Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 117 ~ Battle Magic


__ADS_3

Enam simbol element tanah melayang di belakang Great Bishop, membentuk sebuah lingkaran yang saling terhubung oleh cahaya emas kecoklatan.


Sesaat kemudian, aura emas kecoklatan membungkus tubuh Great Bishop dan merubah penampilan tubuhnya secara signifikan. Rambutnya yang putih, bersinar dan berkibar seperti terkena hembusan angin.


Kulitnya yang keriput terlihat mengencang sepuluh tahun lebih muda. Bersamaan dengan itu, sebuah simbol bercahaya muncul di dahinya.


Great Bishop itu melayang di udara dengan kaki yang tidak menyentuh lantai. Hal ini seakan menunjukan bahwa kekuatan dan keagungan yang dia miliki jauh berada di atas musuh yang ia hadapi.


Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa ruangan itu hancur karena kekuatan sang Great Bishop. Hanya patung Dewa Augsnel dan sosok Ren yang masih terlihat sangat utuh disana.


"Hahahaha! Apa kau ketakutan sekarang? Apa kau merasa menyesal sekarang? Seharusnya kau sadar murka dari Dewa kami tidak akan mampu kau hadapi!" seru Great Bishop sambil tertawa gila.


Great Bishop tidak salah, murka dari seorang dewa tidak mungkin bisa dihadapi oleh Ren saat ini, tapi berbeda jika itu murka dari seorang manusia yang mengaku utusan dewa. Bahkan sedetikpun Ren tidak pernah merasa akan kalah darinya.


"Aku menyesal," lirih Ren.


Great Bishop yang mendengar itu sekali lagi tertawa gila, "Hahaha! Penyesalanmu itu ..." dia menghentikan kata-katanya.


Great Bishop menggunakan kedua lengan untuk mengontrol simbol element tanah yang ada di belakangnya. Menggerakan semua simbol itu sampai berada di dekat Ren dan mengepungnya dari segala arah.


"Sangat terlambat!" teriak Great Bishop kembali.


Great Bishop menggunakan kekuatannya untuk menciptakan segumpal tanah dari keenam simbol tersebut. Segumpal tanah itu kemudian berubah menjadi jarum-jarum tanah yang bergerak menusuk ke arah dimana Ren berada.


Ren bergerak cepat untuk menghindari setiap tusukan yang ada. Melakukan beberapa gerakan manuver luar biasa untuk menghindarinya dengan menjadikan jarum tanah raksasa itu sebagai pijakan.


Saat Ren berlari untuk menghindar, satu dari enam simbol element tanah yang berada di depannya menyerang. Menggunakan satu serangan yang sama tapi dengan kecepatan yang berbeda.


Pikiran Ren yang terlalu fokus menghindari serangan lain hampir tidak menyadari datangnya serangan yang satu ini. Sebagai gantinya, Ren harus melompat kemudian memutar tubuh baru benar-benar bisa mengelak darinya.


"Hahahaha! Teruslah menari pendosa! Disaat kau kelelahan maka disaat itulah kau dimusnahkan!" teriak kembali Great Bishop.


"He ..." Ren tersenyum.


Dia mengambil sedikit ancang-ancang lalu melompat dengan kecepatan tinggi menuju simbol element yang menyerangnya. Seraya melompat dia mengaktifkan sihir api dan melapisi kedua tangan dan kakinya dengan sihir api.


Tanpa basa-basi lagi, Ren menghantam serangan yang datang menggunakan kombinasi pukulan dan api yang seketika menghancur leburkan mereka.


"Hanya karena bisa menghancurkan satu seranganku kau berpikir bisa menang? Hah! Jangan mimpi!"


Semua simbol element tanah kembali bergerak dan kali ini benar-benar mengepung Ren dari segala arah dalam jangkauan yang sangat dekat. Niat Ren yang ingin mencoba menghancurkan simbol element dengan terpaksa dihentikan.


"Terimalah, Neraka hukuman ini!"


Satu detik kemudian, ratusan atau bahkan ribuan jarum tanah yang sama menyerang tiada hentinya. Kecepatan, ketangkasan, ketepatan dan keahlian Ren diuji sedemikian rupa untuk menahan semua serangan yang ada.


Dua lengan dan dua kaki bukanlah sebuah keterbatasan, dengan kecepatan gerakan semua bisa diatasi. Meski ada rentang ketika Ren menghancurkan satu serangan dengan serangan lainnya, tapi itu tidak begitu berarti.


Di sisi lain, Great Bishop menggemertakan giginya, merasa kesal sekaligus tidak menyangka bahwa musuhnya bisa bertahan lebih lama dari yang dia perkirakan.

__ADS_1


Keterbatasan mana membuat Great Bishop itu terpaksa menarik kembali semua simbol element yang ada. Dia sangat mengerti bahwa dengan serangan biasa tidak mungkin mengalahkan musuh yang ada di hadapan-nya.


Kemudian Great Bishop itu mengumpulkan semua simbol element dalam satu titik.


Ren hanya diam dan menyaksikan apa yang akan dilakukan oleh Great Bishop selanjutnya. Apakah dia akan menyerang habis-habisan? Atau mungkin menggunakan kartu andalan miliknya? Ren menantikan kedua hal tersebut.


"Ah ya, ini mungkin sedikit terlambat. Kau telah salah paham akan sesuatu. Sebelumnya, aku menyesal karena telah berharap banyak darimu, tidak lebih dari itu."


Setelah mengucapkan kata-kata provokasi itu, Ren memasuki mode bertempurnya kembali. Memasang sebuah kuda-kuda seperti ahli bela diri dengan kedua tangan dan kaki dibaluti oleh api.


"Hei, mau melihat sesuatu yang menarik?" ucap Ren menawarkan.


"Ini dia!"


Swoshh!


Hembusan api tiba-tiba muncul dari rambut Ren seolah ditembakan darinya. Dia melakukan hal ini beberapa kali dengan niatan untuk memperlihatkan sebuah pertunjukan.


"S-sialan ...!! Beraninya kau mempermainkan aku?!" murka Great Bishop.


Great Bishop menghentikan keadaan melayang, mengambil kendali atas simbol element tanah dan menggenggamnya. Sesaat setelah itu, dia menerjang dengan kecepatan tinggi seolah dia memiliki job lain selain magus.


Pada saat menerjang, Ren bisa melihat Great Bishop itu semakin berubah penampilannya. Mulai dari rambut panjang yang menjadi pendek sampai ke wajah tua keriput yang berubah menjadi wajah seorang lelaki muda.


Hal paling mengejutkan dari semua itu adalah ketika sebuah suara berderak terdengar di telinga. Sepasang sayap berwarna emas muncul di punggung Great Bishop.


Satu detik sebelum Great Bishop itu tiba dan menyerangnya, Ren bergumam heran, "Kau, bukan manusia?"


Ren terpental cukup jauh ke belakang dan menabrak pintu besar yang telah rusak. Benturan keras itu membuat Ren terdiam tanpa pergerakan dalam keadaan menunduk.


Di lain sisi, Great Bishop itu tertawa sombong dan meremehkan, "Hehaha, aku mengerti sekarang."


"Ternyata kalian para Blood Devil memang masih hidup di dunia."


Great Bishop itu melangkahkan kaki dengan sombong sambil tersenyum sinis. Menatap ke arah Ren yang terdiam seolah keberadaan itu sangat menjijikan.


"Sang mangsa bergerak ke mulut sang pemangsa? Hahaha! Kau memang sangat bodoh! Kami telah mencarimu tapi hari ini kau menyerahkan nyawa dengan sendirinya!"


Great Bishop itu berhenti melangkah tepat dihadapan sosok yang menunduk diam itu. Dengan mata yang heran sekaligus merendahkan, dia berteriak, "Bangunlah, jangan harap kau bisa membodohiku!"


"Aha." Ren sedikit tersenyum.


Secara perlahan dia menengadah untuk melihat sosok Great Bishop yang telah berubah.


"Aku juga tidak menyangka akan bertemu dengan kalian secepat ini, Ras Malaikat."


Setidaknya, Ren berpikir tidak akan bertemu dengan mereka dalam waktu yang dekat. Mengingat benua para malaikat itu dikatakan sangat jauh dari benua para manusia.


"Bukankah kau terlalu tinggi dalam menilai diri sendiri, malaikat Augsnel? Ah tidak, mungkin kau akan lebih senang dengan sebutan, Dewa Augsnel?"

__ADS_1


Great Bishop ... Augsnel sedikit membulatkan mata karena sedikit terkejut oleh kalimat yang di ucapkan oleh Ren. Dia memang Augsnel, sang malaikat yang telah lama berpura-pura menjadi dewa di mata para manusia.


'Prok' - 5x


Augsnel bertepuk tangan sambil tersenyum seolah dirinya terkesan.


"Bagus sekali, kau sudah menyadari hal itu rupanya. Dengan ini, bertambahlah satu alasan untuk tidak membiarkan kau hidup, Blood Devil."


Ren bangkit dan membersihkan diri dari kotoran debu yang menempel pada zirah emas yang dia kenakan. Setelah itu, mata Augsnel dan Ren saling memandang satu sama lain.


"Kau yakin?" tanya Ren dengan senyum licik.


"Apa maksudmu, hah?" tanya balik Augsnel.


Ren tidak membalas pertanyaan balik dari Augsnel dan langsung menyerang begitu saja. Menggunakan kedua tangan dan kaki yang sekali lagi dibaluti oleh api.


Augsnel yang tidak menyangka akan diserang tiba-tiba secara refleks mengendalikan simbol element untuk mengelilingi dirinya sendiri. Menahan semua serangan pukulan dan tendangan yang datang.


"Percuma saja, kau tidak akan bisa menembus pertahananku ini," ucap Augsnel sombong sambil menyilangkan kedua lengannya.


Ren melompat mundur setelah mendengar perkataan Augsnel. Kembali mengambil sebuah ancang-ancang untuk melakukan tendangan.


"Menyenangkan sekali, bertarung memang cara yang terbaik untuk berolahraga. Tapi sayangnya, aku tidak memiliki cukup waktu untuk meladenimu sampai puas," keluh Ren sambil menggeleng-gelengkan kepala.


Dia memutarkan tubuh, bersama dengan kaki yang sedikit terbentang ke depan. Menciptakan sebuah lingkaran api yang terbakar di atas lantai. Berputar perlahan-lahan hingga kaki yang berbalut api itu semakin mengarah tinggi.


"Ini adalah tendangan spesial yang baru saja kupikirkan, <>"


Ren memutarkan tubuhnya untuk yang terakhir kali, sebelum akhirnya melancarkan tendangan yang mengeluarkan gelombang api berbentuk naga ke arah dimana Augsnel berada.


Tekanan yang hebat dan panas yang dirasakan tidak bisa diabaikan begitu saja. Augsnel bahkan merasa terancam dengan serangan ini. Segera dia membariskan keenam simbol dalam garis yang lurus untuk menangkal serangan yang datang.


Namun hal yang tidak akan disangka oleh Ausgnel adalah serangan ini yang hanya berupa pengalih perhatian. Ren dengan cepat mengeluarkan <> Ganzalan dari inventory.


Bergerak dengan sangat cepat ke belakang Augsnel dan mengarahkan tombak itu sesaat seraya mengeluarkan nafsu membunuh yang luar biasa hebat.


Dalam satu detik, Augsnel merasakan kematian menghampirinya. Dia tidak mampu bergerak apalagi bereaksi terhadap hal ini. Hanya ada tanda kematian yang memenuhi otaknya saat ini.


"Selamat tinggal, aku menunggumu di wilayah pusat. Aku berharap kau memenuhi panggilan ini, malaikat."


Suara itu muncul bersama dengan menghilangnya perasaan kematian dalam diri Augsnel. Dia sadar ketika semua sudah menghilang, baik serangan api berbentuk naga maupun sosok Ren yang menyerangnya.


Keringat bercucuran, wajahnya pucat, dia tidak mampu bergerak untuk sesaat. Dan ketika dia mampu bergerak, dengan sendirinya dia berlutut sambil mengeluarkan ratapan putus asa.


"A-apa ... itu?" gumamnya pelan.


Selama dia hidup di dunia, baru kali ini dia merasakan sebuah kematian tanpa kematian yang nyata.


____________

__ADS_1


*Maafkan saya jika keseluruhan cerita ini tidak bagus karena pada dasarnya saya masih butuh banyak belajar dalam hal kepenulisan.


TTD : Rii*~


__ADS_2