
Kedua Mata Merah Ren yang menyala menatap pada Wanita Bertanduk yang mendekatinya. Meski menatap dalam keadaan menyedihkan, namun tatapan Ren terbukti berguna. Wanita Bertanduk yang mendekatinya terdiam di Pertengahan Jalan.
Keringat Mengucur, Tangan Bergetar dan Insting yang merasakan Bahaya. Itulah yang dirasakan oleh Wanita Bertanduk ketika menatap langsung pada Mata Merah Ren.
Ren masih dalam keadaan tidak berdaya, dia hanya menatap pada Wanita itu dalam keadaan yang menyedihkan. Lalu, mengapa Wanita itu merasakan Ketakutan dan Terdiam?
"Tch, sial. Bagaimana sebuah Tatapan dapat membuatku Takut seperti ini."
Wanita itu Berdecak Kesal dan mengepalkan Tangannya. Kemudian memaksakan diri untuk bergerak agar terlepas dari Belenggu tatapan yang mengerikan.
"Sialan! Berani - Beraninya kau membuatku Ketakutan seperti ini!"
Wanita Bertanduk itu terlihat sangat Marah, Aura yang dia keluarkan Bahkan dapat dilihat oleh Pandangan Mata Biasa. Dia berjalan ke arah Ren dengan langkah kaki yang Berat, seraya menghunuskan Pedang Tingkat Tinggi yang dia ambil dari Ren sebelumnya.
"Aku adalah Wanita yang Baik Hati! Andai kau tidak membuatku seperti ini maka aku akan mengambil Nyawamu tanpa Rasa sakit! Tapi sekarang aku berubah Pikiran!"
Wanita Bertanduk mulai meneriakan kata - kata yang dipenuhi oleh Kemarahan. Dia tidak dapat mempertahankan Ketenangannya, setelah merasakan Tatapan yang mengerikan dari Kedua Mata Merah Ren yang menyala.
"Seolah aku akan membiarkanmu! Aku bersumpah, kau tidak akan melewati semua ini dengan mudah!" Umpat Ren pada Wanita Bertanduk.
Wanita itu yang sedang Marah tentu tidak dapat menahan Kemarahannya ketika diprovokasi seperti ini. Dengan Kekuatan Penuh, dia menendang Pipi bagian kanan Ren menggunakan Kakinya. Menyebabkan Suara Keras "Bakkk!" Yang menandakan bahwa Tendangan itu memang dikerahkan dengan seluruh kemampuannya.
"Guhkk! Cuih!" Ren terbatuk dan memuntahkan Darah.
"Aku akan menyiksamu sebelum benar - benar membunuhmu!"
Dibawah Tekanan dan Amarah Wanita Bertanduk, Ren malah menampakan sebuah Senyuman menantang. Meski dirinya terluka, namun tidak ada tanda - tanda ketakutan disana.
"Guhk! ... Hoo? Bagaimana caramu menyiksaku?"
Bakk! Bakk! Bakk!
Tiga Tendangan Sekaligus mengenai bagian Kepala Ren. Itu semua membuat Ren memuntahkan Darah dalam Jumlah yang Banyak. Namun sekali lagi, Ren malah menampakan Senyum menantang.
"Siksa aku, seolah aku akan menyerah pada Wanita menjijikan sepertimu."
"Tch, aku muak denganmu! Matilah ditanganku!"
Kali ini, Wanita itu serius untuk merenggut Nyawa dari seorang Ren. Dia melakukan sebuah Tebasan yang mengarah langsung ke Leher Ren. Dalam kondisi seperti ini, Ren mustahil untuk bertahan, bahkan untuk menghindar pun dia akan sangat kesulitan.
Senyum Penuh Kepuasan ditampilkan di Wajah Wanita itu sesaat sebelum dirinya benar - benar menebas Ren. Senyum dan Ekspresi itu, menandakan bahwa dirinya sangat Percaya diri dapat merenggut Nyawa Ren tanpa halangan.
Shing!
Pedang ... mengenai Leher Ren. Kemudian Pedang itu merobek dan memisahkan kulit yang menyatu. Menyebabkan Darah Merah keluar daripada Luka yang tercipta disana.
Namun berbeda dari apa yang diharapkan ...
Trankk!!
... Pedang itu malah Hancur tak Karuan. Membentuk berbagai macam Pecahan - Pecahan yang terpental dan Bersinar di Udara. Semua orang Berjubah Hitam yang menyaksikan ini membulatkan Mata dan tidak percaya akan apa yang dilihatnya.
Dikarenakan Pedang telah dihancurkan, maka Wanita Bertanduk pun Kehilangan Keseimbangan. Seraya menampilkan Ekspresi Wajah "Eh?" Karena tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
"Sebenarnya, aku merasakan Hal yang sama. Aku cukup muak harus ditendang seperti itu olehmu. Rencana yang telah disusun olehku, sama sekali tidak menampilkan adegan seperti itu tahu?"
Semua orang langsung tersadar kembali dan menaruh Kewaspadaan pada Ren yang masih dalam keadaan Terikat. Wanita Bertanduk yang sebelumnya melongo pun disadarkan, lalu dirinya langsung bergerak mundur.
Perhatian mereka semua telah sepenuhnya dialihkan pada Ren yang masih diam dan menunduk, Kaki dan Tangan Ren masih terikat seperti sebelumnya. Namun Ikatan dari Rantai itu sama sekali tidak dapat diharapkan lagi.
"Wahhh!" Ren langsung menengadah ke atas langit dengan Ekspresi Bahagia.
"Seluruh Tubuhku sebelumnya terasa kaku, namun berkat Rantai - Rantai ini, aku merasa jauh lebih baik!" Teriak Ren penuh Kebahagiaan.
Sementara Ren Bahagia, Wanita Bertanduk itu Justru merasakan sesuatu yang sebaliknya. Wajahnya Suram, Tangannya mengepal dan dia menggigit Bibirnya.
"S-Sialan ... Jadi, selama ini kau hanya pura - pura tidak berdaya?!"
Teriakan Wanita Bertanduk itu menggema, dan menggetarkan Tanah. Sebelumnya, Wanita Bertanduk telah meremehkan Ren karena menyangka Ren benar - benar tidak berdaya. Namun sekarang, Wanita Bertanduk itu telah mengetahui Kebenaran. Bahwasannya, Ras Blood Devil memang tak bisa dianggap Remeh.
"Lebih tepatnya, aku telah menipu kalian semua. Hahahaha!" Ren tertawa penuh kemenangan.
Semua orang Berjubah Hitam langsung melakukan Pergerakan. Mereka dengan cepat kembali merentangkan Lengan. Disaat yang bersamaan, Rantai - Rantai yang mengikat Tubuh Ren semakin membesar. Bukan hanya itu, beberapa Rantai lainnya muncul dan mengikat serta memperkuat Ikatan yang telah ada sebelumnya.
Krakk! Krakk! Krakk
Seluruh Bagian Tubuh Ren mengeluarkan Suara layaknya sebuah Tulang yang Remuk dan Patah. Hal ini membuat orang - orang Berjubah Hitam menyeringai karena merasa telah memenangkan Pertempuran.
"Ya ampun, sungguh Pijatan yang luar biasa yang telah kalian lakukan!"
"MUSTAHIL!!!!!" Mereka semua Berteriak dengan cara yang berlebihan, secara bersamaan. Kecuali untuk satu orang yang tidak terkejut sama sekali, dia adalah Wanita Bertanduk.
__ADS_1
"Nona Irlyana! Bagaimana ini?!"
"Dia melebihi Perkiraan! Dia terlalu kuat!"
"Sebaiknya kita mundur terlebih Dahulu Nona! Rantai itu dapat menahannya sementara!"
Satu per satu dari orang - orang Berjubah Hitam berteriak Panik dan menyarankan untuk melarikan diri. Namun itu Justru menambahkan Kekesalan yang dirasakan oleh Wanita Bertanduk itu, "Kalian diam!" Bentaknya.
"T-Tapi ..."
"Hei, seluruh Tubuhku masih kaku, dan kalian ingin Pergi begitu saja?"
Ren melirik semua orang dengan tatapan yang mengerikan. Sebuah tatapan yang terlihat seperti Binatang Buas yang akan memangsa Buruannya. Semua orang itu mulai merasakan Tubuh mereka Gemetar karena ketakutan. Tidak ada keberanian maupun Keinginan untuk melawan lebih Jauh dalam Hati mereka.
"Hiiii ... D-Dia Monster! Lari!"
"Maafkan kami Nona!"
"Kami tidak ingin Mati!"
Mereka semua lari Kocar - Kacir, berusaha menyelamatkan diri dari tatapan Ren yang mengerikan. Mereka bahkan meninggalkan Wanita Bertanduk yang mereka sebut dengan Nona. Sungguh, ini merupakan Cerminan dari seorang Bawahan yang tidak setia pada Tuannya.
"Wohoo ... Mereka melarikan diri? Bukankah kau sebaiknya menyusul mereka?" Ejek Ren pada Wanita Bertanduk, Irlyana.
Sekilas, Ren terlihat seperti seorang Provokator ulung. Namun sebetulnya, bukan karena Ren yang hebat dalam memprovokasi, tetapi Irlyana lah yang mudah tersulut Emosi.
"Sialan, mereka hanyalah para Pengecut. Memangnya mengapa kalau kau dapat menahan Rantai lemah itu? Aku tidak peduli!"
'Ah, ini tidak menyenangkan.' Ren merasa Kecewa dari Lubuk Hatinya yang terdalam.
Ren melakukan Sandiwara ini dengan Tujuan untuk menarik Musuh yang kuat. Namun tidak disangka, yang muncul hanya seorang Wanita yang mudah Terprovokasi. Mempermainkan dirinya lebih jauh tidak akan membuat Ren merasa senang sama sekali.
"Ok, aku menyerah."
Rantai - Rantai yang mengikat Ren dengan sendirinya melonggar, sampai titik dimana Ren dapat keluar dengan bebas kapan saja. Tanpa menunggu Waktu lebih lama, Ren melepaskan Ikatan itu dan beranjak untuk berdiri. Ren kemudian menggerakan beberapa anggota Tubuhnya seperti seorang yang akan bertarung habis - habisan.
"Saatnya membuatmu mengatakan semua hal yang kau ketahui."
Mengalahkan Musuh adalah Hal yang Mudah untuk Ren saat ini. Namun Ren berpikir, dimana kesenangannya jika harus membunuh musuh secara langsung? Bukankah menyiksa dia sampai Putus asa terlebih dahulu itu lebih baik?
"Kau memang kuat Blood Devil, namun sepertinya kau Bodoh karena terlalu Percaya diri dengan kemampuanmu yang seperti itu."
Ren mengernyitkan alisnya, "Hm, apa maksudmu?"
Pertanyaan Ren juga hanya dibalas dengan sebuah Senyuman penuh makna. Sontak saja, itu membuat Ren merasa Waspada dan mengerahkan seluruh Kemampuan Persepsi Mananya.
"Ternyata Serangan kejutan huh?"
Berkat Irlyana, Ren kembali mengingat Keberadaan [Beast Servant] Ular Legendaris yang sebelumnya dipanggil oleh Irlyana. Mengejutkannya, dia saat ini berada di kedalaman Tanah dan berusaha mendekat ke arah Ren dengan cepat.
"Seolah aku tidak menyadarinya." Ucap Ren dengan penuh Percaya diri.
Ren melompat ke belakang dengan santai. Beberapa detik setelahnya, Ular Hitam itu muncul dari dalam Tanah dan terbang ke atas langit, menangkap Udara Kosong yang disana sebelumnya adalah Tempat Ren berdiri.
"Mari kita lihat seberapa kuat Ularmu setelah aku menendangnya."
Dalam sekejap Mata, Ren berada di dekat Ular itu dan langsung menendangnya. Kaki Ren menembus Tubuh Ular itu tanpa halangan sedikitpun. Tepatnya, Ren merasa tidak mengenai apapun, seolah Tubuh Ular itu memang tidak dapat disentuh oleh Fisik.
"Heh, Bodoh." Gumaman Irlyana terdengar oleh Ren.
Pada awalnya Ren tidak mengerti mengapa Irlyana berkata Bodoh padanya. Namun sesaat setelah itu, Ren merasakan Jantungnya yang Berdegup Kencang sekali.
Itu terasa cukup menyakitkan sehingga membuat Ren terpaksa mundur terlebih dahulu untuk menjaga Jarak.
Namun sayangnya, sebagian Kaki Ren yang mengenai [Beast Servant] Ular itu tidak merespon Perintah dari Ren. Terpaksa, begitu Ren mendarat ke Tanah, dia kehilangan keseimbangan dalam keadaan yang belum sepenuhnya mengerti akan apa yang terjadi.
"Eh, apa yang terjadi?"
Hal terakhir yang dilihat oleh Ren sebelum benar - benar terjatuh adalah sosok Ular Legendaris yang menunjukan Mulutnya dan bersiap untuk melahap Tubuh Ren sepenuhnya. Setelah itu, Ren tidak sadarkan diri dan tenggelam ke dalam Kegelapan.
____________________________________________
* * *
* * * ____________________________________________
[Bloody Palace of the Monarch]
Di Taman Istana, Avrogan sedang bersantai sembari menikmati Langit Malam yang Indah. Tidak lama setelah itu, Arystina muncul dengan membawa Secangkir Gelas dan duduk di sebuah Kursi yang terletak tidak Jauh dari Avrogan.
"Nona Muda, anda belum Tidur?"
__ADS_1
"Ya, entah mengapa Malam ini Perasaanku tidak enak." Balas Arystina.
"Anda juga merasa begitu?"
"Eh, memangnya kau merasakan Hal yang sama?"
"Ya, saya merasa Malam ini Emosi Negatif berkumpul lebih Banyak dari Biasanya."
"Uh? Emosi ... Negatif? Aku tidak mengerti."
"Anda tidak perlu memikirkannya, Emosi Negatif hanya sebuah Hawa yang dapat meramal Peristiwa Buruk yang akan terjadi."
"Eh ... Bukankah itu hebat?"
"Sama sekali tidak, saya belum pernah meramal dengan Tepat menggunakan Emosi Negatif ini."
"B-Begitukah ..." Arystina mengambil Cangkir yang telah dia siapkan.
Sebelum meminumnya, sesaat Arystina mencium Aroma Harum yang keluar dari sana. Setelah itu, Arystina menggerakan Cangkir itu untuk mendekati Bibirnya.
Dag Deg!
Cangkir tiba - tiba terlepas dari Genggaman Arystina. Lalu ...
Trannnkkk!
... Cangkir Pecah berkeping - keping.
Sosok Arystina yang melepaskan Cangkir itu sama sekali tidak peduli dengan Cangkirnya yang telah Jatuh dan Pecah. Kedua Mata Arystina menatap pada Udara Kosong, lalu Air Mata tiba - tiba muncul dari sana.
"A-Apa yang, terjadi? A-Aku merasakan Sakit di Dadaku ... A-Avrogan, apa yang terja ... di?"
Arystina melirik pada Avrogan untuk bertanya apa yang sedang terjadi dengan dirinya. Namun, apa yang dilihat oleh Arystina adalah Avrogan yang dalam keadaan terkejut. Bahkan saking terkejutnya, itu dapat dilihat di wajahnya yang seekor Kuda.
"T-Tu ... an?" Gumam Avrogan lirih.
Arystina pun ikut terkejut dan segera menghampiri Avrogan, Arystina yang panik langsung bertanya, "Avrogan! Apa yang terjadi?!"
Namun Jawaban Avrogan selanjutnya, adalah sesuatu yang tak pernah dan tidak akan Arystina harapkan di Dunia.
"I-Ini Mustahil ... Tuan ... Telah tiada ...?"
____________________________________________
* * *
* * * ____________________________________________
"Nona Nirlayn ... Ada apa?"
Seorang Pelayan bertanya pada Nirlayn alasan mengapa Nirlayn tiba - tiba berhenti berjalan. Namun yang membalas Pelayan itu hanya Ekspresi Kosong dari Wajah Nirlayn.
"N-Nona Nirlayn?" Sekali lagi, Pelayan itu bertanya.
Nirlayn masih tidak menjawab, dia hanya terdiam dengan Ekspresi yang Kosong. Akan tetapi, beberapa saat kemudian, dari Sepasang Mata Indah yang Nirlayn miliki, muncul sebuah Tetesan Air yang mengalir ke Bawah.
"R-Ren ... sama?"
Tanpa mengatakan sesuatu yang lain, Nirlayn berbalik arah dan pergi berlari. Meninggalkan Pelayan itu yang masih dalam keadaan Kebingungan.
'Ini tidak mungkin kan? Mustahil kan? Mengapa? Mengapa?'
Nirlayn terus mengulangi kata "Tidak Mungkin" dan "Mustahil" dalam benaknya. Semua itu dia lakukan untuk menenangkan Pikirannya yang telah kacau dan tidak karuan.
Alasan dari semua ini, disebabkan oleh, Ren yang menghilang dari Dunia.
Nirlayn dan Ren terikat oleh Kontrak, begitu salah satu dari Pihak itu meninggal, maka Kontrak akan dibatalkan. Saat ini, Kontrak Ren dan Nirlayn sudah tidak ada, itulah mengapa Nirlayn berlari untuk mencari Keberadaan Ren.
Keselamatan? Kehidupan? Kesenangan? Kebebasan? Nirlayn tidak mempedulikan Hal itu! Bahkan jika harus mengorbankan Nyawa, Nirlayn akan dengan senang Hati menyerahkan Nyawa itu asalkan demi Tuannya.
'Saya mohon! Ren-sama ... Tolong selamatlah!'
'Keberadaan saya tidak akan berguna jika itu tanpa anda!'
Nirlayn berlari seraya meninggalkan sebuah Jejak Air yang menetes. Apapun yang dia lewati tidak lagi dia pedulikan, yang ada dalam Hati, Pikiran dan Jiwanya kini hanya ada sosok dari Tuannya yang tercinta.
Sang Anryzel Dirvaren, yang telah menghilang dari Dunia.
Apakah Ren benar - benar telah dikalahkan, tidak ada yang mengetahui. Namun satu hal yang pasti, semua Bawahannya saat ini sedang mencari Keberadaan Ren yang telah menghilang dari Dunia.
________
__ADS_1
Catatan Pembaca : Gak Jelas nih Episode, Thor apa yang ada dalam pikiranmu sih?!
Catatan Author : Nantikan Cerita saya yang lainnya ...