
Nivania menempuh perjalanan jauh dari Desa Giru dengan alasan utama -liburan- yang menjadi pendorongnya. Namun, patut dipertanyakan apakah dia pergi ke tempat jauh hanya untuk liburan semata? Tidak, itu tidak mungkin.
Walaupun dia meyakinkan diri bahwa perjalanan ini dilakukan hanya untuk liburan tetapi pada kenyataannya tidak seperti itu. Siapa yang akan percaya bahwa dia sedang liburan tapi saat sampai tujuan malah sibuk mencari orang?
Lupakan hal-hal yang menutupi motif utamanya, Nivania memutuskan pergi itu karena seorang lelaki, tidak ada yang bisa membantah fakta itu termasuk dirinya sendiri.
Apakah ini yang dinamakan sebuah perasaan khusus? Suatu perasaan yang sulit dimengerti yang bernama cinta? Dia tidak yakin. Akan tetapi, semenjak mereka pertama kali bertemu di Desa Giru, dia sudah merasakan sesuatu yang asing dalam dirinya.
Sebuah perasaan yang mengatakan kalau lelaki itu adalah individu yang istimewa. Itulah mengapa saat itu Nivania memutuskan untuk menyelamatkannya meskipun lelaki itu orang asing yang tidak dikenal.
Namun sekarang, setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh, melewati beberapa kesulitan, menahan kelelahan, dan mencari hampir di seluruh tempat yang ia kunjungi, yang pada akhirnya dia menemukan lelaki yang dicari-cari, dia berakhir dengan kebingungan yang konyol.
Bagaimana aku harus bersikap kepadanya?!
Kebingungan itulah yang membuatnya bertingkah aneh dan berbeda dari saat pertama kali mereka bertemu. Bahkan ketika lelaki itu mengatakan untuk menunggu di penginapan, dia tidak tahu harus menjawa apa dan sekali lagi berakhir dengan mengikuti lelaki itu menuju pertemuan penting.
Huu, di mana harga dirimu sebagai wanita, Nivania?
Beruntung pertemuan yang dimaksud ini hanya melibatkan Raja Aulzania, mungkin ada beberapa Ksatria Aulzania atau pihak Kerajaan Aulzania yang lain tapi itu tidak terlalu bermasalah. Hal yang Nivania takutkan adalah bertemu dengan kenalan lama yang tidak ingin dia temui.
Dan-
Saat mereka berdua sudah memasuki area dalam istana, secara mengejutkan penjagaan yang terdapat di sekitar sangatlah ketat. Hampir tidak ada celah untuk seseorang menyelinap jika dari sudut pandang orang biasa, mereka para penjaga begitu waspada dan tidak membiarkan sembarangan orang berkeliaran.
Adapun ketika Ren mendekati kawasan itu, para penjaga memasang senyum penuh hormat dan mempersilahkannya seolah dia adalah tamu penting di antara yang terpenting.
"Wah, itu cukup luar biasa."
Dalam hal ini, Nivania tidak bisa menahan kekagumannya terhadap perilaku para penjaga hingga mulutnya berbicara tanpa sadar.
"Menurutmu begitu? Sebenarnya akupun tidak tahu kenapa, dan sejak kapan para penjaga ini menjadi begitu longgar dan hormat kepadaku?"
Ren bertanya seolah dia benar-benar tidak mengerti. Nivania sebagai orang yang mampu berpikir tentu tidak akan mempercayai kata-kata yang dipenuhi kebohongan. Bagaimanapun, tidak mungkin para penjaga ini bersikap begitu hormat kepadanya tanpa ada penyebab tertentu.
"Aku tahu kamu mengetahui alasannya," ucap Nivania dengan ekspresi mengerti. Tidak sampai di situ, Nivania masih berbicara sambil terus berjalan, "Yah, baru beberapa bulan sejak kamu meninggalkan kami tanpa berpamitan, tapi lihatlah sekarang, kamu telah menjadi keberadaan penting yang dihormati oleh kerajaan ini. Aku sungguh tidak menyangka."
Perlahan tapi disadari, cara berbicara Nivania telah kembali seperti semula. Kepribadian yang tenang, dan terasa seperti seorang kakak ini menurut Ren lebih cocok baginya.
Ren terdiam sesaat dengan bahu yang sedikit bergetar. Dia sendiri lupa bahwa dahulu pernah meninggalkan orang-orang di Desa Giru tanpa berpamitan, dengan kata lain dia tidak benar-benar berterima kasih pada mereka semua.
"Bagian tidak berpamitan itu," kata Ren pelan sambil melirik.
"Hum?" Nivania mendengarnya tapi cukup samar.
__ADS_1
"Bagian tidak berpamitan itu, aku sungguh meminta maaf."
Setelah dipikirkan, tindakan yang dilakukan olehnya dulu itu memang tidak sopan apapun alasan yang digunakan untuk menyangkalnya. Nivania dan penduduk desa telah berjasa dalam memberikan informasi serta menyelamatkan nyawanya, tidak seharusnya ia bertindak demikian.
Sedangkan Nivania yang mendengar permintaan maaf itu malah tertawa tanpa alasan yang jelas.
"Pfft ... ahahahaha."
Hal itu membuat Ren berpikir ulang, apa sebaiknya dia menarik ucapan itu? Dia tidak pernah menduga permintaan maaf yang berharga malah mendapatkan respon yang aneh seperti tertawa.
"Nah, lupakan. Aku menyesal meminta maaf pada perempuan aneh."
Tanpa berpikir panjang Ren mempercepat langkah kakinya. Nivania segera berhenti tertawa dan mengimbangi langkah kaki cepat yang dilakukan oleh Ren.
"Eh? Tunggu aku hanya bercanda, Ren."
Nivania berusaha sebaik mungkin untuk menyaingi langkah kaki Ren yang cepat. Anehnya, meski orang itu tidak berlari melainkan berjalan seperti biasa tapi pergerakannya terlalu cepat, bahkan Nivania melakukan jalan setengah lari untuk mengimbanginya.
Ketika mereka berada di dekat ujung sebuah lorong, Ren tiba-tiba berhenti dengan tatapan yang serius. Dia kemudian menyuarakan permintaan yang tidak akan pernah dibayangkan oleh Nivania dalam kondisi seperti ini.
"Nivania, pinjamkan aku pedangmu."
Nivania merasa bingung tapi dengan patuh memberikan pedangnya. Pedang itu hanya pedang biasa yang berukuran kecil yang dimaksudkan untuk berjaga-jaga andai sesuatu yang buruk terjadi.
Ren mendorong pintu menggunakan kakinya, sebagai seseorang yang dihormati cukup mengherankan dia melakukan hal yang tidak sopan, terlebih saat penjaga berada di sekitar pintu. Namun seperti yang diharapkan, penjaga hanya diam dengan senyum masam seolah mengabaikan apapun yang terjadi.
Begitulah, saat mereka memasuki ruangan itu tiba-tiba Ren mengeluarkan hawa membunuh yang kuat. Hawa membunuh itu menyebar ke segala arah tanpa pandang bulu, memang dimaksudkan untuk mengintimidasi.
"Kekhawatiran yang sia-sia, Raja Esdagius. Karena mereka sendiri telah menganggap kita musuh, mengapa tidak kita bunuh saja dia?"
......_______________......
Semua orang yang mengikuti pertemuan mengalihkan perhatian mereka kepada sumber suara, tanpa ada yang terkecuali. Lorei memandang hina pada orang itu yang mengatakan ingin membunuhnya.
"Apa? Hah, kau ingin membunuhku?" ejek Lorei sambil menghampirinya.
Mereka berdua kemudian bertemu di pertengahan, saling memandang tajam ke arah satu sama lain. Hal yang membedakan di antara keduanya adalah Lorei yang tampak memiliki pandangan penuh emosi, sedangkan lawannya hanya memiliki pandangan tajam tanpa emosi apapun.
"Jadi kau si nomer enam?" tanya Ren dengan senyum ketertarikan.
Lorei tersentak kaget karena yang mengetahui arti dibalik penomeran itu yang sesungguhnya adalah pemain. Tetapi menurut informasi yang dia peroleh selama di kekaisaran, seluruh pemain puncak berada di sana sehingga tak mungkin ada orang lain di Kerajaan Aulzania selain kroco yang tersisa.
"Keh, aku mengerti dari mana keberanianmu itu berasal. Asal kau tahu saja, seorang kroco sepertimu bahkan tidak sebanding deng- ...."
__ADS_1
DAMM!!
Tinju mentah menggunakan kekuatan yang cukup untuk menghempaskan seseorang diluncurkan tanpa peringatan. Serangan yang sangat tiba-tiba itu sukses membuat Lorei jungkir balik dan menabrak dinding ruang pertemuan.
"Sangat lemah ... dan banyak omong seperti biasa."
Ren menghampiri Lorei yang perlahan berusaha untuk bangkit. Lorei merasa perasaan negatif bernama malu melanda seluruh hati, sakitnya memang tidak seberapa tapi perasaan malu itu sendiri begitu luar biasa.
"K-Kau ...!"
Belum sempat Lorei menghardiknya, Ren menendang dagu orang itu sampai terhempas ke udara. Di saat yang sama, dia menangkap kerah baju Lorei lalu melemparkan orang itu ke jendela ruang pertemuan sampai pecah. Lorei yang masih sedikit linglung terpaksa diterbangkan melalui jendela, dan berakhir terjatuh di luar ruangan yang lapang.
"Maaf, Raja Esdagius. Aku meminta izinmu untuk menghancurkan satu jendela ini, nanti akan kubayar berapapun sebagai ganti rugi."
Raja Esdagius yang masih belum memahami kondisi sepenuhnya mengangguk tanpa berpikir terlebih dahulu. Raja Esdagius sebenarnya sangat terkejut, dan terpana di saat yang bersamaan sehingga dia tidak bisa berpikir jernih.
Reaksi itu memang tidak dapat dihindari, semua orang yang berada di sana kurang lebih menunjukkan hal yang serupa, kecuali untuk Armilein yang seperti dengan sengaja memperhatikan tanpa ikut campur ke dalam masalah.
"Tapi, Tuan Dirvaren ... apakah tidak masalah memperlakukan utusan seperti itu?"
Tidak mungkin tidak masalah. Raja Esdagius tahu dan mengerti bahwa konsekuensi menyerang utusan, apalagi utusan yang memegang surat perintah dari kaisar adalah peperangan. Meskipun sebenarnya, dari awal Kekaisaran Lodysna telah menyatakan mereka sebagai musuh tetapi ... ini sedikit berlebihan di mata Raja Esdagius.
"Oh? Apa kau merasa keberatan? Tidak masalah sebenarnya, aku yang sepenuhnya akan bertanggung jawab. Orang barbar tanpa tata krama seperti dia memang harus dibalas dengan cara yang serupa, bukankah begitu, Nona utusan?"
Armilein memejamkan mata lantas tersenyum, tidak menduga dirinya akan diberikan pertanyaan yang berbahaya seperti ini.
"Kami adalah pihak netral di sini, tidak akan ikut campur dalam masalah pihak manapun sebelum Yang Mulia Kaisar memerintahkan," balas Armilein dengan mulus.
"Cih, kata-kata yang bijak. Kalau begitu izinkan aku bermain sebentar. Setelah itu, kita akan membahas permasalahan utama tanpa dia."
Ren langsung melompat keluar dari jendela setelah menyelesaikan ucapannya. Nivania terlihat ingin menghentikan Ren, tapi semua sudah terlambat dan kini dirinya berada di satu ruangan dengan orang-orang penting.
"Huff, aku tidak bisa menghentikan orang itu karena alasan tertentu. Aku berharap Nona Armilein memakluminya."
Raja Esdagius tidak mengharapkan hal ini. Meskipun masalah yang paling dia takutkan tidak terjadi, tapi hal-hal aneh malah merubah masalah menjadi yang lebih rumit lagi.
Sebagai seorang raja bagi Kerajaan Aulzania, yang bisa dilakukan oleh Raja Esdagius hanya berusaha untuk memaksa agar Anryzel Dirvaren membantu mereka sekali lagi. Raja Esdagius juga telah menyiapkan kata-kata yang tidak akan bisa ditolak yang mengatakan bahwa semua masalah ini disebabkan oleh Anryzel Dirvaren itu sendiri.
_________
Catatan Author :
Kekurangan Waktu luang :3
__ADS_1