Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 61 : Kejadian yang tak terduga


__ADS_3

Tap Tap Tap


Suara Khas dari sebuah Langkah Kaki bertumpang tindih di sebuah Koridor. Dua orang yang mengenakan Pakaian seragam Akademi 'lah yang menyebabkan Suara itu. Dengan langkah yang cepat mereka bergerak terburu - buru.


Satu dari Dua orang itu adalah Murid Lelaki yang sebelumnya menjaga Gerbang Masuk Akademi Aulzania. Saat ini, dia sedang mengemban sebuah Tugas menyampaikan pesan pada Master Fraudlin dari seorang Lelaki. Sedangkan, seseorang yang menemaninya berjalan adalah Murid Perempuan dari Fraudlin, Yaitu Chrena.


"Aku tidak bertanggung jawab jika Master Fraudlin Marah."


Dibalik keheningan yang memenuhi Koridor, Chrena mendadak menyuarakan sebuah pernyataan yang sulit dimengerti. Lantas saja, Murid Lelaki itu dengan Refleks kembali bertanya.


"Eh.... Apa maksudnya?"


"Saat ini, Master Fraudlin sedang dalam Kondisi yang sulit dimengerti."


"Huh?"


Murid Lelaki itu malah berpikir Jawaban dari Chrena lebih sulit untuk dimengerti. Pada akhirnya, mereka melanjutkan berjalan tanpa mengatakan sepatah katapun.


Suasana yang hening membuat langkah kaki mereka terdengar jelas di sepanjang Koridor.


Koridor ini biasanya dilalui oleh para Murid - Murid dari bagian Alkimia, Hanya saja mereka saat ini sedang sibuk membantu memulihkan Ibukota setelah kekacauan besar yang terjadi kemarin.


"Kita telah sampai...."


Langkah kaki keduanya berhenti di depan sebuah Pintu Besar pada Ujung Koridor. Untuk beberapa saat, Chrena dan Murid Lelaki itu hanya diam menatap pada Pintu Besar dihadapan mereka. Bahkan Murid Lelaki itu beberapa kali menelan ludah, membayangkan perkataan Chrena soal Masternya yang kemungkinan akan marah.


"Ah-ha... Bisakah bukan aku yang mengetuk pintunya?"


"Aku hanya mengantarmu, tidak memiliki sedikitpun kewajiban untuk mengganggu Master."


"Uh... Aku mengerti, akan aku tunjukan tekad seorang Ksatria yang sesungguhnya."


Murid Lelaki menunjukan Tekad seorang Ksatria, seakan - akan apa yang dia hadapi saat ini dapat menyebabkan dirinya gugur di medan perang.


"Kawanku, kuharap kalian selalu bahagia."


"Berhenti bertingkah berlebihan, kau pikir Master Fraudlin itu apa?" Chrena berkata Kesal.


Perkataan Chrena menjadikan Murid Lelaki itu sadar kembali. Dengan wajah yang tampak malu, dia tersenyum canggung pada Chrena.


"Huh? Benar Juga, maafkan aku hehehe."


Kali ini tanpa tindakan yang berlebihan, dia langsung mengetuk Pintu Besar dihadapan nya.


Tok Tok Tok


Murid Lelaki dengan sengaja tidak mengetuk secara berlebihan. Dalam Hatinya masih ada sedikit ketakutan akan kemarahan dari Master Alkimia itu.


Namun, tidak ada Respon apapun dari dalam Ruangan itu. Murid Lelaki terpaksa harus mengetuk kembali untuk yang kedua kalinya.


Tok Tok Tok


Tidak ada jawaban sama sekali ...


"Mungkin ... Master Fraudlin sedang tidak ada?" Murid Lelaki bertanya pada Chrena dengan Ragu - Ragu.


"Hm ... Aku Rasa Master masih ada di dalam."


"Tidak mungkin, sangat jelas tidak ada Respon apapun dari balik Pintu ...."


Hahahahah!


Chrena dan Murid Lelaki langsung menghentikan pembicaraan mereka. Adanya Sebuah Tawa yang samar - samar terdengar dari balik Pintu Besar di hadapan mereka merupakan penyebab dari semua itu. Keduanya lalu saling memandang dengan wajah aneh.


"Apa itu?" Murid Lelaki bertanya pada Chrena, berharap dia bisa mendapatkan sebuah Jawaban. Namun ...


"Mana aku tahu?" Chrena pun membalas dengan wajah kebingungan.


Kemudian mereka berdua mendekatkan telinga pada Pintu Besar. Rasa Penasaran membuat Keduanya melupakan bahwa ini adalah tindakan yang tidak sopan.


Dari balik Pintu itu, mereka mendengar sebuah Suara dari seorang Pria Tua yang sedang berbicara.


Ini Harta! Ini Harta! Terima Kasih pada Master karena memberikan ini! Hahahaha!


Sebuah Sosok Fraudlin yang mengatakan itu dengan wajah yang menjijikan terbayang dipikiran Chrena dan Murid Lelaki. Tetapi dengan segera mereka menepisnya. Mereka berpikir bahwa suatu hal yang mustahil Master Alkimia bertindak demikian.


Core ini menjadi milikku! Hahahaha, aku sangat merasa bahagia! Hm ... ini diberikan padaku kan? Sudah pasti!

__ADS_1


Suara Pria Tua yang berteriak kegirangan kembali terdengar oleh mereka berdua. Namun kali ini, mereka berdua telah memutuskan sebuah jawaban.


"Hei, kau seorang Murid Ksatria kan?" Chrena melirik pada Murid Lelaki dengan penuh makna.


"Benar ...." Balas Murid Lelaki dengan penuh keyakinan.


"Bagus, buktikan kekuatanmu sebagai Ksatria dan cobalah untuk mendobrak pintu ini."


Murid Lelaki membalas dengan sebuah anggukan percaya diri. Dia lalu mengambil sebuah posisi ancang - ancang, bersiap untuk mendobrak Pintu tersebut.


"Haaaaaaa ..."


Brag! Brag! Brag!


Pintu yang Kokoh membuat Murid Lelaki itu kesusahan untuk menembus pertahanan nya. Dengan bersusah payah, Murid Lelaki terus mencoba dan mencoba agar Pintu Besar dapat terbuka dengan paksa.


"Sekali lagi! Haaa ...."


Brag!!!


Seluruh Tenaga dikerahkan oleh Murid Lelaki itu, hasilnya pintu berhasil dibuka dengan paksa. Pintu Besar yang terlihat sangat Kokoh sekarang telah dirusak dan jatuh ke bagian dalam Ruangan.


Hal yang pertama mereka lihat adalah ... Mimpi Buruk dari seorang Pria Tua yang sedang tersenyum mengerikan.


"Hanya karena aku seorang Master Alkimia ... Kalian pikir aku tidak bisa memberikan pelajaran ya?"


Seketika Chrena dan Murid Lelaki langsung membeku dengan wajah yang telah sepenuhnya menjadi pucat. Chrena adalah orang yang paling merasakan ketakutan, bagaimana tidak, dia adalah Murid langsung dari Master Alkimia dihadapannya.


Chrena juga mengetahui Hukuman dari Fraudlin bagaikan sebuah Neraka dalam artian yang berbeda.


"S-Saya minta maaf!"


"E-Eh? S-Saya juga minta maaf!"


Keduanya membungkuk sambil meminta maaf. Kecepatan mereka dalam melakukan tindakan ini membuktikan ketakutan mereka terhadap Fraudlin yang tersenyum mengerikan.


"Berikan kepadaku sebuah Alasan yang dapat diterima ...."


Mendengar pernyataan Fraudlin, kedua orang itu segera menjelaskan sebisa mungkin. Mulai dari Tujuan kedatangan mereka kemari sampai dengan mereka yang mendengar sebuah suara samar - samar dari balik Pintu.


Tidak lupa, mereka juga mengatakan dengan jelas alasan mereka memutuskan untuk mendobrak Pintu. Mereka mengatakan kekhawatiran dan ketakutan akan adanya seorang yang menyusup ke dalam Ruangan Fraudlin.


"Ehm! Suara aneh kalian bilang ... Lupakan, Suara aneh itu hanya Halusinasi kalian saja! Aku dengan tidak sengaja menciptakan sebuah Ramuan Ilusi lalu menempelkan nya pada Pintu."


Fraudlin terlihat seperti seorang yang mencoba menghindari sesuatu. Kecurigaan Chrena dan Murid Lelaki itu kian bertambah. Akan tetapi tatapan Fraudlin yang mengintimidasi membuat Hasrat ingin membantah mereka menyusut.


"Kalian mengerti kan? Sekarang ... siapa Lelaki yang ingin menemuiku ini?"


"Saya hanya mengetahui Namanya, dia adalah Lelaki yang menyebut dirinya ... Anryzel Dirvaren."


Duduk diam dan memutar - mutar Koin Emas ditangan. Dengan kedua kaki disilangkan dan dagu yang ditopang oleh lengan kanan. Itulah yang sedang Ren lakukan saat ini, dimanapun dan kapanpun, disaat bagaimanapun, dia selalu melakukan pose seperti ini. Tentu saja hanya ketika dia memiliki waktu yang luang.


Seperti saat ini, dia sedang menunggu seorang Murid Lelaki dari Akademi Aulzania yang diutus untuk memberitahu Fraudlin Kehadirannya.


Dua orang teman dari Murid Lelaki itu sama sekali tidak berbicara jika Ren tidak bertanya. Oleh karena itu Ren merasa sedikit bosan dan memainkan Koin dengan cara memutarnya.


"Hm? Apa Akademi Aulzania memang sunyi seperti ini?"


"Eh? Tidak juga, saat ini hampir seluruh Murid sedang membantu proses pemulihan Ibukota."


"Benar sekali, ada banyak Murid juga yang kehilangan Kenalan mereka pada saat Insiden kemarin."


"Begitukah ...." Ren menjawab lirih.


Perkataan mereka berdua yang diiringi kesedihan sedikit menyentuh Hati Nurani milik Ren. Hanya saja, Ren tidak bisa berbuat apapun saat ini, semua kejadian itu telah berlalu. Para Korban yang telah kehilangan nyawa tidak dapat dikembalikan lagi ke Dunia.


Ada sebuah Rasa Penyesalan yang muncul di Hati Ren. Semua disebabkan karena tindakan nya kemarin yang lebih mementingkan Emosi tak karuan yang ada di Hatinya. Andai saja dia memilih keamanan penduduk Kota Aulzania, Korban tidak akan sebanyak saat ini.


Disaat pikiran Ren dipenuhi oleh Rasa penyesalan yang cukup hebat. Sebuah suara muncul ... Suara yang dingin dan menusuk.


Hati Nurani ... Tidak berguna.


Deg!


"Arghh ...!" Ren mengerang Kesakitan dan Terjatuh ...


Brakk!

__ADS_1


Ren yang awalnya tenang dengan posisinya itu secara tiba - tiba terjatuh. Dia mengerang kesakitan dan mencengkeram dada bagian Hatinya. Kedua Murid itu sangat terkejut, dengan cepat mereka segera menghampiri Ren dan berusaha menolong nya.


"Apa yang terjadi?!"


"Mana aku tahu!"


Namun, ketika mereka hendak menolongnya, Ren berbalik ke arah mereka dengan sebuah tatapan tajam. Begitu menusuk, sampai Kedua murid itu langsung berhenti bergerak dan tidak berani mendekati lagi.


"Grah ...!"


Ren masih kesakitan dalam posisi yang berlutut. Rasa sakit Hebat yang muncul secara tiba - tiba ini berawal dari sebuah Suara yang terdengar dikepalanya.


"Haa ... Haa ... S-Sial."


Raut wajah Ren menjadi semakin pucat dan berkeringat. Dia merasakan, kedua matanya semakin terasa berat dan berat. Sama dengan ketika seseorang akan kehilangan kesadaran.


Tidak perlu menunggu waktu yang lama, Ren yang berusaha keras menahan kesadaran pada akhirnya menyerah dan tergeletak dilantai.


"Dimana ini ...."


Sejauh Ren memandang, hanya ada Ruang putih yang tidak memiliki batas. Tidak ada apapun disini, hanya Ruang putih, murni hanya Ruang Kosong yang putih.


Ren yang kebingungan mencoba untuk mencari tahu dimana sebenarnya tempat ini. Disatu sisi, Ruang putih Kosong ini terlihat mirip dengan sebuah Ruang dimana Ren menemukan [Blade of Spirit Destruction, Aschalon] ketika di COTHENIC dulu.


"Ahh.. Benar, Inventory ku."


Sebuah Harapan muncul ketika Ren mengingat bahwa dalam Inventory miliknya ada sebuah Senjata yang bisa memotong dimensi. Senjata itu adalah Pedang Nuxuria, untuk Aschalon dan Ganzalan, Ren belum pernah memakai mereka sekalipun.


Jadi Ren tidak dapat memastikan apakah mereka bisa memotong dan menghancurkan Dimensi atau tidak.


"Apa ... tidak berhasil?"


Akan tetapi ... Harapan Ren seketika Sirna sesaat setelah menyadari bahwa Inventory miliknya tidak dapat dibuka sekeras apapun dia mencoba.


Percuma saja ... disini bukanlah tempat dimana kau bisa menggunakan kekuatanmu sesuka Hati.


Ren segera berbalik ke arah suara yang secara tiba - tiba muncul di belakang nya itu. Disana sosok Pria dengan Mata merah sedang berdiri dengan tenang nya. Menatap Ren yang sedang kebingungan dengan sebuah senyuman.


"Siapa kau?!" Ren bertanya dengan Nada panik.


Meski begitu, Pria bermata merah itu malah menampakan senyuman yang mengejek.


Apa menurutmu, kepribadian palsu itu bisa menipu diriku?


Ren terbelalak mendengar pernyataan dari Pria Bermata Merah dihadapannya. Ren yang selalu berhasil dalam mengelabui musuhnya kini dibuat tak berdaya dihadapan Pria itu.


'Bagaimana mungkin ....' Ren bergumam dalam Hati.


Seakan Pria Bermata Merah itu bisa membaca pikiran. Dia juga membalas gumaman yang ada dalam Hati Ren.


Aku telah mengetahui segala sesuatu tentang dirimu. Kau yang berasal dari Dunia Lain, kau yang seorang Continents Holder dan sebuah Rencana yang telah kau susun dengan sangat Rahasia. Aku mengetahui itu semua ... Jadi jangan harap kau bisa mengelabui diriku ini.


"Ha ... Hahaha! Baiklah, aku menyerah untuk mengelabui dirimu. Lalu, aku akan bertanya padamu satu hal ...."


"Siapa dirimu dan apa alasanmu membawaku ke tempat ini?"


Ren menggunakan Nada bicara dingin seperti seorang Penguasa. Mungkin, ini adalah Kepribadian dia yang sesungguhnya?


Aku ... adalah Entitas yang hanya ingin memperingati dirimu.


"Oh, peringatan macam apa itu?"


Ingat ini baik - baik Musnahkanlah seluruh Perasaan yang tidak berguna dalam Hatimu. Aku melihat ada kemiripan diantara kita berdua. Entah ini permainan takdir ataupun apa, aku hanya ingin kau tidak mengalami apa yang aku alami.


"Hoo... Sepertinya kau Juga Pria yang Baik Hati. Bukankah kau bilang aku harus menghapus perasaan tidak berguna termasuk kebaikan Hati?"


Sudah aku katakan, aku merasakan ada kemiripan diantara kita berdua.


"Hm ... Benar - Benar sulit dimengerti ... Oh, Hei bukankah sosokmu kian menjadi buram?"


Aku adalah Entitas yang seharusnya telah menghilang dari Dunia. Ini merupakan suatu hal yang sudah biasa terjadi ...


"Jadi begitu, aku mengerti ... Aku akan menuruti perkataanmu. Tetapi ... dengan sebuah syarat kau harus meyakinkanku."


"Pengalaman macam apa yang kau harap tidak aku alami itu?"


Kau memang Cerdik, baiklah, semua ini dimulai pada masa lampau yang sudah sangat - sangat jauh terlewati ...

__ADS_1


__ADS_2