
Ini adalah pertemuan yang sedang berlangsung secara intens di antara keluarga kerajaan, para bangsawan, dan Anryzel Dirvaren.
"Saya meminta agar Anda mempertimbangkan kembali masalah akademi!" ucap Duke Fedel dengan memohon.
Sebagai perwakilan dari para bangsawan, Duke Fedel mengajukan permintaan kepada Anryzel berupa kerja samanya dalam memperbaiki kualitas akademi menjadi lebih baik.
Semua kalangan masyarakat dulunya menganggap bahwa kinerja Akademi Aulzania itu adalah yang terbaik. Lulusan yang berasal dari akademi adalah orang-orang berbakat yang terpilih dengan masa depan yang terjamin. Murid yang lulus dipercaya memiliki kemampuan, dan pengetahuan yang lebih dari cukup untuk menjalani kehidupan.
Namun setelah krisis yang menimpa Kerajaan Aulzania berkali-kali, mereka akhirnya sadar bahwa kualitas akademi masih belum cukup. Pendidikan yang diberikan memang sudah tinggi, tetapi masih belum cukup tinggi jika dibandingkan dengan pendidikan di dua kekaisaran besar.
Oleh karena itulah para bangsawan sepakat untuk mengeluarkan permintaan ini kepada Anryzel Dirvaren selaku Pahlawan Aulzania.
Sementara itu, Anryzel masih memikirkan permintaan Duke Fedel dengan hati-hati. Meningkatkan kualitas akademi bukanlah perkara yang mudah untuk dilakukan. Ada beberapa hal yang harus dilakukan secara bertahap agar mendapatkan hasil yang terbaik.
Demi mencapai hasil yang terbaik, maka dibutuhkan waktu yang terbaik pula. Setidaknya, peningkatan kualitas ini tidak akan bisa dilakukan dalam satu atau dua bulan, melainkan bisa sampai beberapa tahun.
"Nah, apakah aku memiliki banyak waktu untuk dihabiskan di tempat seperti ini? Jawabannya, tentu saja tidak."
Konflik di antara Anryzel dengan beberapa pihak masih belum usai. Keinginannya untuk mencari kebenaran juga belum sepenuhnya terpuaskan. Ditambah lagi, Ahn meminta agar Anryzel menyelesaikan beberapa masalah.
Hampir tidak ada kelonggaran waktu yang dimiliki oleh Anryzel untuk digunakan memperbaiki kualitas akademi. Namun bukan berarti Anryzel tidak memiliki solusi sama sekali. Anryzel memiliki beberapa ide yang mungkin bisa dilakukan terkait permintaan Duke Fedel dan para bangsawan.
"Satu bulan. Aku akan mencobanya selama satu bulan."
Duke Fedel yang mendengarnya menampakkan kilau mata penuh harapan. Meskipun itu satu bulan, satu minggu, atau bahkan satu hari, selama bisa memperbaiki kualitas akademi seberapa kecilpun tetap akan dia terima.
"Benarkah?! Kalau begitu ...."
Anryzel kemudian menyela, dan dengan tegas menyatakan beberapa kondisi sebagai syarat untuk menerima permintaan tersebut.
"Aku memiliki beberapa syarat untuk melakukannya."
Duke Fedel melebarkan mata, lalu memejamkan mata, dan berakhir dengan mengangguk penuh pengertian. Sebelum pertemuan ini diadakan, Duke Fedel memang telah berdiskusi dengan bangsawan lain perihal masalah ini, dan mereka telah mengantisipasi persyaratan yang mungkin diberikan.
"Anggaplah satu bulan pertama adalah penilaianku terhadap akademi dan tekad para murid. Jika mereka melampaui ekspektasiku, maka menambah masa pengajaran masih mungkin untuk dilakukan. Selanjutnya, aku hanya ingin beberapa hak istimewa dari para bangsawan, detailnya akan aku tuliskan dalam selembar kertas, bagaimana?"
Duke Fedel merenungkan syarat yang diberikan Anryzel untuk sementara waktu. Karena Anryzel meminta sesuatu yang belum jelas, Duke Fedel menjadi ragu-ragu apakah permintaan itu masih mampu untuk dipenuhi olehnya dan para bangsawan?
"T-tentu saja kami akan menerimanya. Akan tetapi, apakah syarat istimewa itu masih berada dalam batas kemampuan kami?" tanya Duke Fedel seraya merasa sedikit ketakutan.
Anryzel mengetahuinya, beberapa hal yang bisa diberikan oleh bangsawan sangat terbatas, dan cenderung tidak terlalu berharga. Namun tidak berharga bukan berarti tidak memiliki kegunaan sama sekali. Anryzel dapat melihat hak istimewa yang akan dia minta kemungkinan besar akan berpengaruh di masa depan.
Anryzel lantas terkekeh kecil, "Keh, tidak masalah. Aku mengetahui dengan baik batas kemampuan kalian."
Duke Fedel langsung merasa lega, jika semuanya masih dalam batas kemampuan mereka maka beberapa hak istimewa bukanlah suatu masalah. Kemakmuran Kerajaan Aulzania itu lebih penting baginya karena menyangkut tanah kelahiran dan tanah di mana mereka tinggal.
Duke Fedel lalu menyetujuinya, "Baiklah, berarti kesepakatan ini sudah terjalin."
Raja Esdagius yang berada di antara pertemuan mengangguk penuh kepuasan. Duke Fedel adalah bangsawan yang dipercayainya, bahkan permintaan yang diajukan kali ini pun masih menyangkut kemaslahatan Kerajaan Aulzania.
Sangat tidak bijaksana rasanya jika Raja Esdagius menutup mata tentang segala usaha yang dilakukan oleh Duke Fedel untuk membangun Kerajaan Aulzania menjadi lebih baik.
"Bagus. Duka Fedel, kau membuatku bangga."
Semua orang mengalihkan mata pada Raja Esdagius.
"Seorang bangsawan yang benar-benar memikirkan kondisi negeri ini begitu langka. Seseorang sepertimu lah yang membuat negeri kita tetap makmur dan sejahtera. Oleh karena itu, akan sangat memalukan bagiku jika tidak mendukung keinginan kalian para bangsawan."
Anryzel menatap Raja Esdagius dengan penuh rasa curiga. Otaknya tidak bisa berhenti untuk membuat pra-duga, tentang hal merepotkan apa yang akan diminta oleh Raja Esdagius ini.
"Karena sudah begini ... Tuan Dirvaren, tidak ... mungkin mulai saat ini aku akan memanggilmu sebagai, Yang Mulia Anryzel Dirvaren. Aku benar-benar berharap Yang Mulia bisa membantu kami menyelesaikan beberapa masalah kerajaan, terutama dalam bidang pendidikan dan kekuatan pasukan."
Perilaku Raja Esdagius mengejutkan semua orang. Terlebih ketika Raja Esdagius memutuskan untuk memanggil Anryzel dengan gelar "Yang Mulia" sebagai bentuk penghornatan. Jika seorang raja memanggil orang lain sebagai "Yang Mulia" maka pantas untuk diragukan kemartabatannya sebagai seorang raja.
"T-tunggu Yang Mulia! Anda tidak perlu sampai merendahkan diri untuk mendukung kami! Lagipula, Tuan Anryzel sendiri telah menyetujui permintaan ini!"
Duke Fedel merasa serba salah dengan semua yang terjadi. Duke Fedel telah berpikir bahwa Raja Esdagius merendahkan diri itu karena mereka; permintaan para bangsawan. Namun sebenarnya Duke Fedel tidak mengetahui apa-apa, dan keputusan Raja Esdagius bukan karena permintaan mereka, melainkan sesuatu yang lebih krusial.
Raja Esdagius menghentikan argumen beberapa orang yang ingin protes menggunakan satu tangan yang terangkat. Dia telah memutuskan sesuatu, dan keputusan ini harus segera diambil sebelum pihak lain mengambilnya terlebih dahulu.
"Jangan meragukan keyakinanku, Fedel!" tegas Raja Esdagius berteriak.
Duke Fedel seketika bergetar, tidak berani membantah, ataupun berkomentar lebih jauh terhadap keputusan sang raja.
"Ada beberapa hal yang tidak kalian ketahui. Yang Mulia Anryzel Dirvaren adalah sosok yang lebih besar daripada yang kalian bayangkan!"
__ADS_1
Suasana itu terasa sangat tidak nyaman. Anryzel hanya bisa menghela napas beberapa kali, karena merasa bahwa Raja Esdagius terlalu bersemangat dalam mengambil kesempatan besar.
"Berhenti membicarakan seseorang tepat di hadapannya."
Peringatan itu membuat Raja Esdagius tersentak, lantas merenungi dalam diam perbuatannya. Bagaimanapun, Raja Esdagius belum memiliki izin untuk membeberkan rahasia Anryzel, karena itu dia merasa telah melakukan sedikit kesalahan yang cukup fatal.
"Aku telah menerima permintaan dari Duke Fedel, jadi tak perlu bagimu untuk menjelaskan sesuatu yang tidak perlu, Raja Esdagius."
Ruangan itu sempat menjadi sesak oleh tekanan yang dikeluarkan Anryzel. Sementara orang-orang yang mendengarkannya, termasuk Raja Esdagius dan Duke Fedel hanya bisa mengangguk dengan wajah yang pucat.
"Itu bagus. Sekarang aku hanya ingin mendengar, mengapa kau terburu-buru dan memanggilku ke tempat ini, Raja Esdagius?"
Anryzel sudah bisa menebak sebagian besar niat dan keinginan Raja Esdagius. Tebakan itu kemudian diperkuat oleh pernyataan Raja Esdagius yang akan mulai memanggilnya dengan gelar "Yang Mulia" dan bukan lagi "Tuan Dirvaren".
Sepertinya Raja Esdagius mencium adanya ketertarikan Kekaisaran Agung Exousillia terhadap Anryzel. Oleh karena itulah, Raja Esdagius berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan kesan yang baik dari Anryzel, dan memulai langkah pertama sebelum kekaisaran melakukan pergerakan.
Jika saat itu tiba, di mana Kekaisaran Agung Exousillia akan berusaha untuk menarik Anryzel ke pihak mereka, dan Raja Esdagius bersaing secara adil di waktu yang sama, maka Raja Esdagius tidak mungkin memiliki kesempatan sama sekali.
Segala sesuatu tentang Kerajaan Aulzania tidak bisa dibandingkan dengan Kekaisaran Agung Exousillia. Andai kata Anryzel diberi penawaran oleh kedua pihak ini, pihak mana yang kemungkinan besar akan dia terima? Dengan mengesampingkan hubungan pribadi, sudah pasti Anryzel akan memilih pihak kekaisaran yang memiliki potensi lebih besar.
Anryzel sangat mengerti bahwa Raja Esdagius merasa khawatir terhadap kondisi negerinya ini. Sehingga dalam situasi terburuk di mana Kekaisaran Agung Exousillia berhasil menarik Anryzel ke pihak mereka, maka setidaknya ada beberapa hal yang telah berubah di Kerajaan Aulzania berkat bimbingan Anryzel sang pahlawan.
Bisa dikatakan bahwa kurang lebih maksud dan tujuan Raja Esdagius mengadakan pertemuan mendadak ini karena dirinya bermaksud untuk mengambil kepercayaan Anryzel sebelum pihak lain mengambilnya.
Langkah yang sangat berisiko jika dilakukan oleh seorang raja yang mewakili suatu kerajaan karena mau bagaimanapun, Anryzel adalah pihak yang belum diketahui dengan pasti identitasnya oleh mereka.
Jadi, mengapa Raja Esdagius begitu yakin terhadap keputusannya? Anryzel sendiri cukup kebingungan dalam hal ini. Namun Anryzel tetap memberikan apresiasi yang besar terhadap keputusan Raja Esdagius, dan pemikirannya yang cukup tidak terduga.
Raja Esdagius lalu membungkuk, dan sedikit membenturkan kepalanya ke atas meja, melakukan pose memohon yang sangat tidak biasa.
"Yang Mulia Anryzel! Saya memohon kepada Anda agar membantu negeri ini menyelesaikan masalahnya. Bimbinglah kami menuju kesejahteraan, maka kami akan mengikuti dan terus mendukung Anda dalam situasi apapun!"
Lagi-lagi pernyataan yang sangat mengejutkan. Semua orang dibuat melongo oleh tindakan Raja Esdagius, tidak terkecuali Anryzel itu sendiri yang merasa sedikit takjub dengan keberanian sang raja.
Anryzel menggerakan tangan untuk memberi isyarat pada Raja Esdagius agar menegakkan kembali kepala sambil berkata, "Aku mengerti keinginanmu. Meski begitu, kau sungguh terlalu berharap banyak padaku bukan?"
Raja Esdagius menggelengkan kepala seraya membalas dengan tegas, "Tidak, saya benar-benar percaya pada insting saya yang mengatakan bahwa Anda adalah orang yang benar-benar dapat melakukannya."
Anryzel tertawa mendengar jawaban itu. Seberapa beraninya Raja Esdagius sampai membuat keputusan berdasarkan insting yang belum pasti? Alih-alih menggunakan otak dan pemikiran yang dapat diterima, raja tua itu malah menggunakan instingnya.
"Oh, menarik. Maka jangan salahkan aku jika kerajaan ini semakin memburuk, dan tidak mengalami perkembangan apapun."
"Maka jika itu terjadi hanya bisa menyalahkan diri saya yang telah mengambil keputusan yang salah."
Pertemuan itupun berakhir dengan kesepakatan di antara ketiga pihak yang mengikuti pertemuan. Pihak bangsawan meminta Anryzel untuk memperbaiki kualitas Akademi Aulzania, dan berhasil mencapai kesepakatan dengan syarat beberapa hak istimewa.
Sedangkan pihak kerajaan meminta Anryzel untuk memperkuat pasukan kerajaan yang terdiri dari Ksatria Aulzania, Penyihir Kerajaan, dan para prajurit biasa. Persyaratan yang diberikan oleh Anryzel untuk mencapai kesepakatan tentu bukanlah hal yang biasa, melainkan permintaan yang cukup luar biasa dan terdengar sedikit mustahil tentunya.
............
Di depan penginapan Twin Lotus, Anryzel berjalan dengan penuh pikiran. Pertemuan yang berlangsung cukup lama itu sukses membuatnya berpikir berulang kali hingga otaknya merasa cukup lelah.
"Aku pulang," ucap Anryzel seraya membuka pintu penginapan.
Tidak ada hal istimewa yang berasal dari ucapannya. Anryzel hanya ingin mengatakannya, sudah lama sejak terakhir kali dia mengucapkan kata semacam itu.
"Ah, Kakak. Selamat datang!"
Itu adalah Vinri yang memberikan sambutan kecil sambil tersenyum cerah. Tanpa alasan yang jelas, Vinri mulai memanggil Anryzel sebagai Kakak dengan sukarela padahal Anryzel sudah melarangnya beberapa kali.
"Oh, Anak Muda. Akhirnya kamu kembali, seseorang sedang menunggumu, tahu?"
Pemilik penginapan yang sedang membersihkan meja menghampiri. Orang yang disebutkan olehnya sudah pasti adalah Nivania. Mungkin mengatakan beberapa keluhan hidup kepada Nivania adalah hal yang tepat? Sebuah curahan hati yang meringankan beban pikiran, bukan begitu?
Anryzel lalu pamit kepada mereka berdua untuk menuju lantai dua. Anryzel kemudian mengetuk pintu kamar Nivania sebanyak dua kali, dan berhasil mendapatkan respon dari Nivania yang berada dalam kamar.
"Ada urusan denganku?" tanya Nivania ketika membuka pintu.
Entah itu hanya perasaan Anryzel atau bukan, tetapi respon Nivania tampak sedikit lebih dingin dari biasanya.
"Pemilik penginapan berkata kau menungguku. Justru aku yang harus bertanya, apa kau memiliki semacam urusan?"
Nivania menatap dalam diam untuk beberapa waktu. Pipinya tampak merah merona untuk sesaat, lalu dia mempersilahkan Anryzel untuk masuk terlebih dahulu sebelum berbicara.
"J-jangan salah sangka, aku hanya bertanya pada pemilik penginapan ke mana kamu pergi sepagi itu. Tidak ada yang mengatakan aku dalam keadaan menunggumu."
__ADS_1
Anryzel hanya mengangguk dan berkata, "Oh, aku mengerti."
Nivania bertingkah sedikit aneh. Tidak hanya menjaga jarak yang cukup jauh dari Anryzel, tetapi dia juga menatapnya dengan cara yang tidak kalah anehnya. Nivania hanya melirik sesekali pada Anryzel, dan selalu mengalihkan pandangan saat Anryzel menatapnya kembali.
Suasana hening lantas menyelimuti ruangan itu, kecanggungan semakin membesar setiap detik demi detik yang terlewati. Akan tetapi, kecanggungan itu hanya dirasakan oleh Nivania, dan tidak dirasakan oleh Anryzel.
Semakin lama, keduanya merasa bosan dengan keheningan yang mencekam. Mereka memutuskan untuk memulai pembicaraan dengan topik yang berbeda, akan tetapi ....
"Saat pertempuran wak-"
"Apa yang kamu lak-"
Mereka berakhir dengan berbicara di saat yang sama.
"Ah, kau boleh mengatakannya lebih dulu," ucap Anryzel mempersilahkan.
Nivania tersenyum canggung lalu menerimanya. "Apa yang kamu lakukan dari pagi hari?"
Anryzel memutar mata, lalu duduk di atas sebuah kursi dengan tangan yang menahan dagu. Sebenarnya dia merasa enggan untuk menceritakan pertemuan yang berbelit-belit itu, tetapi karena Nivania terlihat sangat penasaran maka dengan cukup terpaksa dia menceritakannya.
"Raja Esdagius benar-benar meminta hal yang merepotkan. Mulai esok, aku memiliki jadwal yang sangat sibuk. Pagi mengajarkan para murid akademi, siang mengajarkan ksatria dan prajurit, sementara sore ada sesi pembelajaran bersama para penyihir."
Semua itu akan dilakukan oleh Anryzel selama satu bulan penuh. Hampir tidak ada hari libur, dan tidak ada waktu untuk bersantai. Hal ini juga memiliki arti bahwa Anryzel harus menunda kepulangannya ke istana selama satu bulan ke depan.
"Jadi begitu, aku rasa hal seperti ini bukan keahlianmu. Lantas, mengapa kamu masih menerimanya walaupun keuntungan yang kamu terima itu tidak seberapa?"
Pertanyaan yang sangat bagus telah dilontarkan oleh Nivania. Sejujurnya, Anryzel sendiri merasa cukup bingung mengapa dia menerima permintaan ini padahal jika menolak pun tidak akan menjadi masalah yang besar. Apakah ini karena keuntungan? Tentu saja bukan, Anryzel melakukannya karena merasa itu harus dilakukan.
"Ah, mungkin karena kerajaan ini memiliki kesan yang baik? Kerajaan inilah yang mempertemukanku dengan yang lain, dan kerajaan ini juga yang mempertemukanku denganmu. Banyak pengalaman yang telah kudapatkan dari tempat yang disebut Kerajaan Aulzania ini."
Nivania menggelengkan kepala sambil tersenyum manis. "Kamu mengatakannya seolah kamu berasal dari dunia lain."
Itu memang benar. Anryzel bukan berasal dari dunia ini, tetapi berasal dari dunia lain yang disebut dengan Bumi. Namun, tidak ada alasan bagi Nivania untuk mengetahuinya sekarang. Mungkin juga, sebaiknya dia tidak mengetahui apa-apa.
"Yah, giliranmu sudah selesai. Sekarang adalah giliranku untuk bertanya. Nivania, pada saat bertempur melawan sepuluh orang itu, kau menggunakan Aura of Light Blessing, benar 'kan?"
Nivania tidak menjawab selama satu atau dua menit. Anryzel memahaminya oleh karena itu dia tidak memaksa Nivania untuk menjawab dengan tergesa-gesa. Biarkan Nivania sendiri yang memutuskan apakah dia akan memberitahukan semuanya atau tidak.
"Kamu ... dari mana kamu tahu?" tanya Nivania pelan.
Sebelum Anryzel dapat menjawab pertanyaannya, Nivania berkata sekali lagi, "Tidak, sudah pasti kamu menyadarinya bukan? Dengan kemampuanmu, merasakan Aura of Light Blessing dari kejauhan sangatlah mungkin."
Anryzel hanya berkata, "Benar sekali."
"Lalu, kenapa kamu tidak berpura-pura tidak menyadarinya? Bukankah akan lebih baik bagimu untuk tidak tahu?"
Anryzel sekali lagi hanya membalas, "Untuk apa aku berpura-pura?"
Nivania menghela napas sambil merasa heran, dan tidak tahu harus berkata apa terhadap sikap santai yang dimiliki oleh Anryzel. Karena Anryzel telah mengetahui perihal Aura of Light Blessing, maka tidak ada alasan untuk Nivania menyembunyikan rahasia lebih lama.
"Sebenarnya ... aku adalah seorang Saint. Namaku yang asli bukanlah Nivania Zournac, melainkan Nivania Rhi Haevhill. Rhi Haevhill adalah keluargaku, dan juga keluarga bangsawan yang berasal dari Kekaisaran Agung Exousillia."
Bahkan setelah diberitahu sesuatu yang seharusnya mengejutkan orang lain, Anryzel tidak bergeming sedikitpun. Anryzel hanya mengangkat alis sedikit, lalu memejamkan mata seraya mengangguk-angguk kecil.
"Masuk akal," ucap Anryzel singkat.
Nivania tidak pernah menyangka bahwa Anryzel akan bersikap tenang, bahkan tidak merasa terkejut sedikitpun setelah mendengar semuanya.
"Aku mengerti, aku mengerti. Sulit untuk membuat sebuah batu untuk terkejut, bukan begitu?" sindir Nivania seraya menyilangkan lengan.
Anryzel lantas menatap bingung pada Nivania. Sikapnya yang masih tenang bukan berarti dia tidak merasa terkejut, tetapi rasa terkejut itu telah lama berkurang semenjak pertama kali Anryzel melihat Nivania menggunakan sihir penyembuh dalam waktu yang singkat.
Kemudian, pertempuran Nivania telah mempertegas bahwa Nivania bukanlah orang yang sembarangan. Tidak mungkin seorang yang tinggal di desa memiliki kemampuan bertarung yang hebat. Ketika itu, Anryzel dapat sedikit menebak kalau Nivania memiliki latar belakang yang tidak biasa.
"Hei, tidak tepat mengatakannya sebagai batu. Bukankah lebih cocok jika dikatakan sebuah permata?" ucap Anryzel dengan nada lelucon.
"Pffftt ... kepercayaan dirimu begitu mengerikan!"
Keduanya lantas melanjutkan perbincangan mereka. Dari perbincangan itu didapatkan sebuah informasi bahwa keluarga Nivania berasal dari Kekaisaran Agung Exousillia, yaitu keluarga ketiga terbesar setelah keluarga Nhi Ruvilla.
Suatu alasan tertentu membuat Nivania kabur dari rumahnya. Nivania membuat sebuah skenario di mana dirinya terbunuh ketika berada di hutan sehingga keluarganya menyangka bahwa Nivania telah meninggal.
Nivania baru berusia tiga belas tahun saat dirinya melarikan diri dari rumah. Alasannya melarikan diri itu cukup sepele, yaitu karena dia tidak mau menjadi wanita suci dari Kuil Bloodmoon. Beruntung saat itu posisi wanita suci telah diisi oleh adiknya tercinta yang juga memiliki kualifikasi sebagai seorang Saint.
Dengan begitu, percakapan mereka pun berakhir dengan keputusan Nivania untuk membantu Anryzel dalam melakukan tugasnya selama satu bulan penuh.
__ADS_1
...________...
Maaf kalo ada Typo.