
7 Hari telah berlalu ....
Ren melewati kehidupan sehari-hari dengan cara beristirahat. Tidak ada konflik yang berarti selama itu, hanya ada sedikit masalah kecil yang mudah untuk ditangani.
Berbagai hal telah berkembang dengan sendirinya, seperti penelitian sihir Raytsa yang sedikit demi sedikit mengalami kemajuan, kemudian Nirlayn yang berlatih dengan keras sehingga saat ini mampu melakukan tembakan dengan baik, dan proses pembangunan rumah untuk Kanza dan Kina sudah mulai dilakukan.
Meski masing-masing dari mereka mengalami sedikit kesulitan tetapi dengan semangat dan ketekunan semua dapat diatasi dengan baik.
Perkembangan pun tidak hanya terjadi di sekitar Ren saja, melainkan di luar sana telah terjadi beberapa hal yang menarik. Kondisi Kanza yang masih melawan para pemberontak Kerajaan Efidoxia adalah salah satunya.
Perjuangan Kanza sepertinya mengalami sedikit kesulitan karena keberadaan Putri Efidoxia yang membatasi pergerakan Kanza dan Leusgira. Oleh sebab itu, Kanza dan Leusgira tidak bisa dengan sembarang menyerang para pemberontak demi meminimalisir kecurigaan sang putri.
Akan tetapi berdasarkan informasi yang diberikan Kanza, sejauh ini semua masih dalam keadaan aman dan bergerak sesuai dengan rencana. Sedikit masalah merupakan hal yang wajar karena segala sesuatu tidak mungkin berjalan sangat mulus.
Kemudian satu hari yang lalu, Ren menerima sebuah surat yang dikirimkan melalui burung pengantar pesan miliknya dari Kerajaan Aulzania. Surat itu berisi harapan Raja Aulzania agar Ren dapat menemuinya untuk mendiskusikan hal penting.
Namun karena suatu urusan, Ren tidak dapat memenuhi panggilan Raja Aulzania. Selama satu atau dua hari ke depan, Ren akan disibukkan dengan kepindahan para Roh dari hutan bagian lain ke dekat Istana miliknya.
Sebelumnya, Ren bersama Arystina sempat mengunjungi Shade of Spirits untuk sekadar membicarakan pemindahan mereka dan melepaskan rasa rindu Arystina. Saat itu pula, Arystina menemukan sesuatu yang mengejutkan ketika ingin melepaskan Inti Mana dari Pohon Shade of Spirits.
Arystina mengemukakan bahwa ia menemukan semacam catatan yang berupa fakta mengenai Shade of Spirits. Catatan itu memberitahu bahwa Inti Mana dari [Shade of Spirits] memiliki fungsi yang sama seperti bibit yang mampu menumbuhkan [Shade of Spirits] di tempat lain dengan konsekuensi [Shade of Spirits] yang ada akan layu dan mati.
Namun seperti yang telah diketahui, Inti Mana dari [Shade of Spirits] menyerap mana dari alam sehingga harus ditanam di tempat yang kaya akan mana. Beruntung masalah yang satu ini masih bisa diatasi dengan beberapa cara, dengan begitu penanaman [Shade of Spirits] di kawasan Istana tidak mustahil untuk dilakukan.
Hanya tersisa satu masalah utama, yaitu bagaimana caranya memindahkan semua Roh dengan aman. Sedangkan jarak antara Istana dan [Shade of Spirits] itu cukup jauh. Tidak mungkin juga Ren mengangkut satu per satu dari mereka karena itu cukup merepotkan.
"Memindahkan mereka satu per satu dapat menjadi pilihan terakhir. Sebelum itu aku harus memikirkan cara yang lain terlebih dahulu, cara itu harus aman dan tidak memakan waktu lama."
Beberapa ide bermunculan, termasuk menggunakan para [Beast Servant] untuk membawa semua Roh yang ada, namun cara ini tidak sepenuhnya aman dan malah mengandung risiko yang tidak kecil. Kesalahan pengawasan sedikit saja bisa berakibat fatal bagi para Roh yang pada dasarnya kebanyakan belum bisa melindungi diri sendiri.
Di situasi seperti inilah Ren menyesalkan dirinya sendiri yang masih tidak mengerti bagaimana konsep Sihir Teleportasi.
"Haahhh ...."
Ren menyandarkan diri pada kursi taman untuk beristirahat dalam berpikir. Terkadang sebagai seseorang yang berjiwa manusia, dia tidak bisa menangani masalah, walau masalah itu sangat sederhana.
Saat menenangkan pikiran, seseorang muncul dari belakang dengan membawa sebuah troli meja yang berisi poci dan beberapa gelas kosong yang cantik.
"Yang Mulia?"
Suara yang lembut dan merdu itu memberitahu Ren bahwa seseorang yang datang adalah Arystina. Ren lantas membuka mata dan menoleh ke arahnya.
"Ya, ada apa?"
Arystina menggelengkan kepala sambil mendekat, lalu tanpa berbicara ia menyiapkan satu gelas teh hangat. Gelas berisi teh hangat itu kemudian dia serahkan kepada Ren sambil tersenyum.
Kebetulan Ren sedang merasa membutuhkan asupan gula saat ini. Bagaimanapun, dia tidak akan menolak pemberian Arystina, malah dengan senang hati menerimanya.
"Ah, terima kasih."
Ren sendiri bingung dengan maksud kedatangan Arystina. Apakah dia benar-benar menghampiri hanya untuk memberikan segelas teh hangat? Atau memiliki suatu maksud yang lain?
"Anda terlihat sedikit murung, apa ada suatu masalah?"
Sebelum membalas pertanyaan, Ren menikmati teh hangat dengan seksama terlebih dahulu. Arystina pun dengan sabar menunggu karena dia tahu bahwa Ren sedang menikmati teh buatannya.
"Apakah wajahku benar-benar murung?" tanya Ren setelah meminum tehnya.
"Ya, tapi mungkin bukan murung melainkan sesuatu yang mirip dengan itu, Yang Mulia."
"Benarkah? Aku tidak merasa ekspresiku berubah sama sekali. Tapi kau mungkin benar Arystina, sebenarnya aku sedang memikirkan bagaimana cara memindahkan mereka semua kesini dengan aman tetapi tidak membutuhkan waktu lama."
"Mereka? Apakah maksud Anda keturunan saya?"
Ren mengalihkan tatapan pada Arystina dengan sedikit dicampuri rasa aneh dan heran. "Keturunan? Jadi kau memanggil mereka seperti itu ya?"
__ADS_1
"A-apa itu tidak cocok?"
"Tidak, bukan begitu, hanya saja aku lupa bahwa kau telah memiliki banyak keturunan, hm." Ren sedikit tersenyum kemudian berkata, "mari kesampingkan hal itu, tentang pemindahan mereka apa kau memiliki usulan atau semacamnya?"
Arystina tertegun, permasalahan ini terasa cukup berat baginya. Semua Roh yang hidup dalam Shade of Spirits belum pernah berkeliaran di dunia luar, sebab itu Arystina tidak tahu apa yang terbaik untuk mereka.
"Menemukan sesuatu?"
Dengan berat hati Arystina menggelengkan kepalanya sebagai bentuk isyarat bahwa ia tidak menemukan solusi apapun.
"Tidak ada pilihan, kalau begitu aku akan menemukan cara yang lain."
Teh hangat yang tersisa dalam secangkir gelas yang dipegangnya kemudian diteguk sampai tetes terakhir. Cangkir yang kosong lantas diberikan pada Arystina, sementara dirinya sendiri kembali memikirkan cara lain, berharap menemukan suatu ide yang bagus.
Ren terlarut dalam pikiran, sedangkan Arystina berusaha mencari cara agar bisa membantunya walaupun sedikit. Cara demi cara telah dipikirkan dengan memperhitungkan segala kemungkinan yang ada tetapi semua masih belum memenuhi kriteria yang diinginkan.
"Anu, maaf mengganggu pikiran Anda, Yang Mulia."
"Apa?"
"Mungkin ini bukan sebuah solusi. Saya juga tidak tahu apakah Anda sudah memikirkannya atau belum, tapi ... kemampuan Anda yang bisa meniru segala benda itu, apa tidak bisa digunakan?"
"Maksudmu 'Blood Art'? Ya, mungkin itu bisa digunakan tetapi aku harus membuat apa agar bisa membawa mereka semua? Tidak mungkin bukan aku membuat semacam pesa- ...."
Ren terdiam sesaat sebelum dirinya merasa tersentak. Hati dan pikiran yang selalu berpikir itupun dirasa jadi tidak berguna saat sebuah pertanyaan muncul, mengapa dia tidak memikirkan hal sesederhana itu sebelumnya?
"Yang Mulia, apa ada suatu masalah?" Arystina memiringkan kepala lalu bertanya lagi, "Yang Mulia?"
Merasa sikap Ren begitu tidak biasa membuat Arystina mengira kalau penyebab sikap itu adalah saran darinya. "Mungkinkah ... saran saya itu begitu tidak berguna?!"
Kecurigaan Arystina semakin bertambah ketika Ren mengisyaratkan dirinya agar diam terlebih dahulu. Walaupun sebenarnya hal yang ada dalam pikiran Ren tidak sesuai dengan kecurigaan Arystina.
"Y-Yang Muliaa?"
"Aku sudah mengerti."
Apa yang dimaksud oleh Yang Mulia dengan mengerti? Arystina kebingungan karena Ren tiba-tiba berkata demikian.
"E-eh, apa maksudnya?"
"Terima kasih atas saranmu, kini aku menemukan solusi untuk membawa mereka semua kesini. Hanya persiapkan dirimu, kita akan pergi sore ini."
Mendengarnya membuat Arystina senang karena ternyata saran yang diberikan membantu Ren dalam menemukan solusi dari masalahnya. Namun Arystina juga terkejut, apakah mereka akan benar-benar pergi sore ini? Tidakkah itu terlalu terburu-buru?
"Saya bersyukur jika bisa membantu, tapi apa benar harus pergi sore ini juga, Yang Mulia?"
"Ya, karena semakin cepat lebih baik. Dan kau tahu surat yang dikirim oleh Kerajaan Aulzania?"
"Surat yang berisi panggilan kepada Yang Mulia?"
"Benar, aku merasa mereka memang sedang berurusan dengan hal yang sangat penting hingga tidak ada pilihan selain memanggilku, atau bisa jadi urusan itu berkaitan langsung denganku."
"Uhm, berkaitan dengan Anda?"
"Begitulah, sekarang bukan waktunya untuk menjelaskan. Sebaiknya kau bersiap untuk pergi, atau kau mau memakai pakaian seperti itu untuk bertemu keturunanmu?"
"Ah, tidak mungkin! Mereka pasti akan bertanya-tanya jika saya menggunakan pakaian ini. Saya akan segera menggantinya, mohon Anda menunggu, Yang Mulia!"
"Ya, aku akan memberitahu yang lain tentang kepergian kita, kau kutunggu di gerbang utama."
Arystina membungkuk lalu dengan cepat meninggalkan tempat itu seraya membawa troli mejanya kembali. Sedangkan Ren menatap Arystina pergi sampai sosoknya benar-benar menghilang ke dalam Istana.
Setelah itu Ren pergi untuk menemui Nirlayn dan yang lain untuk mengatakan bahwa ia akan pergi menuju Shade of Spirits sekarang juga. Dia juga akan mengatakan bahwa perkiraan dirinya kembali adalah esok hari.
..........
__ADS_1
Pohon super besar yang menjulang tinggi ke atas langit, Shade of Spirits. Sebuah naungan raksasa bagi para Roh yang hidup di benua para manusia, dan keberadaannya sendiri sangat tersembunyi.
Beberapa dari mereka -- Roh yang tersembunyi -- berdiri di depan Shade of Spirits untuk melihat keberadaan yang mendekat.
Tidak lama sekelebat cahaya merah melintas lalu menghilang. Menghilang lalu digantikan oleh dua sosok yang mendarat tepat di hadapan para Roh yang bersiaga. Begitu melihat sosok yang datang sangat familiar, mereka menurunkan kewaspadaan dan malah menyambutnya.
"Ratu Arystina!" teriak salah seorang dari mereka.
"Selamat datang kembali!"
"Selamat datang kembali!" teriak mereka serentak.
Dari kerumunan Roh yahg bersiaga, muncul Aurlin yang langsung tersenyum kepada Arystina dan Ren.
"Nona Arystina, tidak saya sangka Anda akan kembali kesini secepat ini. Ada apa gerangan?"
Sebelum membalas pertanyaan Aurlin, Arystina sempat melirik Ren untuk memastikan apakah dirinya boleh berbicara dengan jujur soal rencana memindahkan mereka semua. Ren memberikan anggukan sebagai konfirmasi.
"Ya, Aurlin kecilku. Kedatanganku kesini ingin memberitahu kalian perilah kepindahan kita semua."
Semua Roh yang hadir disana termasuk Aurlin sedikit membelalakan mata. Pasalnya, kepindahan mereka bukan sesuatu yang kecil dan mudah untuk dilaksanakan. Beberapa Roh yang dibelakang Aurlin pun mulai saling berbisik untuk saling bertanya, apakah Ratu mereka sedang bercanda?
"Anda serius, Nona? Bukankah ini sedikit terlalu ...."
"Ya, aku mengerti apa yang kau rasakan tapi ... uhm, sebaiknya kita membicarakan masalah ini di dalam."
Aurlin memejamkan mata, lalu menghela napas untuk kemudian berbicara, "Baiklah, mari masuk, Nona."
Dengan isyarat tangan Aurlin memerintahkan para Roh lain untuk membuka jalan serta gerbang masuk ke dalam Shade of Spirits. Aurlin juga memerintahkan agar mereka berhenti bersiaga dan menurunkan intensitas pelindung dari Shade of Spirits.
Namun saat mereka semua akan masuk ke dalam, Ren tiba-tiba berhenti melangkah yang membuat Arystina dan Aurlin ikut berhenti dan melihatnya.
"Yang Mulia?"
"Maaf, tapi aku merasa sebaiknya kalian semua mendiskusikan itu tanpa diriku. Semua hal yang kurencanakan juga sudah diketahui oleh Arystina jadi kalian bisa bertanya kepadanya."
"Tunggu, mengapa?"
"Kau tahu, Arystina? Kendaraan yang aku maksud butuh beberapa penelitian untuk memastikan bahwa itu aman. Jadi selama kalian berdiskusi, aku akan menyempurnakannya."
"Tidak, keberadaan Anda sangat dibutuhkan. Bagaimana bisa kami berdiskusi tanpa seseorang yang paling penting yaitu Anda, Yang Mulia?"
"Salah, keberadaanmu untuk meyakinkan mereka semua lebih penting dariku. Tapi andai ada yang meragukanku, mereka bisa datang dan bertanya langsung padaku."
Arystina mengangguk dengan lesu. Dia tahu bahwa apa yang dikatakan oleh Ren memang benar, tetapi hatinya tidak bisa membiarkan hal itu. Tapi apa boleh buat, tidak ada alasan yang kuat untuk menentang keputusan yang Ren buat.
Melihat Arystina yang sedikit lesu, Aurlin merasa kasihan sekaligus tidak tega. Untuk itu Aurlin memikirkan sesuatu agar Ren bergabung dalam diskusi walaupun itu hanya sebentar saja.
"Yang Mulia, sebagai seorang tamu yang penting sangat tidak baik bagi kami semua untuk menelantarkan Anda di luar, apalagi jika Anda harus bekerja untuk menyempurnakan sesuatu yang Anda bilang sebelumnya. Untuk itu, dari lubuk hati saya yang terdalam, meminta Anda agar mengikuti diskusi ini, walaupun hanya sebentar."
"Sudah kukatakan, aku akan menyem- ..." Perkataan Ren terhenti saat melihat Arystina dengan tatapan memohonnya. "Hahh, apakah keberadaanku sepenting itu? Ya ampun ...."
Sambil sedikit memijat kening karena tidak bisa memahami perasaan Arystina, Ren pasrah dan berkata, "Baiklah, aku akan ikut tapi hanya sebentar saja."
Senyum kembali merekah di wajah Arystina. Setelah itu semua, mereka pun masuk ke dalam Shade of Spirits dan mulai membicarakan rencana pemindahan dengan sangat serius.
................
-Kota Aulzania-
Raja Aulzania, Esdagius Losgan Ri Aulzania merasa bimbang di ruang kerja miliknya. Kebimbangan Raja Esdagius berasal dari datangnya beberapa orang utusan dari dua kekaisaran yang berbeda beberapa hari yang lalu.
"Belum ada balasan dari Tuan Dirvaren. Sungguh, aku tidak tahu apa yang telah beliau lakukan sehingga dua kekaisaran besar mencurigai kami sekaligus. Apakah beliau benar-benar menghancurkan Kerajaan Suci Sancteral seperti yang mereka katakan?"
Raja Aulzania sedikit khawatir tetapi kekhawatiran itu harus dia rasakan sebelum kepastian datang. Dirinya sendiri merasa tidak percaya bahwa Ren menghancurkan satu kerajaan, kalaupun itu memang benar, seharusnya ada alasan kuat dibaliknya.
__ADS_1