
Taman berbunga di musim semi, bunga indah bermekaran, kenyamanan yang tak tergantikan, ketenangan yang abadi. Sebuah tempat peristirahatan yang menjadi impian semua orang, apakah itu adalah surga?
Jika surga memang sesederhana seperti yang dibayangkan, maka Anryzel saat ini sedang merasakan surga di dalam mimpi. Sebuah surga yang fana, tercipta dari alam bawah sadar Anryzel yang menginginkan tempat paling nyaman untuk beristirahat.
Anryzel menikmati waktu dengan baik, merasakan ketenangan jiwa yang sangat nyaman dan aman sembari memandang ujung cakrawala. Tidak ada yang mengganggunya, tidak ada kegaduhan yang tidak perlu, dan tidak ada apapun yang bisa dikhawatirkan.
Anryzel sadar bahwa ini adalah mimpi, tetapi beristirahat dalam mimpi bukanlah hal yang buruk. Meskipun perasaan itu tidak nyata karena mimpi hanya sebatas pengalaman bawah sadar yang melibatkan indra seseorang, namun dia masih menerimanya.
Situasi ini ... Anryzel ingin merasakannya lebih lama, tapi tampaknya waktu tidak mengizinkan hal itu terjadi. Taman yang tenang, aman, dan nyaman itu retak, lalu menghilang ditelan oleh kegelapan.
Kesadaran Anryzel terstimulasi oleh perasaan yang tidak menyenangkan, membuatnya dengan terpaksa harus menghadapi kenyataan sekali lagi. Anryzel lalu mendapati diri berada dalam kondisi terpanggang di bawah sinar matahari.
Setelah mengalami istirahat singkat di dalam mimpi, Anryzel mendapatkan kembali kondisi tubuhnya yang telah pulih. Bagaimanapun, pembentukan [Crown] adalah hal yang paling melelahkan semenjak dia datang ke dunia ini.
"Ahh ... pakaianku kotor, tubuhku lembab dan berkeringat, perasaan tidak nyaman ini begitu menyebalkan."
Selesai menggerutu sendiri, Anryzel membasuh diri menggunakan sihir air yang dibentuk layaknya shower. Sebuah ritual mandi di tempat terbuka, tapi tentu saja dengan pakaian yang masih menempel di tubuhnya.
Kesegaran tubuh mulai dirasakan secara perlahan dan bertahap. Ketika puas dengan tingkat kebersihan di tubuh, Anryzel lalu menyudahi aktivitasnya dan mengeringkan pakaian beserta dirinya menggunakan sihir angin dan bantuan cahaya matahari.
Semua persiapan telah berhasil dilakukan, kini yang harus dia lakukan hanyalah kembali ke Kota Aulzania. Mungkin beberapa pihak mencarinya karena tidak kunjung pulang setelah berjanji meninggalkan pesta untuk sementara waktu.
Lalu satu hal lain yang perlu dilakukan adalah meminta maaf kepada Nivania, mungkin?
"Lima belas meter dari arah kiri. Mengelak, sekarang!"
Pada awalnya, Anryzel belum sepenuhnya mengerti mengapa Ahn tiba-tiba memberi peringatan untuk mengelak, tetapi dua detik kemudian ... dia merasakan adanya bahaya dari arah kiri. Tepatnya, lima belas meter dari tempat Anryzel berdiri, dan itu sesuai dengan peringatan yang diberikan oleh Ahn.
"Aku mengerti!" seru Anryzel seraya melakukan lompat salto ke belakang dengan kekuatan penuh.
Benar saja, beberapa detik setelah dirinya mendarat di atas tanah, sebuah lembing hitam beralirkan listrik merah melesat dengan cepat di tempat sebelumnya dia berdiri.
Lembing hitam itu muncul dari udara kosong tanpa menimbulkan indikasi pergerakan mana sebelum diluncurkan. Anryzel sadar, jika Ahn tidak memperingatkannya lebih awal maka situasi akan sedikit berbeda dari sekarang.
"Hati-hati, dia akan muncul."
Anryzel mengaktifkan Persepsi Mana sebagai tindak pencegahan, tetapi itu tidak dapat merasakan hal aneh apapun dalam radius dua kilometer. Hal itu tentu membuatnya bingung, bagaimana musuh bisa menyerang sedangkan keberadaannya sendiri tidak ada? Atau mungkin musuh bisa mengelabui Persepsi Mana-nya yang luar biasa?
"Percuma, Persepsi Mana tidak efektif untuk mendeteksi perubahan ruang dan waktu."
Anryzel mengerutkan dahi, sambil merasa tidak percaya dia bertanya, "Lalu, apa yang harus aku lakukan?"
"Dengan menggunakan Divine Perception barulah kau bisa merasakannya, tetapi itu tidak mungkin untuk dirimu saat ini. Fokuslah, biarkan aku yang menjadi pembimbingmu sementara waktu."
Anryzel mengangguk penuh pengertian. Ada banyak hal baru yang tidak dia ketahui, jadi dengan bijak dirinya menyerahkan hal itu kepada orang yang sudah berpengalaman, yaitu Ahn.
Tidak lama setelah itu, distorsi ruang terjadi di dekat Anryzel. Robekkan dimensi muncul, membentuk sebuah gerbang berwarna hitam pekat yang memancarkan aura tidak bersahabat.
Dari gerbang hitam tersebut muncul sosok humanoid hitam yang tinggi dan ramping. Penampilannya begitu aneh, dan mencerminkan sesuatu yang disebut sebagai mimpi buruk.
Sosok humanoid hitam itu menatap pada Anryzel dengan tatapan permusuhan yang begitu hebat. Sosok itu lantas berjalan mendekat, dan mengatakan sesuatu yang bahkan Anryzel sendiri kurang mengerti.
"Ternyata kau bersemayam dalam diri orang ini, True Blood Devil. Tidak pernah aku sangka kesempatan yang begitu bagus ini akan datang dalam waktu yang singkat, hehehehe."
Anryzel memegang dagu, lalu memperhatikan sosok itu dengan seksama seraya mencari dalam ingatan; di mana dia pernah bertemu dengan sosok aneh ini?
"Ohh ... kau adalah makhluk hitam yang ada di Kota Zarimas, bukan? Sudah lama tidak bertemu, ya."
Sosok hitam itu menegang, matanya mengeluarkan reaksi yang terlihat seperti sedang marah. Bibirnya melengkung dengan ekstrim, sosok itu pun berbicara lagi tanpa meninggalkan tawa khas yang menyertainya.
"Ha-hahaha, seolah-olah aku bodoh untuk bisa dikelabui. Jangan berpura-pura menjadi orang ini lagi, aku sudah mengetahui semuanya!"
Anryzel memejamkan mata sebentar, lalu bertanya kepada Ahn dalam pikiran. "Hei, apa maksud makhluk hitam menjijikan ini?"
__ADS_1
"Sepertinya dia mengira bahwa tubuhmu sudah dikendalikan olehku. Pembentukan [Crown] kemarin melibatkan kekuatan ilahi, dan dia sebagai Ras Kegelapan mampu merasakannya dalam jarak yang sangat jauh."
Anryzel mengangguk-angguk sekali lagi, dan itu berhasil membuat sosok makhluk hitam merasa heran dan terabaikan. Namun dengan kondisi yang berbahaya ini, tetap tidak bisa meruntuhkan ketenangan Ren yang semakin tidak normal.
"Apakah dia kuat? Apa ada saran untukku?" tanya Ren dalam pikiran sekali lagi.
Ahn lantas memberitahu sesuatu dengan singkat, "Satu dari tiga jenderal besar pasukan Ras Kegelapan, Viltic. Kemampuannya dalam melakukan serangan tersembunyi dan bergerak di antara ruang dan dimensi menjadikannya sebagai mimpi buruk bagi siapapun yang melawannya. Viltic juga dikenal sebagai <>, dan menjadi lawan yang cukup merepotkan."
Anryzel tersenyum dan berkata, "Kemampuan bergerak di antara ruang dan dimensi? Maka, aku akan menggunakan Nuxuria sebagai gantinya."
"Yahh, pedangmu itu memang bisa digunakan. Namun tetap berhati-hatilah, meski Viltic saat ini berada dalam kondisi yang buruk, tetapi dia masih memiliki kekuatan yang cukup untuk meratakan seluruh kota dalam sekali serang."
Anryzel memanggil Pedang Nuxuria dari inventory miliknya. Penjelasan dari Ahn sudah lebih dari cukup untuk digunakan sebagai petunjuk. Soal tindakan yang akan dia lakukan selanjutnya, semua sudah terencana dalam pikiran.
"Jadi begitu? Viltic, biarkan aku mengajarkanmu sekali lagi rasa dari keputusasaan. Sepertinya kejadian di masa lalu tidak membuatmu belajar, huh."
Viltic tersentak, lalu terdiam beberapa saat sebelum akhirnya meraung dengan penuh amarah. Viltic mengeluarkan tekanan yang begitu besar, disertai oleh lonjakan kekuatan yang tidak kalah besarnya.
"Aku ... aku tidak akan pernah melupakan penghinaan itu!"
Viltic memanggil enam lembing hitam yang mengambang di belakangnya. Dalam satu kali hentakan, dia sudah menerjang dengan kecepatan tinggi, menggenggam satu lembing sementara lembing lainnya melesat bagaikan peluru yang memiliki kehendak tersendiri.
"Dua meter dari arah belakang."
Viltic lalu menghilang dari pandangan, dia menggunakan kemampuannya dalam bergerak di antara ruang dan dimensi untuk kemudian muncul di belakang Anyrzel seraya melakukan serangan yang brutal.
Anryzel memperkuat Persepsi Mana, dan mempersempit radius pendeteksian agar dirinya bisa lebih fokus dan berkonsentrasi. Anryzel juga menciptakan Blood Sword Nuxuria menggunakan Blood Art, dan menggenggam Blood Sword di tangan yang lain.
Dengan komposisi dua pedang seperti ini, Anryzel mampu menangkis dua serangan yang berbeda sekaligus. Pedang Nuxuria dia gunakan untuk melawan serangan langsung dari Viltic, sementara Blood Sword dia fokuskan untuk melawan serangan yang berasal dari lima lembing hitam milik Viltic yang terus menyerang.
Viltic lalu menghilang sekali lagi, dan muncul kembali di udara beberapa jarak dari tempat Anryzel berada. Lembing hitam yang dia genggam lantas dilemparkan dengan kuat, membuat sebuah peluru lembing hipersonik pada Anryzel.
Anryzel seketika berlari untuk menghindari peluru lembing yang dilemparkan dalam kecepatan hipersonik. Untuk menghindari peluru ini, Anryzel harus bergerak beberapa kali lebih cepat sehingga tidak akan menimbulkan risiko yang terlalu besar.
Peluru lembing kemudian mengenai tanah, menciptakan ledakan besar yang diakibatkan oleh kekuatan Viltic, dan dampak dari energi kinetik yang dihasilkannya. Bagaimanapun, satu lemparan lembing itu berhasil membuat kawah besar berdiameter lima ratus meter.
Viltic tentu tidak akan membiarkan Anryzel lari dengan begitu mudahnya. Viltic menggunakan kemampuan berpindah ruang untuk mengejar Anryzel sembari sesekali melemparkan lembingnya dengan memperkirakan gerakkan yang akan dilakukan oleh Anryzel.
Namun dengan semua usaha yang telah dilakukan olehnya, Viltic masih terus-menerus meleset, dan setiap serangan lembing yang dia lemparkan selalu berhasil dihindari oleh Anryzel. Hal itu membuatnya semakin murka, apalagi melihat Anryzel yang bertingkah seolah dia tidak merasa terancam dengan itu semua.
Termakan oleh emosi dan provokasi yang dilakukan oleh Anryzel, Viltic melemparkan sepuluh lembing sekaligus. Menutup seluruh area yang yang bisa dijadikan tempat pelarian oleh Anryzel nantinya sehingga tidak ada lagi celah untuk kabur.
Sepuluh lembing melaju dengan cepat, menghantam setiap permukaan tanah yang telah dijadikan target oleh Viltic sesaat sebelum serangan itu diluncurkan.
Anryzel sempat merasa bingung tentang jalur pelariannya, tetapi dia menemukan solusi dengan cepat. Pertama dia melompat ke atas langit, menciptakan sayap lalu terbang untuk menyerang balik Viltic.
Viltic yang menyadari hal itu semakin geram, dia mengeluarkan lembing secara terus menerus lalu menembakannya kepada Anryzel yang sedang melesat ke arahnya. Anryzel melakukan manuver di udara untuk menghindari serangan, tetapi beberapa lembing sukses mengenai sayapnya dan berhasil menciptakan ledakkan yang membuat dirinya goyah sementara.
"Kuh, hehehe. Ada apa, mengapa kau jadi lemah??"
Viltic menyeringai, dia mendapatkan kembali rasa percaya dirinya setelah melihat Anryzel tergoyahkan. Dendam yang ada dalam diri Viltic, semakin membuatnya merasa bersemangat untuk menyiksa Anryzel lebih jauh.
Sementara itu, Anryzel yang terus-menerus diserang merasa sedikit kewalahan, dan ini tidak seperti dirinya yang biasa sehingga menimbulkan rasa heran dari Ahn.
"Mengapa kau menahan diri? Ini bukan waktunya untuk berpura-pura lemah!"
Anryzel tersenyum pahit, dia menjelaskan kepada Ahn alasannya sambil menahan lembing yang terus berdatangan.
"Ternyata kondisiku masih belum pulih. Saat menggunakan mana dan fisik secara berlebihan, aku merasa ada serangan balik yang membuatku merasa sakit."
"Pantas saja! Kau memiliki nasib yang kurang beruntung untuk mengalami pertarungan setelah melakukan pembentukan [Crown]. Jika pertempuran ini begitu menyiksamu, cobalah untuk menggunakan 1/1000 kekuatan yang telah kau bentuk, persoalan mendapatkan kembali kekuatan itu bisa kau pikirkan nanti."
Anryzel mengerutkan dahi ketika memikirkan kekuatan yang telah dibentuk dengan susah payah harus digunakan begitu saja untuk pertempuran sesaat ini, bukankah itu terlalu boros? Jika harus menderita, dia lebih memilih untuk menderita saat ini daripada menderita di kemudian hari.
__ADS_1
"Tidak, aku bisa bertahan dengan ini. Membentuk [Crown] itu jauh lebih menyakitkan daripada menahan serangan balik dari tubuhku sendiri."
Ahn melihat tekad yang kuat, dan hanya bisa mengatakan bahwa dia mengerti. Sekarang yang bisa dilakukan oleh Ahn untuk membantu Anryzel hanya memprediksi gerakkan Viltic ketika berada dalam mode ruang dan dimensi miliknya.
Anryzel menunjukkan raut wajah tanpa ekspresi. Kedua matanya menyala dengan hebat bersamaan dengan aura yang membara muncul di sekitar tubuh. Sebuah indikasi yang menunjukkan bahwa Anryzel saat ini sedang mengaktifkan mode <>
Dengan satu kata, Anryzel memberikan perintah, "Diam."
Dan seketika itu pula, Viltic tidak dapat menggerakan tubuh, kehilangan kendali atas dirinya, dan hanya bisa melihat dalam keadaan diam. Kondisi ini hanya berlaku untuk beberapa detik, tetapi beberapa detik itu sudah cukup bagi Anryzel untuk bertindak.
Anryzel bergerak dengan cepat ke belakang tubuh Viltic. Dengan menggunakan dorongan sayap, dan gerakkan tubuh yang memutar, Anryzel melakukan tendangan berkekuatan penuh terhadap Viltic.
Viltic yang saat itu sedang dalam kondisi tak berdaya akibat pengaruh <> hanya bisa menerima tendangan tersebut. Viltic lalu terlempar dengan kecepatan sangat tinggi, menuju Hutan Loudeas dan menghancurkan apapun yang dilewati oleh tubuhnya.
Anryzel tidak menyia-nyiakan kesempatan yang tersisa, dia membenamkan kekuatan pada Pedang Nuxuria dan Blood Sword secara bersamaan untuk mengaktifkan skill <> seraya menambah efek skill ini menggunakan enam atribut elemental.
Anryzel lalu menebaskan pedangnya secara menyilang, membuat kedua pedang itu bersinar lalu memunculkan dua buah bilah pedang maha dahsyat yang menyerang lurus ke arah Viltic.
Dua bilah pedang cahaya menghancurkan apapun yang dilewatinya. Menggetarkan tanah, menghanguskan udara, meretakkan dimensi, dan menghancurkan realitas.
Viltic tidak mampu menghindar atau menyerang balik, dalam kondisi terdiam dia hanya bisa menerima keadaan yang akan menimpanya. Namun sebagai orang yang waspada, Anryzel belum puas dengan satu serangan tersebut, dan tidak yakin bisa mengalahkan Viltic hanya dengan itu.
Anryzel lalu memanggil Tombak Ganzalan, melemparkan Ganzalan dengan sekuat tenaga tepat ke arah Viltic, dan tombak itu melesat beriringan dengan serangan yang sebelumnya.
Ledakan besar terjadi, cahaya putih yang menyilaukan menutupi pandangan dalam radius sepuluh kilometer. Tanah berguncang, seluruh daratan bergetar tidak karuan, dan kehancuran sudah dapat dipastikan.
Setelah cahaya menyilaukan berakhir, dalam radius yang tertutupi oleh cahaya sebelumnya, hanya ada kehancuran yang dapat terlihat. Tanah mati, dan Hutan yang ditumbuhi pepohonan sebelumnya telah berubah menjadi padang pasir yang gersang dan panas.
Belum lagi, pasir itu tidak berwarna kuning, atau kecoklatan, melainkan murni hitam sebagai tanda bahwa pasir itu bahkan sudah mati. Segala macam eksistensi yang ada dalam radius serangan kemungkinan sudah lenyap tak bersisa.
"Dasar perusak alam, padahal tidak perlu menambahkan Ganzalan sebagai serangan pengakhiran. Viltic sudah tidak berdaya, mengapa kau bertindak berlebihan?"
Anryzel yang mendengar ocehan Ahn hanya bisa mendengus kecil. "Heh. Jika Viltic pada akhirnya masih hidup, untuk apa pertarunganku yang menyakitkan ini terjadi?"
"Hahh? Sudahlah, aku telah merasakan bahwa Viltic telah benar-benar lenyap. Namun sebagai konsekuensinya, kau harus kehilangan sesuatu."
Anryzel tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Ahn dengan "Kehilangan" tetapi dia menyadari sesuatu dengan cepat. Eksistensi Ganzalan serta Nuxuria mulai lenyap, dan berubah menjadi butiran cahaya yang menghilang dan menyatu dengan udara.
"Hei, yang benar saja?!" teriak Anryzel kesal.
"Pada akhirnya, itu hanya barang tiruan. Wajar jika hancur setelah melakukan beberapa serangan, kau tidak perlu kecewa."
Anryzel lalu mengutuk Viltic yang datang di saat yang tidak tepat sehingga membuatnya kehilangan dua senjata paling berharga. Rasa frustasi Anryzel semakin bertambah ketika mengetahui bahwa dirinya tidak bisa membiarkan area yang rusak begitu saja.
Untuk mengembalikan area yang mati dalam jangkauan yang cukup luas, Anryzel hanya bisa menggunakan kekuatan ilahi 1/1000 dari 3/1000 yang dimilikinya saat ini. Mengapa tidak bisa menggunakan Mana? Karena area yang dihancurkan telah terkena efek serang Ganzalan sehingga kekuatan biasa tidak mungkin mampu melawan efeknya.
Anryzel menggemertakan gigi, sambil mengembalikan hutan seperti sedia kala, dia berteriak dengan keras. "Aku akan menghancurkan kalian, tunggu saja!!"
Setelah itu, Ahn menjelaskan bahwa ketiga senjata yang dimiliki oleh Anryzel hanya tiruan dari Divine Weapon yang sudah hancur berkeping-keping ketika peperangan besar terjadi. Sedangkan pemilik dari Divine Weapon tersebut ialah Dragon God Azura (Nuxuria), Dewa Kegelapan (Ganzalan), dan Ahn (Aschal).
Divine Sword Nuxuria memiliki perwujudan sebuah pedang yang berwarna putih dan bermotif emas yang memancarkan cahaya. Kemampuan Divine Sword Nuxuria adalah penghancuran, sebuah pedang yang membuat kekacauan dan kehancuran di seluruh dunia.
Divine Lance Ganzalan memiliki perwujudan sebuah tombak menyeramkan berwarna hitam bercorak kemerahan yang memancarkan kegelapan. Kemampuan Divine Lance Ganzalan adalah peniadaan, sebuah tombak yang menghilangkan segala macam eksistensi yang ada di dunia.
Divine Blade Aschal memiliki perwujudan sebuah belati tanpa gagang yang semi-transparan, setiap waktu belati ini selalu memancarkan cahaya yang berbeda-beda sehingga membuatnya tampak misterius. Kemampuan Divine Blade Aschal adalah pembalikkan, sebuah belati yang mampu memperbaiki kehancuran, atau mengadakan ketiadaan.
Aschal tiruan sebenarnya masih mampu mengembalikan kehancuran yang disebabkan oleh salah satu senjata lainnya tanpa menggunakan 1/1000 kekuatan ilahi, namun karena Anryzel menggunakan dua senjata lain sekaligus, kemampuan Aschal tiruan tidak cukup untuk melakukannya.
"Kau ceroboh."
Anryzel berkata, "Diamlah, aku tidak ingin mengingatnya lagi."
Seraya berjalan lemas ke arah Kota Aulzania, Anryzel merasa bahwa ini adalah satu-satunya hari, di mana ia merasakan penyesalan terbesar terhadap keputusan yang telah dibuatnya.
__ADS_1
...___________...
Koment & Like ya ....