maafkan aku Nona... Aku terpaksa melakukan hal ini.." Ren berbicara dengan Ekspresi penuh kesedihan di wajahnya.
Plakk! Plakk! Plakk!
Beberapa tamparan, Ren berikan kembali pada Sarlyn. Wajah Sarlyn yang cantik kini telah berubah menjadi buruk.
"Ughh... Ke-Kenapa..?"
"Kau ingin tahu? sebuah Seni dari Balas dendam yang sesungguhnya?" Ren tersenyum pada Sarlyn.
"Biar kuberitahu, Seni itu adalah memberi sebuah harapan, kemudian menghancurkan harapan itu sendiri." Ren melepaskan Rangkulan nya pada Sarlyn.
"Aughh.... A-Apa maksud..mu?"
"Tidak ada, karena kau hanya menghinaku sedikit. Pembalasanku hanya sampai sini, [Blood Prison Cube]."
Sosok Sarlyn kemudian terbungkus oleh Kubus merah itu kembali. Bersamaan dengan Sarlyn yang menyadari, bahwa pria dihadapannya adalah Ren. Sekali lagi, Sarlyn pingsan dan tak sadarkan diri karena terkejut oleh suatu hal.
"Hm? Fraudlin.... Apa yang kau lakukan dengan menontonku seperti itu?" Ren protes, ketika Ren berbalik, sosok Fraudlin masih diam di tempat yang sama.
"Sa-Saya tidak bermaksud apa - apa, Master Ren. Saya hanya ingin menanyakan suatu hal pada Anda."
"Suatu hal...?" Ren berjalan melewati Fraudlin.
"Apa yang ingin kau tanyakan?" Ren bertanya, sosoknya tengah berjalan menuju singgasana miliknya.
"Saya hanya ingin tahu.. Mengapa anda melakukan semua ini." Fraudlin mengikuti Ren yang berjalan.
"Baiklah, tapi... Kau lebih memilih mengetahui hal ini atau menjadi muridku?"
Fraudlin terlihat protes dan kecewa, pada Ren yang telah memberikannya sebuah pilihan yang sulit.
"Hahaha... Aku bercanda, jika kuberitahu ada suatu hal yang tidak bisa didapatkan dari cara yang baik. Apakah kau puas?"
Ren kembali duduk di singgasana nya. Posisi yang Ren lakukan masih sama, dengan kedua kaki menyilang lalu tangan kanan yang berada di dagunya.
"Itu.... Saya sedikit mengerti." Fraudlin terlihat berpikir dengan dalam.
"Ya, jika kau tidak mengerti hal sederhana seperti ini maka kau tak pantas menjadi Master Alkimia..."
Ren memikirkan semua ini dengan baik. Tujuan Ren memang bisa dilakukan dengan cara menempuh jalan yang baik dan benar. Tetapi, ada beberapa hal yang tak bisa Ren dapatkan ketika menempuh jalan yang satu ini. Contohnya, Ren tidak bisa menemui Sang Raja dengan leluasa. Meskipun Ren masih bisa melakukannya dengan cara mendapatkan kepercayaan Sang Raja tapi itu semua pasti membutuhkan proses yang lama.
Lagipula, Ren berniat untuk bekerja sama dengan Raja secepat mungkin. Jika ini dilakukan dengan cara biasa, tentu akan menghasilkan beberapa penolakan dari Sang Raja.
Maksudnya siapa yang akan bekerja sama dengan seseorang yang mencurigakan seperti Ren. Walau Ren memberikan sejumlah besar keuntungan dalam perjanjian kerja sama. Tetapi, Sang Raja pasti memikirkan hal ini dua kali.
'Yah.. Ada sejumlah alasan lain untuk ini' Ren bergumam dalam hati.
Disaat Ren sedang memikirkan berbagai hal dengan dalam. Sebuah Suara memasuki pendengarannya, Suara yang membangunkan Ren dari lamunan.
*
*
*
*
*
"Haaa....!" Raja berteriak dan terbangun secara tiba - tiba.
"A-Ayah! Akhirnya Ayah sadar..!" Pangeran terlihat senang ketika melihat Raja sadar.
Ratu memiliki Ekspresi Senang yang sama, sepertinya disini, dialah yang paling merasakan perasaan khawatir terhadap Sang Raja.
"Ugh... Aku mengalami mimpi yang aneh." Raja terlihat kesakitan dan memegang kepala nya.
"Ahh.. Iya, dimana lelaki itu??!" Raja melihat ke kiri dan ke kanan. Berusaha mencari seseorang.
__ADS_1
"Apakah kau mencariku? Raja Esdagius.."
Raja menyadari Suara dari seorang Ren, kemudian mengalihkan pandangan pada asal suara.
"Ahh... Be-Benar, Aku ingin... Meminta Maaf."
Raja Esdagius terlihat membungkuk pada Sosok Ren yang tengah duduk di singgasana.
Melihat Sang Raja memberi penghormatan pada Ren, tentu membuat Ratu dan Pangeran sangat terkejut.
"Apa yang Ayah lakukan...?" Pangeran bertanya, tidak mengerti apa yang dilakukan ayahnya.
"Rajaku... Apa yang terjadi?" Sementara Sang Ratu, terlihat mengkhawatirkan Sang Raja.
Sementara Ratu dan Pangeran terlihat keheranan dan bingung. Ren malah tersenyum dengan elegan di singgasana nya.
"Sepertinya kau telah melihat sesuatu, benar begitu Raja Esdagius?"
"Ba-Bagaimana....." Raja Esdagius berkata tak percaya.
"Saya mengerti.... Ternyata, ini semua telah anda perhitungkan bukan.?" Raja Esdagius mengangguk, seakan telah mengerti suatu hal.
Semua orang di tempat itu terkejut, mendengar Sang Raja yang berbicara sopan pada sosok Ren yang duduk di singgasana.
Bahkan, dalam wajah Ren terlihat ada sedikit keterkejutan.
"Hm..." Ren hanya membalas Raja dengan senyuman.
"Ayah! Kenapa Ayah berbicara sopan pada dirinya?!" Pangeran merasa tidak terima, jika ayahnya harus berbicara sopan pada pria yang tidak diketahui asal usulnya.
"Rajaku... Semua ini memiliki alasan yang kuat bukan?" Ratu berusaha menenangkan dirinya sendiri.
"Um..." Raja mengangguk.
"Aku telah melakukan kesalahan. Aku ini memang bodoh sebagai Raja, bagaimana mungkin aku tak menyadari..... Sosoknya yang luar biasa." Raja berbicara sambil tersenyum kecut pada dirinya sendiri.
"A-Apa yang Ayah katakan...?"
"Jika saja, aku lebih bijaksana dan segera mengaktifkan Mata ini. Mungkin, aku tidak akan melakukan suatu hal yang tidak sopan begini..."
"Maka dari itu Saya, Esdagius Losgan Ri Aulzania. Meminta maaf yang sedalam - dalamnya pada anda... Salah satu dari Continents Holder, Yang Mulia, Monarch." Raja bersujud pada Sosok Ren yang duduk di singgasana.
Ekspresi Ratu dan Pangeran membeku seketika. Mereka sebagai Keluarga utama Kerajaan tentu pernah mendengar Nama yang Luar biasa ini....
Orang yang menyelamatkan Dunia dari keputusasaan akan terror makhluk asing. Orang yang telah diberi berkah oleh Dewa yaitu kekuatan yang Dahsyat untuk melawan penjajah Dunia. Lalu, orang yang diberikan wewenang untuk mengatur Ras mereka sendiri beserta Benua yang mereka tinggali. Mereka adalah orang - orang yang disebut dengan....
"Co-Continents Holder, The Monarch?!" Ratu dan Pangeran berteriak secara bersamaan.
"Benar Rialna, Anakku. Dia adalah seorang Continents Holder, yaitu seorang Monarch. Raja yang melebihi seorang Raja.." Raja mengatakan ini dengan tersenyum pahit. Dia telah menyinggung orang yang tak seharusnya dia singgung.
Ren terlihat tersenyum lebar mendengar perkataan Raja Esdagius.
"Aku memang seorang Monarch jika itu dilihat dari Title yang aku milik-" Perkataan Ren terpotong, oleh Fraudlin yang berbicara tiba - tiba.
"Tu-Tunggu! Yang Mulia, Master Ren! Apa itu Continents Holder? The Monarch? Saya tidak mengerti sama sekali..." Fraudlin menyela Ren yang sedang berbicara.
'Pria tua ini!' Raja, Ratu dan Pangeran memikirkan hal yang sama. Tentang Fraudlin yang tidak bisa membaca suasana sama sekali.
"Fraudlin, Biar aku jelaskan hal itu nanti... Jadi, jangan menyela sedikitpun pembicaraanku." Ren terlihat sedikit marah, Nada bicaranya sangat dingin dan tajam. Nafsu membunuh merembes keluar dari dirinya.
"Gah!? Maaf - Maafkan aku... Master Ren!" Fraudlin dengan cepat bersujud meminta maaf pada Ren. Seluruh tubuhnya mengucurkan keringat, Ren yang telah melepaskan Nafsu membunuhnya begitu membuat Fraudlin ketakutan.
Ren mengabaikan sosok Fraudlin yang bersujud. Raja dan Ratu bersama Pangeran pun melakukan hal yang sama.
"Raja Esdagius, aku ingin mendiskusikan beberapa hal denganmu." Ren berkata dengan tiba - tiba.
"Pembicaraan serius.....? Ah.. Benar juga, bagaimana saya harus memanggil anda? Bolehkah saya mengetahui Nama lengkap Anda?."
"Panggilan kah? dan lagi... Nama ya...?" Ren terlihat memikirkan hal ini, dia menatap ke arah Arena dengan penuh perhatian.
"Yah... Aku memutuskan untuk melupakan Nama lamaku."
"Kalian semua..! akan menjadi saksi...! dari sebuah Namaku yang baru..." Ren berdiri dari posisi duduknya, lalu mengangkat kedua lengannya secara bersamaan.
"Mulai saat ini, Namaku adalah Anryzel Dirvaren!. Kalian bisa memanggilku dengan sebutan yang sama, yaitu Ren!." Mata Ren menyala merah saat mengatakan hal ini. Tubuhnya mengeluarkan Aura merah darah yang pekat. Tetapi, Aura ini anehnya tidak membuat udara sesak sama sekali.
Seluruh orang yang hadir di tempat ini, merasakan ketakjuban sekali lagi. Mereka semua terpana, oleh sosok yang megah, yang berdiri di hadapan mereka.
"Baiklah, Yang Mulia Dirvaren...." Raja menunduk.
"Um.... Maafkan saya, Yang Mulia Dirvaren." Pangeran menunduk dengan cara yang sama.
"Saya akan mengingat Nama ini..." Ratu menunduk, bersama Sang Raja dan Pangeran.
Seorang Monarch, yaitu Raja yang melebihi para Raja di dunia ini. Sudah sepantasnya mereka dihormati bahkan oleh seorang Raja. Ini adalah sebuah alasan, mengapa Raja Esdagius, Ratu Rialna, dan Pangeran Etharez merubah sikapnya pada sosok Ren.
Suasana diliputi oleh keheningan sejenak, sebelum akhirnya, Ren duduk kembali di singgasana nya.
__ADS_1
"Bangkitlah...."
Dengan satu kata, semua orang yang ada di ruangan itu menghentikan sujudnya...