Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 125 ~ Kekacauan Kerajaan Suci Sancteral VII


__ADS_3

Rusava menciptakan sabit merah darah yang dibaluti oleh aura menyeramkan di hadapan musuhnya. Bentuknya seram bagai keputusasaan dan bilahnya melengkung bagaikan kematian.


Darguns, sang iblis bertandukkan motif lava seketika mengingat sebuah teknik khusus yang hanya bisa digunakan oleh Blood Devil tingkat tinggi, yaitu Blood Art.


"Sudah kuduga, tadinya aku ingin protes karena diperintahkan untuk menghadapi penyusup bersamamu Augsnel, tapi sekarang aku berubah pikiran."


Darguns tersenyum buas ketika melihat Rusava seolah-olah adalah mangsa yang sudah sangat dia tunggu sebelumnya.


"Tch, memangnya hanya kau yang merasa tidak terima? Aku lebih tidak terima harus dipasangkan dengan iblis sepertimu."


Sebenarnya perasaan tidak terima Augsnel sudah dilupakan karena kemunculan Blood Devil. Namun, mengapa Augsnel merasa ada yang aneh dengan semua ini?


"Memangnya aku peduli? Malaikat lemah sepertimu cukup lihat dan saksikan kemenanganku yang gemilang!"


Sesaat setelah berbicara, kedua lengan Darguns dibaluti oleh api yang merubah bentuk dan ukuran lengannya. Kulit yang keras berwarna hitam menyelimuti lengan Darguns dari ujung jari sampai ke bagian bahu. Tidak hanya itu, duri-duri yang melengkung juga tercipta bersamaan dengan motif lava yang mengaliri lengannya.


"Heh, kau yakin hanya menerapkan mode iblis apimu ke dalam lengan? Sepertinya kau terlalu meremehkan Blood Devil."


Meskipun Augsnel tidak peduli dengan keselamatan Darguns tapi Darguns adalah sosok yang cukup berharga bagi organisasi. Kehilangan Darguns hanya akan menambah kerugian yang diterima organisasi, dan para chief pasti tidak akan tinggal diam.


"Hahahaha! Kekalahanmu itu memang sangat memalukan, Augsnel! Tapi jangan kau samakan aku dengan dirimu!"


Darguns tertawa keras seraya mengambil sebuah posisi tubuh sebelum melakukan pukulan lurus ke depan. Dia mengumpulkan mana dan memusatkannya di lengan kanan.


Augsnel tersenyum kecut, berpikir bahwa Darguns sangat bodoh karena terlalu meremehkan Blood Devil. Disaat yang sama, Augsnel akhirnya mengerti alasan dari perasaan aneh yang sedari awal dia rasakan.


Semua itu ternyata disebabkan oleh Blood Devil yang ada di hadapan mereka, memiliki kemungkinan yang sangat tinggi bahwa dia bukanlah orang yang mengalahkan Augsnel sebelumnya.


"Harga diriku tidak merasakan dendam terhadap dirinya," gumam Augsnel.


Damm!!!


Lorong yang mereka tempati dibuat hancur berurutan oleh gelombang yang disebabkan oleh pukulan Darguns sebagai pemanasan. Gelombang pukulan penghancur itu bergerak dengan cepat ke arah Rusava dan Rakuza yang masih diam di tempat mereka.


"Rakuza, bergerak ke belakangku," perintah Rusava pelan.


Rakuza menerima perintah itu tanpa bertanya atau memikirkan alasannya. Dia sangat yakin bahwa perintah dari Rusava itu memiliki alasan yang kuat terhadap keselamatan dirinya.


Rusava lantas memutarkan sabitnya dengan cepat hingga terlihat seperti sebuah roda yang berputar, menghimpun mana pada bagian ujung bilah sabit yang melengkung kemudian menghantamkannya.


Shing! Drakkk!


Bilah melengkung dari sabit ditancapkan pada lantai dengan kekuatan penuh. Dua kekuatan yang dihimpun saling bertabrakan, menyebabkan ledakan kekuatan yang menghancurkan sebagian besar dari lorong yang mereka tempati.


Meski Rusava berhasil menangkalnya tapi dia sangat mengerti bahwa serangan ini tidak lebih dari sekedar serangan pembukaan. Untuk itu Rusava tidak menurunkan kewaspadaannya sedikitpun.


"Rakuza, kau masih bisa berlari 'kan?"


Rakuza menatap curiga pada Rusava yang berbisik seperti itu, dia sangat yakin bahwa Rusava akan menyuruhnya mundur terlebih dahulu.


"Tuan Rusava, Anda tidak berniat melawannya seorang diri 'kan?"


Meski Rakuza tahu dia hanya akan menjadi beban tapi setidaknya dia tidak ingin mundur seperti seorang pengecut.


"Kau benar, tapi juga salah. Akan merepotkan jika harus bertarung sambil melindungimu, apalagi melawan mereka berdua yang tidak bisa diremehkan, hanya kekalahanlah yang menunggu," jelas Rusava.


Bahkan untuk seorang [True Ancestors] sepertinya, tidak mungkin melawan dua orang yang hampir setara sambil melindungi orang lain.


Akan tetapi Rakuza malah terdiam, dan itu membuat Rusava merasa keheranan.


"Hei, ada apa dengan diam-mu itu? Aku tidak menyuruhmu untuk lari, pergi dan temukanlah teman-?!"


Belum sempat Rusava menyelesaikan perkataan, Darguns menerjang. Menghantamkan tangan yang dikepalkan dengan kekuatan yang dahsyat pada sabit besar milik Rusava.


"Sudah basa-basinya hah?!" teriak Darguns.


Darguns menarik dengan cepat pukulan yang pertama, lalu menghantamkan pukulan yang kedua. Semua serangan diarahkan oleh Darguns pada tubuh Rusava tapi sepertinya Rusava mampu menangkis dengan baik.


"Pergilah!" teriak Rusava.


Posisi Rusava jelas tidak menguntungkan. Setiap serangan dari Darguns berhasil membuatnya mundur sedikit demi sedikit. Jika ini terus berlangsung, Rakuza pasti terkena imbasnya.


"J-jaga diri Anda, Tuan Rusava!" Rakuza bergerak cepat dan menghilang dari tempatnya berada.

__ADS_1


"Apa kau sudah menyerah?! Hahahahah!"


Darguns tertawa keras sambil terus-menerus menyerang. Serangan Darguns mungkin tidak istimewa, hanya sebuah pukulan biasa yang ditambahkan dengan kekuatan. Namun Rusava masih tetap akan mati, jika meremehkannya.


"Menyerah? Kau bodoh ya, kami Blood Devil tidak akan menyerah sebelum kami benar-benar kalah," ucap Rusava sambil melayangkan senyuman penuh makna.


Shuttt!


Darguns melayangkan pukulan hebat yang dibaluti oleh api dan kekuatan miliknya.


Damm!!


Pukulan Darguns berbenturan dengan bilah melengkung yang terdapat dalam sabit Rusava.


Krakk!


Retakan muncul pada sabit Rusava tepat di bagian yang terkena oleh pukulan Darguns. Retakan itu semakin menyebar seiring bertambahnya waktu hingga menghancurkan sabit Rusava berkeping-keping.


Tanpa alasan yang khusus, Darguns terlihat sedikit terkejut oleh kehancuran sabit milik Rusava sampai terdiam untuk beberapa saat. Kesempatan ini diambil sebaik mungkin oleh Rusava untuk melangkah mundur dan mengamati situasi.


"Blood Art huh? Ternyata tidak sekuat apa yang dituliskan."


Darguns meraba-raba tangannya yang sama sekali tidak terluka. Dan sebaliknya, dia tampak kecewa setelah melihat senjata yang terbuat dari teknik Blood Devil dapat dihancurkan dengan mudah.


"Oh, itu belum pasti bukan? Mari kita mulai ronde kedua."


Rusava kembali menciptakan sabit merahnya. Kali ini dia tidak memiliki niat untuk bermain-main dan segera melapisi sabit itu dengan api hitam yang mengerikan.


Kekuatan dari sabit itu sendiri sudah ditingkatkan, ditambah dengan api hitam maka hampir menjadi senjata yang sempurna.


Jika bertanya tentang kekurangan, maka hanya ada satu hal yang bisa Rusava pikirkan, yaitu kecocokan element dia dengan Darguns yang cukup buruk.


"Api dengan api? Hahahaha, sungguh menarik!"


Darguns ikut membalut kedua lengannya dengan api seolah tidak ingin kalah dari Rusava. Berbeda dari Rusava yang membalut sabitnya dengan api hitam, Darguns membalut lengannya dengan api merah kekuningan seperti api biasa.


Melihat Darguns yang masih meremehkan kekuatan Blood Devil membuat Augsnel tidak bisa menahan lagi rasa ingin berkata dalam hatinya.


"Darguns, kau akan menyesal jika terlalu meremehkan Blood Devil itu. Setidaknya, gunakanlah setengah dari mode iblismu."


"Pendatang baru sepertimu jangan mengguruiku, aku tahu dengan benar kekuatan musuhku!"


Helaan napas Augsnel terdengar jelas, dia tidak pernah mengira bahwa Darguns benar-benar sekeras kepala ini.


"Terserah, aku tidak akan memperingatkanmu lagi."


Augsnel pun tidak memiliki niat untuk membantu Darguns melawan Blood Devil yang satu ini. Apakah nantinya Darguns dikalahkan dan mati, dia tidak begitu peduli.


Hanya ada satu musuh yang harus dia kalahkan, yaitu Blood Devil yang mengalahkannya.


____________________________________________


____________________________________________


Langit Kota Zarisma dipenuhi oleh warna. Warna dari kekuatan dan kekacauan yang cukup indah. Dentuman demi dentuman yang dihasilkan ketika petir Avrogan maupun cahaya Indacrus menghancurkan penghalang satu per satu dapat terdengar dengan jelas.


"Maka, seharusnya mereka sudah bergerak."


Ren yang menyaksikan semuanya melangkah maju untuk mendekati Kota Zarisma yang di serang bertubi-tubi. Seperti yang dia pikirkan, musuh sudah mulai melakukan pergerakan. Ratusan sampai ribuan orang mulai berkumpul di benteng kota.


Benar sekali, mereka bukanlah orang biasa melainkan para ksatria yang mengenakan zirah lengkap. Berdasarkan warna zirah yang mereka kenakan, Ren mampu menerka bahwa mereka berasal dari wilayah yang berbeda.


"Huh?" Ren melirik ke belakang untuk melihat dua orang perempuan yang masih berdiri diam dengan pandangan yang mengarah ke Kota Zarisma. "Apa yang kalian lakukan, mau kutinggalkan?" tanya Ren heran.


Keduanya tersadar dengan ekspresi yang bingung karena mendapati bahwa Ren yang memanggil mereka telah cukup jauh berada di depan.


"Wah! Tunggu, Ren-sama!" teriak Nirlayn berlari sambil diikuti oleh Arystina.


Harus dikatakan kalau suasana di antara mereka tidak terlihat seperti sedang berada di medan pertempuran sama sekali. Orang-orang akan bertanya, suasana santai dan tidak peduli macam apa ini?


"Jangan berlari ... berjalanlah dengan anggun dan berbangga diri, kalian tidak melihat sudah banyak orang yang ingin menyambut kedatangan kita?"


Ren sedikit bercanda dengan mengatakan kebalikan dari kebenaran yang sesungguhnya. Namun, lelucon itu sendiri sepertinya tidak berguna, alias tidak membuat Nirlayn dan Arystina tertawa.

__ADS_1


"Ya ampun, mereka ini," lirih Ren pasrah sambil melangkah kembali.


Tidak perlu dipertanyakan lagi bahwa tempat yang menunggu kedatangan mereka sudah diliputi oleh suasana pertempuran. Ada para ksatria yang mencoba untuk mengungsikan penduduk, dan ada juga sebagian dari mereka yang mencoba menyerang Avrogan dan Indacrus.


Beberapa orang yang sebelumnya ingin memasuki Kota Zarisma pun segera memutar balik dan melarikan diri dari tempat ini.


Memang hal itu mudah dipahami, lagipula orang macam apa yang ingin melibatkan diri dalam kekacauan dari sebuah negeri? Mungkin, hanya pahlawan?


"Aku dengan sepenuh hati meminta maaf kepada orang-orang tidak berdosa yang telah terlibat dalam kekacauan, hal ini kulakukan karena mereka adalah musuhku, terlepas dari baik atau jahatnya mereka."


Permintaan maaf ini hanya diucapkan dalam hati Ren dan tidak mungkin bagi mereka benar-benar mendengarnya. Meskipun begitu, dia merasa cukup dengan permintaan maaf seperti ini.


Saat hatinya meminta maaf, dentuman dari serangan tanpa disadari telah berhenti. Dentuman yang berhenti memberi tanda bahwa semua penghalang berhasil dihancurkan oleh Avrogan dan Indacrus.


Demi ketepatan, Ren memeriksa kebenaran itu dengan meluaskan persepsi mana ke arah Kota Zarisma. Seperti yang dia duga, semua penghalang memang dihancurkan, hal itu memungkinkan Ren untuk mengeksplorasi Kota Zarisma secara penuh dan bebas.


Namun hal yang membutuhkan konsentrasi seperti mengeksplorasi kota dengan persepsi mana itu akan dilakukan nanti. Pertama-tama, dia harus memerintahkan Avrogan dan Indacrus untuk mundur terlebih dahulu.


"Avrogan, Indacrus, mundurlah!" perintah Ren pada keduanya.


Mereka memberi tanggapan yang cepat dengan lekas mundur dan membatalkan serangan yang akan dilancarkan. Ya, andai tidak dihentikan mereka akan menyerang kembali walaupun penghalangnya sudah tiada.


Apa yang mereka berdua pikirkan sebenarnya? Pemusnahan manusia secara massal? Ren memang tidak terlalu peduli dengan manusia tapi membunuh tanpa alasan itu tidak bisa dimaafkan.


"Apa yang kalian lakukan? Aku tidak memberikan perintah untuk membunuh seluruh kehidupan di kota ini," ucap Ren sambil menggelengkan kepala.


Avrogan dan Indacrus yang baru saja mendarat di hadapan Ren saling menatap satu sama lain dengan wajah yang kebingungan.


"Eh? Bukankah Anda yang memerintahkan kami untuk tidak menahan diri?" tanya Indacrus.


"Benar, bukankah sebelumnya Anda menunjukan aura "Bunuh mereka semua!" atau semacamnya?" terang Avrogan.


Ren tidak bisa menyangkalnya, dia memang berkata seperti itu pada mereka berdua. Akan tetapi, maksud dari perkataannya bukan sebuah perintah untuk memusnahkan apapun, atau membunuh siapapun.


Jelas sekali bahwa Avrogan dan Indacrus telah keliru dalam memahami perkataan Ren tentang tidak menahan diri.


"Tidak menahan diri untuk menghancurkan penghalangnya, itulah yang kumaksud. Ya ampun, akan merepotkan kalau kalian membunuh semua manusia yang ada disana."


Jika kabar mengenai Ren yang memerintahkan dua [Beast Servant] miliknya untuk membunuh satu kehidupan di kota itu menyebar luas maka bisa dipastikan bahwa dia akan menjadi musuh seluruh manusia yang ada di dunia.


"Aku tentu tidak ingin hidup dalam bayang-bayang pembunuhan massal," batin Ren merasa sedikit merinding.


Avrogan dan Indacrus mendengar penjelasan dari Ren sebaik mungkin. Mereka berdua menyadari kesalahpahaman ini, dan memutuskan untuk menunduk dan meminta maaf.


"Maafkan saya karena tidak mampu memahami perintah Anda dengan baik," lirih Indacrus.


"Ya, saya juga meminta maaf, Tuan."


Ren menghela napas kemudian berbicara untuk menerangkan langkah selanjutnya,"Lupakanlah, mulai dari sini kita akan pergi bersama."


Ren sekali menatap pada Kota Zarisma, merasakan dengan sebaik mungkin beberapa keberadaan yang menurutnya cukup berbahaya. Setelah itu, dia meneruskan perkataan yang sempat terhenti sebelumnya.


"Kita akan pergi ke langit Kota Zarisma. Aku akan menaiki Avrogan, sedangkan Nirlayn dan Arystina, kalian akan menaiki Indacrus."


Apakah itu Nirlayn, atau Arystina, dua wanita itu sebenarnya ingin menyuarakan keluhan mereka, tapi ... melihat situasi dan kondisi saat ini, mereka mengubur dalam-dalam keluhan itu dalam hati.


"Kami mengerti," balas Nirlayn sebagai perwakilan.


Konfirmasi itu segera membuat Ren tersenyum bangga, lalu ia naik ke punggung Avrogan tanpa berkata apa-apa lagi. Dengan isyarat tangan, Avrogan dan Indacrus pun terbang menuju langit Kota Zarisma.


Ketika menaiki Avrogan, Ren memiliki sedikit waktu untuk memeriksa secara keseluruhan Kota Zarisma. Dia mengaktifkan persepsi mana yang diperluas hingga mencakup seluruh kota.


"Satu, dua, tiga, dan empat ya?"


Empat individu tidak dikenal yang memiliki potensi berbahaya telah dipastikan keberadaannya. Lalu, Ren juga menemukan bahwa Rusava, Rakuza, dan Raytsa masih dalam kondisi baik-baik saja.


Namun karena sebuah sambutan datang, persepsi mana itu terpaksa dihentikan untuk sementara waktu. Lagipula, Ren tidak pernah menyangka bahwa sambutan yang diberikan oleh mereka akan berupa panah angin raksasa yang dibaluti oleh air disekitarnya.


Ren memusatkan mana, dan berkonsentrasi untuk mengeluarkan sihir yang mampu menangkal sambutan yang hangat tersebut.


"[<>] versi tiruan tentunya."


____________________

__ADS_1


Hei Author, apakah ini bahkan bisa disebut sebagai cerita?!!!


__ADS_2