
Dibalik Pohon Raksasa terdapat sebuah Desa, mungkin itulah Kalimat yang tepat untuk menggambarkannya. Bagi Ren sendiri, melihat sesuatu seperti ini secara langsung adalah Pengalaman yang Luar Biasa.
Dimana saat ini dia bersama dengan para Wanita berjalan diatas Jalan yang terbuat dari Sulur Pohon Raksasa. Jalan ini dirangkai oleh Sulur Pohon Raksasa dengan cara saling mengikat satu sama lain hingga membentuk sebuah Jalan yang kokoh.
Mari kita sebut Jalan ini sebagai <>
Pohon Raksasa bisa dikatakan seperti sebuah Cangkang yang melindungi Pohon yang asli. Pohon yang asli terdapat di bagian Pusat Pohon itu sendiri, dimana dia memiliki Ukuran yang lebih kecil namun tetap Besar jika dibandingkan dengan Pohon Biasa.
Sementara Waktu, kita Namakan Pohon Asli dengan <>
Meskipun memiliki Ukuran yang kecil, Pohon Sejati masih tetap Menjulang tinggi Ke Langit.
Karena Langit disini berada di dalam Pohon apakah itu benar - benar Langit atau Bukan tidak ada yang tahu. Yang pasti, ada sesuatu yang bersinar diatas sana layaknya Matahari.
Ren terus berjalan mengikuti Jalan Sulur yang melingkari Pohon Sejati menuju ke atas Langit. Pada setiap sisi Jalan Sulur, terdapat Rumah - Rumah Unik yang terbuat dari Pohon.
Mereka memiliki Bentuk yang berbeda - beda serta memiliki Keindahan yang berbeda pula. Keindahan ini adalah Keindahan dari Rumah Alami tanpa merusak Pemandangan sedikitpun.
Melihat Ren yang melewati mereka, para Penghuni dari Pohon Raksasa langsung panik seketika. Anak - Anak yang sedang bermain di Tengah Jalan dengan segera menyisi lalu mendekati Ibu mereka.
"Ibu ... Itu siapa?"
"Mama! Ada Makhluk aneh!"
"Kakak, Makhluk apa dia? Dia berbeda?"
Komentar mereka yang aneh dan menusuk mulai terdengar oleh Ren. Meskipun begitu, Ren dapat memakluminya karena mereka hanya Anak Kecil semata. Daripada mempedulikan Hal itu, Ren lebih tertarik untuk menanyakan mengapa semua Penghuni Pohon Raksasa sama.
Ya, tidak dapat dikatakan lagi bahwa mereka semua Wanita.
Semua yang ada disana adalah Wanita, Ren tidak mungkin salah. Bahkan Anak - Anak yang bermain itu mengenakan Pakaian Wanita, jadi mustahil Ren salah.
Dimana Ayah mereka? Apakah ini adalah sesuatu yang sama seperti Dongeng Suku tertentu ketika di Bumi? Ren tidak tahu. Yang Jelas, Ren saat ini merasa bersalah karena memasuki Kediaman yang hanya diisi oleh Wanita.
"Mereka ..." Ren bergumam.
Aurlin yang berada di dekat Ren tiba - tiba berbalik, mungkin karena dia menyangka Ren bertanya padanya? Atau mungkin sesuatu yang lain. Yang Jelas, Aurlin masih terlihat tersenyum dengan Lembut.
"Ada apa?" Tanya Aurlin.
Seperti yang diduga, Ren tidak bertanya pada Aurlin melainkan Bergumam pada dirinya sendiri. Terbukti dari Ren yang berbalik dan menatap Aurlin dengan Ekspresi yang heran, meski Ekspresi itu tertutupi oleh Topeng yang dia kenakan.
"... Tidak, aku tidak bertanya kali ini." Ren menjawab Perlahan.
Aurlin yang mendengar Jawaban Ren hanya menanggapi dengan "Oh~" Secara perlahan. Tanpa berbicara lagi, mereka berdua kembali Berjalan untuk mencapai Puncak dari Jalan yang mereka tempuh.
Pa ... Pa
Tanpa menunggu waktu lagi, Ren mencari Sumber dari Suara yang baru saja dia dengar. Meskipun Suaranya sangat samar dan hampir tidak terdengar, namun Pendengaran Ren yang dipertajam dapat mendengar hal itu cukup Jelas.
'Suara siapa itu ...Ah?'
__ADS_1
Diantara para Penghuni Pohon Raksasa, Ren melihat ada seseorang yang tidak asing. Dia adalah Gadis Kecil Berambut Es, Laselta. Laselta sedang menatap Ren penuh perhatian dengan Mata yang sebiru Es miliknya. Ketika Ren menatap Balik, Laselta langsung bersembunyi pada Tubuh seorang Wanita.
Wanita itu, terlihat mirip dengan Laselta, dia mengenakan Pakaian yang Sebiru Es, dia juga memiliki Warna Mata dan Rambut yang sama. Tanpa harus dipertanyakan lagi, sudah Jelas bahwa dia adalah Keluarga dari Laselta.
'Apakah dia membenciku? Yah, terserahlah.'
Ren tidak mempedulikan Laselta lebih jauh, Perhatian Ren dikembalikan pada Jalan Sulur yang hampir mencapai Puncaknya. Beberapa dari Wanita yang Menjaga semua sisi Ren mulai mengundurkan diri dan berkurang.
Mereka hanya menyisakan Aurlin bersama dengan Empat orang Wanita yang menjaga semua sisi yang berbeda. Berdasarkan apa yang Ren amati, mereka berempat ini Jauh lebih Kuat dari Wanita Berambut Emas yang sebelumnya dia Hadapi. Mungkin, mereka Berempat adalah Prajurit terkuatnya?
"Sebelum tiba, bisa aku bertanya sesuatu?" Ucap Ren secara tiba - tiba.
"Aku akan menjawab tergantung dari Pertanyaanmu, apa itu?"
Konfirmasi dari Aurlin membuat Ren menghela Napas. Dia berharap, Pertanyaan kali ini mendapat Jawaban dari Aurlin.
"Mengapa kalian begitu Mudah membawaku kesini? Meskipun kita berdua sepakat, namun itu tetap saja aneh."
Jika seseorang begitu Mudahnya menerima Tamu yang tidak dikenal memasuki Kediaman mereka, hanya ada Dua Kemungkinan. Pertama, orang itu dengan sengaja menyiapkan Jebakan, lalu yang Kedua, orang itu terlampau Bodoh. Namun, Ren tidak merasa mereka ada diantara Kedua Pilihan ini, lalu yang manakah mereka?
"Fftt ... Hahaha." Aurlin tertawa Lembut sambil mengusap Sudut Matanya.
"Mungkin ini terdengar sedikit Aneh, tetapi aku merasa dirimu bukanlah orang yang Jahat. Lalu, pertanyaanmu barusan memperkuat pemikiranku." Aurlin berkata dengan Lembutnya.
Apakah ini yang dinamakan dengan Insting seorang Wanita? Ren dulu berpikir sesuatu semacam ini hanya Mitos belaka. Akan tetapi sekarang, dia sedikit mempercayai apa yang disebut dengan Insting Wanita ini.
"Sudah - Sudah, Simpan sebanyak mungkin pertanyaanmu untuk nanti. Akan ada seseorang yang mungkin bisa menjawab segala macam Penasaranmu itu."
Bersamaan dengan Perkataan Aurlin, Ren akhirnya tiba di Puncak Jalan Sulur. Disana, Ren melihat sebuah Tempat Luas layaknya sebuah Lapangan. Pada Pusat lapangan ini, terdapat sebuah Bangunan Besar dan Unik.
"Kalian tunggu disini ... Biarkan aku dan dia yang bertemu dengan Nona." Aurlin berkata pada Empat orang Wanita yang menjadi Penjaga.
"Tapi ... Bagaimana jika dia menyerang?"
"Benar, itu akan berbahaya!"
"Biarkan kami ikut juga."
"Kami berjanji tidak akan mengganggu."
Satu per satu dari mereka menyuarakan Protesnya. Namun dengan Bujukan Aurlin, mereka bisa dengan Mudah menyerah dan mulai mengundurkan diri.
Saat ini, hanya tersisa Ren bersama dengan Aurlin yang mulai berjalan untuk mendekati Bangunan di Pusat Lapangan.
* * *
* * *
* * *
Hmm ~ Hmm ~ Hmm ~ Hmm ~
__ADS_1
Dalam Sebuah Ruangan, seorang Wanita tengah Bersenandung seraya Menatap pada sebuah Cahaya dihadapannya. Cahaya Besar yang mengambang dan terus menerus mengeluarkan Warna yang berbeda.
Lalu ... sebuah Suara Ketukan Pintu terdengar, Wanita itu yang tengah Bersenandung segera menghentikan perbuatannya. Dia langsung berjalan ke arah Pintu dengan Wajah yang sedikit bermasalah. Pintu terbuka, dan Dua Sosok terlihat disana, seorang Wanita dan Pria yang tidak lain adalah Aurlin yang bersama dengan Ren.
"Maafkan saya telah mengganggu Nona, tapi ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda." Ucap Aurlin sembari menunjuk ke arah Ren.
Wanita yang disebut dengan Nona itu segera memperhatikan Ren. Dia terus - menerus menatap Ren sampai tidak berkedip sedikitpun. Aurlin yang merasa aneh dengan Hal ini tidak berani bertanya, sementara untuk Ren sendiri, dia kebingungan mengapa ini bisa terjadi.
"Kau ..." Wanita itu mengeluarkan Suara Halus namun mengintimidasi. Hanya mendengar Hal ini membuat Aurlin sedikit Gemetar.
Meski Mengintimidasi Aurlin, namun itu tidak berpengaruh pada Ren. Dia berpikir bahkan Pedang Nuxuria mengeluarkan Tekanan yang lebih besar daripada ini.
"Aurlin, bisa kau tinggalkan kami berdua untuk sementara?" Wanita itu berbicara tetapi tidak mengalihkan Pandangannya dari Ren sedikitpun.
Sikapnya ini bagaikan melihat sosok Monster yang mengerikan, dan bahkan sampai tidak bisa membuat dia mengalihkan pandangan. Ren sedikit merasa tersakiti, karena pada dasarnya dia tidak memiliki Niat jahat sedikitpun.
Aurlin yang diperintahkan oleh Wanita itu untuk Pergi dengan segera membungkuk dan Mengundurkan diri. Melihat sikap Aurlin yang tidak mengkhawatirkan Wanita itu sama sekali, dapat membuktikan bahwa Aurlin sangat mempercayai Kekuatan Wanita itu.
Berselang beberapa Waktu, akhirnya Wanita itu mengalihkan Pandangan dan menatap ke segala arah seakan tidak memiliki ketenangan. Setelah itu, dia tersentak secara tiba - tiba dan langsung membungkuk ke arah Ren.
"A-Anu ... Maafkan Keturunan kami, mereka s-sudah berbuat tidak sopan pada anda." Ucap Wanita itu seakan merasa bersalah.
Sementara untuk Ren sendiri, dia harus berpikir terlebih dahulu untuk mencerna segala Hal yang terjadi. Pada awalnya, Wanita itu menatap Ren dengan penuh Perhatian seakan menatap Seekor Monster, lalu secara tiba - tiba dia begitu menghormati Ren lalu membungkuk ke arahnya.
'Ada apa dengan Kemustahilan Dunia?!' Ren berteriak dalam Hati.
Beruntung saat ini Wajah Ren masih ditutupi oleh Topeng, andaikan tidak, Ekspresinya yang unik pasti terlihat Jelas disana. Pikiran Ren kini hanya dipenuhi dengan Pembahasan mengenai "Betapa Anehnya Dunia" yang baru saja dia alami.
Disaat Ren berpikir, Wanita itu masih saja membungkuk. Tetapi setelah beberapa lama, dia mendongak ke atas untuk melihat apa yang sebenarnya sedang dilakukan oleh Ren.
"A-Apakah anda M-Marah dengan Keturunan kami?" Dia berkata dengan wajah memelas.
Pertanyaan ini membuat Ren tersentak ketika berpikir. Seorang Wanita Cantik yang sedang memelas pasti akan membuat Hati para Pria luluh seketika. Namun, sayang sekali Ren sudah tidak mempan terhadap sesuatu yang seperti itu. Dengan terpaksa, Ren menatap pada Wanita itu dan berkata dalam Hati ...
'Biarkan aku menikmati Keanehan Dunia terlebih dahulu.'
Tentu saja perkataan Ren tidak dapat didengarkan oleh Wanita itu. Alhasil, Wanita itu harus membungkuk untuk beberapa saat lagi dan menunggu Jawaban dari Ren yang sesungguhnya.
Seraya menunggu Ren untuk berpikir, mari kita Gambarkan sosok Wanita itu dengan beberapa kalimat.
Dia adalah sosok Wanita yang terlihat berusia sekitar 20 - 25 Tahunan. Wajahnya yang Cantik tidak perlu ditanyakan lagi, karena seluruh Penghuni Pohon Raksasa adalah Wanita Cantik sudah pasti Pemimpin mereka juga memiliki Paras yang Cantik.
Dia mengenakan sebuah Gaun Berwarna Hijau yang dihiasi oleh Permata - Permata Berkilauan disetiap Ujungnya. Ini membuat kita bertanya, apakah dia adalah Seorang Pengantin? Namun sudah pasti itu bukan.
Seperti Halnya Penghuni Pohon Raksasa lain, Warna Rambut dia sama dengan Pakaian yang dia kenakan. Hanya ada sedikit perbedaan namun itu tidak patut untuk dituliskan secara Jelas.
Setelah mengamati dengan Baik Sosok Wanita itu, Ren menyelesaikan Pikirannya tentang "Betapa Anehnya Dunia" dan mulai mengeluarkan Suara ....
"Aku akan bertanya, siapa sebenarnya kalian?"
Dag - Deg!
__ADS_1
Jantung Wanita itu terkejut seakan tersambar oleh Petir. Kedua Matanya melotot seolah itu dapat keluar kapan saja. Dia dengan segera memperbaiki Postur tubuhnya dan bertatapan langsung dengan Ren.
"Siapa kau?!" Dia berbicara keras kembali.