
Setelah melarikan diri, Ren bertemu Rusava di luar dan memberitahunya keadaan Raytsa saat itu juga. Rusava lantas mengambil tindakan dengan membawa Raytsa ke kamarnya sendiri untuk beristirahat.
Lalu ... entah bagaimana, keadaan mereka itu berakhir dengan saling berhadapan di halaman istana sambil menghunuskan senjata masing-masing.
"Anda yakin dengan itu, Yang Mulia?" Rusava menunjuk pada barang yang ada di genggaman Ren.
"Memangnya ada apa dengan pedang ini?" sahut Ren heran.
Ren memandangi pedang biasa miliknya. Pedang ini seharusnya tidak memiliki kemampuan istimewa apapun selain ditempa dengan cukup baik oleh beberapa pandai besi berbakat, lantas mengapa Rusava terlihat bermasalah dengan itu? Ren sedikit bingung.
"Yang Mulia, saya memang tidak pernah meragukan kemampuan berpedang Anda, tapi pedang itu tidak terlalu adil, bukan begitu?"
Rusava memegang sabit raksasa yang menyeramkan. Mungkin karena itu dia berpikir pertarungan antara pedang biasa dan senjata miliknya akan sangat tidak adil.
"Jangan mengkhawatirkan itu, ada alasan tertentu mengapa aku memakai pedang biasa ini."
Sambil menekankan pada kata "Biasa", Ren menebaskan pedang tersebut ke udara seolah sedang menguji seberapa besar kemampuan pedang itu.
"Tidakkah Anda terlalu meremehkan saya?" tanya Rusava dengan senyuman pahit.
"Hm?" Ren berhenti mengibaskan pedang untuk mengalihkan perhatian pada Rusava yang tersenyum pahit. "Aku tidak meremehkanmu sama sekali, malah dari sekian banyak orang kurasa hanya dirimu yang mampu melakukan latih tanding denganku."
Rusava nampak sedikit tidak percaya. Meski sebenarnya dia yakin akan mengalami kekalahan tapi sebuah pedang biasa akan terlalu meremehkan kemampuannya.
"Kalau begitu, saya memohon dengan sepenuh hati supaya Anda mengganti pedang itu dengan sesuatu yang lebih baik."
Ren memegang dagu sejenak, lalu dengan cepat dia menghilangkan pedang biasa itu menjadi pedang biasa yang lain. Hanya saja, pedang ini memiliki kelebihan dalam bilahnya yang mengandung sihir [Mempertajam].
"Bagaimana dengan ini?" tanya Ren.
"Ah ... setidaknya itu lebih baik. Bagaimanapun, akan sangat buruk bagi saya untuk meminta pertimbangan lebih jauh. Mohon Anda memaklumi kemampuan saya yang masih terbatas ini, Yang Mulia."
Rusava membentangkan sabitnya secara diagonal ke samping. Tekanan kuat yang berasal dari sabit menghempaskan udara hingga membuat sebuah gelombang kecil di sekitar. Jika menilai dari sikapnya ini, sepertinya dia tidak akan menganggap remeh latihan ini.
Ren sendiri mengharapkan hal itu, sebuah latih tanding tidak akan berguna apabila Rusava masih menganggap ini biasa, dan sekedar bermain-main. Mereka harus mendapatkan suatu pengalaman sekecil apapun itu, tapi dengan tingkat kekuatan mereka membutuhkan keseriusan dalam prosesnya.
"Ingatlah, meski melawanku kau tidak diperbolehkan menahan diri. Aku sudah memasang penghalang di sekitar kita, kerusakan tidak akan mencapai bagian krusial dari istana."
Sebagian halaman yang mereka pakai untuk berlatih mungkin akan mengalami kerusakan yang cukup parah, namun beberapa hal masih bisa diperbaiki oleh Ren dan Arystina nanti. Penghalang yang dipasang oleh Ren juga mencakup area yang luas dan kuat, tidak akan menimbulkan kerusakan yang berlebihan.
"Sesuai keinginan Anda!" teriak Rusava seraya menerjang ke depan.
Jarak mereka diperpendek dalam waktu singkat. Begitu lawan berada dalam jangkauan sabit, Rusava membuat serangan beruntun dengan kekuatan yang tidak main-main.
Setiap hantaman dipenuhi kekuatan besar yang mampu merobekkan zirah besi sekalipun. Namun kekuatan itu seolah bukan apa-apa dihadapan Ren yang dengan tangkas memblokir semua serangannya menggunakan pedang biasa.
Dikarenakan pedang tersebut memiliki kualitas yang biasa, itu akan hancur jika dipaksakan menahan serangan Rusava secara penuh. Dengan begitu, yang bisa Ren lakukan hanya memblokir serangan tanpa mengadu ketahanan senjata dalam waktu yang lama.
__ADS_1
Ren menggunakan interaksi minimum untuk memblokir serangan Rusava yang menyebabkan langkahnya terpukul mundur secara bertahap. Hal itu tidak dapat dipungkiri jika menilai dari kualitas pedang yang dia miliki.
Akan tetapi keterbatasan pedang itulah yang membuat dirinya bertanya-tanya. Mampukah dirinya menggunakan pedang biasa untuk melakukan serangan penuh? Atau bisakah dia mengatasi situasi sulit dengan segala keterbatasan yang ada? Itulah makna yang sekarang sedang dicari olehnya.
Pendekar pedang adalah dia yang mampu membuat segala sesuatu menjadi pedang untuk dirinya. Kayu, angin, air, api, pikiran, hati, bisa menjadi sebuah pedang bagi pendekar pedang sejati.
"Haaa!" Rusava memusatkan seluruh kekuatan pada sabitnya yang mengarah ke langit, lalu dalam sekejap mata sabit itu diayunkan tanpa ragu seakan ingin memotong tubuh Ren yang menjadi sasarannya.
Ren melakukan hal yang sama tapi dari arah yang berkebalikkan. Setelah mengaktifkan sihir untuk mempertajam bilah, pedang dan sabit itu beradu kekuatan, menghasilkan suara dentangan yang keras dan menghempaskan udara menjadi sebuah gelombang dahsyat ke sekitarnya.
Retakan tanah terlihat di bawah kaki Ren yang sedang menahan sabit. Meski pedang itu terlihat mampu beradu kekuatan tapi nyatanya dia retak beberapa saat kemudian, lalu hancur berkeping-keping menjadi butiran debu.
Ren secepatnya bergerak mundur untuk kemudian mengeluarkan pedang biasa yang lain sambil terlihat sedikit bermasalah. Sebaliknya, Rusava tampak sangat bersemangat dan dalam kesenangan tingkat tertinggi.
"Yang Mulia, apa Anda tidak menganggap serius latih tanding ini?" ucap Rusava heran tapi masih dibarengi senyum keseriusan.
"Mengapa kau bisa berpikir begitu?"
Kali ini mereka berdua menerjang bersama-sama. Sekali lagi memperpendek jarak tapi dalam waktu yang lebih singkat dari sebelumnya. Saat mereka bertemu, pedang dan sabit lagi-lagi saling beradu, menghasilkan dentang suara dalam tempo cepat secara terus-menerus.
Tampak di udara hanyalah jejak garis cahaya yang dihasilkan oleh serangan keduanya. Dalam kecepatan yang sangat tinggi, bahkan melihat sosok mereka berdua pun cukup mustahil bagi orang biasa.
Namun seperti yang diharapkan dari pertarungan tingkat tinggi, meski mereka saling menyerang satu sama lain tapi mereka mampu membagi sedikit kesadaran yang tersisa untuk saling berbicara.
"Anda sedang menahan diri 'kan? Jika tidak, mengapa saya tidak dapat merasakan aktivitas mana sedikitpun!"
Ren secara alamiah menghindar dengan mulus, melakukan pergerakan yang cepat lalu muncul di belakang Rusava untuk kemudian mencoba menebasnya sekuat tenaga. Akan tetapi, tiga lingkaran sihir berwarna biru kehitaman muncul dan menciptakan tiga ledakan beruntun yang membuatnya terpaksa mundur.
"Jebakan yang bagus, Rusava. Namun itu masih belum cukup!"
"Anda sedang bercanda, Yang Mulia? Jika dari awal Anda mengaktifkan persepsi mana, tidak mungkin saya dapat melakukannya!"
Mereka saling menyerang kembali. Sesuatu yang dapat terlihat di arena pertempuran mereka adalah cahaya yang saling mengejar, saling mengadu kekuatan, dan saling beradu kecepatan.
Dan pada akhirnya, orang yang perlahan mulai mengalami kemunduran adalah Ren itu sendiri. Karena dirinya sedang mencari sesuatu yang menurutnya bisa didapatkan dari pertarungan murni dari menggunakan sebuah pedang tanpa yang lain, akhirnya dia tidak menggunakan mana, sihir, atau skill sama sekali.
Ren hanya bergantung pada kemampuan fisik untuk melakukan gerakan sederhana dari Job Divine Swordsman. Mampu mengimbangi Rusava dalam waktu selama ini pun bisa dibilang prestasi yang cukup baik.
Jika suatu saat nanti Ren mengalami kondisi yang membuat dirinya tidak bisa menggunakan mana, mungkin dengan latihan ini dia bisa bertahan beberapa waktu.
"Saya akan lebih serius, Yang Mulia."
Rusava memutar sabit sampai sabit itu terlihat seperti sebuah roda. Sesaat kemudian, sabitnya dibaluti oleh api biru yang sangat panas dan merusak, mereka bahkan membuat udara mengalami kenaikan suhu yang cukup ekstrim.
"Oh? Menarik, bagaimana dengan melakukan serangan habis-habisan?" Ren memasang kuda-kuda yang kuat, menuntut pada tubuh fisiknya mengeluarkan seluruh kemampuan agar bisa bergerak secepat mungkin.
"Ya ... saya tidak akan menahan apapun lagi."
__ADS_1
Satu detik setelahnya, Rusava sudah muncul di depan mata Ren dan tanpa basa-basi mengayunkan sabit yang terbalut oleh api biru membara. Ren terkejut saat menyadarinya, dengan kecepatan penuh dia bergegas menghindari ayunan sabit Rusava.
Ren berhasil mengelak, namun tempat dia berdiri sebelumnya mengalami kerusakan parah dimana tanah menjadi berlubang dengan bentuk garis tebasan. Warna tanah juga menjadi hitam terbakar, sebuah dampak yang mengerikan mengingat serangannya tidak mengenai tanah secara langsung.
Sementara Ren berpindah tempat, Rusava telah memperkirakan serangan itu pasti mudah untuk dihindari sehingga dia mengikuti kemanapun sosok Ren mengelak, dan terus menyerangnya.
Tidak ada kesempatan sedikitpun bagi Ren untuk membalas serangan. Selain menghindar, Ren hanya bisa menunggu waktu yang tepat untuk melakukan serangan balasan yang mampu mengalahkan Rusava sekaligus.
Namun di saat Ren berpikir demikian, beberapa perasaan tidak mengenakan muncul dihatinya seolah ikatan-ikatan yang tertanam dalam jiwa telah diputus dengan paksa. Bagaimanapun, ini adalah sebuah perasaan dimana individu-individu yang terikat kontrak dengannya telah dibunuh.
Menyadari hal itu membuat Ren menghempaskan seluruh mana yang ditekan tanpa sengaja. Rusava yang kebetulan sedang menyerang sangat terkejut oleh tekanan kuat gelombang mana, jangankan menyerang mendekat pun dia kesulitan.
Merasa ada yang aneh, Rusava lantas mengakhiri mode pertempuran lalu bertanya, "Apa ada sesuatu yang salah, Yang Mulia?"
Mana masih menyembur dengan hebat, seperti sebuah gelombang tsunami yang menyapu udara dan menekan semuanya. Ren terdiam dengan mata merah yang secara alami menyala, emosi amarah meluap sehingga dirinya mengabaikan semua hal yang lain.
"Siapa ... siapa yang berani membunuh peliharaanku?"
Ribuan beast servant yang dulu terpanggil telah menyebar hampir ke seluruh bagian Hutan Loudeas. Mereka hidup dalam bayang-bayang hutan sambil sesekali menjaga hutan dari segala macam gangguan, termasuk monster dan manusia yang merusak.
Setelah mempertimbangkan dengan teliti, Ren dapat memahami garis besar darimana munculnya perasaan tidak mengenakan itu. Mereka datang dari pinggiran hutan bagian utara yang berbatasan langsung dengan Kekaisaran Lodysna.
Dari perasaan tidak mengenakan yang muncul bertubi-tubi, seharusnya beast servant yang terbunuh tidaklah sedikit. Meski mereka tidak bisa berbicara, tidak bisa berkomunikasi langsung dengan Ren, dan tidak memiliki perintah khusus tetapi mereka tetaplah beast servant yang dipanggilnya.
Sebagai orang yang memanggil merupakan keharusan untuk menolong hewan peliharaannya, Ren tidak akan tinggal diam. Otaknya kembali jernih, emosinya mulai terkendali, dan mana yang meluap-luap telah ditekan seperti biasa.
Rusava yang tadinya kesulitan untuk mendekat segera berlari menghampiri. Dia berpikir tidak mungkin tidak ada yang salah dengan situasi ini menilai perilaku tuannya yang berubah begitu tiba-tiba.
"Yang Mulia, apakah ada masalah?"
"Ya, beberapa peliharaan kecilku dibunuh. Latih tanding ini ditunda sementara, aku akan pergi untuk melihat siapa yang berani melakukan itu!" Ren dengan tegas menyatakan kemudian memanggil Avrogan melalui ikatan kontrak.
"Ada orang yang berani melakukan itu?!" Rusava terkejut. Sebuah senyum mengerikan, dan mata yang dipenuhi kemarahan terlihat dalam dirinya. "Yang Mulia, izinkan saya menemani Anda!"
"Aku tidak keberatan."
Rusava yang meminta ikut serta mengharuskan Ren memanggil Indacrus. Setelah keduanya datang, mereka langsung pergi untuk melihat siapa yang memiliki nyali untuk membunuh beast servant milik Ren.
Arena pertempuran ditinggalkan dalam kondisi yang masih hancur mengerikan. Akan tetapi, Ren tidak memiliki waktu luang untuk mengurusi masalah itu sekarang.
"Jika ini ulah Kekaisaran Lodysna maka ...." Ren berhenti berbicara, lalu tersenyum.
*Catatan Author :
Maaf, saya masih dalam kesibukan untuk beberapa hari ini. Mungkin updatenya akan lama, atau gak sama sekali selama seminggu lebih.
.... Itupun kalo ada yang nunggu :v*
__ADS_1