
Dalam ruangan gelap yang diisi oleh sebuah meja bundar lengkap bersama dengan lima kursi yang mengelilinginya, beberapa orang berkumpul. Menciptakan sebuah suasana yang serius dan cukup menegangkan.
"Memanggil lima dari kita semua hanya untuk menghabisi seorang Blood Devil? Heh, konyol!"
Brakk!
Seorang pria dengan muka menyeramkan dan rambut acak-acakan menggebrak meja dengan kuat, merasa kesal dan tidak terima. Hal yang paling mencolok dari dirinya adalah dua buah tanduk yang di aliri motif lava menyala.
"Jaga sikapmu, Darguns. Hanya karena kau merasa tidak terima lantas kau berhak bersikap tidak sopan di hadapan kami semua?"
Dia adalah perempuan yang memiliki rambut pendek dan berwarna biru, sangat cocok disandingkan dengan sayap transparan dan tubuh kecil mungilnya. Meski sosoknya terkesan seperti anak kecil tapi sebenarnya tidak demikian.
"Percuma saja, Udensa. Dia dilahirkan tanpa mengenal sopan dan santun, itulah mengapa aku cukup membencinya."
Rambutnya yang perak terlihat berkilauan ketika terkena cahaya ruangan yang sedikit. Dia adalah perempuan bertelinga runcing, bermata sipit, dan memiliki tubuh yang ramping. Siapapun yang melihatnya sudah pasti akan tahu, bahwa dia seorang Elf.
"Memang kenapa hah?! Oh, aku tahu ... kalian para wanita memang dilahirkan lemah hingga menghadapi satu Blood Devil saja butuh banyak orang bukan!"
Mendengar itu seorang yang tidak asing mengepalkan tangannya dengan kuat, kemudian dia berteriak hingga membuat semua orang yang ada disana terkejut dengan mata yang bulat.
"Dasar bodoh! Kau tidak tahu apapun soal Blood Devil itu! Jika memang dia lemah dari awal aku tidak akan meminta bantuan kalian semua, apalagi kau Darguns!"
Jika harus dikatakan, hanya dia seorang yang paling mengetahui seberapa mengerikannya Blood Devil yang satu ini. Tidak, mungkin kalimat seberapa mengerikannya senjata yang dimiliki oleh Blood Devil itu lebih tepat.
"Memangnya siapa kau bisa seenaknya berbicara seperti itu padaku?! Jangan kira anak baru sepertimu bisa dibandingkan denganku, Augsnel!"
Augsnel dan Darguns saling menatap dengan penuh kemarahan. Bahkan ilusi dari api permusuhan yang intens muncul di sekitar mereka berdua.
"Kalian berdua, diam dan duduk."
Pria muda dengan rambut emas yang terurai panjang memberi perintah seraya tidak menurunkan sedikitpun ketenangan. Ekspresinya lembut, dan dia sama sekali tidak menatap pada Darguns ataupun Augsnel, seolah dia melihat sesuatu yang lain dari dunia.
Namun, sepatah ucapan darinya membuat keempat orang lain merinding ketakutan. Baik itu Darguns maupun Augsnel hanya bisa menuruti perintah tanpa memikirkan kembali permasalahan sebelumnya.
"Mohon Anda untuk memaafkan ketidak sopanan mereka berdua, Tuan Draisma," ucap Vezisa, sang elf yang menjadi Great Bishop of Wind.
"Mereka berdua hanya orang bodoh yang tidak bisa menahan kebodohannya bahkan dihadapan seorang Archangel seperti Anda, Tuan Draisma," timpal Udensa, sang peri yang menjadi Great Bishop of Water.
Darguns dan Augsnel menunduk dengan muka suram karena sejujurnya mereka takut terhadap sosok Draisma yang merupakan pemimpin dari mereka semua.
__ADS_1
Namun berbanding terbalik dengan prasangka bahwa Draisma akan memarahi mereka berdua, dia malah tersenyum lembut dan mengeluarkan kalimat yang tidak terduga oleh keduanya.
"Tidak apa-apa. Darguns, Augsnel dan kalian berdua masih muda. Merupakan hal yang biasa apabila kalian semua tidak menyadari betapa mengancamnya para Blood Devil terhadap impian kita."
"Perlu kalian ketahui, terutama dirimu, Darguns, Blood Devil yang akan kita lawan ini kemungkinan besar berada di tingkat [True Ancestor]."
Semua orang kecuali Augsnel sedikit membulatkan mata mereka. Berdasarkan informasi yang organisasi miliki, [True Ancestors] merupakan tingkatan tertinggi dari Ras Blood Devil. Dalam kasus tertentu, kekuatan mereka hampir atau bahkan setara dengan Archangel dari Ras Malaikat.
"A-apakah itu benar, Tuan Draisma?" tanya Udensa sambil terbata-bata.
"Jika memang demikian, kita tidak memiliki kesempatan menang apabila menghadapinya satu lawan satu," jelas Vezisa seraya mengangguk.
"N-namun, kekuatan dari [True Ancestor] yang hampir setara dengan Archangel itu kasus yang sangat langka bukan? Siapa yang tahu kalau dia adalah [True Ancestor] terlemah yang pernah ada."
Darguns mencoba teguh dalam pendiriannya untuk meremehkan orang lain. Hatinya berkata tidak terima jika harus dikatakan lebih lemah dari Blood Devil, musuh bebuyutan para Iblis.
"Mustahil, kalau dia benar-benar [True Ancestor] terlemah harusnya aku tidak akan dikalahkan dengan telak."
Augsnel kembali menyanggah perkataan Darguns, mereka ingin berdebat kembali tapi sosok Draisma mengurungkan niat mereka berdua.
"Viltic dan diriku telah meneliti dengan baik kekuatan Blood Devil yang dihadapi oleh Augsnel sebelumnya."
Kemudian mereka memiliki kemungkinan menang lima puluh persen apabila dua dari mereka bekerja sama menghadapinya dengan kekuatan penuh. Lalu kemungkinan menang meningkat apabila tiga dari mereka bekerja sama hingga tujuh puluh persen.
Dan terakhir, apabila empat dari mereka bekerja sama untuk mengalahkan Blood Devil itu dengan kekuatan penuh maka kemenangan sudah bisa dipastikan.
"Akan tetapi, apabila ... apabila ada kasus istimewa yang terjadi, maka aku akan turun tangan sendiri."
Draisma teringat oleh perkataan Viltic yang memberi saran agar dirinya waspada terhadap senjata yang dimiliki oleh Blood Devil tersebut.
Saat mereka semua mendengarkan dengan baik perkataan Draisma, sebuah siluet hitam muncul dari balik bayangan. Sosok hitam itu memberikan informasi yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.
"Maaf mengganggu, tapi dua orang penyusup tengah mendekati tempat ini," terang Viltic, sang sosok hitam yang tidak diketahui.
____________________________________________
____________________________________________
Setelah melewati jalan tanah selama beberapa hari, mereka akhirnya tiba di jalan utama yang terhubung dengan Kota Zarisma. Jalan utama ini lebih baik karena terbuat dari bebatuan yang disusun secara rapi.
__ADS_1
Namun sayang, Ren tidak bisa menggunakan kereta kuda lebih jauh. Dia harus masuk ke kota itu dengan cara yang berbeda dari biasanya. Untuk itu, Ren, Nirlayn dan Arystina turun dari kereta kuda sesaat sebelum mereka memasuki jalan utama.
Ren sudah kembali mengenakan sebuah pakaian yang sangat ikonik dengan dirinya, sebuah jubah tempur yang didominasi oleh warna hitam dengan beberapa corak kemerahan.
Begitu pula dengan Nirlayn, dia sudah mengganti pakaian dengan gaun hitam yang selalu dia kenakan. Arystina pun sudah melepaskan pakaian serba mencolok itu, dia kembali memakai pakaian serba hijau miliknya.
Mereka bertiga berjalan kaki menuju Kota Zarisma dengan Ren yang memimpin di depan mereka semua. Nirlayn dan Arystina berada sedikit di belakang Ren, dan bergerak di kedua sisinya. Sedangkan Avrogan dan Indacrus, mereka sekarang dalam mode [Beast Servant] Legendaris yang begitu mengintimidasi dan berjalan di barisan paling belakang.
Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa keberadaan mereka sangat-sangat mencolok di mata semua orang. Karena ini adalah jalan utama, tidak sedikit orang-orang dari berbagai macam kalangan berlalu lalang.
Pada awalnya mereka bersikap santai dan biasa, tapi ketika melihat rombongan Ren yang mencolok sekaligus menakutkan, mereka terdiam dengan mata yang membulat, mulut yang menganga, dan hati yang ketakutan.
Mereka hanya bisa menyingkir dan memberi jalan dengan tubuh yang bergemetar saat melihat dua [Beast Servant] yang sangat mengerikan.
Walaupun tindakan ini menarik perhatian semua orang tapi Ren tidak begitu peduli. Kerajaan Suci Sancteral menyukai hal yang mencolok, jadi apa salahnya dia menggunakan hal yang sama?
"Oh? Sudah kuduga, kota ini bahkan menggunakan penghalang persepsi mana yang lebih kuat. Tidak hanya itu, mereka juga menggunakan beberapa penghalang lain untuk mengelilingi seluruh kota."
Dengan ini, keberadaan individu yang kuat di dalam Kota Zarisma sudah bisa dipastikan. Setidaknya, individu itu akan beberapa kali lebih kuat dari Augsnel, si malaikat yang mengaku sebagai dewa.
"Haruskah saya menggunakan petir untuk memberikan sedikit hadiah, Tuan?" usul Avrogan dengan kata yang dibaluti oleh semangat membara.
Namun saran itu sendiri cukup berbahaya. Akan ada banyak korban apabila penghalang kota itu tidak mampu menahan petir yang dikeluarkan oleh Avrogan.
"Tidak, biar aku dulu yang mencobanya," ucap Ren dengan senyuman.
Ren berhenti melangkah ketika jaraknya dengan kota hanya tersisa beberapa kilometer saja. Saat berhenti, ia menggunakan Blood Art untuk menciptakan sebuah tombak merah darah. Tombak ini tidak didasarkan dari Ganzalan jadi seharusnya baik-baik saja.
"Perhatikan, ini adalah olahraga yang cukup menyehatkan, lempar lembing," jelas Ren pada mereka semua yang tidak mengerti.
Satu detik setelah berucap, Ren melakukan sedikit ancang-ancang kemudian melemparkan tombak itu dengan kuat. Tombak merah darah yang diciptakan dari Blood Art itu melesat dengan kecepatan tinggi ke arah Kota Zarisma.
Pada prosesnya, semua orang bisa melihat garis merah yang ditinggalkan oleh tombak yang terbang dengan kecepatan tinggi.
Crakk!
Tombak dihentikan sesaat sebelum memasuki kota. Bersamaan dengan itu, sebuah pelindung tipis muncul dalam keadaan penuh retakan.
"Oh, tidak mampu menembus? Kalau begitu lakukanlah sepenuh hatimu, Avrogan."
__ADS_1
Kalimat perintah itu adalah awal dari sebuah petir dahsyat yang akan menyambar Kota Zarisma dan membuat segala macam kekacauan disana....