Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 50 : Kekacauan Kota Aulzania.


__ADS_3

[Necromancer]


Dalam COTHENIC, Necromancer merupakan Job spesial. Dapat juga dikatakan bahwa, Necromancer bahkan spesial diantara Job yang spesial itu. Kemampuannya untuk mengendalikan pasukan kematian membuat Necromancer menjadi sebuah Job yang mengerikan.


Bukan hanya itu, seseorang yang dikendalikan oleh Necromancer memiliki Seratus Persen Kekuatan nya selama masih hidup. Misalnya, seorang Necromancer mengendalikan seratus orang yang sama kuat dengannya, maka kekuatan dia akan bertambah sebanyak seratus kali lipat.


Necromancer juga memiliki batasan - batasan, salah satunya adalah Ras yang memilih Job ini harus memiliki unsur kegelapan. Jika Necromancer dipakai oleh Malaikat, maka Efektivitas nya akan menurun Seratus Persen. Sedangkan jika digunakan oleh Manusia, Efektivitas nya hanya akan menurun Lima Puluh Persen.


Meski Necromancer dapat membangkitkan dan mengendalikan mayat, tetapi semua itu ada batasannya. Semakin Kuat mayat yang akan dikendalikan, maka persentase keberhasilannya akan sangat berkurang. Bahkan tidak mungkin bagi seorang Necromancer, untuk membangkitkan seseorang yang lebih kuat dari Necromancer itu sendiri. Mungkin, jika menggunakan sebuah Artefak, seorang Necromancer akan melampaui batasan ini.


Necromancer adalah Job dengan Kesulitan tinggi, tapi masih banyak Job - Job yang tidak diketahui dalam COTHENIC dengan Kesulitan yang lebih tinggi lagi.


*


*


*


*


*


Beberapa saat sebelum Ledakan terjadi.


Hari sudah mulai memasuki sore hari. Turnamen Aulzania memasuki tahap akhir, yaitu tahap Final dari Kedua Peserta yang berhasil bertahan.


Saat ini, semua orang masih terpaku pada Arena dengan semangat yang menggebu - gebu. Mereka tidak sabar ingin menyaksikan pertandingan terakhir antara Arniga dan Ksatria Wanita Ilvina.


Dua orang yang telah menunjukan Kekuatan yang luar biasa dimata mereka. Arniga dengan Kekuatan Api nya yang menakjubkan, sementara Ksatria Wanita Ilvina dengan Kekuatan Es nya yang begitu indah.


Dua orang dengan Element yang bertolak belakang itu kini sedang berhadapan di Arena Colosseum. Mereka saling menatap satu sama lain, seolah berusaha mencari informasi dari pihak musuh mereka masing - masing.


"Ohh... Seorang wanita yang cantik jelita, maukah kau menjadi kekasihku jika aku memenangkan pertandingan ini..?"


Arniga mengibaskan Rambut nya, berusaha menarik perhatian dari Ksatria Wanita Ilvina. Sayang nya, Ilvina memberikan Respon yang dingin, dia terlihat menatap jijik pada Arniga.


"Kau lemah dan wajahmu biasa saja, aku tolak.."


Penolakan yang menyakitkan ditembakan oleh Ilvina langsung ke hati Arniga. Perasaan Arniga seketika menjadi terluka, sangat jarang dia ditolak mentah - mentah seperti ini oleh seorang perempuan.


"Gahh...Hatiku sakit, tadi aku melihat sesuatu yang buruk Orgo itu, kini aku ditolak oleh seorang wanita cantik."


"Menjijikan...." Ilvina tanpa ampun menambahkan kata - kata menusuk lainnya.


"Gah... Aku semakin menyukaimu, kau mungkin akan berubah pikiran... setelah aku mengalahkanmu!"


"Mulai..!"


Arniga dan Ilvina, keduanya langsung berlari dengan kecepatan tinggi. Sosok mereka terlihat seperti sebuah bayangan, menggambarkan betapa cepatnya mereka bergerak.


Sambil berlari, Tombak merah Arniga mengeluarkan api yang membara. Kemudian Arniga memutarkan tombaknya untuk menyerang Ilvina yang semakin mendekat ke arahnya.


Clank.!


Serangan Arniga dihempaskan oleh sebuah tebasan cepat milik Ilvina. Keseimbangan tubuh Arniga hilang sesaat, tetapi dalam sesaat itu, sudah cukup bagi Ilvina untuk menyerang.


Shyuuttt Shing!


Tebasan Ilvina dengan lancar mengenai bahu kiri Arniga menyebabkan sebuah luka sayatan cukup dalam di bahu Arniga.


"Argh..."


Arniga dengan segera melompat mundur, untuk menjauhi Ilvina yang akan segera menyerang kembali. Sesaat setelah dia menjelaskan pandangannya, sosok Ilvina telah menghilang.


Arniga berusaha mencari - cari sosok Ilvina dengan melihat ke kiri dan ke kanan. Tapi, Ilvina sama sekali tidak terlihat dalam pandangan nya. Itu karena...


"Hyaa..!"


Ilvina muncul dari langit, melakukan sebuah Tusukan berkecepatan tinggi.


Sebuah suara dari Ilvina cukup bagi Arniga untuk menghindari serangan ini.


Shing!


Garis Cahaya meluncur dari langit, bagaikan sebuah meteor kecil yang jatuh dengan kecepatan tinggi.


Arniga, dengan seluruh kecepatan yang dia miliki berusaha menghindar secepat mungkin. Ketika serangan Ilvina hampir mengenai nya dengan jarak seujung benang, Arniga melakukan serangan balasan menggunakan tombaknya.


Tombak Arniga meluncur ke arah tubuh Ilvina dengan posisi Horizontal. Ilvina yang masih terkena dampak serangan nya yang gagal, terburu - buru menyiapkan pedang nya untuk menangkis serangan Arniga.


Drank!


Ilvina terpental oleh serangan Arniga yang begitu berat. Membuatnya terpaksa melompat terhuyung - huyung mundur.


"Tch.. Lumayan juga." Ilvina berkata.


"Sekarang, apa kau mau meneri-?!"


Sebelum Arniga bisa menyelesaikan perkataannya. Dia terkejut oleh Ilvina yang menghilang secara tiba - tiba, kecepatan Ilvina bahkan beberapa kali lebih cepat dari sebelumnya.


"Huh..?" Arniga berkata heran.


Dia bahkan tidak menyadari pergerakan Ilvina. Tetapi, Ilvina saat ini sudah ada di depannya, pedang Ilvina berhasil menggores pipi Arniga. Darah merah menetes dari luka di pipi nya itu.


"Aku... Berubah pikiran, kau telah menodai wajahku yang tampan."


"Apa yang dapat kau rubah...?"


Shing!


Ilvina melanjutkan serangan tebasan nya itu, bermaksud untuk melukai Arniga lebih jauh. Tetapi....


Arniga berhasil menghindar dengan sebuah Gerakan yang sebenarnya mustahil dilakukan olehnya yang mengenakan Zirah. Arniga, menghindari serangan itu dengan melengkungkan tubuhnya ke belakang.


Membuat penonton bertanya - tanya, apakah dengan Zirah yang dia kenakan, gerakannya itu masih dapat dilakukan?


Segera Arniga melompat - lompat ke belakang dengan cara yang luar biasa. Tombaknya yang panjang sama sekali tidak menghalangi pergerakannya itu.

__ADS_1


Setelah melompat mundur, Arniga langsung memasang posisi bertarung yang sebenarnya. Posisi yang sama ketika dia akan melancarkan serangan pada Orgo.


"Baiklah, jika kau akan melakukan serangan itu, aku juga akan melakukannya..." Ilvina menyadari apa yang akan dilakukan oleh Arniga.


"Hehehe, mari kita lihat hasilnya nanti......" Arniga tersenyum licik.


Kedua orang itu, mengeluarkan Aura mereka masing - masing. Arniga dengan Element Api yang membara dan Ilvina dengan Element Es nya yang dingin dan menusuk.


Swooshhh!


"Haaa...! [Consecutive Attack]." Arniga meluncur untuk melakukan serangan nya itu.


"Jika itu keinginanmu! [Ice Dance: The Ice Sword of Destruction]." Ilvina melesat untuk melancarkan serangan nya itu.


Dua serangan yang berbeda, saling bertolak belakang dan tidak akan pernah dapat disatukan. Panas dan Dingin, Biru dan Merah, Es dan Api.


Serangan mereka membuat suhu udara di Arena menjadi aneh. Sesaat itu terasa sangat dingin dan menusuk, lalu sesaat berubah menjadi panas.


Dua warna yang berbeda saling menari di Arena, sebuah pertunjukan yang tidak akan ditemui selain di dunia Fantasy.


Ketika serangan mereka hampir mengenai satu sama lain. Penonton semakin merasakan jantung mereka berdebar - debar.


"Haa..!"


"Hyaa..!"


Woshshhhhs Trank!!


Kedua serangan saling berbenturan satu sama lain.


Namun, ini berada di luar harapan penonton, bahkan kedua orang yang melancarkan serangan masing - masing terlihat sangat terkejut.


"Apa yang terjadi..?" Arniga melotot tak percaya.


"Aku... Kekuatanku." Begitu juga dengan Ilvina.


Semua keterkejutan mereka disebabkan oleh menghilang nya serangan mereka. Bagaikan sebuah Benda yang kehabisan Energi mereka. Es dan Api menghilang secara tiba - tiba.


Arniga dan Ilvina merasakan kekuatan mereka secara cepat tersedot oleh sesuatu.


Disaat mereka masih bingung dengan apa yang terjadi... Sesuatu yang berbahaya mereka Rasakan dari langit.


"Menyingkir!!" Arniga berteriak dan segera melompat mundur.


Ilvina yang mengerti apa yang dikatakan oleh Arniga segera mengikutinya dan melompat mundur secepat mungkin.


*


*


*


Tiba - Tiba, di atas langit Arena sebuah sosok yang begitu besar terbang disana.


Sosok yang seharusnya tak ada di Kerajaan Aulzania. Mereka adalah...... Ras Naga.


Naga itu menyemburkan Nafas api miliknya tepat ke tempat dimana Ilvina dan Arniga sebelumnya berada.


Para Penonton yang menyaksikan hal ini menjadi panik. Mereka berhamburan untuk melarikan diri, takut akan sosok Naga yang begitu menyeramkan.


Anehnya, diatas Naga tersebut, terdapat beberapa sosok Siluet yang menungganginya. Siluet itu kemudian melompat ke arah Arena, tanpa merasa takut akan terluka sama sekali.


Badum!!!


Bersamaan dengan sosok - sosok itu mencapai tanah Arena. Beberapa ledakan dahsyat terdengar dari seluruh Kota Aulzania.


*


*


"Apa yang terjadi..?!" Raja Esdagius panik akan kedatangan beberapa sosok yang tak dia kenal ini.


"Yang Mulia! Itu adalah Ras Naga, mengapa mereka menyerang kita?!" Derrian berteriak menanggapi apa yang terjadi ini.


"Lupakan itu, prioritaskan keselamatan penonton! kerahkan seluruh Ksatria Aulzania agar menyelamatkan mereka!."


"Sarlyn! Perintahkan seluruh Penyihir untuk menyelamatkan Warga!"


"Tapi... Bagaimana dengan keselamatan anda?" Derrian dan Sarlyn Ragu - Ragu.


"Lupakan aku! Cepat laksanakan hal itu!"


"Baik!" Derrian dan Sarlyn bergegas meninggalkan The King's Area.


"Dimana Tuan Dirvaren..? Tidak mungkin ini perbuatannya kan?" Raja menatap pada Arena tidak percaya.


*


*


Ketika Sosok - Sosok tak dikenal itu melompat, menyebabkan awan debu yang memenuhi seluruh Arena.


"Guhok! Guhok! Sebuah Serangan..?!" Arniga terbatuk - batuk di sudut arena.


"Ras Naga? Mengapa mereka ada disini...." Ilvina menatap pada langit, dirinya merasa tak percaya ada satu Naga yang sedang terbang di atas Arena.


"Apa yang kau kata-?!" Arniga mengalihkan pandangannya, dia sangat terkejut melihat Naga yang terbang di atas Arena.


Naga itu memiliki tubuh yang besar dan Kulit yang Hitam Legam. Namun, ada sesuatu yang aneh dari Naga ini. Kulit Naga ini terlihat sudah membusuk, Kedua bola matanya telah tiada, lalu Kedua Sayap nya pun telah Robek.


"Gahahahah! Kejutan - Kejutan!"


Arniga dan Ilvina segera mengalihkan pandangan Mereka ke asal suara yang terdapat di Pusat Arena.


"Itu... Anak Kecil?" Arniga menggosok - gosok matanya tak percaya.


"Dia... Jangan Remehkan dia, wanita yang terlihat seperti Anak kecil itu adalah seorang Iblis." Ilvina menjelaskan pada Arniga yang tepat berada di samping nya.

__ADS_1


Sosok seorang Wanita berperawakan Kecil terlihat sedang tertawa di Pusat Arena. Dia dikelilingi oleh beberapa orang, lebih tepatnya.... Beberapa Undead yang mengenakan Zirah yang bagus. Di samping wanita itu, ada seorang lelaki tua dengan hidung Runcing dan kepala botak.


"Hai - Hai, bagaimana dengan kejutan dariku? apa kalian menyukai nya? katakan - katakan! Kehahaha!" Wanita Kecil itu tertawa bahagia


"Fokus pada misi, kau ingin membuat marah Chief?" Lelaki tua itu berbicara dingin pada Wanita kecil


"Ugh... Tidak menyenangkan..."


"Hihihi, baiklah aku juga ingin segera menambah koleksiku... Penuhi panggilanku [Summon : Undead Army]."


Wanita itu merenggangkan kedua lengannya, Aura kegelapan kemudian memenuhi segala sudut Arena. Tidak lama, beberapa Lingkaran Sihir kegelapan muncul. Memunculkan Undead yang tak terhitung jumlahnya. Tetapi, mereka hanyalah Undead biasa, atau lebih tepatnya... Zombie.


"Bunuh mereka semua.." Wanita kecil mengatakannya dengan wajah menakutkan.


Zombie - Zombie merespon perintah Wanita Kecil itu, mereka mulai menyebar untuk menyerang seluruh Kota Aulzania.


*


*


*


*


*


Tap Tap Tap


Ilvina berjalan mendekati sosok yang memanggil pasukan Mayat. Dia berjalan dengan tenang dan wajah penuh percaya diri.


"Tertawalah, selama masih ada aku, tidak akan kubiarkan kalian menyakiti orang tak bersalah..." Ilvina menatap tajam pada Wanita Kecil itu.


"Hey kau pria tak berguna, apa kau akan tetap diam seperti itu..?"  Ilvina melirik pada Arniga.


"Gah! Aku tidak akan kalah darimu, aku ini sangat sombong!" Arniga buru - buru berdiri dan menyusul Ilvina mendekati Wanita Kecil.


"Biar aku katakan padamu, dia adalah seorang Necromancer... apa kau yakin akan tetap bertarung?"


"Necromancer? pantas saja dia mengeluarkan aura yang mengerikan. Tapi itu tidak cukup bagimu meremehkan aku!"


Arniga dan Ilvina berbicara santai, seakan mereka tak terpengaruh oleh keadaan sekitarnya. Sikap mereka ini, membuat Wanita Kecil itu tersenyum dengan cara yang menakutkan.


"Hohoho, aku menemukan kandidat terbaik sebagai koleksi tambahanku." Wanita Kecil berbicara sesuatu yang menyeramkan.


"Reynalue, ingat ini, aku hanya akan membantu ketika suasana menjadi gawat. Urus mereka sendiri..." Pria tua botak berbicara sinis.


"Kau pikir siapa aku..? Mereka berdua bahkan tidak akan bisa menyentuh kedua kaki ku ini.." Wanita Kecil, Reynalue, membusungkan dadanya dengan penuh percaya diri.


"Tch, terserahmu saja..."


*


*


*


*


*


*


Kota Aulzania dilanda kekacauan.


Orang - Orang berhamburan untuk melarikan diri dari Naga yang menyerang Kota mereka. Naga itu menyemburkan Nafas api nya secara acak, menyebabkan korban yang tak terhitung jumlahnya.


Para Prajurit, Ksatria, Penyihir, dan Priest, mereka sibuk menyelamatkan warga - warga yang terluka. Mereka tidak dapat berbuat apapun selain membantu menyelamatkan para Warga. Sesuatu seperti Naga adalah hal yang mustahil mereka kalahkan.


"Lindungi warga!"


"Selamatkan dia!"


"Hey! Cepat sembuhkan anak ini!"


Prajurit dan Priest sibuk untuk menyembuhkan orang - orang yang terluka. Ada yang tertimpa bangunan, ada yang terjatuh dan ada pula yang hangus terbakar oleh Nafas api dari Naga yang terbang di langit.


Kemudian, kekacauan semakin meningkat ketika, pasukan Undead menyerang ke segala penjuru Kota Aulzania.


"Kyaa..!! Tolong aku!"


Seorang wanita muda terpojok di sebuah jalan buntu. Dirinya begitu ketakutan, oleh beberapa Undead yang mendekatinya. Wajahnya diliputi oleh keputusasaan, semua keputusasaan itu semakin bertambah ketika para Undead akan menyerang nya...


"Hiks.. Hiks.. To-Tolong aku.."


Wanita itu menutupi matanya, dia begitu ketakutan akan kematian yang berada di hadapan nya.


Undead itu melompat, untuk menerkam dia yang sedang diam tak bergerak.


"Kyaa...!" Wanita itu berteriak.


Shing! Shing!


Undead itu terpotong, bahkan sebelum sempat mengenai wanita itu. Dua Garis Cahaya lah yang menyebabkan tubuh mereka terpotong - potong.


"Namaku Kanza, aku adalah Assassin yang hebat, tapi semua kekuatanku tak berguna di hadapannya. Maafkan keterlambatanku, Nona."


Seorang lelaki tiba - tiba muncul di hadapan wanita itu. Dengan menggenggam Dua Belati indah di tangannya. Lelaki itu melakukan pose yang unik ketika mengoceh hal yang tak dapat dimengerti oleh wanita yang dia selamatkan.


"Baiklah, disekitar sini sudah aman. Nona, sebaiknya anda bersembunyi... Sampai Jumpa."


Meninggalkan wanita yang melongo karena keterkejutan, lelaki itu dengan cepat menghilang ke dalam bayangan.


Pada saat yang sama pula, orang - orang yang dikejar oleh para Undead itu terkejut. Mereka semua tidak mengerti, mengapa Undead yang mengejar mereka tiba - tiba terpotong - potong.


Dalam suasana yang kacau itu, mereka hanya bisa melihat sebuah bayangan yang bergerak dengan cepat. Membantai Undead - Undead yang tak terhitung jumlahnya.


Ketika bayangan itu melintas dan membantai para Undead, mereka akan mendengar samar - samar suara seorang lelaki yang mengocehkan hal yang tidak jelas.

__ADS_1


__ADS_2