Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Ch. 131 ~ Suasana Tegang


__ADS_3

Kemunculan pertanyaan berbahaya membuat Ren memacu otaknya hingga bekerja pada batas tertinggi yang dia bisa. Ketika otak beroperasi sangat cepat, maka pandangan Ren seakan-akan memperlambat waktu di sekitarnya.


"Siapa yang tahu dan siapa yang tidak tahu."


Waktu yang seakan diperlambat memberikan kesempatan bagi Ren untuk memperhatikan dan menganalisa raut wajah para bawahannya satu per satu. Hal ini dilakukan agar Ren mengetahui apa yang mereka pikirkan ketika pertanyaan tersebut muncul dari mulut Rusava.


Dimulai dari Nirlayn yang telah mengetahui kebenaran bahwa Ren bukan berasal dari dunia ini. Ren melihat bahwa ekspresi Nirlayn terlihat sedikit terkejut dan bola matanya mengarah kepada Rusava.


Pengalaman Ren mengatakan bahwa Nirlayn saat ini sedang merasa khawatir kepada Ren karena Rusava mempertanyakan hal yang berbahaya. Dengan demikian, Ren bisa merasa tenang atas tanggapan Nirlayn lalu beralih untuk menganalisa ekspresi wajah yang lain.


Ekspresi Rakuza terlihat biasa dan Kina yang berada di sebelahnya terlihat bingung karena tidak mengerti dengan isi percakapan. Fakta itu sekali lagi membuat Ren merasa tenang dan tidak perlu khawatir soal mereka berdua.


Kemudian Ren beralih kepada dua sosok [Beast Servant] yaitu Avrogan dan Indacrus. Akan tetapi, Ren tidak memiliki pengalaman sedikitpun dalam membaca ekspresi seekor kuda dan burung sehingga dengan berat hati diapun melewati mereka berdua dan bergerak ke Arystina.


"Hah? Ada apa dengan ekspresi tenang serta senyuman yang percaya diri itu?"


Disaat orang lain mengeluarkan ekspresi yang cocok dengan situasi, mengapa Arystina memejamkan mata sambil tersenyum percaya diri seperti itu?


Ren berusaha menganalisa apakah Arystina tersenyum untuk menutupi perasaannya yang asli atau memang itu benar-benar senyum murni. Hasilnya, Ren tidak menemukan kejanggalan apapun dan merasa bahwa itu adalah ekspresi asli tanpa rekayasa.


Merasa sia-sia, pandangan Ren kini beralih pada Raytsa dan Rusava yang memang mereka berdua adalah orang yang paling membuat diri Ren khawatir. Sebagai [True Ancestors] di antara Ras Blood Devil, mereka tentu memiliki sesuatu yang tidak Ren ketahui, termasuk rahasia dari Blood Devil itu sendiri.


Ren tidak pernah tahu, bagaimana sikap mereka berdua seandainya kebenaran tentang dirinya yang berbohong soal Continents Holder dan hal lain terungkap? Apakah mereka akan kecewa dan berbalik memusuhi dirinya? Tidak ada yang tahu.


Setelah memeriksa ekspresi Rusava dan Raytsa yang tidak jauh beda yaitu penasaran dan bukan kecurigaan, maka hati nurani Ren merasa berdosa karena telah membohongi mereka. Untuk itu, Ren memperlambat otaknya kembali hingga waktu terasa berjalan seperti semula.


"Hm ... hahh." Ren menghela napas dalam-dalam, memantapkan hati, dan berniat berbicara jujur kepada mereka dengan berkata, "Salahku karena tidak memberitahu kalian."


Rusava terlihat bingung dan merasa bersalah, hal itu diperparah oleh Raytsa yang menatap dingin kepadanya seolah mengatakan "Kau telah bertanya sesuatu yang tidak pantas!", dan itu membuat sekujur tubuh Rusava merinding ketakutan.


"A-Anda tidak perlu memaksakan diri untuk menjawab pertanyaan saya, Yang Mulia."


Ren sudah terlanjur memantapkan hati, ucapan Rusava tidak akan menghentikannya untuk berbicara dengan jujur dan mengungkapkan kebenaran.


"Kejujuran memang diperlukan agar terhindar dari bencana di masa depan, walaupun kadang kala jujur itu menyakitkan," batin Ren mengingat pepatah tersebut.


Ren lalu bangkit dari posisi duduk agar semua perhatian teralihkan kepadanya. Ketika semua orang terdiam sambil memandang fokus ke arahnya, Ren mulai bersuara.

__ADS_1


"Namaku saat ini adalah Anryzel Dirvaren, seorang [True Blood Devil] yang datang dari dunia lain yang bernama, Bumi."


Rusava dan Raytsa langsung merasa tercengang dengan perkataan Ren yang sangat mengejutkan.


"A-ap-" keduanya ingin berbicara tapi dihentikan oleh Ren.


"Simpan semua pertanyaan itu untuk nanti. Biar aku mengatakan dengan jelas siapa aku dan darimana aku berasal."


Di bagian alam semesta yang Ren tidak tahu dimana pastinya, terdapat sebuah planet yang dihuni oleh para manusia bernama Bumi. Kehidupan disana tidak bergantung pada sihir, mana, skill, ataupun senjata ajaib. Disana juga tidak terdapat ras seperti elf, dragon, atau ras-ras lain selain manusia yang ada disini.


Bumi bagaikan sebuah dunia yang dikhususkan untuk para manusia, dan para manusia menutup kekurangan mereka dengan sesuatu yang disebut ilmu dan teknologi.


Dengan ilmu dan teknologi, mereka membuat berbagai macam barang baru, yang mampu membantu kehidupan sehari-hari. Mereka juga membuat barang-barang berbahaya untuk memperkuat kekuatan dari sebuah negara dan kadang kala digunakan untuk hal-hal yang buruk.


Manusia terus mengalami perkembangan hingga mencapai suatu titik dimana mereka mampu membuat dunia tiruan yang mirip dengan kenyataan bernama Virtual Reality World yang diterapkan pada beberapa bidang kehidupan, termasuk Game.


Lalu dunia yang bernama Crown of the Nine Continents merupakan salah satu dari sekian banyak dunia tiruan di Bumi. Dan laki-laki yang bernama Anryzel Dirvaren dihadapan mereka adalah salah satu orang yang memainkan Crown of the Nine Continents tersebut.


"Diriku ... tidak, tubuhku dan kekuatanku yang kalian lihat ini adalah tubuh tiruan yang dibuat oleh Virtual Reality World. Rasku sebagai Blood Devil juga tidak lebih daripada cangkang semata karena pada kenyataannya aku adalah seorang manusia."


Rusava terdiam tak mampu berkata-kata, sedangkan Raytsa melongo dengan mulut yang sedikit terbuka. Ren tidak sempat melihat bagaimana reaksi Arystina, akan tetapi dia yakin bahwa Arystina akan menampakan hal yang serupa.


"Sesuatu yang aku buat dengan imajinasiku. Hm, mungkin aku juga mengambil beberapa referensi dari Game Crown of the Nine Continents tapi sekitar 70% adalah murni hasil karanganku sendiri," ungkap Ren dengan penuh percaya diri.


"Jadi?" Rusava bertanya untuk mencari penegasan dari perkataan Ren itu sendiri.


"Dengarkan dengan baik, aku bukanlah seorang Continents Holder yang asli dari dunia ini, melainkan hanya Continents Holder palsu dari dunia lain. Secara singkatnya, aku berbohong dengan semua perkataanku mengenai masa lalu dunia ini."


Setelah berkata Ren mencoba menengadah ke atas langit sambil menutup mata dan merentangkan kedua lengannya. Entah mengapa, hati yang ada dalam dirinya terasa seperti dibebaskan dari semua beban kebohongan yang pernah dia katakan.


Apapun tanggapan dan keputusan para bawahan, semua akan Ren terima dengan lapang dada. Bahkan jika mereka berbalik untuk menyerang dirinya secara bersamaan.


Namun jangan salah sangka, Ren tidak berniat untuk mendramatisir keadaan dengan menyerahkan nyawa kepada mereka.


Hal semacam, "Aku akan menyerahkan nyawaku demi menebus kebohonganku karena telah menipu mereka semua." adalah sesuatu hal yang dikatakan dalam novel fiksi seorang pahlawan rendah hati.


"Oh, Azura ... kau tidak perlu khawatir karena aku akan melanjutkan misi yang kau berikan meskipun harus kehilangan semuanya!"

__ADS_1


Waktupun terus berlalu semenjak Ren menetapkan janji dalam hati sambil memejamkan mata. Namun semakin lama, Ren semakin sadar bahwa suasana seketika hening tanpa bersuara.


Secara perlahan-lahan, Ren membuka mata dengan cara yang indah, elegan dan elok dipandang tanpa mengurangi kewibawaan dirinya dihadapan mereka semua.


Ren melihat ke kiri dan ke kanan untuk memperhatikan semua bawahannya yang sedang terdiam. Sontak keadaan itu membuatnya bertanya-tanya, ada apa dengan mereka?


"Yang Mu-"


"Berhenti, aku tidak ingin mendengar perkataan apapun untuk saat ini karena kita semua masih dalam konferensi. Lanjutkan konferensi, baru setelah semuanya selesai siapapun yang merasa kecewa menghadaplah kepadaku di ruang takhta."


Angin takdir membuat Ren mengatakan itu secara tiba-tiba, dan anehnya mereka semua mengangguk setuju untuk melanjutkan konferensi seperti biasa seolah-olah tidak ada apapun yang terjadi.


Konferensi berjalan dengan semestinya ....


Pembahasan pertama ditutup dengan kesimpulan sementara bahwa musuh mereka kali ini memiliki skala yang melibatkan seluruh dunia, yang berarti makhluk hitam adalah musuh seluruh ras yang ada.


Pembahasan kedua ditutup dengan kesepakatan bersama bahwa mereka harus mencari bukti-bukti yang kuat untuk menepis seluruh tuduhan yang nantinya dilontarkan oleh pihak manapun karena hancurnya Kerajaan Suci Sancteral.


Pembahasan ketiga ditutup dengan keputusan Ren yang akan menunda pendirian negara untuk sementara karena hal itu dapat memancing semua musuh untuk menuju ke arahnya. Sedangkan mengenai pemindahan penduduk Shade of Spirits akan dilakukan secepat mungkin.


Pembahasan keempat ditutup dengan apresiasi yang diberikan oleh Ren kepada Raytsa karena telah mengembangkan Sihir Original miliknya, yaitu Sihir penyampai pesan. Namun Raytsa memberikan laporan bahwa dirinya belum bisa menciptakan sihir original sendiri.


Pembahasan kelima sebagai yang terakhir ditutup dengan keputusan Ren untuk membantu Kanza secara langsung di Kerajaan Efidoxia. Siapapun yang akan dikirim kesana tergantung dari apa yang terjadi nanti.


Konferensi tanpa meja ditutup dengan Ren yang meminta untuk undur diri, dan pergi ke ruang takhta dimana dia akan menyambut siapapun yang merasa kecewa kepada dirinya dan menyuarakan keputusan mereka.


_________________________________________________


-Ruang Takhta, Bloody Palace of the Monarch-


Ren duduk di atas singgasana dengan perasaan khawatir sambil menutup mata dan menyilangkan lengannya. Bagaimana tidak, kebohongan yang dia perbuat cukup parah sehingga Ren merasa Rusava dan Raytsa tidak akan memaafkannya.


Detik waktu terus berjalan sampai Ren tidak mengetahui seberapa lama dia menunggu di ruang takhta. Satu hal yang pasti, dia telah menunggu dari siang hingga malam tanpa seorangpun yang datang.


"Apakah mereka terlampau kecewa hingga datang menghampiriku pun tidak mau?"


Kali ini Ren merasa sedikit frustasi dengan segala pemikiran yang dia buat sendiri.

__ADS_1


Namun pada akhirnya, Ren merasa sangat bosan dan lelah hingga tanpa dia sadari matanya mulai menutup dan kesadarannya semakin memudar. Seseorang yang telah menunggu di atas singgasana itupun tertidur lelap dengan posisi yang tak tergoyahkan.


Sementara ketika Ren tertidur lelap, sosok-sosok mulai muncul dari kegelapan yang perlahan mereka mendekati singgasana yang terdapat Ren di atasnya.


__ADS_2