Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Bloods 3 - Di mana?


__ADS_3

"Uh."


Neren mengerang kesakitan. Rasa sakit itu berasal dari kepalanya yang seakan telah terbentur dengan benda keras seperti batu. Dia sendiri tidak mengetahui, apa penyebab dari sakit kepala yang dia rasakan saat ini.


Namun ketika tersadar, dia mendapati dirinya berada dalam kamar sederhana yang terbuat dari kayu dimana-mana.


"Dimana ... aku?" gumam Neren bingung.


Sakit kepala itu perlahan mulai mereda, lantas Neren mencoba mengingat kembali apa yang sebenarnya terjadi. Jika tidak salah, Neren baru saja mengalahkan Dragon God dalam event game Cothenic, tapi Dragon God bangkit kembali dan membicarakan suatu hal yang aneh.


"Aku ingat ... setelah itu tubuhku memudar, lalu aku kehilangan kesadaran."


Apakah Neren dipaksa log-out dari Cothenic sehingga dia kehilangan kesadaran dan merasa sakit kepala setelahnya?


Namun semua itu tidak menjelaskan mengapa Neren berada di tempat lusuh seperti ini. Jika dia memang kehilangan kesadaran, seharusnya ada alarm pertanda bahaya dari SVR-15C yang membuat para pelayan Neren memeriksanya.


"Dan seharusnya, aku berada di rumah sakit jika seperti itu, " Neren berusaha memikirkan apa yang terjadi.


Melihat ke samping kanan, ada sebuah jendela sederhana yang menampilkan pemandangan dari beberapa rumah sederhana lain. Lalu melihat ke samping kiri, Neren mendapati sebuah meja yang diatasnya terdapat pakaian hitam dengan corak merah.


"Ini ..." Neren terkejut.


Dari penampakan pakaian itu, Neren sudah dapat menduga bahwa itu adalah pakaian yang dia kenakan pada saat melawan Dragon God. Neren kemudian meraba-raba tubuhnya sendiri, dan dia mendapatkan kenyataan yang mengejutkan.


Gaya rambut, warna kulit, dan bentuk tubuh, semua sama dengan karakteristik R.Styx yang Neren mainkan. Dan sangat berbeda dengan tubuh asli Neren yang ada di dunia nyata.


"Tidak, aku harus memastikannya dulu."


Neren mencoba menggerakan konsol game dan memanggilnya beberapa kali. Tapi usaha Neren terbukti sia-sia dengan tidak munculnya konsol itu. Alhasil, Neren hanya bisa menduga untuk sementara bahwa ini adalah kasus yang tidak masuk akal.


"Dunia lain ... aku tidak percaya ini." Neren menggelengkan kepala.


Untuk membuktikan apakah ini adalah dunia lain, Neren harus memastikan dengan mata kepalanya sendiri. Dia kemudian bangkit, dan kembali mengenakan pakaian yang berada di atas meja satu per satu.


"Aku harus memastikan dulu, baru setelahnya berpikir lagi."


Setelah Neren telah mengenakan pakaiannya dengan sempurna, tiba-tiba pintu kamar sederhana itu bersuara, dan terbuka.


Sosok perempuan muda berambut pirang yang berusia 20-an muncul dari balik pintu tersebut. Neren terkejut karena kedatangannya, secara refleks bergerak ke arah belakang perempuan itu dan menodongkan tangan ke arah lehernya.


"Siapa kau?" ucap Neren mengancam.


Perempuan itu juga sepertinya terkejut, dan tidak mampu melihat pergerakan Neren yang sangat cepat. Sesaat dia melamun dengan mata yang kosong, tetapi tidak butuh waktu lama dia kemudian tersenyum canggung.


"E-em ... permisi? Apa ini sikap dari seorang yang telah menerima pertolongan?" ucapnya pelan.


"Pertolongan ...?" ucap Neren dalam benaknya.


Apakah Neren telah ditolong oleh perempuan ini? Tidak, terlepas dari apakah itu benar atau tidak, Neren seharusnya tidak bersikap seperti ini. Bagaimana jika perempuan ini benar-benar penolongnya?


Neren segera melepaskan perempuan itu, bergerak sedikit menjauh darinya dan menjaga jarak yang aman.


"Kau adalah penolongku?" tanya Neren seraya tidak menurunkan sedikitpun kewaspadaan.


Perempuan itu menghela napas panjang, kemudian bergerak dan duduk di atas kasur dimana Neren sebelumnya terbaring.


"Iya ... mari bicarakan ini dengan seksama. Kau pasti kebingungan bukan?"


Sikapnya tenang dan perkataannya lembut, membuat Neren menduga bahwa sosok perempuan ini bukanlah perempuan biasa. Namun apa yang dikatakannya memang sangat masuk akal, Neren sedang kebingungan saat ini.


"Hah ..." Neren ikut menghela napas. "Kau benar, maaf atas sikapku yang kasar."


"Tidak apa-apa, wajar saja kau bersikap seperti itu. Ngomong-ngomong, siapa namamu?"


"Aku? Aku ..." Neren terdiam sesaat.


Apakah ini saat yang tepat untuk mengatakan semuanya secara jujur?


Dan apabila Neren berkata jujur, nama mana yang harus dia pakai untuk membalas pertanyaan perempuan itu. R.Styx? Itu akan terasa aneh, lalu Neren Alvian? Dia tidak mau menggunakan nama aslinya.


"Kenapa ...?" tanya perempuan itu bingung.


Neren akhirnya menarik kesimpulan untuk tidak menggunakan kedua nama itu. Sebaliknya, Neren memutuskan untuk menggunakan nama baru yang sedikit mirip dengan nama aslinya.


"Tidak, hanya saja ... ingatanku terasa samar dan tidak jelas."


Perempuan itu memiringkan kepala, menampilkan kecemasan dan berkata dengan perasaan iba,"Apa kau hilang ingatan?"


"Mungkin? Ingatanku terasa acak dan samar, bahkan aku tidak mengingat darimana aku berasal. Ah, hanya ada potongan ingatan tentang seorang wanita yang memanggilku dengan nama 'Anryzel Dirvaren'."


Dalam hati, Anryzel sangat meminta maaf pada perempuan dihadapannya. Merasa bersalah karena telah berbohong dalam hal nama maupun kehilangan ingatan yang palsu.

__ADS_1


"Hanya itu?" tanya perempuan itu kembali.


"Ya, aku tidak mengingat yang lain. Kepalaku terasa sakit ketika mencoba mengingatnya." Anryzel memegang kepala untuk berpura-pura.


"Ahh ..." Perempuan itu menghela napas kembali.


Melihat tingkah lakunya, Anryzel sedikit merasa bimbang, apakah kebohongannya telah diketahui?


"Pasti sulit bagimu," sambung perempuan itu.


"Sulit?" Anryzel kehabisan kata-kata.


Dia benar-benar tidak menduga perempuan itu akan berkata "sulit".


"Ya ... pasti sulit untuk melupakan ingatan yang telah kita bangun selama hidup. Walaupun, aku tidak tahu apakah ingatanmu itu berisi hal-hal indah atau hal-hal buruk, tapi terlepas dari semuanya, ingatan adalah hal yang berharga."


Perempuan itu menatap keluar jendela. Tatapannya terasa begitu tenang, seolah dia merasakan kesedihan yang amat mendalam. Tapi tak lama, dia berbalik kembali pada Anryzel dengan wajah yang tersenyum ceria.


"Hehehe, lupakan perkataanku yang tidak jelas barusan. Bagaimana aku harus memanggilmu?"


"Aku tidak mengerti ucapanmu sebelumnya, tapi kau bisa memanggilku Anryzel. Itu terasa cukup baik di dengar."


"Baiklah, Anryzel. Namaku adalah Nivania, Nivania Zournac. Aku seorang dokter desa yang kebetulan menemukanmu di hutan sebelah timur dalam kondisi tak sadarkan diri."


Kemudian, Nivania menjelaskan bahwa dia menemukan Anryzel dalam keadaan tak sadarkan diri ketika mencari tanaman herbal di hutan sebelah timur bersama dengan beberapa penduduk desa.


Pada saat itu, Nivania bersama dengan penduduk desa berpikir bahwa Anryzel adalah penjahat yang berpura-pura tak sadarkan diri. Namun ketika melihat pakaian, dan kondisi Anryzel yang sebenarnya, mereka mulai berubah pikiran.


Anryzel terlihat seperti seorang ksatria ketika dilihat dari pakaian. Dia juga tidak terlihat seperti sedang berpura-pura tak sadarkan diri. Maka dari itu, Nivania secara berhati-hati mendekati, dan memeriksanya sebelum akhirnya membawanya ke desa.


Tempat dimana Anryzel berada saat ini bernama desa Giru dan berada di Kerajaan Aulzania. Tepatnya Kerajaan Aulzania itu ada di benua Zachen, satu dari sembilan benua yang ada di dunia.


Ketika mendengar nama "Zachen" Anryzel teringat pada benua manusia dalam Cothenic yang bernama sama. Membuat dia berpikir apakah ini adalah dunia Cothenic tapi dalam versi yang nyata?


"Kau yakin benua ini bernama Zachen?"


"Eh, dari sekian banyak hal, ini yang kau ragukan?" tatap Nivania dengan mata heran.


"Ya, aku merasa nama ini sudah tidak asing lagi," balas Anryzel mantap.


"Um, aku tidak mengerti denganmu. Benua ini memang memiliki nama Zachen. Lagipula, jika kau berasal dari benua ini maka wajar jika nama ini sudah kau kenal 'kan?"


"Begitu ... memang masuk akal." Anryzel mengangguk penuh keseriusan.


"Oh! Aku hampir lupa." Nivania bangkit seakan teringat sesuatu. "Maaf ya, tapi hari sudah mulai gelap dan aku harus menyiapkan makan malam."


Nivania tersenyum sesaat, lantas bergerak mendekati pintu untuk keluar. Anryzel yang masih merasa sedikit penasaran akan satu hal segera memanggil Nivania dan menghentikannya.


"Tunggu, ada satu hal yang ingin kutanyakan ..."


Nivania memutar kepalanya perlahan. "Eh, apa yang ingin kau tanyakan?"


"Mengapa kau memilih untuk menyelamatkanku? Alasanmu sebelumnya, sama sekali tidak menjamin kalau aku bukan orang yang jahat."


Nivania terdiam, menatap pada Anryzel sambil memikirkan sebuah jawaban. Dia kemudian tertawa kecil, dan berkata seolah dirinya pun bertanya-tanya.


"Um ... entahlah, sepertinya instingku mengatakan kau adalah orang yang baik?"


Nivania tersenyum, sebelum akhirnya keluar dari kamar dan menutup pintu. Meninggalkan Anryzel yang masih dalam keadaan bingung.


______________________________________________


Keesokan Hari ...


Anryzel terbangun dari tidurnya. Sebuah mimpi membuatnya tersentak bangun, serta mengingatkan kembali akan perkataan Dragon God yang sempat terlupakan.


Wahai orang yang telah memurnikanku dari kegelapan. Aku akan memberikanmu sedikit kekuatan, tapi sebagai gantinya kau harus memenuhi permohonanku yang satu ini. Berjanjilah ... untuk menyelamatkan orang-orang yang harus kau selamatkan dari kegelapan dunia.


Pertanyaan demi pertanyaan muncul di pikiran Anryzel saat ini. Apakah dunia lain ini perbuatan Dragon God? Bagaimana sebuah game mampu melakukannya?


Soal permohonan dari Dragon God, siapa yang harus dia selamatkan? Apakah setelah menyelesaikan permohonan ini semua akan berakhir dan ketika itu ia akan kembali ke bumi?


"Argh ... aku merasa semua tidak akan terjawab kecuali mencari tahu sendiri kebenarannya."


Anryzel mengacak-acak rambutnya. Merasa bodoh karena hanya sedikit masalah seperti ini mampu membuatnya kebingungan. Mungkin ini disebabkan oleh dia yang belum sepenuhnya menerima kenyataan, sehingga perasaan bingung dengan mudah menyerang.


Menenangkan diri dengan cara melihat dunia adalah pilihan yang bagus. Anryzel sudah memutuskan untuk keluar dan melihat bagaimana rupa dari dunia lain.


"Um, halo?" Anryzel melihat kesana-kemari tapi tidak menemukan keberadaan Nivania.


Rumah itu hening tanpa suara, tapi secara samar telinga Anryzel dapat mendengar orang-orang yang sedang berbicara. Ketika dia semakin memfokuskan diri untuk mendengarkan, suara itu semakin jelas dan jelas sampai benar-benar menjadi sangat jelas.

__ADS_1


Dari pembicaraan orang-orang yang terdengar gelisah, Anryzel sedikit memahami situasi. Sepertinya telah terjadi suatu insiden pada kelompok tertentu. Tapi agar lebih pasti, dia keluar dari rumah itu untuk mencari sumber suara.


"Hmm... jadi ini desa Giru?"


Cukup banyak rumah-rumah sederhana yang terbuat dari kayu berjajar rapi. Tapi semua rumah itu tidak ada yang sebagus milik Nivania.


Pandangan Anryzel beralih untuk melihat kerumunan orang yang tak jauh darinya. Dia pun berjalan ke arah kerumunan orang itu dan bertanya pada seorang pria tua yang terlihat sedang cemas dan gelisah.


"Permisi, apakah ada sesuatu yang terjadi?" tanya Anryzel sopan.


"Ah, anak muda, kamu pasti anak muda yang kemarin ditemukan oleh Nivania dan lainnya 'kan?"


"Ya, itu benar, jadi mengapa orang-orang berkerumun seperti ini?" tanya Anryzel kembali.


"Yah anak muda, sebenarnya beberapa orang yang berpatroli di sekitar hutan terluka parah akibat serangan dari segerombolan monster Redwolf."


Pria tua itu menjelaskannya dengan wajah yang gelisah dan ketakutan.


Redwolf? Maksudnya, Redwolf yang itu 'kan? Serigala yang memiliki bulu merah dan sering bergerombol?


Redwolf yang Anryzel ketahui adalah monster serigala rendahan yang memiliki level kecil antara 20 sampai 40. Mereka ada pada tingkatan terendah, yaitu Low Class Monster. Kekuatan bertarung Redwolf pun hanya sedikit di atas serigala biasa, dan tidak ada yang istimewa dari mereka.


Redwolf sering kali membuat sebuah kelompok besar yang terdiri atas 100-300 ekor dari mereka. Bagi player lemah berlevel kecil serta tidak memiliki skill bermain yang mumpuni maka sekawanan Redwolf adalah mimpi yang buruk.


Kasihan sekali penduduk desa biasa harus bertemu dengan mereka. Mungkin aku harus melihat lebih dekat orang-orang yang terluka? Sudah pasti Nivania ada disana ....


Anryzel memaksa lewat untuk melihat orang-orang yang terluka. Disana ada lima belas orang yang terluka parah dengan pendarahan dimana-mana. Disaat yang sama, Anryzel akhirnya menemukan Nivania yang sedang bersiap untuk mengobati mereka.


"Nivania, apa yang sebenarnya terjadi?"


Nivania sedikit melirik pada sosok yang bertanya, menyadari bahwa itu adalah Anryzel, dia mengusahakan untuk membalas walau sedang disibukkan untuk mengobati yang terluka.


"Begini, para prajurit yang berpatroli disekitaran hutan bertemu dengan sekelompok monster Redwolf. Beberapa orang berhasil menyelamatkan diri, tapi beberapa yang lain tidak selamat."


Anryzel memperhatikan dengan seksama. Nivania beberapa kali menggunakan sihir penyembuh yang seketika menyembuhkan luka dari orang-orang itu.


"Aku mengerti, biarkan aku membantumu." Anryzel mendekati beberapa orang yang belum menerima penyembuhan.


"Eh? Bukankah kau seorang ksatria? Jangan berbohong padaku." Nivania menatap Anryzel dengan ragu.


"Yah, aku bisa menggunakan beberapa skill penyembuh, mungkin itu dapat membantumu. Lagipula semua itu tidak penting, fokuslah dalam menyembuhkan, biarkan sebelah sini aku yang urus."


Jangan pernah meremehkan seorang player profesional yang mencapai puncak dengan memikul empat job yang berbeda. Salah satu dari job itu adalah <> dan element cahaya memiliki beberapa sihir penyembuh.


"Um ... baiklah, aku mengandalkanmu!"


Nivania tidak bisa memikirkan hal yang sepele disaat darurat seperti ini. Jadi meskipun dia ragu, tapi dia mencoba untuk mempercayai perkataan Anryzel.


Anryzel menghampiri seorang pria dewasa yang terluka. Dilihat dari kondisi pria itu, dia mengalami beberapa luka serius yang membuatnya tak sadarkan diri.


Tidak mengulur waktu lagi, Anryzel menggunakan Low Class magic, yaitu <> sebagai percobaan.


"Woah, mengagumkan ... kesan yang di dapatkan dari game dan dunia nyata benar-benar berbeda."


Melihat sihir cahaya yang keluar dari tangannya memiliki pengaruh kepada orang itu membuat Anryzel merasa bangga. Namun efek dari sihir itu sendiri sangat rendah, hanya menghentikan pendarahan tanpa menyembuhkan luka.


Kali ini, Anryzel lebih serius dan menggunakan sihir penyembuh yang lebih baik <>


Lingkaran sihir terbentuk, dan cahaya emas mulai menyelimuti pria itu, menyembuhkan satu per satu lukanya sampai benar-benar sembuh.


"Oh, ternyata kamu benar-benar memiliki skill penyembuhan. Siapa sebenarnya dirimu?" Nivania tiba-tiba muncul di belakang Anryzel.


"Sudah kukatakan, aku tidak mengingat apapun. Hanya saja, aku merasa bisa melakukannya dan mencoba, ternyata itu berhasil."


"Hehehe ... ya, tidak usah khawatir, aku percaya padamu," ucap Nivania dengan senyuman.


"Lalu bagaimana dengan pasien lainnya?" Anryzel memutar kepala untuk memandang Nivania.


"Aku sudah selesai menanganinya."


"Oh?"


Anryzel cukup terkejut dengan perkataan Nivania yang cukup tidak terduga. Mengobati beberapa orang terluka dalam waktu yang singkat itu tidak mudah, kecuali Nivania adalah seorang Priest level tinggi atau semacamnya.


"Apa dia seorang Priest berlevel tinggi?" benak Anryzel bertanya-tanya.


Namun karena menanyakan hal itu disaat seperti ini tidak memungkinkan, Anryzel menyimpan baik-baik rasa penasarannya.


Nivania pun kembali memeriksa orang-orang yang telah dia sembuhkan, memastikan apakah mereka benar-benar tidak mengalami masalah, lalu menyerahkan pasien yang tersisa pada Anryzel.


___________

__ADS_1


Ch.3 Revisi, akan ada sesuatu yang tidak sinkron untuk Ch selanjutnya, termasuk nama.


__ADS_2