Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 23 : Kota Rondelia, dan Vampire.


__ADS_3

Melompat dan Melompat, sosok Ren yang bergerak dengan lincah diantara bangunan tua cukup mengagumkan.


Setiap gerakan nya terlihat sangat alami, seakan Ren merupakan sebuah angin.


"Hm? Benar juga, aku melupakan sesuatu, bagaimana jika Sacred Blood Beast itu lemah?"


Ren kali ini benar - benar ingin memukul dirinya sendiri. Bahkan untuk urusan penting seperti mencari informasi, Ren tidak memeriksa kemampuan Sacred Blood Beast itu terlebih dahulu.


"Tidak ada yang bisa kulakukan...."


Ren hanya bisa menyerahkan semua nya pada takdir. Dalam hatinya Ren berharap bahwa Sacred Blood Beast itu cukup kuat untuk mencari informasi yang berbahaya.


Tak butuh waktu lama bagi Ren untuk sampai di Mansion tempat Yarth dan Cethy berada. Namun.....


"Nona Cethy, Maafkan aku karena terlambat menyelamatkanmu." Yarth terlihat sedang membungkuk meminta maaf.


"Ahaha.. Tidak apa - apa, justru aku terkejut. Tuan Yarth memilih untuk menolongku." Sedangkan Cethy membalas dengan tersenyum.


Melihat keduanya baik - baik saja membuat Ren bernafas lega. Meskipun mereka orang yang tak terlalu penting, Ren masih mempunyai sedikit hutang pada mereka.


Akan sangat disayangkan jika mereka terbunuh saat Ren mengejar kedua orang itu.


'Sepertinya pasukan bantuan musuh tidak ada sama sekali, aku terlalu mengkhawatirkan hal ini.'


*


*


*


*


*


*


"Aku kembali.." Suara Ren terdengar.


Diikuti oleh kemunculan Ren yang tiba - tiba, membuat Yarth dan Cethy terkejut.


Lebih dari itu, Cethy kelihatan waspada akan kedatangan Ren yang mencurigakan.


"Hati - hati, Tuan Yarth. Aku merasakan sesuatu yang tidak mengenakan darinya." Cethy berbicara waspada.


"Huh? Nona Cethy tenanglah, dia adalah orang yang menyelamatkan kita." Yarth menjelaskan.


"Eh? Jadi dia? tapi mengapa dia menutupi wajahnya seperti itu?" Cethy terlihat kebingungan.


"Oh? Ingin tahu mengapa?" Ren melepaskan penutup wajahnya.


"Karena wajah ini selalu membawa masalah" Ren berbalik menunjukan wajahnya.


Meskipun ditengah malam yang gelap gulita, tidak ada pencahayaan apapun.


Sinar Rembulan pun tidak ada, akibat dari hujan yang turun. Tapi Cethy adalah Ras demi-human kucing yang memiliki mata tajam. Dalam gelap sekalipun dia masih bisa melihat dengan cukup jelas.


Sedikir terhalang, wajah Ren sedikit terhalangi oleh kegelapan malam.


Tapi, Cethy tetap tak bisa mengalihkan pandangan nya. Wajahnya bagaikan sihir, memikat siapapun yang melihatnya.


"I-Ini??? Musta-Hil....." Setelah melihat wajah Ren, Cethy berkata dan tergeletak pingsan. Dengan darah mengucur dari kedua lubang hidung nya.


"Nona Cethy!" Yarth segera menangkap Cethy ke dalam pelukan nya.


"Apa yang terjadi?! apakah ini perbuatanmu?!" Yarth sedikit marah dan waspada.


"Dia hanya terkejut melihat wajahku, kau Elf kan? wajar jika kau tidak bisa melihat dengan jelas dalam kegelapan ini." Ren berbicara.


Yarth memandangi wajah Ren yang tertutup kegelapan malam. Meski sedikit, Yarth masih bisa melihat wajahnya, namun Yarth tidak merasa ada sesuatu yang spesial disana.


"Wajahmu? aku tidak mengerti" Yarth menggelengkan kepalanya bingung.


"Jangan dipikirkan, aku akan berangkat menuju Kota Rondelia besok. Bagaimana denganmu?" Ren bertanya, kemudian duduk bersandar pada dinding.


"Ah, benar juga. Kami mungkin akan berangkat besok juga. Ngomong - Ngomong......." Yarth menjeda perkataannya.


"Siapa dirimu? apa yang kau maksud hutang padaku sebelumnya?" Yarth kini bertanya dengan Curiga.


"Kau akan tahu sendiri nantinya." Ren berkata sambil memejamkan mata tanpa menghiraukan tatapan Yarth yang tajam


"Apa maksudmu?"


Yarth kembali bertanya, namun sosok Ren telah tertidur. Meninggalkan suasana menjadi hening tanpa suara.


"Cepat sekali tidurnya...." Yarth melihat dengan heran.


"Sudahlah, aku akan berjaga sendiri."


Yarth membaringkan Cethy pada permukaan yang datar, lalu Yarth duduk memandangi langit malam yang mendung.


*


*


*


*


*

__ADS_1


Kota Rondelia.


Sebuah Kota pelabuhan yang luas nya dua kali lipat dari Kota Ceeven.


Kota ini menjadi pusat pertukaran sumber daya dari Negara lain. Ditambah, seluruh akses jalan menuju Kota - Kota di Kerajaan Aulzania ada disini. Membuat Kota ini tidak kalah Ramai indah dari ibukota.


Setiap kota di Kerajaan Aulzania terhubung dengan Kota ini. Bukan hanya itu, jika ingin pergi ke ibukota harus melewati Kota Rondelia terlebih dahulu.


Jalan menuju Ibukota dari Kota Rondelia adalah satu - satu nya yang bukan jalan tanah.


Separuh Kota yang menghadap daratan di halangi oleh sebuah tembok besar memanjang. Di tembok inilah gerbang - gerbang menuju setiap kota yang berbeda berada.


Ren, Yarth dan Cethy telah sampai ke gerbang Kota Rondelia, setelah memakan waktu 2 hari berjalan.


"Selanjutnya!" Penjaga gerbang berteriak.


"Mana Kartu Identitasmu?" Penjaga itu bertanya pada Ren.


"Ini.." Ren menyerahkan Kartu Identitas nya yang terbuat dari kayu lapuk.


"Huh? Kartu terendah ya, cocok sekali dengan penampilanmu. Masuk sana." Penjaga itu sedikit mencibir pada Ren, meski akhirnya memperbolehkan Ren untuk masuk.


"Ah... Terima kasih banyak!" Ren mencoba membungkuk pada Penjaga itu.


"Oh satu hal lagi, kau pendatang baru kan?" Penjaga itu berbicara lagi pada Ren yang akan memasuki Gerbang.


"Itu benar, hehe." Ren berbalik dan membenarkan pernyataan penjaga itu.


"Hati - Hati lah, jangan berkeliaran malam hari. Saat ini Kota sedang di Terror oleh Vampire." Penjaga itu berbicara dengan Nada serius.


"Huh? Baiklah! Terima kasih peringatan nya!."


Ren membungkuk kembali, lalu melanjutkan berjalan untuk memasuki Kota Rondelia.


Sementara Yarth dan Cethy baru bisa masuk karena antrian mereka berbeda. Alasan mereka terpisah seperti ini karena Ren sedang menyamar kembali.


"Heii.. Mengapa dirimu menyamar menjadi menyedihkan seperti ini?" Yarth bertanya pada Ren yang menggunakan penampilan gelandangan.


"Um. Aku juga tak mengerti, apa guna nya bagimu untuk menyamar? lebih baik kau kenakan wajah aslimu saja!" Cethy bertanya dengan serius, tapi pada saat menyatakan Ren agar menggunakan wajah aslinya, Cethy mengangkat jempol terlihat bersemangat.


"Tidak usah bagi kalian untuk tahu." Ren berkata dingin, sekilas wajah nya kembali pada wajah biasanya. Namun itu segera kembali pada wajah gelandangan nya.


"Baiklah - Baiklah, mari kita berpisah disini! sampai jumpa!" Ren berjalan menjauhi Yarth dan Cethy, sembari melambaikan tangan.


'Terror Vampire ya? ini menarik.'


Ren berkata dalam hati, mendengar soal Vampire membuat dirinya bergembira.


Bagaimana tidak, Vampire bisa disebut sebagai saudara jauh dari Ras nya.


'Tapi, Informasi tentang Vampire ini begitu sedikit.'


"Hey! Kau pria jelek! beraninya kau menggangguku?!"


Suara seorang wanita memasuki telinga Ren, menyadarkan Ren dari lamunannya.


Begitu Ren sadar, dia sudah di tengah kerumunan orang. Pantas saja Ren merasa menabrak beberapa orang saat berjalan tadi.


"Eh?! Kenapa aku disini?!" Ren berteriak mengabaikan sosok wanita yang memanggilnya.


"Jangan berani mengabaikanku! dasar pria jelek tak tahu diri!" Suara wanita itu terdengar lebih keras.


"Aahh.! Maafkan aku, Maafkan aku!" Ren berbicara dengan Ekspresi ketakutan.


"Prajurit! tangkap dia!" Wanita itu memerintahkan beberapa prajurit untuk menangkap Ren.


"Eh?! Ampuni aku Nona! apa salahku!?" Ren berteriak sambil diseret oleh dua orang prajurit.


Ren kemudian diseret dan dilemparkan oleh dua Prajurit itu. Hasilnya Ren terjatuh dengan bersujud di depan kaki wanita itu.


Wanita tersebut tersenyum dan menjulurkan kaki nya, lalu menginjak kepala Ren.


"Hehehe... Dasar pria jelek lemah, kau beraninya membuat Nona Gyslen ini terganggu!" Wanita yang bernama Gyslen menginjak kepala Ren dengan tertawa.


"Argh... Nona! Ampuni aku....." Ren berbicara dengan Nada lemah, wajahnya masih mencium tanah.


"Pffttt... Menyedihkan sekali, aku suka menyiksa pria lemah sepertimu. Hahahah" Wanita itu terus tertawa.


Membuat orang - orang yang berkumpul untuk melihat hal ini merasa jijik.


Seorang pria berwajah tampan mendekati Gyslen dan mulai berbicara.


"Nona Gyslen, Mohon dengarkan saran saya yang satu ini."


"Oh, apa itu Zel?"


"Bagaimana jika Nona membuat pria ini sebagai umpan tambahan untuk operasi itu?" Pria bernama Zel tertawa kejam.


"Aku suka idemu, Bagus sekali Zel. Angkut dia dan masukan dia dalam kurungan." Wanita itu kembali memerintahkan prajurit nya.


Ren yang masih tersungkur tak berdaya dengan mudah diangkut dan dibawa oleh beberapa prajurit.


"Dan Kau, wanita sok cantik. Jangan berani - beraninya mengaku lebih cantik dariku." Wanita itu, Gyslen berkata pada seorang perempuan yang sedang duduk menangis.


"Ampun, Nona Gyslen, saya tidak pernah mengaku lebih Cantik dari anda." Perempuan itu berkata dengan terisak menangis.


"Kau memang tidak mengakuinya, tapi para pria disekitar sini menyebut hal itu! itu sudah cukup bagimu untuk aku hukum!"


Plakk. Plakk.

__ADS_1


"Kyaa! Au!! Sakit Nona, ampuni aku!" Perempuan itu ditampar beberapa kali oleh Gyslen dan berteriak kesakitan.


Orang - orang yang menonton hanya bisa menatap iba pada perempuan ini.


Ada sesuatu yang membuat mereka tidak bisa menolong nya. Sesuatu yang berada di atas kekuasaan mereka.


"Jangan perlihatkan wajahmu didepanku lagi! Prajurit, Zell ayo pergi!"


"Siap!"


"Baik, Nona. hihi."


*


*


*


*


*


*


Sementara itu, Ren dibawa oleh beberapa prajurit. Diseret menuju Ruang bawah tanah yang hanya diterangi oleh lampu seadanya. Disebabkan oleh penyamaran nya, Ren tidak bisa bertindak untuk saat ini.


Ren juga penasaran apa yang dimaksud untuk menjadi umpan tambahan dalam sebuah operasi.


"Masuk! kami sebenarnya merasa kasihan padamu. Tapi apa boleh buat." Dua orang prajurit itu berbicara hal yang sama pada Ren.


Ren kemudian dimasukan pada sebuah penjara, di dalamnya ada beberapa pemuda kurus lainnya. Kemudian prajurit itu mengunci pintu dan meninggalkan Ren yang berada di dalam penjara.


'Ya ampun, jika aku tak menyamar sudah kurobek wanita itu.' Ren bergumam dalam hatinya kesal.


Ren duduk dan bersandar pada dinding penjara. Kini Ren harus bertindak sebaik mungkin sebagai gelandangan.


"Hey, kau juga di jadikan umpan oleh wanita brengsek itu ya?" Salah satu Pemuda kurus bertanya pada Ren.


"Eeh?! I-Itu benar, padahalkan aku hanya lewat di depan nya, apa salahku?" Ren menjawab meratapi dirinya sendiri.


"Kau tidak tahu ya? apakah kau baru saja ke kota ini?" Pemuda itu kembali bertanya.


"Benar, aku baru sampai kesini."


"Sungguh tidak beruntung, Ngomong - Ngomong Namaku Rin-yu." Pemuda itu menyebutkan namanya, lalu duduk di samping Ren yang sedang bersandar.


"Rinyu? Nama yang aneh, Aku Ren salam kenal." Ren memasang wajah aneh mendengar nama pemuda itu.


"Hei, Kau salah, Namaku Rin-Yu." Pemuda itu menegaskan dengan wajah kesal.


"Apakah ada perbedaan?..." Ren bertanya - tanya.


"Sudahlah, itu tidak penting. Kau tahu siapa wanita menyebalkan itu?" Ren bertanya.


"Tentu saja aku tahu! Wanita Brengsek itu adalah Putri Duke Tayslen. Orang yang memegang wilayah ini. Dia juga seorang bagian dari Ksatria Aulzania, walaupun dia masih baru bergabung tidak lama ini." Rin-yu berbicara dengan Nada kesal.


"Apa?! Putri Duke?! pantas saja tidak ada yang mencoba menolongku." Ren memasang Ekspresi terkejut.


"Yah kau benar, tidak ada yang berani menentang nya. Jika aku cukup kuat, akan kupukul wajah cantiknya itu!" Rin-yu mengepalkan tinju nya.


"Ngomong - Ngomong mereka semua selain aku adalah seorang Gelandangan. Mereka telah kehilangan kewarasan nya. Aku cukup kesepian tau, disini selama 3 hari tanpa teman bicara." Rin-yu berkata dengan sedih.


"Untung nya, kau ada disini! begitu aku bertanya padamu dan kau menjawab, aku sangat senang." Rin-Yu menatap Ren dengan wajah senang.


"Hahaha.. Benarkah?" Ren tersenyum canggung.


"Yah, benar. kau tahu? aku sedikit sedih akan hal ini." Rin-yu mengubah ekspresi nya tiba - tiba.


"Dalam hal apa?" Ren bertanya.


"Kau ingat? bahwa kita akan dijadikan umpan? Kita akan diumpankan pada seorang Vampire tau.! Rumor mengatakan Vampire itu sangat kuat. Ada kemungkinan kita mati dalam kasus ini.." Rin- Yu berbicara sedih, ekspresi nya terlihat menatap seorang yang jauh.


"Itu tak dapat disangkal benarkan? lagipula, mereka pasti membawa orang yang kuat untuk membasmi Vampire itu kan?" Ren mencoba untuk menghibur Rin-Yu


"Heh, Wanita itu? yang ada dia mengharapkan kita untuk mati.!"


"Kau Benar...Ngomong - Ngomong, mengapa kau bisa ada disini? apakah dengan alasan tak jelas sepertiku?" Ren bertanya pada Rin-Yu


"Jika kau memaksa ingin tahu, apa boleh buat. Sebenarnya..." Rin-yu mulai bercerita.


"Pada saat itu, Wanita menjijikan itu datang ke dekat Rumahku bersama gerombolan pria tampan disamping nya. Aku tidak ada pada awalnya karena bekerja. Saat aku pulang disana aku melihat kakak ku sedang dia siksa. Lantas aku marah dan mencoba menolong nya.


Tapi, para Pria tampan disisinya terlalu kuat, apalagi yang bernama Zell itu. Dengan kedipan mata, aku sudah dikalahkan begitu saja. Ketika sadar aku ada di dalam penjara ini."


"Kau hidup hanya berdua dengan kakakmu?" Ren bertanya.


"Um. Dia adalah satu - satunya keluargaku yang paling aku sayangi. dan juga dia cantik loh!" Rin-Yu tersenyum dengan bangga.


"Banyak lelaki yang mencoba melamarnya, namun semua dia tolak dengan alasan karena aku belum cukup dewasa. Padahal aku sudah bisa bekerja sendiri, sementara kakak ku harus menderita karena aku." Rin-Yu memasang ekspresi sedih.


"Andai saja dia menerima lamarannya, mungkin dia akan hidup lebih baik." Rin-Yu berkata kembali.


"Kau memiliki Kakak yang sangat baik." Ren berkata dengan tersenyum.


"Dia sangat - sangat baik. Maka dari itu aku merasa sedih jika meninggalkan nya seorang diri. Andai... Aku lebih.. Kuat." Rin-Yu mengepalkan lengannya.


"Sudah - sudah, lebih baik kita lanjutkan esok. Mari kita tidur." Ren berbicara, lalu berbaring diatas lantai yang terbuat dari tanah.


"Kau benar, mari kita lanjutkan besok." Rin-Yu pun melakukan hal yang sama.

__ADS_1


Penjara itupun kemudian diselimuti keheningan. Kemudian kedua orang itu tertidur dengan pulas.


__ADS_2